Pertanyaan yang umum dialamatkan kepada saya, bagaimana makan di Australia.

Saya ambil contoh makan siang saya di sebuah kedai bawah tanah bernama “Shogun“- Pemiliknya, dari perawakan, mata dan gaya bicara kita sudah bisa menebak kedai ala emperan ini dijalankan oleh semacam imigran dari Gurun Gobi.

Alasan lain saat saya terkena “home sick” maka makanan ala HokBen lah yang saya pilih lantaran sibungsu saya Satrio, sewaktu kecil bisa melahap nasi putih gundul dua mangkok dalam hitungan jumlah partai peserta pemilu kita. Sementara kakaknya Lia yang sebentar lagi akan menikah, waktu kecil juga memiliki selera akan HokBen yang sama sehingga jargon HokBen melambangkan Persatuan dan Kesatuan tercipta seutuhnya di meja kedai Jakarta.

Pesan teriyaki diberi UFO
Cara pelayanannya juga unik. Setelah memesan makanan kita diberi sepiring kecil “mainan” - bentuknya mirip pesawat UFO namun fungsi sebenarnya adalah alat penyeranta (pager). Jadi anda boleh pergi kemana-mana sementara menunggu masakan disiapkan. Nantai kalau “bip” pager berbunyi, berarti masakan sudah bisa diambil. Jadi suasana makana tidak terlampau riuh rendah.

Maka seperti dalam gambar, semangkuk nasi rasa ketan, semangkuk sup, potongan daging, salad, gorengan ubi jalar, dua potong “lemper” jepang sudah membuat perut kekenyangan. Karena saya fanatik berat kecap Bango, terpaksa Kikoman saya simpan di tong sampah. Aneh-aneh nggak jelas gitu rasanya. Atau saya yang aneh.

Untuk itu saya merogoh 15dollar Australia  hampir seperdelapan juta rupiah.  Di Jakarta dengan biaya segitu kita sudah diruang khusus dengan pelayan siap sedia memasangkan serbet dan menuangkan teh untuk kita. Oh Indonesiaku.

Tapi gara-gara ini saya jadi ingat Bakmi Gang Kelinci di Passerbaroe yang masi koeno - dengan keriuhan teriakan para mbak-mbak “mi ayam, kosong satu, isi dua” -maksudnya jelas, satu bakmi ayam doang, sementara dua porsi lainnya dengan bakso. 


No Responses to “Sepotong makan siang di Perth”  

  1. No Comments

Leave a Reply