Madurejo – dari Manager ke Retailer

Kawan saya Yusuf Iskandar sudah lama saya “ojok-ojoki” maksudnya diajak agar mau menuangkan tulisannya dalam website. Tetapi sebegitu lama belum tergerak hatinya. Padahal ia pernah menulis sebuah restoran di Yogya, oleh Kompas diberi voucher makan gratis. Mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai Planning Manager di Louisiana, Amerika.

Lalu pesta mulai usai. Setelah hidup bak pangeran di Lousiana mendadak terjadi “tour of duty” – ia dipindahkan kembali di kawasan gunung yang dingin di Papua. Yang tidak disangka sangka intrik-intrik perebutan kursi jauh mengalahkan profesionalisme seseorang. Teman saya mulai disingkirkan.

 

Suatu hari ia mengirim email meminta pendapat saya jika ia minta pensiun dini. Saya hanya bilang Mas kita ini ibarat PRT. Kalau majikan sepertinya sudah emoh kepada kita, maka pada hari itu juga nilai kita melorot dimatanya. Namun kalau kita mampu busung dada, balik kanan langkah tegap, biasanya keahlian kita yang selama ini dianggap sepele mulai terasa kegunaannya. Selama ini kita dianggap pelumas pada engsel pintu. Begitu minyak kering pintu mulai sulit dibuka dan suara berderit memekakkan telinga.

 

Tapi kalau kita tetap bertahan diperusahaan sambil menangis bombay menjual kesedihan, makin lama kita bertahan semakin tak berharga dimata perusahaan. Lupakan slogan perusahaan yang tertempel didinding kantor bahwa “karyawan adalah aset utama perusahaan.”

Akhirnya ia memang pensiun dan uang tabungannya langsung dijadikan modal usaha membuang warung ritel yang diberi nama Madurejo. Ternyata memang memulai usaha itu alot.

Kadang niatnya maju jadinya ahtret, sementara anak-anak melihat bapak kerjanya tiduran saja dirumah lantas mulai keluar pertanyaan kritis seperti juga pertanyaan bathin tetangga, kerabat dan semuanya. Yusuf seperti ingin mengatakan “Kalau kesusahan sedang datang, kok ya datangnya berjamaah, kadang se batalion berbarengan.” – Belum selesai satu masalah datang masalah lain silih berganti. Dan sebagai penulis ia merekam sesenggukannya dengan gaya kocak namun rinci.

Akhirnya selama dua tahun ojokan saya perlahan mempan juga. Sekarang ia menulis kesannya membangun Ritel Madurejo dalam blog yang diberi alamat  www.madurejo.wordpress.com

Respond to this post