Aha saya sudah dapat email beserta lampiran tiket elektronik dari Perth bahwa Senin malam 21 Mei 2007 saya naik Garuda GA730 yang berangkat dari bandara Sukarno Hatta pada jam 9:30 malam. Berarti tidak terasa sudah 4 minggu aku habiskan leyeh-leyeh menjadi pengangguran bergaji di rumah. Kebetulan anakku sudah selesai liburan dan harus kembali ke Singapura. Jadi malam ini kami berangkat bersama-sama. Cuma kami harus berpisah lantaran anakku Lia masuk gerbang D sedangkan saya di E.
Agak mengherankan biasanya (Australia) bersikeras menggunakan Qantas. Kalau berurusan tiket elektronik dengan pihak Garuda Indonesia, terbayang sudah dipelupuk mata reaksi petugas ketika saya mengasongkan cetakan-itinerary di loket check-in. Yang sudah sudah pihak Garuda mempersilahkan saya menuju loket lain yang diseberang pojok sana untuk dibuatkan tiket yang berlapis-lapis warna warni dan memakan waktu cukup lama. Sehingga maksud utama dari E-tiket, layu sebelum berkembang.
Namun ajaib, kali ini mereka langsung menanyakan passport saya dan pas masuk langsung diberikan tanpa meminta sepeserpun airport tax (Rp 100.000), karuan saja saya bilang “mbak kok saya tidak diminta airport tax?.”
Pesawat ternyata tertunda satu jam. Hal yang membuat kinerja BUMN dianggap kurang memenuhi syarat. Di dalam pesawat, Koran Sinar Harapan yang ditawarkan Pramugari saya comot, lalu ia menawarkan lagi “Suara Pembaruan pak sekalian, perjalanannya kan lama.”
Koran Suara Pembaruan pun saya ambil. Jangan heran saya hitung ada lima pramugari berbanding 10 penumpang. Yang mengganggu dari stewardes ini mereka mengecrotkan parfum sesuai selera masing masing, terkadang dengan aroma tajam, sehingga kelabakanlah hidung saya yang lumayan sensitif mengendus bau campur aduk. Padahal aroma eaude toilet yang ringan segar sudah lebih dari cukup.
Halaman depan Suara Pembaruan menulis maskapai SIA Singapore Airline menangguk keuntungan berlipat ganda triliunan rupiah. Lalu saya toleh sana sini ke bangku yang sepi. Terus bagaimana Garuda akan mendapat keuntungan, dengan harga Ticket sekitar $700 dolar Australia (return). Plus pajak $225 berarti $ 925 ternyata belum menarik minat pemakai untuk pindah ke Garuda. Padahal maskapai Qantas ($ 990) selalu penuh akan penumpang.
Jam 3:30 pagi waktu Perth setelah 4 jam penerbangan ditambah satu jam delay, mendarat juga akhirnya di Bandara International Perth, segenap pihak immigrasi berceloteh “busy flight eh,” setelah saya beritahu hanya berjumlah 10 penumpang.
Begitu keluar terminal, saya langsung menggigil kedinginan diterpa suhu udara sekitar 5 derajat selsius. Langsung menuju taxi yang disambut dengan senyum kegirangan sebab berjam-jam menunggu akhirnya ada juga seorang penumpang.
Langsung saya menuju hotel yang tarip resminya $200 (1.4 juta rupiah) dan bukan kelas bintang lima lho, namun karena langganan perusahaan, kami mendapatkan potongan 50% dengan catatan tanpa makan. Ongkos taxi sekitar $40 (Rp 300 000), untuk perjalanan selama 20 menit langsam.
Romeo sang petugas asal Philipina menyambut saya sambil bercanda “mengapa telat sekali datangnya,” sekaligus pertanda bahwa begitu kaki menginjak, maka saya dikenai biaya denda satu malam yang kemarin di pesan. Dan seperti biasa tidak ada doorman atau bellboy disini. Hotelpun isinya beberapa bungkus teh dan kopi celup, peralatan masak seperti ketel, penggorengan, toaster dan microwave. Saya sempat kelaparan, tetapi ingat peristiwa bawa “Indomie” langsung di”belek” oleh petugas sebab mengandung “daging.” Untungnya saya sempat melaporkan bawaan saya, kalau tidak bisa kena denda tinggi. Mungkin salah satu menghilangkan permainan “pat gulipat dan kong kalingkong” adalah “anda jujur, anda selamat.” Hal yang teramat langka di tanah air.
Ada satu hari saya relax makan tidur di hotel, ini memang kebiasaan ala Australia bahwa sehari menjelang bekerja, pekerja dianjurkan dalam keadaan relax.
Berapa lama seseorang bekerja di Pertambangan Minyak?
Pertanyaan ini selalu menggoda teman-teman setelah mengetahui saya adalah pekerja minyak, sekalipun gelar resminya berbau cemooh, TKI. Dalam pekerjaan di lepas laut ataupun darat bagi tenaga kerja dari Indonesia, maka kami dikenakan rotasi selama 4 minggu di di laut dengan 4 minggu cuti di Indonesia. Ditambah dalam setahun mendapat kesempatan cuti lagi selama sebulan, maka praktis dalam setahun kami bekerja hanya lima bulan. Itupun masih menerima gaji bulanan dalam dollar.
Rotasi 4 banding 4 bukan harga mati, sebab bagi pekerja katering yang berdomisili di Australia mereka terkena rotasi 3 minggu kerja dan 3 minggu cuti, sementara teman warga Australia yang satu perusahaan, mendapat keringanan bekerja dua minggu dan cuti dua minggu.
Tetapi, masalahnya, ada banyakkah orang bersedia bekerja penuh tekanan selama 12 jam sehari? – ternyata beberapa teman saya berguguran, bahkan ada yang memilih jalur menjadi pelukis, bank sekalipun pendidikan keahliannya adalah Teknik Perminyakan atau Geologi.
Bahkan ketika saya memutuskan untuk ambil pensiun dini tiga tahun lalu, teman-teman pada bilang “sudah tua ngapain kerja jauh-jauh, disini saja banyak pekerjaan..“
Yang mereka tidak tahu, sejak mulai bekerja pada tahun 1981 di Perminyakan saya sudah ancang-ancang pensiun dengan mencoba berbagai bisnis, hasilnya jeblok. Alih-alih mau kaya seperti kata buku macam Kiyosaki, ber-agro-bisnis kagak ada matinya, kata Trubus, eh buntutnya, mobil, tanah, rumah, perhiasan ikut melayang. Saya stop menbaca buku ala Kiyosaki, sayapun tidak berlangganan majalah pertanian secara teratur. Meracuni pikiran saja.
Seperti mengiyakan kata ahli Feng Shui, Mama Terate, “elu punya shio Ular cari makan, kagak bakat dagang, banyak ditipu punya.” – padahal anjuran pakai kacamata hitam, jangan ada gigi yang ompong, sudah saya lakoni rejeki tetap jadi pekerja.
Ramalan lain yang perlu saya koreksi adalah dari orang tua, “bekerja yang jujur, rajin, nanti pimpinan akan mempercayaimu..” – kenyataannya perusahaan yang dibela mati-matian lantas dicaplok perusahaan lain yang lebih besar tetapi ajaib dan biadapnya menggaji karyawannya jauh lebih kecil.
Kalau mau protes, silahkan angkat kaki dengan kata manis “pensiun dini.” atau “golden shakehand“
Beruntung saya memang doyan cenderung penyandu internet dan email, begitu ada “ontran-ontran bin gonjang ganjing,” di perusahaan, cepat-cepat beremail ria dengan jaringan teman di luar negeri, dan jawabannya “are you serious?” – dan tidak lama kemudian surat sponsor dibuatkan untuk membuat Visa ke Australia.
Padahal teman lama di kantor termasuk Direktur pada sinis “sudah tua mau kerja dimana?, HRD sekarang cari lulusan yang muda, IP setinggi-tingginya, upah seminim-minimnya.” – maksudnya agar saya “cicing wae” alias duduk manis-manis tinggal di perusahaan dengan tanggung jawab berat.
Kadang saya bercanda “Tanggung Jawab Direktur, Penghasilan Kondektur.”
Celakanya saya malahan tertantang untuk membuktikan “Old roughneck never die, just fade out.”
roughneck adalah sebutan pekerja kasar pengeboran.
Posted by bagus on May 25, 2007 at 4:40 am
Denger ceritanya kok ngenes2 bahagia sih pak.. Nasib pekerja perminyakan.
Numpang curhat ya pak…Sy dulu pernah mau masuk oil company (jaman lulus kuliah, msh idealis) tp setelah denger2 senior sy, yg kerjanya rata2 3 thn hengkang, pindah lg ke pers baru,walau gaji gede ,wah kok jd “wurung”. Akhirnya menyalurkan hobi sy adventure (”ngelencer”), sy ikut proyek2 telkom keliling pulau2,lama bosen, pengen dijawa aja(dasar ke-”mbok2″en). Akhirnya memutuskan keluar kerja ama org, buka2 usaha sendiri dr th 2000 coba berbagai bid, jungkir balik, tp gak nyerah (bandel), sampe skrg menemukan duniaku. Gak gede sih,tapi enjoy.. Akhirnya sy bergerak pake intuisi, soalnya kalo diitung2 , diplanning2 kaya di proyek, (maklum org teknik) byk melesetnya. Pake feeling, tanya diri sendiri, begitu mantep,maju tak gentar..
Pak, memang bisnis cocok2an,ya orangnya, jurusannya(sektor bisnisnya). Kerja jg begitu. Masalahnya cari yg cocok bgmn?
Drpd bingung2,salah satu way out, coba tanya ama aja ama Suhu Tan, mungkin bisa bantu. Bisa dicoba. Bukan promosi lho pak,sy kan pernah ikut klas “BaZi”nya. Jd tahu metodologinya.Lumayan buat referensi..
Oh ya baru2 ini temen saya jg keluar kerjaannya oil comp.diRiau, tak tanya, sama aja jawabnya. Bosen, cape..
OK pak selamat nyoba kerjaan yg baru..
Posted by Berthold on May 25, 2007 at 4:41 am
Makasih Pak Mimbar, bukan hanya ceritanya yang menarik tentang kehidupan di atas rig, tetapi sekaligus juga promosikan Suara Pembaruan, he..he..he..Di luar itu, dari ceritanya, jelas terlihat Pak Mimbar memang orangnya tangguh dan senang adventure. Nanti kalau kapan-kapan saya undang untuk cerita tentang kegiatan kerja di rig di depan adik-adik pramuka, supaya mereka juga punya jiwa setangguh Pak Mimbar, berkenan gak pak? Tks
Posted by rian on November 21, 2007 at 1:11 pm
menarik kisah bapak…saya jadi termotivasi untuk lebih serius dalam menempuh kuliah saya yang kebetulan di bidang migas….semoga ini bisa menjadi motivator saya kedepan….wassalam
Posted by Danjen on April 24, 2008 at 9:57 am
Senang sekali bisa baca cerita-cerita Bapak, secara saya ini sangat ingin tau bidang kerja di minyak.
Saya ini lulusan teknik elektro, sedari lulus nyoba terus cari kerja ke perush minyak dan juga services company tapi tidak ada yg tembus, gagal di wawancara user.
Akhirnya jadi masuk ke bank, jadi sales kredit, ikatan dinas 5 tahun. Bosen berat di bank Pak…karena bener2 manual banget pekerjaannya..ngisi laporan harus buka cetakan segede bantal, dengan ribuan halaman, saya bosan banget kerja di bank karena sisi manual worknya itu lho…bener2 tidak otomatis,sehingga banyak waktu yang habis hanya untuk pekerjaan2 manual…al hasil harus pulang malam, karena seharusnya bisa bekerja cepat ternyata harus tertunda karena adanya pekerjaan manusia tadi…pekerjaan yg tidak bisa diotomatkan..
Akhirnya saya keluar dari Bank….sekarang usaha sendiri, merintis usaha sendiri, dengan modal kecil, pengawasan besar, tekat kuat, doa,dukungan orang2 terdekat,,,,alhamdulillah….sedikit hasil tapi ternyata lebih enak daripada kerja sama orang…
Posted by agus mustopa on May 25, 2008 at 12:00 pm
selamat siang pak mimbar, pak saya membaca artikel tentang bapak, karena saya mencari halaman catering sercices di pengeboran, saya belum lama ini bekerja di pengeboran gas conocophillips onshore yang di sumatera tepatnya di daerah sungai lilin perbatasan palembang jambi mungkin bapak lebih tau lokasinya, saya bekerja disana di bagian kitchen sebagai rotasi cook, yang kadang ikut di rig kadang di permanent camp, ikut ikut orang drilling pernah, yang jelas dipedalaman sumatera, nah pak mimbar, setelah saya baca saya baca about me di artikel bapak, bapak menjabarkan jenis-jenis pekerjaan di rig diantaranya “cook” dan “kitchen boy”, pak mimbar kalo boleh saya tau catering services yang ada di perusahaan bapak namanya apa? terus terang saya ingin mencoba bekerja di offshore, barangkali bapak bisa membantu saya untuk bergabung di perusahaan bapak, saat ini saya lagi turun ke kota ,baru 4 bulan, tepatnya di bandung kota kelahiran saya, saya lagi bekerja di hotel masonpine di daerah padalarang, saya ingin bekerja lagi di pengeboran, apalagi di offshore saya belum pernah. melalui email ini mudah-mudahan bapak bisa memberikan sedikit informasi kepada saya, pak mimbar saya tunggu balasannya ya, artikel bapak enak dibaca. salam saya agus mustopa.
Posted by Bonus Setiawan Yogassana on August 13, 2008 at 7:19 am
Pak Mimbar,
saya pernah bertemu dgn Pak Mimbar di sebuah gedung lt.6 di jkt. tanpa sengaja saya temukan link blogspot ini dan kaget ternyata orang yang pernah saya temui adalah seorang penulis. saya orang baru yang ingin tahu lebih jauh tentang seorang Mimbar. setelah saya baca, saya sangat tertarik dengan tulisan2 bapak yang memberikan pelajaran bagi kaum muda seperti saya secara tidak langsung, dimana tulisannya tidak terkesan menggurui, tetapi memberikan gambaran dengan kisah2 yang mudah dipahami dan enak dibaca, setidaknya saya bisa belajar dari orang yang lebih dulu berpengalaman seperti salah satunya Pak Mimbar ini.
seperti cerita ini yang memberikan pelajaran tentang kesabaran dan ketangguhan pak Mimbar dengan dunia perminyakan, dan ini menjadi motivasi saya yang dari dulu ketika saya masih kecil selalu berangan2 untuk bekerja di perminyakan, dan alhamdulillah sekarang saya baru memasuki dunia itu dan masih ingin bergelut didunia ini.
Posted by Mimbar SAPUTRO on August 13, 2008 at 4:24 pm
Bonus tetapi jangan buru-buru kawin dong kalaiu mau bergelut diperminyakan, nanti kalau dikirim ke luar negeri kanget terus
Posted by boby on August 21, 2008 at 6:49 pm
kadang saya menjadi bingung,
apa sebenarnya yang paling esensial yang manusia cari dalam hidup dan bekerja, apakah uang semata, kenyamanan kerja, fasilitas, teman, bidang yang sesuai. Tentu semua menjawab ya kalo bisa semuanya dapat. Tapi bila direnungkan, apakah mungkiiin??
Saya yakin semua orang menyadari bahwa kenyamanan hidup adalah yang paling dicari yang terdiri dari ketenangan, kebahagian, kecukupan akan kebutuhan hidup. Ukurannya menjadi relatif saat diperbandingkan antara satu orang dengan yang lainnya. Namun tentu akan tergoda saat melihat orang lain, dan berupaya untuk menyamainya. Hal tersebut tentu diiringi dengan konsekuensi, bekerja lebih panjang waktunya, tanggungjawab lebih berat, resiko lebih besar, tekanan lebih tinggi, stres lebih besar dan tentu keringat lebih banyak. Menjadi renungan disini adalah apakah hal tersebut telah sesuai dengan yang akan kita dapatkan??
Jujur, hingga saat ini pun saya masih meraba-raba hidup saya, karir apa yang akan saya bentuk, final goals apa yang akan saya capai, langkah apa yang akan saya raih, meskipun saat ini saya telah bekerja di salah satu instansi pemerintah.
Akhirnya hidup adalah “nampaknya”, sepertinya, looks like, “sawang sinawang” demikian orang tua saya mengajarkan. Kenapa ?? Saya pikir sebelumnya, saya adalah orang yang kebingungan dengan karir yang rasanya nda jelas dan kondisi pekerjaan yang bagi saya rasanya tidak seperti yang saya ekspektasikan sebelumnya. Namun ternyata saya memiliki teman banyak pula,he2..
Argumen tersebut bukan bermaksud untuk meremehkan salah satu pihak, merendahkan, menyindiri atau bentuk negatif lainnya, namun lebih kpd argumen pribadi saya sendiri.
Posted by boby on August 21, 2008 at 6:53 pm
ups, ada yang tertinggal..
Ada hal yang rasanya membingungkan, saya melihat saudara (kakak) saya yang bekerja di minyak akan sangat menyenangkan hidupnya. berlimpah fasilitas dan gaji yang menggiurkan. Demikian pula teman2 yang bekerja diperusahaan minyak yang lain. Namun saya cukup terhenyak, ups, tnyt tdk sepenuhnya seperti itu. ya itu tadi, nampaknya.
ternyata tugas dan tanggungjawab, serta resiko cukup besar dan belum tentu sesuai dengan rewards yang diterima.
so, ya I have to do more.. \
Thank®rads,
-boby-