Taxi Perth

Pernah memesan Taxi melalui tilpun. Repot kan. Siapa yang hapal nomor tilpun taxi di Jakarta, apalagi bagi saya yang paling keok kalu sudah urusan bilangan dan pecahan. Bisa pecah kepala rasanya. Pertama harus menjelaskan alamat dimana kita berada, lalu nama kita, lalu nomor tilpun kita, lalu banyak lagi. Cilakanya lalu Taxi tidak tersedia pihak penyedia hanya diam saja sementara kita keburu kuatir terlambat sampai tujuan. Atau kalau kita tilpun ulang perusahaannya, maka serangkaian interogasi akan dilakukan seperti kapan tilpunnya, dan celakanya menanyakan alamat kita sekali lagi. Keadaan ini sudah menahun yang diterjemahkan sebagai SOP alias Standar Operating Procedure.

Tetapi perusahaan Taxi di Perth justru memakai nomor “sial” ini sampai dua kali. Nomor tilpun mereka adalah 13 13 30 sehingga mudah diingat, “celaka dua kali dan usia produktip seseorang.”Nama perusahaan itu adalah SWAN TAXI. Pertama berkenalan ya gara-gara Yusuf yang dari Tax-Man menjadi Taxi-Driver. Dan dia enjoy aja. Bernehi Muhabbat sambil mengendarai taxinya. Kadang tangannya kedepan menggapai sebatang coklat yang ditaruh di dashboard. Tanpa basa-basi nawarin kek. Pikirnya kalau ente mau coklat ya musti beli sendiri dong.

Suatu malam sekitar jam 21:00 teman saya bersiap ke Airport. Pasalnya pesawat dari Perth mempunyai kebiasan berangkat dimalam buta. Gara-gara pesawat keliaran sekitar jam 01-02 malam, maka beberapa penduduk protes. Hidupnya penuh kebisingan. Dulu Perth damai dan senyap. Mengapa sekarang bising dengan pesawat. Hari Minggu Perth menjadi lebih bising lagi pesawat kecil latih dari mereka yang kursus jadi pilot.

Teman saya mendapatkan pesawat jam 24:00. Lalu dia angkat tilpun ke 13-13-30 dan pembicaraan berlangsung singkat yang pada intinya taxi akan datang dua jam sebelumnya. Hanya satu menit, pembicaraan selesai.

Ada yang aneh ditelinga saya……Sepanjang memenuhi aturan baku SOP ala Jakarta – tidak ada interogasi

Yaitu, tidak terdengar teman saya memberikan alamat kami di Canning Vale. Bagaimana Swan Taxi akan menjemputnya.

Jawabannya, taxi tersebut sudah memanfaatkan caller ID menjadi barang yang sakti untuk mengesankan pelanggan . Sekali mereka tahu alamat dan nomor tilpun rumah seseorang maka otomatis masuk dalam databasenya. Sekali tempo tilpun (rumah) memanggil mereka, mereka sudah tahu darimana tilpun berasal. Tentunya hal ini sulit dipraktekkan dinegara kita dimana handphone menjadi pegangan sehari-hari. Tetapi mereka tidak kalah akal. Di setiap pojok hotel disediakan sebuah pesawat tilpun ang berjudul “Mo Pesen Taxi,Angkat saja handset ini”. Kalau jaman Gus Dur mungkin ditambahi “gitu aja kok repot…”

Begitu tilpun diangkat anda terhubung dengan operator perusahaan taxi tersebut. Minta jam berapa dijemput. Biasanya ditanyakan akan naik pesawat jam berapa dan mereka memberikan advis gratis seperti bagusnya 2 jam sebelum keberangkatan anda sudah sampai di Airport. Jadi ndak perlu cari buku tilpun segala. Lantas saya berfikir. Kalau saja teknik tukang taxi tadi dipraktekkan ke keamanan di Jakarta, maka mudah sekali melacak penilpun gelap. Mereka mengancam akan meletakkan bom, ternyata bom bohongan, bom low explosive sehingga pejabat kepolisian (waduh korp) bicara jumawa didepan media massa sambil bilang “bom tidak profesional,” “bom rakitan”, dan yang tidak masuk akal sehat adalah ungkapan bahwa bom dilakukan oleh “orang ingin menggagalkan Sidang Umum, Pemilu, PemiCapres.”

Padahal mana ada di negeri ini kegiatan semacam Pesta, Seminar, gagal lantaran huru-hara. Ditunda memang sering tetapi dibatalkan ?.

Ya nehi mahabat…
Ah kok latah kakek Yusuf the Taxi-man saja.

Canning Vale
7 Sept 2004

Respond to this post