Ini namanya cilaka sebelas lebih sedikit. Calon pengantin wanita, ya anak sulung saya, Lia, sudah menuruni gen ayahnya. Selalu mengalami sindroma semacam alergi bilamana hari-hari pertama datang ke Indonesia. Tempat kelahirannya 26 tahun lalu di sebuah RS bilangan Menteng.
Cilaka yang ke sebelas setengah, Seno, calon suami sudah kelihatan „sentrap sentrup“ alias kelenjar hidungnya aktip berlebihan. Apalagi ia punya semacam polip pada batang hidungnya sehingga kalau bicara seperti diakhiri hurup „blebeg“ seperti berbicara dengan orang tak pandai berenang kejebur di telaga sedalam batang hidung.
Lalu istri saya yang sudah kecapekan selama dua bulan belakangan ini sehingga melupakan senamnya, perlahan benteng pertahanan tubuhnya mulai digedor. Padahal kalau selama ini, resepnya jitu, kalau mulai terserang pusing kepala, dibawa senam Kigel asuhan Bu Ning di kawasan KODAU V, langsung ewes-ewes bablas masuk angine. Yang kedodoran pada malam hari ya suaminya. “Aku sudah senam nih, mana bonusnya.”
Saya mulai kuatir, sebab tidur bersama orang yang hacing-hacing , srot..srot, tidak lama lagi saya bakalan ketularan. Kalau sudah begini saya gunakan, ilmu self healing dengan menggenggam erat-erat kedua tangan, menegangkan seluruh tubuh sambil mensugesti diri.
Beberapa kali cara ini berhasil mengenyahkan virus flu. Tanpa bantuan Paracetamol, Panadol, atau Decolsin. Tetapi tiga mahluk kesayanganku mana percaya bualan saya.
Maka, tindakan utama adalah mendatangi dokter terdekat. Kira-kira 200 meter-an dari rumah kami, arah jam 14:00 tinggallah seorang dokter pensiunan seorang Marsekal Udara. Pagi hari kami datangi, kata sang pembantu sedang praktek. Hebatnya lagi dokter ini menggunakan Ojek ketempat prakteknya. Ini adalah tindakan ajaib. Sementara orang mengeluhkan kemacetan lalu lintas dilapangan golf sambil terus menerus menambah koleksi mobil mewahnya sampai delapan, sekalipun sekadar memiliki anak semata wayang. Lalu menyalahkan kebrengsekan busway. Tetapi pak purnawirawan Marsekal, ethel (nyantai, Jawa) bertengger dibelakang ojek sambil mengenakan helm pinjaman yang baunya apek seperti kambing Qurban menderita kutu air..
Siang hari kami datangi, dokter belum datang. Malam kami datangi dokter masih praktek. Gagal bertemu dokter aneh ini. Kami putuskan untuk melupakan dokter, sebut saja, Budi, karena beliau nampaknya selesai praktek sering mampir dirumah anak-anaknya yang telah berkeluarga. Apalagi pasien mengaku sakitnya masih bisa ditahan sambil menunggu keesokan harinya untuk cari dokter di tempat lain.
Lho kok tidak disangka-sangka. Jam enam pagi, pintu kami digedor. Lantaran semua anggota panitia sudah masih ketiduran, maklum bekerja sampai Rendi sang jaga malam mengetuk tiang listrik tiga kali. Maka dibawah „tuwuhan“ hiasan yang terdiri dari janur, daun pakel, pisang, sebagai ubo-rampe meneladani istana ala Kiyai Ageng Tarub dokter saya persilahkan masuk. Sebuah stetoskop dan tang berada ditangan kanannya.
Dengan pakaian mirip para pensiunan kalau membentuk group senam dikampung. Kaos putih lengan pendek yang lusuh berniat pindah warna ke putih tua lalu celana training ”bluek“ warna biru dengan strip putih disampingnya khas Angkatan Udara.
Dokter ini seperti mewakili sikap hidup yang diemohi sementara orang. Kalau bisa beli baju obralan di Tanah Abang, kenapa mesti repot beli kaos di outlet barang bermerek seperti, Adidas, Reebok, Oakley yang harganya selangit itu..
Namun wajah teduh dan senyum „semeleh“ – legawa, tidak bisa ditutupi oleh penampilan sederhananya.
Saya membuka percakapan dengan humor garing “tadinya kami seperti sakit flu, namun sekarang seperti ada tambahan sakit jantung sebab kaget pak dokter yang mendatangi kami.” – mudah-mudahan ia bukan tergolong pensiunan “Angkatan” yang mudah mengumbar rasa tersinggungnya kalau berbicara dengan orang sipil.
Sambil menunggu pasien bangun. Saya menerangkan bahwa mereka mengantuk dicekoki CTM yang kata pak dokter itu kan ibarat menggunakan pesawat “cureng” – padahal sudah ada Sukhoi, Stealth, katanya. Tambahan lagi CTM tidak ada obat tidurnya. Garing kan?.
Nasehatnya soal resepsi perkawinan „kenapa tidak menggunakan EO (Even Organizer).“ selanjutnya “saya waktu masih aktip, menikahkan tiga anak dengan bantuan EO, tidak capek, tidak banyak pikiran.”
Tapi pak Dokter (dalam hati), sampeyan seorang Marsekal Udara, dan dokter. Lha saya ini siapa ? – kalau dulu sampeyan menunjuk, maka telunjuk lurus kelingking bisa berkait menjadi seekor menjadi sapi, teratak, kambing, beras, kelapa. Mohon maaf pengalaman pribadi sewaktu ayah memiliki tanda tangan yang selalu dipandang dua mata.
Sementara kalau saya menunjuk, maka hidung saya yang ketonjok sendiri. Lagian (alasan pembenaran), bukan pesta yang hanya 2-3jam yang dicari melainkan „proses“ persiapan yang diderita sekaligus dinikmati sebagai usaha orang tuanya „memulyakan“ anaknya menjadi Raja dan Ratu dari jam 19:00-21:00 di panggung.
Pembicaraan dari hati kehati selesai. Calon pengantin Pria, Wanita dan Istri tergopoh bangun sikat gigi sambil berkumur listerin. Lalu mereka berbaris seperti bebek didepan dokter Budi.
Tapi eit nanti dulu… alat periksa musti di-suci hama terlebuh dahulu. Caranya sederhana. Tang penjepit mulut direndam pada air kocoran dari dispenser aqua. Sambil menunggu proses sterilisasi, kami ngobrol lagi. Untuk menguji apakah tang sudah cukup suhunya untuk ditempelkan kedalam mulut maka sebentar-sebentar alat tersebut dijamah dengan tangan telanjang. Mudah-mudahan tetap steril.
Tidak lama beliau mengeluarkan resep, isinya standar dokter kita. Harus ada antibiotik, ada Panadol dan beberapa tambahan obat lainnya. Entah bagaimana muasalnya pembicaraan bergeser kearah bagaimana mempertahankan kesehatan pada usia senja. Bisa jadi melihat tubuh dokter yang masih langsing untuk seusia kepala hampir tujuh.
Pria bertubuh masih langsing ini terdiam. Lalu katanya “saya kalau bangun pagi merasakan nyeri di dengkul kanan saya,” ujarnya. Nah Lho…
“Lalu saya bersyukur pada Tuhan. Ya Allah, terimakasih, aku masih diperkenankan menikmati sakit ini.” – Coba, apa nggak seperti kena skak maat, saya rasanya.
Sementara dokter lain “lumba-lumba” (bahasa Malaysia), menjejali pasien dengan pelbagai obatan kelas mutahir agar otot tetap segar dan mendapatkan pembagian keuntungan dari obat yang direkomendasikannya. Pak dokter satu ini menikmati satu persatu gejala ketuaannya.
Proses pengobatan selesai, kami diberikan resep. Saat pulang amplop berisi dua lembar kertas berwarna merah saya sisipkan. Pak dokter halus menolak “yang penting kalian sehat. Pengantin harus tetap sehat. Kalau ada keluhan hubungi saya.”
Benar kata tetangga, dokter ini kepada orang tak mampu ia memberikan obat gratis. Kepada tetangganya yang mampu ia memberikan resep. Manusia langkawi.
Ingatan kami kembali setahun lalu saat kendaraannya mogok dijalan sempit gang kami. Sementara pak dokter nampak kebingungan mengatasi kendaran yang menghalangi jalannya kendaraan lain, sang istri nampak duduk bergeming didalam mobil.
Lalu mobil kami bantu dorong kepinggir. Rupanya lupa mengisi bensin.
Istri saya langsung trengginas „srag-sreg“ bertarzan ria memanggil ojek. „Bang elu beliin pak dokter bensin barang 5 liter, kamu pinjam jerigen dari tukang bensin lalu bawa kemari ya.“ Ajaib, tukang ojek tanpa banyak cingcong menuruti perintah istri saya. Saya pikir istri saya mestinya jadi Provost-Kowad ketimbang menikahi mudlogger.
„Kok saya nggak kepikiran panggil ojek,“ katanya sambil menepuk dahinya.
Pertolongan Pertama Pada Kemacetan kendaraan tetangga kami anggap selesai. Kami meneruskan perjalanan kami.
Sejak itu kami sering kebanjiran masakan dan buah-buahan kirimannya.
Tapi sampai detik kedatangannya saya belum pernah berkunjung ke rumahnya. Pasalnya saya kurang suka mendatangi tetangga kalau tanpa motip mengobrol yang jelas. Maklum 9 dari 10 obrolan kosong ternyata seringkali membekas salah tafsir oleh lawan ngobrol saya yang rata-rata pensiunan angkatan.
Sekarang pak dokter malah mendatangi saya dan mengetuk hatiku untuk belajar bersyukur atas nikmat Tuhan sebelum satu persatu hadiah tersebut mulai dicabuti dari diri kita..