Kelelawar


Date: Thu Jun 17, 2004 9:59 am

Setiap pagi, saat memasuki halaman kantor (bekas) di kawasan The Lord of the Outer Ring Road, kavling 51A ada kegiatan rutin yaitu para kontraktor Cleaning Service pada sibuk menyapu halaman yang penuh dengan “lepehan” buah-buahan segar dan yang aneh rata-rata masih pentil atau mentah. Ada “lepehan” jambu air, rambutan dan beberapa buah-buahan yang hancur tidak jelas asal muasalnya. Persis seperti anak sekolah kemping sambil membawa buah-buahan. Sisanya ditebar kemana-mana.

Biang lepehan kali ini ternyata bukan anak kemping atau suporter hitam yang doyannya menghembuskan isue “basi” yang sempit mulai kedaerahan sampai keagamaan yang maksudnya agar orang menjadi takut tetapi malahan kepleset seperti menyaksikan filem memedi buatan lokal. Geli malah iya. Kadang saya malahan mengelus dada. Kok dari dulu isu basi diotong-otong marotong rotong. Eh maksud saya biang lepehan kali ini adalah kelelawar hitam. Dia curi buah-buahan dari kebun pak tani yang tidak pasang boneka pulut, termasuk kebun jambu di Citayam, lalu menikmati hasil curiannya di kantor kami. Sial bener.

Nampaknya selain rumour yang mengatakan bahwa diperusahaan saya ini didominasi ada sekelompok elit lulusan perguruan tinggi tertentu, saya malahan sering menambahkan bukan saja banyak tetapi sudah memasuki tahap “dibudi dayakan..” – Maka kelelawar amat gemar menclok di “bukan jendela” kantor kami.

Lalu saya ingat bahasa Tionghoa Kelelawar adalah “FU” yang artinya “barokah”. Tidak heran dibeberapa rumah orang Tionghoa sering dijumpai lima ekor kelelawar “ofset” yang bergelantungan. Dalam bahasa Inggris kelima simbol ini adalah “longevity, wealth,serenity, virtue and easy death”.

Dari dulu saya adalah pengikut fanatik mahzab “kata orang dulu” yang diantaranya mengatakan bahwa kelelawar sayapnya hitam ini selain pinter terbang malam dengan mengandalkan getaran suara, ia juga piawai dan lihay mencari buah-buahan yang matang dan manis. Buah yang bekas gigitan codot alias kelelawar biasanya dijamin manis 100% plus plus belum termasuk ppn 10%. Sama dengan pendapat bahwa kopi bekas dimakan musang Luwak pasti kualiteitnya ngelewati StarBuck.

Cuma belakangan ini sepertinya pendapat ini saya ragukan, sebab di Citayam, para codot itu ngembat habis jambu, pisang, rambutan yang masih dibawah umur. Apa sekarang “pedofilia” yang banyak di Bali itu sudah menulari para kelelawar kita. Dan ndilalah di kantor saya juga banyak berserakan lepehan buah-buahan di bawah umur.

Tapi mudah-mudahan kedatangan kelelawar yang tidak tahu diri ini seperti kata orang Tionghoa, membawa “fu” alias barokah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s