Pisang berbuah Tas Kresek berbuah (lagi) daging sapi

Sesajen

Para pemasok katering umumnya menyediakan makanan khusus dalam piring kecil, lalu disimpan dalam kamar khusus. Ada apa ini? Para kateringawan dan kateringawati punya kebiasaan menyiapkan masakan mereka dalam piring kurus, sekalipun pesta belum dimulai.  Hal yang sama terjadi pada saat kami mengadakan perhelatan pernikahan anak saya Lia pada bulan Desember 2007.  Ternyata porsi kecil ini tidak ada hubungannya dengan dunia spiritual sebagai upaya sesaji sebab menurut mbak Yanti sang penanggung jawab catering Kiki.  Cara ini dipakai seandainya terjadi keracunan para tetamu yang menyantap hidangan mereka, maka sample makanan tersebut yang akan diperiksa oleh pihak yang berwajib, lab reskrim misalnya. Maklum saja dunia bisnis seperti catering yanag ketat akan persaingan maka tidak semuanya putri Nirmala, ada juga yang si Sirik. Lalu bagaimana menyikapi ketakutan penyelenggara pesta agar hidangan tidak sampai kehabisan semua kembali kepada kejujuran kita saat memesan makanan. Dengan kapasitas gedung misalnya 800 undangan, maka janganlah sang syaiful hajat misalnya menebar seribu undangan, ini resiko yang bisa memalukan sampai kapanpun. Lalu makan yang berlebih biasanya dibungkus dan dibawa pulang bagi oleh-oleh para panitia yang selama berhari-hari mereka meninggalkan keluarganya demi membantu kami. Lalu jadi ingat puluhan tahun lalu ketika orang tua saya mengadakan pesta pernikahan. Biasanya kalau ada kerepotan begini maka dikerjakan secara gotong royong. Sayangnya niat Gotong Royong seperti yang kita sering dengar sudah berubah makna. Biasanya saat pesta berlangsung beberapa hari sebelumnya seekor lembu disembelih untuk makan siang para tamu maupun keluarga. Padahal acara inti (Resepsi) baru berlangsung keesokan malam. Berapa sih kemampuan makan sebuah keluarga, beberapa famili dan juru masak.  Namun kenyataannya  saat makan siang kami hanya kebagian daging “tetelan” alias tulang. Lalu beredarlah cerita “keanehan” dihalaman belakang rumah kami di Jambi. Ada yang bercerita bahwa pohon pisang sekarang berbuah tas kresek yang isinya sepotong paha kambing, hati sapi, ayam dan entah apa lagi. Semula kami tidak percaya, sampai suatu saat “Gusti Pangeran” menunjukkan. Salah satu pembantu juru masak Gotong Royong kepergok lalu permisi mau pulang. Tiba-tiba “mak blug” segumpal daging sapi jatuh dari balik kainnya. Di Sumatera, para ibu biasanya menggunakan sarung jika membantu memasak agar mudah bergerak diantara api tungku. 

Entoch sang ibu besok lagi datang membantu kami mungkin mereka punya alasan pembenaran bahwa pekerjaan gotong royong ganti ruginya ya bahan mentah seperti daging, pisau, cangkir milik kami.  Dan ternyata jenis manusia berselimut menolong ini datang dari pelbagai kelompok, dari yang memang membutuhkan protein hewani sampai yang seharusnya sudah kelebihan gizi berkantung tebal.

Artikel #1280
Mimbar Bambang Saputro
Pondok Gede, Bekasi

Respond to this post