Nyaris dua kali di evakuasi

Saat di evakuasi pada 29 December 2007 gara-gara ancaman siklun Melanie, oleh perusahaan Woodside Energy Australia kami ditempatkan di sebuah Hotel yang terbilang “wah” untuk ukuran saya yaitu Pacific International Hotel.  Petugas urusan cekin memberitahu bahwa makan disediakan, namun terbatas non alcohol material. Artinya kalau anda mau minum bir, misalnya terpaksa dari kocek sendiri. Di Australia, sewa hotel tidak termasuk sarapan. Bahkan kalau di kamar anda terlalu banyak piring dan gelas kotor tidak ayal akan ada biaya tambahan untuk mencuci piring. Broadband internet mematok harga 20 dollar per hari (Rp. 150.000).  Disebut satu hari, maksudnya kalau anda sudah teken kontrak, dipakai atau tidak selama 24jam dianggap satu hari.

Saya berada di kamar 607, lantai enam dari Hotel Pacific International yang terletak strategis di pinggir jalan sehingga dari kejauhan bisa menikmati pemandangan kota Perth, gedung teater Imax. Bahkan beberapa musik dari Pub yang buka sampai jam 1 malam, bisa saya nikmati saat  mereka membawakan lagu wajib seperti I Feel Good. 

Waktu sekitar jam Senin 10:00 pagi, tanggal 31 Desember 2007. Sebuah novel memoir sebuah keluarga asal Hainan yang beremigrasi ke Singapura baru saya browsing judul dan komentar pembaca ketika alarm kebakaran di hotel mulai berbunyi. Mula-mula sekadar “ting,ting” lalu meningkat makin meninggi dan mencuit sehingga membuat nyali ikutan menciut. Apalagi ada suara “Proceed to your designated area” – berkali-kali.

Sekalipun sering berlatih kebakaran, tak urung saya bingung juga sebab secara otomatik akses ke lift ditutup oleh pintu lain.  Sejujurnya otak mulai terganggu sebab beberapa sehari menjadi tamu hotel ini selain belum hapal semua lika-liku hotel, otak sudah disetel misalnya keluar kamar, jangan lupa bawa magnetik card, passport, dompet. Lalu berjalan lurus dan belok kiri sampai ketemu lift.  Setelah menenangkan diri ”mak jegagik” sekonyong-konyong pintu muncul begitu saja.

Lalu ingat kalau darurat harus membasahi semua seprei, handuk, baju untuk menutup pintu agar asap tidak masuk. Skenario paling buruk bagaimana cara memecahkan kaca tebal lalu turun dari lantai 6 dengan menggunakan tali yang dijalin dari seprai.  Kalau sudah begini menyesal rasanya pisau lipat tidak dibawa lantaran tidak kepingin berurusan dengan petugas keamanan di Airport. Paling tidak dalam keadaan terpaksa bisa dipakai untung memotong gorden, seprai, selimut untuk dijadikan tali. Tapi kita bicara manusia dengan usia 55 tahun dan bobot 80 kilogram.

Beberapa penghuni hotel ada yang masih pakai piyama, ada yang masih berselimutkan handuk. Yang luar biasa sama sekali tidak terjadi kepanikan sebab seratus persen dipercayakan kepada yang lebih kompeten.

Begitu sampai di muster point – alias titik temu, saya melihat sebuah mobil pemadam kebakaran sudah siaga. Dan lagi lagi suasana lalu lintas tidak terganggu oleh penonton. Padahal di tanah air kalau ada kejadian aneh para pemakai jalan langsung parkir kendaraan cari tahu (tapi umumnya sekedar menonton). Asap atau api kebakaran sendiri sama sekali tidak kami lihat. Tapi nggak penting kan?

Tidak lama kemudian, tiga petugas sudah hitam kotor pada baju wajahnya keluar dari hotel dan naik kedalam brandwir langsung bablas nggeblas.  Ketika para tamu satu persatu memasuki hotel saya sadar, bahwa passport saya dari tadi tergeletak di dalam kamar. Barang yang seharusnya tidak boleh terpisah dari tubuh apapun yang terjadi. tega-teganya saya tinggalkan backpack yang selama ini setia saya dukung.

Kesalahan kedua, saya tidak mematikan AC seperti yang disyaratkan kalau terjadi kebakaran. Woalah nyata benar bedanya latihan dengan realtime.

Hampir saja saya gagal merayakan tahun baru di Perth. Sudah di evakuasi dari Rig gara-gara siklon Melanie sekarang diungsikan dari hotel. Nyaris jadi pengungsi kedua kali tanpa paspor beneran.

Sejak saat ini saya berjanji bilamana berada di sebuah hotel asing akan segera memanfaatkan tangga darurat selain lift tentunya agar segera terbiasa bilamana keadaan gawat timbul.

Perth 31 Des 2007
www.mimbararsaputro.wordpress.com

Respond to this post