Nggak tahan juga lihat mike

Mencoba Menyanyi

Saat pernikahan anakku pada 8 Desember 2007, kami sudah berdiri dipanggung menerima ucapan selamat dari para tamu, tiba-tiba saya turun memberikan kode untuk menyanyi (sebetulnya tidak boleh). Kejutan ini membuat para supporter terutama dari keluarga saya pada berteriak dan memotret saya terus. Pembawa acara memberikan komentar pak Mimbar ini kalau melihat mikrofon lantas tidak angkat suara entah pidato enatah ndagel maka tidurnya bisa tindihen katanya.

Sebuah lagu Il Mondo dicoba didengungkan (bukan dinyanyikan), tetapi suara yang memang dasarnya cempreng makin serak. Harap maklum pertahanan badan sudah mulai rontok didera persiapan dan upacara terus menerus. Nampaknya Il Mondo bakalan membunuh saya di refrainnya.

Lalu dicoba lagu Green Green Grass of Home, dengan tempo lebih lambat dari aselinya. Mustinya saya dangdutan lebih hapal dan sederhana liriknya.

Selesai nyanyi atau kumur-kumur, efeknya jadi dahsyat, ayah saya (Bung Dimana Kau Berada), ibu tiri, adik (Utami), bahkan besan saya pak Susilo ikut ambil suara maka suasana pesta mulai mencair ramai. Belakangan pak Susilo besan saya mengaku dia sudah dilarang isterinya ikutan menyanyi, namun dasar jiwa seni, diam-diam beliau mendekati panggung dan menggemalah Monalisa.

Aseli saya bukan penyanyi, usia 55tahun napas semakin pendek, tetapi bukankah karaoke diciptakan untuk orang yang kepingin menyanyi tetapi suaranya tidak memenuhi syarat. Mahzab itu yang saya tekuni sampai sekarang.

The Old Home Town Looks The Same
As I step down from the train
And there to meet me was mama and papa…

One Response to this post.

  1. semua orang bisa bernyanyi, cuman kualitasnya yang berbeda .. tapi so wot gitu lo .. selama everybody’s happy .. ya nggak pakde

Respond to this post