Pemandangan ruang keberangkatan Bandara Internasional

Gara-gara datang kepagian ke Bandara maka saat memasuki ruang keberangkatan tak satupun petugas melakukan pengecekan tiket atau screening keamanan sebab alat yang biasanya dipasang pada koridor jalan sebelum memasuki ruang keberangkatan juga sudah disisihkan entah kapan.

Di gerbang E4 sempat ragu. Pasalnya tidak jarang di layar monitor dikatakan D4, ujuk-ujuk sudah pindah D2.

Tiba-tiba mata saya kepentok deretan kursi yang terbujur rapi, lantai mengkilat, berpendingin udara. Dan tanda larangan merokok nampak disana sini. Sepintas dipatuhi namun melihat tumpukan puntung yang disembunyikan dengan cerdiknya mungkin saja ada hari-hari tertentu ruangan pemberangkatan Internasional ini dijadikan ruang berasbak.

Lalu di kamar kecil saya lihat seorang Bule bertopi rimba sedang ngelepas-ngelepus (pas pus) merokok kretek. Karena dia tinggi besar, enak saja pantatnya disenderkan pada washtafel pojok kiri.

Sejak tanggul bandara dadal-duwel diterjang air laut, sekarang kursi dimanfaatkan sebagai tempat puntung rokok, maka tidak ada salahnya kita berucap Selamat Berkampanye Indonesia Visit 2008. – Ingin melihat Surga dimana aturan dilanggar – ya Indonesia ini tempatnya.

2 Responses to this post.

  1. he..he..he…akhirnya saya melihat tulisan “archive” itu…maaf ya pak dhe sudah menuding otoriter he..he..he…maklum baru bertamu lagi, sudah ganti wajah lagi…

  2. saya pernah baca joke tentang nerakanya orang indonesia dan nerakanya bule. Sama2 ada kursi listrik, tongkat pemukul yang dipenuhi paku, banyak penjaga, dll tapi nerakanya indonesia selalu penuh, bahkan ada yang inden jauh hari sebelumnya.

    usut punya usut ternyata di nerakanya indonesia, listriknya sering mati jadi kursi listriknya ndak berfungsi. Terus tongkatnya gundul lantaran pakunya disikat maling, penjaganya juga suka kelayapan saat jam dinas.

Respond to this post