Kebenaran Yang Hilang – sebuah buku dari Departemen Agama


Lima bulan sebelum terbunuh, Farag Fouda terlibat dalam debat berkisar hubungan agama dan politik disebuah pameran buku Kairo.

Ada tiga puluh orang hadir disitu. Lawan debatnya adalah Muhammad al Ghazali.

Dalam buku Kebenaran Yang Hilang terbitan Departemen Agama, Fouda  mengemukakan dengan gamblang misalnya riwayat Khalifah ke-3 yaitu Usman bin Affan. Pada tahun 644 ia diangkat sebagai pemimpin umat. Dua belas tahun kemudian dia dibunuh, bukan oleh Yahudi, Majusi, atau kafir lainnya melainkan oleh pengikutnya.

Gara-garanya mereka kebingungan akan suksesi, Usman sudah berusia 83tahun namun tak hendak turun tahta. Terpaksa mereka membunuhnya dan menistakannya. Lalu jasad dibiarkan selama dua hari, boleh diludahi, dan tidak boleh dikuburkan dipemakaman Islam karena juga tidak ada yang menyalatinya. Oleh kitab ahli sejarah berjudul Tabaqat al-Kubra susunan Ibnu Sa’ad menulis satu data. Di brankas Usman ditemukan 30.500.000 dirham dan 100.000 dinnar.

Akibat perdebatan tersebut, pada tanggal 8 Juni 1992 di Madinat al-Nasr, Kairo, dua orang bertopeng menyerangnya. Fouda, 46,  tewas dan anaknya tertembak. Lima hari sebelumnya sekelompok ulama al-Azhar mengumumkan bahwa Cendekiawan ini menghujat agama dan boleh dibunuh. Lalu kelompok Jamaah Islamiah mengatakan “Ya kami membunuhnya..

Khalifah ke-4, Ali dibunuh oleh pedang beracun, juga bukan oleh Yahudi, kafir atau sebutan lainnya melainkan oleh Ibnu Muljam. Hanya dalam usia pemerintahan lima tahun.

Pembunuhnya tertangkap. Sebagai hukuman tangan dan kakinya dipenggal, matanya dicungkil dan lidahnya dipotong dan mayatnya dibakar.

Pada abad ke-8, khilafah jatuh ketangan wangsa Abbasiyah, yang muncul pertama kali adalah al-Saffah alias si Jagal. Ia mengumumkan bahwa segala lawan politik harus diburu sampai kekubur. Ternyata perintah ini dilakukan dalam arti mereka menggali mayat musuh politik, ada jasad masih agak utuh , disalib, dibakar. Ternyata musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup apa lagi…

Mungkin ciri yang teramat mengagumkan di Indonesia, buku pikiran Fouda bukan dibunuh melainkan diterbitkan dalam Kebenaran Yang Hilang..

Sumber: Majalah Tempo 9 Maret 2008 – Catatan Pinggir Gunawan Muhammad

About these ads

16 thoughts on “Kebenaran Yang Hilang – sebuah buku dari Departemen Agama

  1. ternyata dari artikel gunawan muhammad ini saya baru tahu jia ternyata Islam tidak pernah bisa menjadi sumber pendirian negara? Berarti orang-orang yang mengagung-agungkan konsep negara Islam saat ini omong kosong ya? dimana ya saya bisa dapat bukunya?

    Like

  2. ternyata gitu ya… tapi apa bener gitu… kalo gua ngeliat si daalam bukunye fouda itu ada kebenaran yang hilang, yaitu kebenara tentang islam yang hilang dari bukunye fouda, sebab yang brengsek itu orangnya bukan islamnye, bukan konsepnye… nah ini beda ame yang ane tau dari buku-buku sejarah… tidak ade tuh yang disembunyi-sembunyiin, itukan fouda juga taunye dari buku sejarah islam, kan di situ dicertain… cuma sayangnya fouda ini kagak baca penjelasannya.. ane pernah tau, fouda itu tidak diterima di ikhkwanul muslimin… makanya die jadi benci… terus nyari-nyari kesalahan deh… yang baek-baeknya dilupain… tapi gitu deh… kalo orang yang baru ngeliat mukanya aje, dalemannya mah kan kagak tau die… katanye dalam kitab tabaqat al-kubra bahwa di brankas Usman ditemukan sekian juta dirham en sekian ribu dinar… padahal kalo dibace nih tuh buku… itu bankas tuh bukan milik Usman… tapi milik negara… dulu kan kaga ade istana presiden jadi disimpannye di rumah khalifah… jadi baca dulu deh buku tabaqatnye… jangan komentar dulu kalo belum baca buku aslinye… soale fouda juga kagak jujur banyak kutipannya yang tidak ade sumbernya… buku itu kayaknya dari depag ye… yang mau mah datang aje ke depag… terus sekalian belajar agama… agama itu ada manfaatnye ko… yakin aja… buat neng Talitha, baik juga baca buku itu, tapi baca juga buku laennya, biar eneng dapat informasinya tidak salah… met membaca ye..

    Like

  3. waduh…saya nyari-nyari buku itu ke mana2, denger2 sih dah ditarik kembali sama depag karena kontroversial. koq…gitu ya…ada yang tau sekarang masih bisa dapet buku itu di mana?

    Like

  4. gitu deh, kalo orang udah benci. Apa aja dilakukan; dari mulai menjelek-jelekan, memfitnah, merancang siasat, menjatuhkan. pokoke yang gak bener semua.

    Gak si fouda gak si gunawan muhammad, setali tiga uang.
    umpan dari fouda disambut si gunawan dengan gegap gempita. Tulisan fouda ditelan bulat-bulat trus dikeluarkan dengan dibumbui macem-macem.

    Ya gitu deh…

    Like

  5. Silakan baca resensi yang merupakan kritik keras akan kebohongan FF ini, di Hidayatullah.com juga di Insistnet.com oleh Bapak Adian Husaini “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda” dan Ustadz Asep Sobari, keduanya adalah peneliti di INSIST, secara khusus dalam kuliah Kang Asep, referensi dalam bahasa Aslinya, Arab, ditampilkan a.l. dari literatur yang dirujuk sendiri oleh FF, seperti karya Ath-Thabari, Ibnu Sa’ad dll. Kang Asep adalah Alumni Unifersitas Madinah jurusan Sejarah (Tarikh) Islam, jadi sangat otoritatif jika beliau bicara sendiri. Saya pribadi sangat mengharapkan adanya bedah buku FF ini, dihadiri tokoh Paramadina, Gunawan Mohammad, Prof. Syafi’i Ma’arif, Prof Azyuardi Azra dan tokoh2 mumpuni lainnya, supaya kita2 yang awam ini Mubtadi’ (menjadi pengikut yang argumentatif), bukan yang sekedar taqlid, walaupun dengan Nama besar sekalipun. Apakah mereka sehebat sahabat Rasululullah sekalipun ? Silakan disimak kutipan berikut ini:

    “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda”
    Monday, 20 October 2008 02:45
    Kebiasaan kaum liberal adalah senang tampil beda. Jika ulama malarang,
    mereka justru membolehkan. Jika ulama mengecam penghina Nabi dan sahabat,
    mereka justru membelanya. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-246
    Oleh: Adian Husaini
    Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka
    senang dengan hal-hal yang nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada
    umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton suloyo alias WTS atau asal
    beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung Ahmadiyah.
    Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika
    umat Islam mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya.
    Umat Islam menolak perkawinaan antar-agama, tapi mereka malah
    mempromosikannya.
    Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum
    liberal senang tampil beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan
    sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal yang dianggap baru,
    dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang
    penting liberal, dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang
    lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut dengan gegap gempita.
    Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN
    Jakarta menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad
    Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.”
    Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap
    Irshad Manji. Tapi, mereka tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad
    Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung dengan idola baru
    bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua
    karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik
    Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah
    al-Haqidah al-Ghaibah.
    Tampaknya, buku Fouda sedang digandrungi oleh kaum liberal. Di berbagai
    forum mereka mempromosikan buku ini. Katanya, ini buku yang hebat, yang
    menunjukkan “kebenaran” yang selama ini disembunyikan oleh para sejarawan
    Muslim. Di negara asalnya, Fouda memang sempat membuat berita besar, saat
    ia mati terbunuh pada 8 Juni 1992. Lima hari sebelumnya, 3 Juni 1992,
    sejumlah ulama al-Azhar menyatakan Fouda telah murtad karena banyak
    menghujat Islam.
    Menyambut kampanye penyebaran buku Fouda tersebut, Jumat (17 Oktober 2008)
    lalu, bertempat di Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
    menggelar Tabligh Akbar. Tampil sebagai pembicara utama adalah Asep Sobari
    Lc, peneliti bidang sejarah di INSISTS. Sebelumnya, Asep Sobari sudah
    meluncurkan analisis kritisnya terhadap karya Fouda ini di situs
    http://www.hidayatullah.com. Tapi, dalam acara Tabligh Akbar, alumnus Universitas
    Madinah itu mengupas lebih tajam lagi berbagai kecurangan dan kesalahan
    Fouda dalam mengutip kitab-kitab rujukan dari Thabari dan Ibn Saád.
    Sejumlah bagian dari naskah edisi Indonesia, dibandingkan langsung dengan
    naskah asli karya Fouda serta kitab-kitab rujukan Fouda. Dengan cara
    seperti itu, tampak jelas dimana letak kecurangan dan kelemahan buku Fouda
    tersebut.
    Karena itu, kita kemudian memang cukup keheranan dengan berbagai pujian
    terhadap buku ini. Khususnya yang dilakukan oleh orang yang bergelar guru
    besar bidang sejarah. Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan
    Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini, memuji-muji
    buku Fouda:
    “Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas
    sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering
    tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara
    sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk
    melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan
    masa depan”.
    Lebih “hebat” lagi pujian dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, Guru Besar
    Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY):
    ”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini.
    Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat
    sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang
    sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain
    kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara
    lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.
    Dengan gamblang, Asep menunjukkan bagaimana Fouda telah sengaja mengambil
    sejumlah riwayat yang lemah dan tidak jelas sumbernya untuk mendukung
    opininya. Lalu, dia katakan itu sebagai fakta sejarah. Padahal, faktanya
    tidak begitu. Kecurangan yang sangat jelas, misalnya, dalam kasus sahabat
    Utsman bin Affan r.a. Dengan mengutip riwayat-riwayat yang lemah, Fouda
    telah membangun citra yang sangat buruk terhadap menantu Rasulullah saw
    tersebut.
    Karena isinya semacam itu, tidak heran jika tokoh liberal, Goenawan
    Mohamad pun bersorak gembira dengan terbitnya buku ini. Catatan Goenawan
    di Majalah TEMPO dijadikan epilog buku ini. Ketajaman pena wartawan
    kawakan ini digunakan untuk mempertajam lagi gambaran hitam fitnah Fouda
    terhadap sahabat Rasulullah saw yang mulia ini. Simaklah uraian Goenawan
    tentang Sayyidina Usman bin Affan r.a. dalam kolomnya:
    “Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari,
    jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.”
    Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad
    orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya
    dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3
    itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui
    dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh
    Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab
    al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data
    menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan.
    Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan
    100.000 dinar.”
    Tampaknya Goenawan tidak mengecek sendiri pada kitab al-Thabari dan Ibn
    Saád. Dia taklid buta pada Fouda. Dengan penggambaran Goenawan Mohamad
    seperti itu terhadap Usman r.a., kita dapat menangkap pesan, bahwa
    Khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin itu adalah seorang yang hina, sial,
    dan serakah. Goenawan seperti sedang mengejek umat Islam yang senantiasa
    berdoa untuk Rasulullah saw dan para sahabatnya: “Wahai umat Islam, orang
    yang kalian puja dan doakan itu adalah manusia brengsek. Kalian selama ini
    telah tertipu. Ada kebenaran yang hilang; ada fakta sejarah yang selama
    ini disembunyikan!” Maka, judul yang ditulis untuk buku Fouda ini adalah
    “Kebenaran yang hilang”.
    Kita paham, kaum liberal seperti Goenawan Mohamad ini sedang menertawai
    umat Islam melalui buku Fouda. Seolah-olah, selama ribuan tahun, umat
    Islam tolol semua. Para ulama Islam telah melakukan kecurangan,
    menyembunyikan fakta sejarah tentang sahabat nabi. Seolah-olah, para orang
    tua Muslim telah salah mengajar anak-anaknya untuk mencintai Rasulullah
    saw dan para sahabatnya. Padahal, kata mereka, sahabat Nabi yang
    diagung-agungkan dan senantiasa didoakan umat Islam itu ternyata juga
    manusia serakah, manusia busuk!
    Pesan penting lain yang disampaikan Goenawan melalui kolomnya adalah
    pembelaan terhadap Fouda. Ia memuji Fouda. Ia menyesali kematian Fouda.
    Sebab, Fouda termasuk jajaran kaum sekular-liberal. “Ia mempersoalkan
    keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan,” tulis Goenawan
    tentang Fouda. Tapi, penyesalan itu bukan untuk Usman r.a.. Goenawan
    termakan cerita Fouda, bahwa Usman r.a. adalah manusia brengsek, serakah,
    dan haus kekuasaan. Karena menolak turun dari jabatannya, maka Usman
    terbunuh. “Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman – lalu
    membunuhnya, lalu menistanya,” tulis Goenawan.
    Usman bin Affan adalah manusia hina. Itu fakta, kata mereka Sumber berita
    untuk mencaci maki sahabat Nabi itu hanya satu: Farag Fouda. “Kaum
    “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu,” ejek
    Goenawan. Syafii Maarif juga cukup rajin mempromosikan buku Fouda ini.
    Seperti yang ditulisnya di sampul belakang buku ini: Fouda telah memahami
    sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif. Azyumardi
    Azra juga menyebut apa yang disajikan oleh Fouda sebagai “realitas
    sejarah”.
    Sebagai Muslim yang beriman akan kejujuran Nabi Muhammad saw, tentu iman
    kita tertantang dengan pemaparan tentang Sayyidina Usman versi kaum
    liberal ini. Benarkah Usman r.a. memang manusia hina dan bejat seperti
    digambarkan Fouda dan Goenawan Mohamad? Padahal, begitu banyak hadits
    Nabi yang menyebutkan tentang keutamaan Usman bin Affan. Maka, kita
    ditantang: percaya pada Nabi Muhammad saw atau percaya pada Farag Fouda?
    Untuk itu, cara terbaik adalah mengecek langsung sumber-sumber asli yang
    dikutip Fouda. Hasil penelitian Asep Sobari menunjukkan, ada kelemahan
    metodologis dan kecurangan yang sangat serius dari Fouda dalam mengutip
    sumber-sumber aslinya. Misalnya, tentang riwayat keterlambatan penguburan
    jenazah Usman bin Affan, Fouda hanya mengambil satu riwayat yang lemah
    dalam karya al-Thabari. Padahal, ada delapan versi lain yang juga
    disebutkan dalam kitab itu. Tapi, Fouda sama sekali tidak menyinggungnya.
    Bahkan, dalam al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad, disebutkan beberapa
    riwayat dari `Amr bin Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan
    Usman dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi` (al-Thabaqat,
    3/77-78). Jadi, dengan hanya menyebut satu riwayat yang lemah, Fouda
    jelas-jelas melakukan upaya menipulasi data sejarah dengan membuat kesan
    seolah-olah hanya ada riwayat itu saja.
    Cara penulisan sejarah seperti ini tentu tidak komprehensif. Maka, ajaib,
    jika Profesor sejarah justru memuji-muji buku ini. Sama ajaibnya dengan
    wartawan senior yang malas melakukan cek dan ricek terhadap sumber-sumber
    referensi yang dipakai Fouda. Mungkin hanya karena cerita picisan Fouda
    itu sesuai dengan seleranya, maka dia langsung menelan begitu saja cerita
    tentang kebejatan Usman r.a..
    Dalam paparan slide-nya saat Tabligh Akbar di Masjid Dewan Da’wah, Asep
    Sobari menampilkan naskah asli dari al-Thabari yang sama sekali tidak
    menyebutkan areal pemakaman Hasy Kaukab sebagai areal pemakaman Yahudi.
    Tapi, dalam naskah asli buku Fouda, ada tambahan bahwa Hasy Kaukab (bukan
    Hisy Kaukab) adalah areal pemakaman Yahudi. Ini juga merupakan tindakan
    yang tidak etis dalam penulisan ilmiah. Apalagi ini menyangkut martabat
    seorang sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh Nabi Muhammad saw dan juga
    umat Islam secara keseluruhan.
    Apakah Usman bin Affan seorang yang serakah karena meninggalkan banyak
    uang seperti dikatakan Goenawan Mohamad? Asep Sobari menunjukkan data
    yang menarik tentang kesuksesan bisnis Usman r.a. dan kedermawanannya.
    Sejumlah riwayat yang dituturkan Ibn Hajar memberi gambaran kekayaan
    Usman. Di antaranya, pada permulaan masa hijrah, kaum muslim di Madinah
    kesulitan mendapat air bersih. Saat itu, hanya ada mata air Rumah yang
    tersedia dan itupun harus dibeli. Usman r.a. akhirnya membeli sumur itu
    dan mewakafkannya untuk umat Islam. Ketika ada rencana perluasan masjid
    Nabawi di masa Nabi saw dan dana kas negara tidak mencukupi, Rasulullah
    saw mengumumkan pengumpulan dana. Maka Usman r.a. segera membeli tanah
    untuk perluasan tersebut seharga 25.000 dirham. Ketika Nabi saw menghimpun
    dana guna membiayai perang Tabuk yang terjadi di masa paceklik, Usman r.a.
    mendermakan 1000 dinar, 940 ekor unta dan 40 ekor kuda (al-Khilafah
    al-Rasyidah min Fath al-Bari, hlm. 453-458).
    Seiring dengan geliat kemajuan ekonomi di masa Umar, bisnis Usman bin
    Affan pun semakin berkembang dan asetnya bertambah besar, jauh di atas
    rata-rata kaum muslimin lainnya. Imam Bukhari (hadits no. 3059)
    menggambarkan, ketika kekayaan negara berupa hewan ternak semakin banyak,
    Umar terpaksa membuat lahan konservasi eksklusif (al-Hima), dan berkata
    kepada pegawainya, “Izinkan para pemilik ternak untuk menggembala di
    al-Hima, tapi jangan sekali-kali mengizinkan [Abdurrahman] bin Auf dan
    [Usman] bin Affan. Karena jika seluruh ternak mereka berdua binasa, mereka
    masih punya kebun dan ladang”.
    Jadi, Usman r.a. memang seorang pengusaha sukses, kaya raya dan sangat
    dermawan. Jangankan hartanya, nyawanya pun telah dipertaruhkan untuk
    Islam. Ia terjun langsung dalam berbagai peperangan. Tidak masuk akal,
    manusia mulia seperti ini lalu menjadi orang yang serakah terhadap dunia.
    Tidaklah sepatutnya pribadi mulia seperti Usman bin Affan itu disejajarkan
    dengan seorang Farag Fouda. Jika ada sebagian sisi lemah Usman r.a. dalam
    kebijakan politiknya, maka Usman memang seorang manusia. Tapi, tidaklah
    komprehensif melihat kepemimpinan Usman hanya dari sebagian sisi lemahnya
    saja. Berbagai prestasi besar – dalam politik, ekonomi, dan pendidikan –
    telah dicapai dalam masa 12 tahun kepemimpinan Usman bin Affan r.a.
    Selama ratusan tahun, para sejarawan Muslim telah mencurahkan segenap
    tenaga untuk menulis sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak
    ada kebenaran yang disembunyikan, seperti tuduhan Fouda yang diamini
    begitu saja oleh sejumlah tokoh liberal di Indonesia. Sebab,
    sumber-sumber sejarah itu tetap terbuka untuk diteliti, oleh siapa saja.
    Silakan Goenawan Mohammad, Azyumardi Azra, dan Syafii Maarif menelitinya
    sendiri. Jangan bertaklid begitu saja kepada Fouda. Jangan mengerdilkan
    keilmuan Anda sendiri! Aneh, jika kematian Fouda disesali, tetapi
    kematian Usman bin Affan justru dianggap wajar. Sebab, Fouda adalah
    pejuang HAM, sedangkan Usman r.a. adalah manusia hina dan serakah!
    Semestinya, para ilmuwan dan cendekiawan ini membaca juga banyak buku
    lainnya tentang cerita seputar konflik diantara sahabat Nabi. Thaha Jabir
    Ulwani, misalnya, dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil Islam, memaparkan
    data-data perbedaan bahkan konflik diantara sahabat Nabi. Mereka adalah
    manusia. Tapi, yang sangat indah adalah bagaimana cara mereka menghadapi
    dan menyelesaikan konflik. Umat Islam justru bisa belajar dari sejarah
    semacam itu. Sebab, dalam kehidupan manusia, ada saja orang-orang yang
    berbuat jahat dan mengeruhkan suasana. Terjadinya kekacauan dan pembunuhan
    terhadap Usman bin Affan r.a. tidak bisa begitu saja ditimpakan
    kesalahannya kepada Usman r.a. Begitu juga, martabat Ali bin Abi Thalib
    r.a. tidak kemudian menjadi rendah karena di masanya terjadi pergolakan.
    Sebagai Muslim, kita tentu tidak sudi mengikuti jejak orang-orang yang
    mudah menghina sahabat Nabi saw. Mereka adalah manusia-manusia pilihan
    yang sangat disayangi oleh Nabi kita, Muhammad saw. Kita pun tak suka
    sahabat kita dicaci maki. Kaum liberal juga tidak suka jika idolanya
    diungkapkan keburukannya setelah kematiannya. Mereka katakan, itu tidak
    etis. Tapi, jika penghinaan dan pelecehan itu dilakukan terhadap sahabat
    Nabi, seperti Usman bin Affan r.a., mereka justru bertepuk tangan.
    Maka, kita tak akan bosan-bosan mengimbau kepada semua pihak yang telah
    semena-mena mencaci maki sahabat Nabi yang mulia: beristighfarlah dan
    bertobatlah sebelum terlambat! [Yogyakarta, 18 Oktober
    2008/www.hidayatullah.com].

    Like

  6. Silakan baca resensi yang merupakan kritik keras akan kebohongan FF ini, di Hidayatullah.com juga di Insistnet.com oleh Bapak Adian Husaini “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda” dan Ustadz Asep Sobari, keduanya adalah peneliti di INSIST, secara khusus dalam kuliah Kang Asep, referensi dalam bahasa Aslinya, Arab, ditampilkan a.l. dari literatur yang dirujuk sendiri oleh FF, seperti karya Ath-Thabari, Ibnu Sa’ad dll. Kang Asep adalah Alumni Unifersitas Madinah jurusan Sejarah (Tarikh) Islam, jadi sangat otoritatif jika beliau bicara sendiri. Saya pribadi sangat mengharapkan adanya bedah buku FF ini, dihadiri tokoh Paramadina, Gunawan Mohammad, Prof. Syafi’i Ma’arif, Prof Azyuardi Azra dan tokoh2 mumpuni lainnya, supaya kita2 yang awam ini Mubtadi’ (menjadi pengikut yang argumentatif), bukan yang sekedar taqlid, walaupun dengan Nama besar sekalipun. Apakah mereka sehebat sahabat Rasululullah sekalipun ? Silakan disimak kutipan berikut ini:

    “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda”
    Monday, 20 October 2008 02:45
    Kebiasaan kaum liberal adalah senang tampil beda. Jika ulama malarang,
    mereka justru membolehkan. Jika ulama mengecam penghina Nabi dan sahabat,
    mereka justru membelanya. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-246
    Oleh: Adian Husaini
    Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka
    senang dengan hal-hal yang nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada
    umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton suloyo alias WTS atau asal
    beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung Ahmadiyah.
    Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika
    umat Islam mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya.
    Umat Islam menolak perkawinaan antar-agama, tapi mereka malah
    mempromosikannya.
    Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum
    liberal senang tampil beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan
    sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal yang dianggap baru,
    dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang
    penting liberal, dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang
    lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut dengan gegap gempita.
    Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN
    Jakarta menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad
    Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.”
    Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap
    Irshad Manji. Tapi, mereka tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad
    Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung dengan idola baru
    bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua
    karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik
    Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah
    al-Haqidah al-Ghaibah.
    Tampaknya, buku Fouda sedang digandrungi oleh kaum liberal. Di berbagai
    forum mereka mempromosikan buku ini. Katanya, ini buku yang hebat, yang
    menunjukkan “kebenaran” yang selama ini disembunyikan oleh para sejarawan
    Muslim. Di negara asalnya, Fouda memang sempat membuat berita besar, saat
    ia mati terbunuh pada 8 Juni 1992. Lima hari sebelumnya, 3 Juni 1992,
    sejumlah ulama al-Azhar menyatakan Fouda telah murtad karena banyak
    menghujat Islam.
    Menyambut kampanye penyebaran buku Fouda tersebut, Jumat (17 Oktober 2008)
    lalu, bertempat di Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
    menggelar Tabligh Akbar. Tampil sebagai pembicara utama adalah Asep Sobari
    Lc, peneliti bidang sejarah di INSISTS. Sebelumnya, Asep Sobari sudah
    meluncurkan analisis kritisnya terhadap karya Fouda ini di situs
    http://www.hidayatullah.com. Tapi, dalam acara Tabligh Akbar, alumnus Universitas
    Madinah itu mengupas lebih tajam lagi berbagai kecurangan dan kesalahan
    Fouda dalam mengutip kitab-kitab rujukan dari Thabari dan Ibn Saád.
    Sejumlah bagian dari naskah edisi Indonesia, dibandingkan langsung dengan
    naskah asli karya Fouda serta kitab-kitab rujukan Fouda. Dengan cara
    seperti itu, tampak jelas dimana letak kecurangan dan kelemahan buku Fouda
    tersebut.
    Karena itu, kita kemudian memang cukup keheranan dengan berbagai pujian
    terhadap buku ini. Khususnya yang dilakukan oleh orang yang bergelar guru
    besar bidang sejarah. Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan
    Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini, memuji-muji
    buku Fouda:
    “Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas
    sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering
    tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara
    sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk
    melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan
    masa depan”.
    Lebih “hebat” lagi pujian dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, Guru Besar
    Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY):
    ”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini.
    Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat
    sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang
    sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain
    kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara
    lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.
    Dengan gamblang, Asep menunjukkan bagaimana Fouda telah sengaja mengambil
    sejumlah riwayat yang lemah dan tidak jelas sumbernya untuk mendukung
    opininya. Lalu, dia katakan itu sebagai fakta sejarah. Padahal, faktanya
    tidak begitu. Kecurangan yang sangat jelas, misalnya, dalam kasus sahabat
    Utsman bin Affan r.a. Dengan mengutip riwayat-riwayat yang lemah, Fouda
    telah membangun citra yang sangat buruk terhadap menantu Rasulullah saw
    tersebut.
    Karena isinya semacam itu, tidak heran jika tokoh liberal, Goenawan
    Mohamad pun bersorak gembira dengan terbitnya buku ini. Catatan Goenawan
    di Majalah TEMPO dijadikan epilog buku ini. Ketajaman pena wartawan
    kawakan ini digunakan untuk mempertajam lagi gambaran hitam fitnah Fouda
    terhadap sahabat Rasulullah saw yang mulia ini. Simaklah uraian Goenawan
    tentang Sayyidina Usman bin Affan r.a. dalam kolomnya:
    “Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari,
    jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.”
    Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad
    orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya
    dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3
    itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui
    dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh
    Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab
    al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data
    menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan.
    Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan
    100.000 dinar.”
    Tampaknya Goenawan tidak mengecek sendiri pada kitab al-Thabari dan Ibn
    Saád. Dia taklid buta pada Fouda. Dengan penggambaran Goenawan Mohamad
    seperti itu terhadap Usman r.a., kita dapat menangkap pesan, bahwa
    Khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin itu adalah seorang yang hina, sial,
    dan serakah. Goenawan seperti sedang mengejek umat Islam yang senantiasa
    berdoa untuk Rasulullah saw dan para sahabatnya: “Wahai umat Islam, orang
    yang kalian puja dan doakan itu adalah manusia brengsek. Kalian selama ini
    telah tertipu. Ada kebenaran yang hilang; ada fakta sejarah yang selama
    ini disembunyikan!” Maka, judul yang ditulis untuk buku Fouda ini adalah
    “Kebenaran yang hilang”.
    Kita paham, kaum liberal seperti Goenawan Mohamad ini sedang menertawai
    umat Islam melalui buku Fouda. Seolah-olah, selama ribuan tahun, umat
    Islam tolol semua. Para ulama Islam telah melakukan kecurangan,
    menyembunyikan fakta sejarah tentang sahabat nabi. Seolah-olah, para orang
    tua Muslim telah salah mengajar anak-anaknya untuk mencintai Rasulullah
    saw dan para sahabatnya. Padahal, kata mereka, sahabat Nabi yang
    diagung-agungkan dan senantiasa didoakan umat Islam itu ternyata juga
    manusia serakah, manusia busuk!
    Pesan penting lain yang disampaikan Goenawan melalui kolomnya adalah
    pembelaan terhadap Fouda. Ia memuji Fouda. Ia menyesali kematian Fouda.
    Sebab, Fouda termasuk jajaran kaum sekular-liberal. “Ia mempersoalkan
    keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan,” tulis Goenawan
    tentang Fouda. Tapi, penyesalan itu bukan untuk Usman r.a.. Goenawan
    termakan cerita Fouda, bahwa Usman r.a. adalah manusia brengsek, serakah,
    dan haus kekuasaan. Karena menolak turun dari jabatannya, maka Usman
    terbunuh. “Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman – lalu
    membunuhnya, lalu menistanya,” tulis Goenawan.
    Usman bin Affan adalah manusia hina. Itu fakta, kata mereka Sumber berita
    untuk mencaci maki sahabat Nabi itu hanya satu: Farag Fouda. “Kaum
    “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu,” ejek
    Goenawan. Syafii Maarif juga cukup rajin mempromosikan buku Fouda ini.
    Seperti yang ditulisnya di sampul belakang buku ini: Fouda telah memahami
    sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif. Azyumardi
    Azra juga menyebut apa yang disajikan oleh Fouda sebagai “realitas
    sejarah”.
    Sebagai Muslim yang beriman akan kejujuran Nabi Muhammad saw, tentu iman
    kita tertantang dengan pemaparan tentang Sayyidina Usman versi kaum
    liberal ini. Benarkah Usman r.a. memang manusia hina dan bejat seperti
    digambarkan Fouda dan Goenawan Mohamad? Padahal, begitu banyak hadits
    Nabi yang menyebutkan tentang keutamaan Usman bin Affan. Maka, kita
    ditantang: percaya pada Nabi Muhammad saw atau percaya pada Farag Fouda?
    Untuk itu, cara terbaik adalah mengecek langsung sumber-sumber asli yang
    dikutip Fouda. Hasil penelitian Asep Sobari menunjukkan, ada kelemahan
    metodologis dan kecurangan yang sangat serius dari Fouda dalam mengutip
    sumber-sumber aslinya. Misalnya, tentang riwayat keterlambatan penguburan
    jenazah Usman bin Affan, Fouda hanya mengambil satu riwayat yang lemah
    dalam karya al-Thabari. Padahal, ada delapan versi lain yang juga
    disebutkan dalam kitab itu. Tapi, Fouda sama sekali tidak menyinggungnya.
    Bahkan, dalam al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad, disebutkan beberapa
    riwayat dari `Amr bin Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan
    Usman dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi` (al-Thabaqat,
    3/77-78). Jadi, dengan hanya menyebut satu riwayat yang lemah, Fouda
    jelas-jelas melakukan upaya menipulasi data sejarah dengan membuat kesan
    seolah-olah hanya ada riwayat itu saja.
    Cara penulisan sejarah seperti ini tentu tidak komprehensif. Maka, ajaib,
    jika Profesor sejarah justru memuji-muji buku ini. Sama ajaibnya dengan
    wartawan senior yang malas melakukan cek dan ricek terhadap sumber-sumber
    referensi yang dipakai Fouda. Mungkin hanya karena cerita picisan Fouda
    itu sesuai dengan seleranya, maka dia langsung menelan begitu saja cerita
    tentang kebejatan Usman r.a..
    Dalam paparan slide-nya saat Tabligh Akbar di Masjid Dewan Da’wah, Asep
    Sobari menampilkan naskah asli dari al-Thabari yang sama sekali tidak
    menyebutkan areal pemakaman Hasy Kaukab sebagai areal pemakaman Yahudi.
    Tapi, dalam naskah asli buku Fouda, ada tambahan bahwa Hasy Kaukab (bukan
    Hisy Kaukab) adalah areal pemakaman Yahudi. Ini juga merupakan tindakan
    yang tidak etis dalam penulisan ilmiah. Apalagi ini menyangkut martabat
    seorang sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh Nabi Muhammad saw dan juga
    umat Islam secara keseluruhan.
    Apakah Usman bin Affan seorang yang serakah karena meninggalkan banyak
    uang seperti dikatakan Goenawan Mohamad? Asep Sobari menunjukkan data
    yang menarik tentang kesuksesan bisnis Usman r.a. dan kedermawanannya.
    Sejumlah riwayat yang dituturkan Ibn Hajar memberi gambaran kekayaan
    Usman. Di antaranya, pada permulaan masa hijrah, kaum muslim di Madinah
    kesulitan mendapat air bersih. Saat itu, hanya ada mata air Rumah yang
    tersedia dan itupun harus dibeli. Usman r.a. akhirnya membeli sumur itu
    dan mewakafkannya untuk umat Islam. Ketika ada rencana perluasan masjid
    Nabawi di masa Nabi saw dan dana kas negara tidak mencukupi, Rasulullah
    saw mengumumkan pengumpulan dana. Maka Usman r.a. segera membeli tanah
    untuk perluasan tersebut seharga 25.000 dirham. Ketika Nabi saw menghimpun
    dana guna membiayai perang Tabuk yang terjadi di masa paceklik, Usman r.a.
    mendermakan 1000 dinar, 940 ekor unta dan 40 ekor kuda (al-Khilafah
    al-Rasyidah min Fath al-Bari, hlm. 453-458).
    Seiring dengan geliat kemajuan ekonomi di masa Umar, bisnis Usman bin
    Affan pun semakin berkembang dan asetnya bertambah besar, jauh di atas
    rata-rata kaum muslimin lainnya. Imam Bukhari (hadits no. 3059)
    menggambarkan, ketika kekayaan negara berupa hewan ternak semakin banyak,
    Umar terpaksa membuat lahan konservasi eksklusif (al-Hima), dan berkata
    kepada pegawainya, “Izinkan para pemilik ternak untuk menggembala di
    al-Hima, tapi jangan sekali-kali mengizinkan [Abdurrahman] bin Auf dan
    [Usman] bin Affan. Karena jika seluruh ternak mereka berdua binasa, mereka
    masih punya kebun dan ladang”.
    Jadi, Usman r.a. memang seorang pengusaha sukses, kaya raya dan sangat
    dermawan. Jangankan hartanya, nyawanya pun telah dipertaruhkan untuk
    Islam. Ia terjun langsung dalam berbagai peperangan. Tidak masuk akal,
    manusia mulia seperti ini lalu menjadi orang yang serakah terhadap dunia.
    Tidaklah sepatutnya pribadi mulia seperti Usman bin Affan itu disejajarkan
    dengan seorang Farag Fouda. Jika ada sebagian sisi lemah Usman r.a. dalam
    kebijakan politiknya, maka Usman memang seorang manusia. Tapi, tidaklah
    komprehensif melihat kepemimpinan Usman hanya dari sebagian sisi lemahnya
    saja. Berbagai prestasi besar – dalam politik, ekonomi, dan pendidikan –
    telah dicapai dalam masa 12 tahun kepemimpinan Usman bin Affan r.a.
    Selama ratusan tahun, para sejarawan Muslim telah mencurahkan segenap
    tenaga untuk menulis sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak
    ada kebenaran yang disembunyikan, seperti tuduhan Fouda yang diamini
    begitu saja oleh sejumlah tokoh liberal di Indonesia. Sebab,
    sumber-sumber sejarah itu tetap terbuka untuk diteliti, oleh siapa saja.
    Silakan Goenawan Mohammad, Azyumardi Azra, dan Syafii Maarif menelitinya
    sendiri. Jangan bertaklid begitu saja kepada Fouda. Jangan mengerdilkan
    keilmuan Anda sendiri! Aneh, jika kematian Fouda disesali, tetapi
    kematian Usman bin Affan justru dianggap wajar. Sebab, Fouda adalah
    pejuang HAM, sedangkan Usman r.a. adalah manusia hina dan serakah!
    Semestinya, para ilmuwan dan cendekiawan ini membaca juga banyak buku
    lainnya tentang cerita seputar konflik diantara sahabat Nabi. Thaha Jabir
    Ulwani, misalnya, dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil Islam, memaparkan
    data-data perbedaan bahkan konflik diantara sahabat Nabi. Mereka adalah
    manusia. Tapi, yang sangat indah adalah bagaimana cara mereka menghadapi
    dan menyelesaikan konflik. Umat Islam justru bisa belajar dari sejarah
    semacam itu. Sebab, dalam kehidupan manusia, ada saja orang-orang yang
    berbuat jahat dan mengeruhkan suasana. Terjadinya kekacauan dan pembunuhan
    terhadap Usman bin Affan r.a. tidak bisa begitu saja ditimpakan
    kesalahannya kepada Usman r.a. Begitu juga, martabat Ali bin Abi Thalib
    r.a. tidak kemudian menjadi rendah karena di masanya terjadi pergolakan.
    Sebagai Muslim, kita tentu tidak sudi mengikuti jejak orang-orang yang
    mudah menghina sahabat Nabi saw. Mereka adalah manusia-manusia pilihan
    yang sangat disayangi oleh Nabi kita, Muhammad saw. Kita pun tak suka
    sahabat kita dicaci maki. Kaum liberal juga tidak suka jika idolanya
    diungkapkan keburukannya setelah kematiannya. Mereka katakan, itu tidak
    etis. Tapi, jika penghinaan dan pelecehan itu dilakukan terhadap sahabat
    Nabi, seperti Usman bin Affan r.a., mereka justru bertepuk tangan.
    Maka, kita tak akan bosan-bosan mengimbau kepada semua pihak yang telah
    semena-mena mencaci maki sahabat Nabi yang mulia: beristighfarlah dan
    bertobatlah sebelum terlambat! [Yogyakarta, 18 Oktober
    2008/www.hidayatullah.com].====Kutipan selesai

    Jadi Siapa yang bohong? Siapa yang memelintir sejarah?Saya berharap ada yang berani (termasuk pengelola blog ini) memprakarsai bedah buku FF ini, dengan mengundang para pembedah dari pengkritik dan pendukung buku ini, supaya terungkap siapa yang bohong siapa yang ilmiah, beberkan saja secara transparan kepada masyarakat secara cerdas, telanjanggi saja semua pihak yang berbohong supaya msyarakat tahu siapa cendekiawan yang cerdas dan siapa yang bebal. Hadirkan Prof. Syafii Maarif, Prof A Azra, Gunawan Mohammad, semuanya. Saya pesimis ini akan terjadi, paling2 hanya berlangsung di masing2 kubu, karena akan terjadi skandal terrbongkarnya aib bagi cendekiawan yang punya nama tenar di negeri ini. Pokoknya geger besar besaran!!!!!!!

    Like

  7. Terlepas dari buku Faroug Fouda yang kontroversial itu, kita bisa membandingkan dengan buku “Sejarah Umat Islam” karang Prof Hamka dan buku “Imamul Muhtadin Sayidina Ali bin Abi Talib R.A.” karangan Al Hamid Al Husaini. Ternyata memang apa yang diungkan Faroug Fouda ada benarnya.

    Khalifah Usman bagaimanapun tetap seorang manusia biasa dg segala kelebihan dan kekurangannya. Toh dia bukan manusia maksum. Jadi kenapa kita harus membelanya mati-matian ?

    Like

  8. Untuk Wakijan dan Agus
    Saya bukan orang liberal tapi saya juga bukan orang konservatif.
    Terus terang, saya juga tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang ditulis Fouda tapi saya juga tidak setuju dengan artikel yang ditulis Adian. Tapi, melihat banyak sekali orang taklid pada Adian dan mengesampingkan pandangan Fouda, saya memberikan sedikit pembelaan.

    Satu pertanyaan yag didengungkan di awal buku Fouda adalah kenapa hanya satu khalifah Islam yang meninggal dengan wajar? Kenapa tiga lainnya dibunuh? Kenapa Usman dan Ali terbunuh di ujung pedang sesama muslim?

    Pernah baca buku itu? Sebenarnya, yang dijadikan masalah dalam buku itu bukanlah Islam tapi kebudayaan orang-orang yang memeluk Islam sepeninggal nabi. Well, inilah yang sering disalahartikan oleh orang-orang.

    Fouda itu sangat mencintai Islam, seperti cinta Adonis pada Islam. Mereka mencintai Islam dengan sepenuh hati, buku yang ia terbitkan benar-benar menunjukkan cintanya. Apakah teman-teman tidak menyadari cintanya? Apakah teman-teman tidak merasakan kepedihannya ketika ia mengulas sejarah yang telah berlalu?

    Memang, ada yang salah dalam buku ini tapi tidak bisakah kita menghormatinya? Kenapa kita tidak berdebat tapi malah membunuhnya?

    Siapa yang sebenarnya sanggup menentukan apakah Fouda murtad atau tidak? Jika itu nabi, saya patuh. Siapa yang punya hak? Selain nabi dan Tuhan?

    Apakah kalian begitu benci pada liberalisme? Apakah kalian tahu, mimpi agung para pencetus liberalisme? Bisakah kalian meluangkan waktu sejenak untuk memahami apa yang mereka cita-citakan?Apakah kalian begitu membenci pada kritik? Bersyukurlah kalian jika ada orang yang mengkritik kalian, mengkritik dengan akal pikiran lebih rumit dari sekedar memvonis kafir!

    Hei, kaum muslimin yang berbahagia! Apa kalian senang hidup di bawah seorang raja yang menyebut dirinya “Tukang Jagal yang Bengis”? Apa kalian senang hidup di bawah seorang gubernur yang bergelar “Ular Anak Si Ular”? Fouda mempertanyakan bagaimana cara membatasi sang penguasa, apakah syariah adalah inti dari Islam, apakah penggabungan agama dan negara tidak merontokkan keduanya.

    Saya menghormati Fouda, saya angkat topi pada Syafi’i Ma’arif, saya juga kagum pada Goenawan Mohamad.Pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan beliau? Pernahkah Anda membaca tulisan Irshad Manji?

    Bolehkah?
    Bolehkah saya tahu kenapa Anda membenci mereka?
    Kenapa Anda menolak pandangan baru yang mereka ajukan?
    Apakah mereka begitu jahat pada Islam?

    Like

  9. Assalamualaikum WR WB..

    ya, sebagai agama, islam adalah mutlak kebenarannya, sebagai negara masih perlu penyesuaian sana-sini yang tentu saja banyak di tutup-tutupi kebenarannya oleh para pengusung Khilaffah, padahal belum tentu juga para pengusung khilaffah tersebut adalah pembawa agama yang benar..
    tentang FF, apakah tidak baca bahwa yang akan di bicarakannya adalah “politik islam” bukan “islam sebagai agama” jadi menurut saya FF tidak dalam keadaan membenci islam sebagai agama, tapi ingin memberi masukan konsep islam sebagai negara.

    wassalam ..

    Like

  10. kepada FLCL dan teman2 lain,
    Saya tidak pernah bertaklid pada Adian, tetapi saya ittiba’, mana yang sesungguhnya mengungkap kebenaran, bukankah judul yang buku FF mengandung kata “KEBENARAN’?, dan buku itu bukanlah buku sastra, melankolis (kata2 kecintaan pada Islam dari FF seperti yang anda rujukkan kepada FF, menggambarkan hal itu). Apakah penulisnya memang betujuan agar pembacanya sekedar membacanya sebagai novel? FF ask for lesson learnt. Terus apa yang kita dapat dari lesson learntnya FF? Bukankah para liberalis selalu mengemukakan ‘kita perlu bersikap KRITIS? Bukankah tulisan Adian merupakan manifestasi dari sikap kritis itu. Apalagi ini menyangkut kajian sejarah yang ilmiah? Makanya, saya sangat mendambakan semacam ‘confirming meeting’ diantara para narasumber, dalam suatu kajian obyektif dan ilmiah. Itu kalau kita memang mau bicara pencerahan/pencerdasan umat. Kalau cuma saling beragitasi/berpromosi kelompok masing-masing, ya, forumnya hanya akan berputar-putar dilingkaran polemik saja, yang hanya akan menghasilkan para fanatisi taklid buta saja.

    Anda harus ingat, dalam dunia akademispun dituntut kejujuran, obyektifitas, dan metodologi kajian yang jelas (seperti yang dipaparkan di atas, kita bukan mebaca novel!).
    Hal ini akan mendudukkan akademisi itu apakah dia cukup kredibel, otoritatif di bidangnya. Ingat ‘track record’ anda sebagai akademisi dipertaruhkan dalam setiap langkah akademis anda.
    Sekali anda melakukan pemlintiran fakta, plagiatisasi, dsb. Kredibilitas akademik anda patut dipertanyakan, walaupun anda pernah menjadi profesor, jurnalis ternama sekalipun! Sebagai ilustrasi kalau seseorang menyatakan bahwa hari proklamasi kita tanggal 10 November, tentunya si penggagas ini harus sudah siap dengan segala fakta-fakta sejarah, para penyaksi langsung kejadian, analis sejarah yang kredible, punya ‘track record’ yang baik, punya metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan keabsah sejarahannya. Kalau belum siap, ya , jangan mencak-mencak kalau anda mendapat kritikan pedas.

    Yang mengatakan khalifah Utsman tidak ma’sum, tentu benar, tetapi Rasulullah SAW selalu memuliakan para shahabatnya dan menjamin surganya, ada adabnya tindakan kita kepada para sahabat, seperti yang sering kita baca dalam shalawat akhir pada shalat kita membacanya. Apakah kita dianjurkan memuliakan orang lain sebaik para sahabat? Al Quran di surat Lukman 15 menganjurkan kita berbuat baik kepada generasi di atas kita dalam hal dunia, tetapi kalau mereka menyuruh berbuat keburukan untuk akhirat tentu tertolak Jadi,profesor sekalipun, jelas tidak ma’shum, jadi sah2 saja dikritik dengan adab yang santun tentunya.

    Pandangan anda tentang penghargaan kepada pemikiran liberalisme cuma menggambarkan nuansa romantis, melankolis saja. Yang ini panjang urainannya dan memerlukan forum bahasan tersendiri. Gambaran bahwa bahwa para penyanggah tulisan FF adalah kelompok pembunuh kreatifitas, penggampang tuduh stigma kafir, tidak kritis, statis, bahkan fundamentalis akan sirna bila anda mau sedikit mencermati artikel para penyanggah secara jernih, kalau perlu hadir dalam temu ilmiah dengan mereka. Sebagai info Kang Asep akan memberikan paparan ilmiah tentang Sejarah awal Islam secara berseri setiap hari Sabtu, di bulan Februari 2009 nanti, info lengkap bisa anda akses dari Insistnet.com. ada baiknya juga anda baca official website Dr. Daud Rayid, jangan berprasangka buruk dulu, lho, seakan beliau dari kelompok fundamentalis, lihat apa yang beliau tulis secara jernih, bagaimana metodologi ilmiah membaca buku sejarah, para sejarawan lainpun tentu secara garis besar sepakat bahwa kajian sejarah secara ilmiah, ya seperti itu. Lain kiranya kalau anda membaca sejarah ataupun karya lainnya sebagaimana FF, Irsyad Manji dll. Bagi saya itu buku Novel saja, khayali, suatu bentuk masyarakat utopia yang diangankan kaum liberal…..Malahan bukankah term liberal itu sendiri berkonotasi merusak?, sebagaimana politik liberal, ekonomi liberal, dsb. Yang dapat anda saksikan sendiri dampaknya, misalnya pada kerusakan ekonomi, kerusakan lingkungan di tanah air bahkan saat ini senjata makan tuan sendiri di bumi tumbuh suburnya liberalisme, Amerika, dimana demokrasi, imperialisme, kapitalisme saling bergandeng tangan, nah lo kalau dikaitkan dengan Islam, bagaimana dampak kerusakan ummat kalau sistem ini digunakan?. Wah saya mulai ngelantur nih, di forum lain saja atau di forum ini pada kesempatan lain boleh kita berkelanjutan, Monggo…

    .

    Like

  11. Gimana nih pendukung FF.. Jadi karyanya FF ini fakta sejarah atau novel? Kalau novel berarti di toko buku (klo masih ada) harus pindah rak dong.. “confirming meeting” gak bakalan mau lah.. wong gak pernah menang dari dulu..

    Like

  12. “seperti yang sering kita baca dalam shalawat akhir pada shalat kita membacanya”

    sepengetahuan ane shalawat yang dibaca pada akhir sholat untuk 1. Rasulullah dan Keluarganya 2. nabi Ibrahim As. dan Keluarganya , tidak ada tuh untuk sahabatnya..

    Like

  13. Salam. Saya baru dengar mengenai buku KYH ini dari seorang rakan. Katanya dia pun cuma dapat dalam salinan fotokopi yang dibukukan. Saya ingin meminta bantuan sdr/i bagi mendapatkan naskhah tersebut. Sila kirimkan kepada saya. Segala kos akan saya lunasi sebelum penghantaran dibuat. Wassalam. TK

    Like

  14. bukan menjelek jelekan tapi orang itu harus belajar terbuka jangan menutupi hal yang benar benar terjadi. itu hanya bohong namanya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s