Nasi Seember Saya pesan satu porsi rendang dan satu ember nasi putih. Demikian teman saya yang nama depannya sama dengan nama tengah saya yaitu Bambang saat ia membisikkan pesanannya kepada pelayan di Hotel Hyatt, saat kami mengungsi akibat siklun di Perth.

Apa nggak salah dengar? Biasanya nasi sepiring, nasi semangkuk, nasi sebakul, nasi seceting, nasi setenggok, nasi semejik jer. Namun nasi satu ember ?. Seumur-umur baru kenalan sekarang.

Otomatis seperti seorang koboy terancam keselamatannya tangan saya menggerayangi pinggang tempat senjata saya sengkelit, yaitu kamera untuk menembak buruan berupa nasi satu ember sebelum berjatuhan pesanan lainnya.

Betul saja, tidak lama kemudian datang satu piring rendang beef ala Australia yang rasanya lumayan manis seperti bu Djuminten dari Yogya memasak rendang. Dan yang nggak nahanin nasinya satu ember tembaga (mini). Mau tidak mau saya yang memesan Laksa Australia, menjadi celamitan mencobai rasa nasi yasmin dan rendang bule yang memang nyam-nyam.

Tak heran ada pepatah liar pernah mengatakan bahwa perkawinan ibarat memasuki kedai makan. Sudah manztab memesan rendang ketika pesanan datang melirik gulai kambing dimeja tetangga seperti lebih syur.

Teman saya Bambang Budiarto ini orangnya berkulit putih, senyumnya meneduhkan, teman yang enak diajak mengobrol. Saya memanggilkan reinkarnasi Norodom Sihanouk pasalnya kami pernah makan di resotran Campuchea. Begitu melihat teman saya datang, pelayan yang cantik-cantik dan langsing langsung tregal-tregel melayaninya. Sementara saya sekedar dianggap penasehat spiritualnya atau sekedar bala dupak alias krocuk.

Sejak itu saya panggil anak Nologaten yang kondang dengan Bambang Kasur dan tidak pernah merasakan memantukan anak (lelaki semua) ini sebagai Norodom Budiarto. Keunikan lain, salah satu puteranya dituduh cuma bisa vak “sosial” waktu SMA, kemudian masuk Vaak Mesin, ternyata bisa, ternyata malahan menjadi asisten dosen diuniversitasnya.


No Responses to “Pesan Nasi Satu Ember”  

  1. No Comments

Leave a Reply