Ada Polisi Lumpur di kabinku….


Ini tentunya bukan gara-gara LuSi (Lumpur Sidoarjo) dari Indonesia yang membuat Australia “gedandhapan” buru-buru mengirmkan beberapa polisi lumpur (mud cop) ke Rig saya.

Mereka tidak datang dengan seragam kepolisian, melainkan hanya menggunakan coverall merah merek “Yakka” – lalu menyerbu kedalam mudlogging unit saya sambil bertanya ini bertanya itu, dan mencatat ginu-githu. Tugas orang ini adalah mengawasi perpindahan lumpur minyak sintetik (SBM) dari kapal suplai ke rig, pengeboran berjalan tanpa menumpahkan lumpur (cutting overboard), memeriksa sistem pengontrolan padatan lumpur (solid control equipment), sampai ke penggerusan kembali limbah serpih pengeboran sebelum dikirim ke darat sebagai bubuk limbah.

Pendeknya tugas mereka berdua (terakhir bertiga) adalah memastikan tak setetespun minyak (sintetis) tumpah apalagi ruah ke perairan Australia.

Mustinya ia melakukan investigasi ke sistem instrumentasi Rig, lantaran kita tahu persis alat rig sana kebanyakan pajangan belaka. Sebagian sudah tidur pules, sebagian tidur kadang jaga alias tidak 100% berfungsi sehingga para pekerja seperti Pump-Man dan Derrick Man mengandalkan perhitungan volume lumper berdasarkan jumlah anak tangga yang memang dipasang untuk sarana pekerja masuk ke dalam tangki lumpur.

Misalnya satu jarak anak tangga ditera dengan 50 barrel, maka kalau ketinggian lumpur sudah mencapai 8 anak tangga, mereka melaporkan jumlah sebagai delapan dikalikan limapuluh barrel alias empat ratus barrel.

Lama-lama karena tiap hari orang ini datang, bertanya dengan gaya polisi, saya mulai merasa gerah. Saya mulai komplin dengan alasan, apakah saya perlu memberikan informasi berharga kepada mereka, mengingat di Mudlogging kami disumpah untuk tidak pernah memberikan data perusahaan satu kepada lainnya. Saat itu tidak tahu kalau mereka polisi khusus lumpur pengeboran sebab menggunakan badge KMC dan celakanya keburu dipanggil orang rig sebagai anggota FMC sebuah perusahaan yang bergerak di urusan kepala sumur. Untung tidak dipanggil KFC, bisa-bisa nama John diganti Sanders.

Seperti juga polisi beneran, gaya mereka bertanya lebih menyerupai interogasi (apalagi dilihatnya cuma seorang Indo, yang sangat kooperatif). Sampai suatu saat tiba-tiba dia keceplos “kenapa pemboran berhenti, apa alasannya..”

Saya seperti melihat peluang “kick balik”. Saya ajak dia melihat layar monitor saya. Lalu saya tunjukkan, kita sudah mengebor selama 30 jam non stop, ada data menunjukkan mode “drilling” dan dipasang di layar dimana-mana, ada suara gemenclang besi beradu besi, juru bor menekan pedal rem sampai suaranya mencicit tajam. Bagaimana dia bisa berpendapat bahwa kita sedang setop pengeboran.

Di-nyunyuk-i data secara telak, dia agak gelagapan (semula saya kira hanya mau interogasi), nampaknya orang ini memang tidak tahu operasi pengeboran. Tapi dasar polisi (lumpur), dia menunjuk sebuah monitor yang gambarnya cuma semut beriringan. Lalu dia bertanya mengapa monitor ini rusak.

Lagi-lagi dia kecele, sebab saya bilang, monitor ini adalah kamera dari RigFloor yang dipasang di lantai bor agar kami para mudlogger tahu apa kejadian di lantai bor tanpa kami harus naik ke rig. Monitor ini juga dihubungkan dengan robot penyelam sehingga kami tahu keadaan bawah permukaan laut. Lalu dia tanya “kenapa rusak..” – saya bilang bukan rusak, tetapi kalau kameranya sedang dibersihkan oleh petugas kusus pembersih kamera jelas kami tidak menerima gambar di layar monitor kami.

Dia terdiam. Lalu gantian saya tunjukkan suatu kejadian dimana sebuah unit pengolahan limbah lumpur pengeboran sedang dibongkar sehingga “synthetic oil base mud” kececeran kemana-mana sekalipun dipasang tanggul besi. “Itu tuh ada kebocoran disana, berapa barrel yang terbuang ya…”, kata saya menguji kemata elangannya

“Yang mana,” tanyanya…

Ternyata yang yang didepan matapun dia tidak ngeh. Malahan lebih suka tanya ini dan itu di unit mudlogging kami yang memang lebih nyaman dan tidak berisik bila dibandingkan dengan suasana unit pengolahan limbah yang berisik dengan suhu permukaan tak kurang dari 75 derajat selsius, ada pengayak lumpur mirip vibrator raksasa yang bisa-bisa bikin orgasme kalau kelamaan berdiri didepannya. (Mungkin itu alasan saya bertahan mudlogger sampai sekarang). Membayangkan lumpur minyak diesel keluar dari lubang bor dengan 75 derajat karena tidak boleh ditambah air, membuat kadar oksigen sekelilingnya sudah disunat oleh uap solar.

Ternyata kalau jeli, ada saja peluang bisnis didepan mata. Pengeboran tidak selalu drilling crew, catering, mud engineer, Geologist, Cementer, Mudlogger, MWD. Namun bisa mengisi celah-celah kosong seperti menjadi polisi Lumpur.

Mudah-mudahan Indonesia ketularan ada yang berniat membuat detasemen Polisi Lumpur. Apalagi kalau meningkat menjadi “Polisi Mudlogging” – bisa juga melamar kesana.

Thursday, 26 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

One thought on “Ada Polisi Lumpur di kabinku….

  1. Mas… Kenalkan, Nama: Syaripuddin Al Amin, saya kerja di PT. Pertamina Drilling Services Indonesia. Saya ingin bersahabat dengan Mas. Kalau Mas gak keberatan mohon kirimkan biodata Mas, ke email saya.. ditunggu ya. Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s