Antara Sembawang dan Cengkareng (1)
Akhirnya selesai juga masa liburan di tempat anak di Singapura. Tepatnya menjadi TKI tambahan membantu mereka pindah kontrak.
Anak-anak sudah mapan mencari jalur bis yang melewati tempat mereka. Bedanya kalau selama ini hanya membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit ke tempat kerja - sekaranag menjadi sembilan puluh menit lantaran harus menaiki bus 169 yang akan stop di Ang Mo Kio Hub, lalu ganti bis lain ke tempat kerja.
Pagi ini barang-barang sudah dikemas dan ditimbang agar tidak kelebihan beban. Lia ngotot untuk mengantarkan kami ke Bandara sehingga dia minta ijin untuk setengah hari. Sebuah dilema sebab kalau makin pagi di Bandara, semangkin baik lantaran semangkin banyak yang dilirik.
Taxi pun dipanggil. Kata sang operator perlu sepuluh menit baru sampai TKP. Nyatanya lima menit dia sudah mecungul (nongol) di depan rumah.
Lalu supir ikutan menyusun kopor kami. Bahkan dia mengingatkan bagian kopor dengan “handle” dihadapkan ke arah kita - agar saat mengambil menjadi mudah.
Lha kok 55tahun lebih menghirup udara baru kali ini saya sadar bahwa selama ini kalau menaruh kopor di bagasi saya seenak udel-bodong-ku sendiri. Makasih uncle Kim
Begitu “mak Jleg” masuk kabin saya langsung duduk disamping pak supir yang sedang bekerja mengendarai taxi supaya baik jalannya. Sekalian menyaksikan jati diri sang supir.
Nama yang tertera didashboard adalah Kim Seng. Lalu disebelah papan nama sebuah layar monitor memberitahukan agar ia menjemput penumpang di Jalan Telang (yaitu TKP). Belakangan kami tahu bahwa dia tidak tahu dimana jalan Telang tersebut.
Begitu masuk perseneling satu, Uncle Kim Seng - di Singapura saya doyan panggil semua lelaki Uncle semua perempuan Auntie. Menengok kepada saya dan bertanya apakah passport, ticket, dokumen lain tidak tertinggal? - ah peringatan yang sangat simpatik.
Lalu kami mengatakan alamat tujuan kami yaitu terminal dua, Changi pesawat Philippine Airline yang cukup murah, tepat waktu dan diberi makan pula.
You Swim or Sampan
Kok tiba-tiba dia bilang dengan tenangnya “you swim? or Sampan?”
Wah kok jadi ngeledek supir ini, sekalipun dia bilang “sorry joking” - katanya dia dengar kabar Airport Jakarta kebanjiran padahal sebagai warga republik selama ini yang kami dengar - adalah rasan-rasan para pekerja Bandara untuk membanjiri demo mogok, namun ketinggalan soal tanggul yang dadal-duwel (ancur-ancuran) di lantak banjir. Kami jelas ketinggalan langkah.
Terpaksa pada hari kamis 8 Mei 2008 - kami dengan pathetic tilpun sana-sini ke Jakarta dan dijawab dengan jawaban tegas hujan saja tidam (ditempat yang menjawab tilpun) bagaimana akan banjir. Jangan-jangan saya dikira mimpi basah kebanjiran.
Kalau sudah begini terpaksa kami minta mereka melihat internet. Tetapi baru sadar - bahwa daripada keluar uang untuk Internet dengan alasan baku nanti disalah guna membuka situs porno mendingan mereka ganti mobil dan hape baru, seakan-akan yang dua belakangan selalu suci dari noda berbau porno. Apalagi kalau ada yang ikutan menyebar email merah.
Untunglah anak-anak kos di Singapura cepat tanggap. Mereka melakukan pengecekan di detik.com yang memuat data dengan akurat bahwa di lokasi yang sama jalan raya Negara Republik Indonesia - kebanggaan bangsa kita, lagi-lagi dadal. Air 90cm menggenang jalan kebanggaan kita.
Maka perjalanan kali ini harus disiapkan menghadapi macet total, atau bermalam di hotel. Roti BK (Burger King) yang sebetulnya untuk keponakan, buah anggur hitam tetapi manis memabukkan langsung masuk tas kabin. Saat darurat paling buruh harus dipersiapkan sebab pada bulan yang sama 1998, saya pernah tertahan di Bandara dan menderita sepanjang perjalanan pulang akibat banjir manusia mengamuk dan menjarah.
Menjelang memasuki ruang tunggu, dua serdadu Ghurka dengan seragam hitam, tipe ras Mongol, bertubuh kecil namun liat nampak berpatroli di dalam ruangan.
Saya bergetar ketika melihat golok Kurki-nya terselempang dibelakangnya. Tentunya masih sehubungan dengan “ghoib”nya mas Selamet (di Singapura Selamat) yang pincang tapi kok ajaib bisa melompati tembok. Kalau melihat pisau aneh, selalu saya ingin mengoleksinya sekalipun seprana-seprene (sampai kini), saya hanya memiliki sebuah pisau baja putih keluaran Bandung.
Di ruang boarding E-22, petugas setengah membentak, “coba kau tanya kepada temanmu sana!” gara-gara si mbak kelihatannya TKW tidak bisa menunjukkan dokumen perjalanan yang dibutuhkan. Maka riuhlah suara dalam bahasa daerah saling menasihati dan saling menyalahkan teman yang kebingungan.
Mendadak Haid
Hanya beberapa menit menunggu pesawat PAR 503 sudah siap berangkat. Lho kok di ruang terowongan belalai gajah, salah satu mbak teriak “waduh aku lupa beli pembalut.“
Teman lainnya menjawab dalamn bahasa daerah yang sama, “piye iki - bagaimana kamu kok bisa lupa, bisa digerayangi petugas di Jakarta nanti…“
Pasangan monogami saya (hampir 53 juga), tanggap situasi, lalu berbicara dalam bahasa yang sama, masih dalam hidung gajah: “nih aku punya pembalut, butuh berapa?” - Tapi si mbak masih bingung, “lalu Bu saya pakainya dimana?“
“Ya jangan disini, nanti di Toilet…” - kata istri saya menahan geli atas keluguan mereka. Belakangan istri berbisik dia bawa paling tidak 20-an.
Episode ringan menjelaskan betapa para TKW kita begitu ketakutannya manakala hendak kembali ke tanah air, sampai sampai mereka harus berpura-pura “datang bulan” - agar tak digerayangi sesama bangsa yang konon menjarah uang hasil kerja yang disembunyikan mereka.
Di ruang pengambilan bagasi, para TKW ini masih tidak akan lolos dari sergapan aparat (saya lihat wanita bertubuh subur dan bermata tajam) yang menyaring mereka agar keluar melalui pintu tertentu.
Lantas apa artinya spanduk segede Dinosaurus “Selamat Datang Pahlawan Devisa” - kalau sebetulnya kita masih mengkastakan mereka sebagai sapi perahan.
Tidak ada petunjuk banjir
Keluar bandara, semua nampak aman dan terkendali. “Tata Tentrem Kertaraharja..” Mirip wajah para pengelola Warnet “andai” Bill Gates memberikan lisensi penuh kepada mereka untuk menggunakan produk Microsoft gratis sampai jontor.
Di ujung jalan yang memecah ke kanan setelah pemeriksaan duane saya berhenti disebuah loket “resmi” biasanya menggunakan simbol warna sebagai merek dagangnya.
“Berapa sewa dari Bandara Cengkareng ke Grogol?” - tanya saya.
Petugas bertubuh kerempeng, memakai seragam biru dengan dasi gemuk, berpura-pura sibuk lantas dia menjawab dalam bahasa Inggris patah-patah :”saat ini kami sibuk, tapi tunggu sebentar…”
Ada 60 detik dia beracting menengok daftar lalu menengok kepada saya kali ini dalam bahsa Indonesia setelah saya bilang “aku ndak ngerti kalau sampeyan bahasa Inggris mas”
Uang muka Taxi sebesar 510 ribu rupiah. Setiap jamnya dikenakan biaya 170 ribu rupiah.
[Ini perjalanan Cengkareng-Grogol.. Broer. Normalnya sekitar 75ribu rupiah termasuk ongkos tol].
Seperti hendak mengetes apakah pembuluh darah jantung saya masih kuat menerima beban stress dia bilang jumlah gila-gilaan tersebut belum termasuk tarif tol.
Selera humor saya lagsung dilibas dengan gaya mencekik lehernya, tadinya saya hampir bilang - kenapa nggak sekalian uang bensin dan uang makan supirnya di ajukan anggarannya kepada kami.
Tilpun berdering lagi dari adik ipar “jangan naik taxi - Metro TV melaporkan penumpang yang diperas habis oleh kaum oportunitis.” - Kami langsung menjawab : “lha ini saya didepan loket taxi XX hampir kena juga..” - Rupanya pemuda ceking berdasi lebar merasa tersindir sehingga dari balik loket di masih menjual kecap. “mobil kami memiliki kompresor sehingga bisa menembus banjir.” - Jangan-jangan pemuda didepan saya ini aslinya kaum Tambal Ban pinggir jalan.
“Ah inilah kalau pemimpin kita kebanyakan membodohi rakyat, giliran rakyat saling membodohi satu sama lain..” - keluh saya dalam hati. Di Tipi ketahuan berbuat jahat, menggelapkan uang negara tetapi gayanya seperti Achilles baru memenggal Hector.

dear pak de mimbar, salam jumpa ..
hehehe…
lucu juga kisahnya bapak, dah lama ga ber sua dengan website e panjenengan..
hehehe8..
pak de, ada satu lagi pertanyaan yang ingin kulo tanyaken?!
saya mahasiswa tingkat akhir di, jur Elektro UGM nah d kampus tu
ada rekrutmen gede2 an dari http://www.tripatra.com, kalo boleh minta saran
sebenarnya EPC company ini bagus ga pak?!
itu saja, hatur nuwun
salam hangat dari jogja
Saya dengar termasuk perusahaan besar
hayah, 510 ribu? (duit semua tuh? gak boleh campur daun?).
Mungkin Mobilnya seperti ini Paman (cuma saya gak ngerti letak kompresor nya di mana hehehehe)
Alter, saya pikir pegawai di Loket - kalau keluar dari Bandara dia ada di pojok paling kanan, cuma asbun saja
Saya copy paste dari mbak Koenil - Singapore
Ini sebenarnya tulisan tentang stereotyping. Apa ya bahasa
Indonesianya tepatnya? Beberapa kamus mengindonesiakannya sebagai
klise, tapi rasanya belum tepat. Yang jelas saya mau bercerita tentang
bagaimana kita suka menilai orang hanya berdasarkan penampilannya.
Padahal penilaian itu belum tentu benar.
Muka saya ini sering dibilang secara bercanda oleh teman-teman dekat
sebagai muka yang “eksotis” atau “klasik”. Secara gampang bisa
dibilang saya ini punya muka khas Jawa. Bukan Jawa yang aristokratik
walaupun saya juga konon kata Mbah punya gelar aristokrat yang
dibuktikan dengan surat asal-usul yang resmi ditandatangani oleh
pejabat kraton Solo, tapi Jawa yang rakyat biasa. Coklat gelap, bulat,
dengan tulang pipi rendah dan pipi yang tembam. Lalu kalau dilihat
dari samping hampir rata, kerna hidung saya pesek. Masih ingat seleb
Srimulat jaman dulu, Yati Pesek? Bisalah kami dibilang bersaudara
kalau hanya melihat hidung. Badan saya juga khas Jawa, dengan torso
pendek dan semlohai, tidak langsing tipis tinggi seperti
perempuan-perempuan cantik modern yang sering terlihat di televisi
atau majalah, yang seperti setengah Kaukasian. Makanya saya tidak
pernah merasa pantas memakai tank top, kerna badan saya kelihatan
lebih pantas berbalut kebaya seperti mbakyu penjual jamu langganan ibu
di Jakarta yang seksi moleg dan semok itu. Pokoknya penampilan fisik
saya memang bisa dibilang “ndeso” atau “kampung”, kalau standar
penampilan “modern” dan “kota” itu seperti yang banyak menghiasi
majalah-majalah perempuan.
Rupanya muka dan penampilan Jawa ndeso pada seorang perempuan muda ini
melahirkan stereotyping tertentu. Misalnya di lapangan terbang.
Walaupun saya ini geologiwati dengan gelar S2 dari universitas luar
negeri, yang bekerja sebagai konsultan di luar negeri dengan gaji
setara dengan geologiwan produk luaran, tetap saja saya sering dicegat
di pintu keluar Cengkareng, lalu dengan kasar diminta menunjukkan
paspor. Rupanya saya dikira TKI yang bekerja sebagai pembantu di
negara asing. Sering saya pulang ke Jakarta dari Singapura Jumat malam
langsung dari kantor, masih berbaju resmi dengan blazer dan sepatu
tinggi, pokoknya seperti pekerja kantoran deh, tapi tetap saja dicegat
lalu dimintai paspor dengan kasar. Dikira pura-pura menyamar dengan
pakaian kantor padahal bekerja sebagai pembantu.
Kalimat terakhir di atas itu bukan interpretasi saya lho. Itu betul
kata-kata petugas perempuan yang minggu lalu dengan kasar membentak
saya karena saya malas mengeluarkan paspor dari dalam tas dan bertanya
mengapa saya harus menunjukkan paspor sedang orang lain tidak.
Sebetulnya bukannya saya tidak mau dikira pembantu. Toh jadi pembantu
juga pekerjaan terhormat. Apalah bedanya seorang pembantu atau seorang
perawat atau seorang dokter atau sekretaris atau insinyur atau
geologiwan? Semua pekerjaan yang kalau dilakoni dengan profesional dan
jujur ya pekerjaan yang terhormat. Dikira TKI ya juga tidak apa-apa,
lha wong memang saya ini TKI kok, karena saya ini orang Indonesia yang
bekerja di luar negeri.
Yang menyebalkan itu karena perlakuan kasarnya. Entah kenapa para
petugas ini kalau menghadapi kekasih saya yang berkulit putih Eropah,
atau rekan saya yang berwajah Tionghoa, dan ibu-ibu bersanggul tinggi
khas pejabat bisa berlaku sopan. Tapi kalau menghadapi TKI atau orang
yang dikira TKI seperti saya dan beberapa teman perempuan muda lain
yang berwajah “kampung” lalu berubah perilakunya menjadi arogan dan
seringkali kasar pula. Apa mereka merasa kedudukan dan jabatan mereka
lebih tinggi dari “sekedar” pembantu, sehingga merasa jumawa dan layak
memandang rendah?
Yang saya pertanyakan juga kenapa para TKI ini harus diperlakukan beda
saat mau keluar dari bandara? Sebetulnya apa beda saya, yang juga
pekerja migran, dengan mereka, sehingga setelah para petugas tahu saya
bukan TKI saya bisa keluar lewat jalur biasa, sedangkan mereka harus
keluar lewat jalur khusus? Banyak berita soal mereka diperas
sana-sini, apakah di “jalur khusus” itu mereka diperas dan dimintai
uang ini itu? Sedangkan mereka tidak berani melakukan hal yang sama
terhadap saya!
Lalu yang terakhir, saya pikir para petugas di bandara yang kerjanya
menyortir TKI dan non TKI ini sepertinya masih bermental inlander.
Sepertinya kok pada pikiran mereka perempuan muda yang berwajah ndeso
hanya bisa jadi pembantu. Sekali lagi bukan bermaksud merendahkan
profesi pembantu loh. Saya hanya mau mempertanyakan mengapa mereka
tidak bisa membayangkan perempuan-perempuan semodel ini juga bisa jadi
pekerja migran terdidik, bisa bekerja di luar negeri dengan profesi
lain selain pembantu?
(Wah, susah betul menulis tentang hal ini. Saya tidak ingin dibilang
arogan atau merendahkan profesi pembantu, seperti berkali-kali saya
tegaskan. Tapi susahnya, kalau di dalam masyarakat kita pembedaan itu
ada, susah sekali untuk tidak terjebak ke dalam sistem
pengkelas-kelasan ini.)
Tapi sudahlah, yang penting dipertanyakan sebetulnya, kenapa sih perlu
ada semacam pengkastaan, sehingga pekerja migran semacam para
mbak-mbak TKW ini perlu diperlakukan berbeda dengan pekerja migran
lain semacam saya?
Singapura, 6 Mei 2008