Catatan Seorang Pensiunan pekerja Oil&Gas Mudlogging


Pengantar – ini proyek penulisan saya semasa pensiun.. Mencoba mengembalikan ingatan ternyata tidak gampang. Dokumentasi sudah pada hilang sehingga akurasi tanggal mungkin bergeser. Masih selalu di edit dan diedit…

Lalu saya membayangkan wawancara imaginer antar saya dengan sang hati nurani, sebut saja mbak Nurani.

GIMANA BISA CERITAKAN SAMPAI MASUK MUDLOGGING

Wah – ini seorang shabat saya masa kuliah, sejatinya ia bukan orang populer di kampus, bahkan cenderung nganyelke karena kritis, selalu tahu lebih dulu.

Namun celakanya kalau ujian dia terkadang PD banget sehingga sering gagal. Teman gelar sarjananya diganjal mata pelajaran PANCASILA, bisa nggak naik tingkat gara-gara ujian Pancasila Lisan dia sering gelagepan. Kadang jaman dulu kalau punya pikiran nggak sama dengan pedoman Pancasila ya jangan diutarakan. Tetapi teman saya ini memang dari sononya ngeyel.

Lantas ketimbang setahun nungguin pelajaran Pancasila, almarhum bekerja di salah satu Mudlogging Lokal yang kala itu markasnya di jalan S. Parman, Jakarta Barat. Sekarang gedung yang hadap-hadapan muka dengan Mall Taman Anggrek ini seperti cuma akan dimangkrakkan saja. Setiap melalui jalan S. Parman saya selalu tak bosan bercerita asal muasal saya jatuh cinta pada MudLogging. Yang dengar sih APALAGI ANAK DAN ISTRI SAYA pasti cari tas kresek, soalnya mual dengar cerita yang diulang seperti kaset original. Cerita lain yang saya ulang sampe ke Pak Lanjar supir saya adalah Tugu Dirgantara, saat Bung Karno sudah mulai diasingkan penggantinya masih memikirkan Patung Dirgantara yang tak kunjung rampung sehingga ia merelakan Mobilnya dijual untuk membiayai pembuatan patung.

Saya sendiri sudah lulus sarjana muda Perminyakan, yang memang kala itu – sekolah targetnya ya SarMud (D3). Nama sekolahnya saja dulu APN alias Akademi Pembangunan Nasional. Dari Sarjana Muda beberapa teman mengusulkan agar tingkat akademi dinaikkan menjadi tingkat Sarjana Penuh.

Mulailah kami menyongsong tingkat IV, karena semangatnya – Dosen Putri yang ngekos di Asrama Putri GajahMada di kawasan Sagan/Bulak Sumur saya jemput. Tapi jangan berfantasi macam Cintaku di Kampus Biru sekalipun saya juga belajar Karate sedikit macam cerita dalam Kampus Biru. Karatenya nggak pernah pinter wong bakat saya bukan berkelahi, tapi tangan kiri saya sudah retak akibat perkelahian. Itung-itung karma, sebab saya pernah mematahkan tangan kiri mas Dedi Gunawan (Kotabumi) dalam suatu gojek (becanda) tetapi beneran.

Maklum anak lelaki.

Lalu ada dosen Instrumentasi, sebut saja pak Cholil, yang cara mengajarnya adalah fantasi saya. Humor, berisi, jangan jaga jarak, wibawa jangan dipaksakan. Militer angkatan udara ini dalam hidupnya mengaku memberikan nilai 9,5 baru sekali yaitu kepada saya. Tapi beliau memang pandai mentransfer ilmu sehingga pelajaran mengalir dan mengendap diotak.

Kalau gaji beliau telat dibayar sampai 3 bulan, menurut pengakuannya, saya menggedor bapak-bapak di Kampus. “Honor dosen kecil, mbok yao diopeni biar dosen janganpada kabur..

Saat itu prinsip kami adalah menempatkan dosen sebagai kekasih.. Kalau ndak ketemu sehari saja kami cari.kalau perlu ngelaju kuliah ke ITB kami ngekos disana. Sekalian dengar istri para Doktor yang dosen kami mengeluh. Dik – honornya kecil. bayarnya telat, padahal perjalanan naik Kereta Api dari Bandung ke Yogya itu sangat melelahkan.

Diam-diam, perbuatan saya diamati para teman, dan eladalah saya didapuk jadi Ketua Senat Mahasiswa Perminyakan. Tanpa usaha apa-apa.  saya juga ditawari jadi asisten dosen. Merasa sudah punya taring dikampus, saya mulai menggoyah posisi Rektor yang menurut saya sudah lama bercokol. Apalagi saat pemilu di 70-an, saya dipanggil ke kantornya lantaran ketahuan tidak nyoblos di Kampus – artinya Non Golkar. Padahal ya saya nyoblos Golkar tetapi nggak suka caranya yag saya anggap diktatorial saat itu.

Tapi saat itu Universitas ini universitas bimbingan Militer jadi ya usaha saya gagal.

Teman mulai iming-iming

Nah ini dia, teman saya yang  PancaSila  belum lulus tahu persis sumber informasi kampus adalah rumah saya. Dia sering datang, buka tas kulit Echolac yang bunyinya kemlothak kalau dibuka, lalu mengeluarkan kertas carbonless, ada celeret warna merah dan ini namanya Tiket Pesawat Terbang Garuda. Orang lain bolak balik Jakarta Yogya bisa 8 Jam, dia cuma 1 jam lebih sedikit. Itu sangat luar biasa di mata seorang mahasiswa..

Perlahan ia mulai memasukkan suntikan racun Mudlogging. Bercerita D-Exponen, Hydraulics Pengeboran, Bit jet Velocity,  Rate of Penetration, Trip, casing, logging, killing well – yang selama ini cuma dibaca, sekarang dia cerita aplikasi di lapangan. Siapa yang tidak ngeces. Kalau bagi saya, teman yang kemudian menjadi Driller di Pertamina Cirebon sampai akhir hayatnya ini manusia “berjalan melebihi waktu” – dia cerita Ngang..Nging..Ngung saya cuma mendengar sebagai dengungan – lebah, setahun kemudian suara menjadi jernih Dolby System.   Baru ngeh..

Kadang saya diajak jajan seputar Malioboro. Inilah Mudlogger pertama yang saya kenal ngajak jajan. Biasanya saya yang njajani. Kadang kalau ndak ada uang, saya  jual celana buat beli lantas kami berdua makan Singkong Goreng (Balok) ditempat koskosan.

Dia yang selama di kampus belum pernah nyosor cewek, sekarang bercerita dapat teman di Palembang, kelak akan menjadi istrinya.

AKHIRNYA TERPENGARUH

Waktu itu saya sudah tingkat akhir (lima). Mulai menyerahkan draft skripsi, lantas menunggu. Si racun (tapi enak) Mudlogging, tetap bergerilya, “kami butuh tenaga baru, masuk saja saya rekomendasikan, nanti sesekali balik ke kampus, uang bonus bisa buat jajan, uang tiket tukarkan ke Yogya. Seperti aku ini lho.

Kok seperti cerita Kung Fu Panda – GrandMaster Oogway sang Kura Galapagos bilang “there is no incident” – apalagi saat tinggal dengan Mertua posisi kantor dengan rumah cuma sepuluh menit berjalan kaki.

Dua tahun dia bujuki saya, dan akhirnya sayapun terjun kedunia Mudlogging. Tapi dia sudah “berjalan melebihi waktunya” – ia tertarik pada pendidikan Driller Pertamina di Cepu. Seperti biasa perlu dua tahun bagui saya mencerna dengung lebah menjadi dentuman Dolby Surround. Saat ia sudah mengundurkan diri, saya mulai ancang-ancang pendidikan di Singapura dengan gaji pertama USD 215 sebagai trainee. Waktu itu sebagai Mudlogger saya dibayar setara $115 perbulan. Diluar bonus. Beda seratus dollar, luar negeri, naik pesawat, saya tidak melewatkan kesempatan ini.

SULIT MENDAPATKAN ANAK

Kami menikah pada 1979, tahun pertama sulit  mendapatkan keturunan sebab ada gangguan pada sistem reproduksi istri. Dengan bantuan dr. Biran Efendi dan dr. Jaya Dilaga serta team lainnya pada Agustus 1980 ternyata istri telah “isi”.  Persahabatan dengan dr. Jaya Dilaga sekarang profesor ahli kandungan, cuma gara-gara saat kami periksa kandungan, seperti biasa ngobrol di ruang periksa di Cideng – eh menyenggol masalah PC buat putranya.

Lantaran saat itu sebagai mudloggerpun saya buka toko komputer (ceritanya kepingin jadi pengusaha pada 1980-an), bahkan restoran, maka putra dr Jaya membeli komputer Rakitan dari toko kami sembari diberikan pelatihan cara menghidupkan komputer, menjalankan program wordstar, program Lotus 123. Lho kok setelah itu setiap kami cek kandungan, pak Dokter tidak mau mengutip biaya.

Kejadiannya cukup mendadak.  Saat itu saya bekerja di perusahaan minyak yang mengebor sumur dengan nama Tanjung Miring dikawasan Prabumulih.

Karena – bertepatan dengan lebaran Idhul Fitri 13 Agustus 1980, sudah barang tentu dari Prabumulih Sumsel saya naik kereta api ke Tanjung Karang, kemudian ke Metro Lampung Tengah. Bapak saat itu menjabat posisi penting di Kepolisian.

Namun ditengah kebahagiaan bersama keluarga, istri menilpun saya mengatakan bahwa ia sudah hamil sehingga liburan saya percepat dan segera ke Jakarta menemui kekasih hati saya. Ibu melepas berat hati sebab sebagai anak pertama, sayapun dekat sekali dengan ibu.

Tetapi sejatinya ada “proyek” saya yang lain. Saat berada di mes Pertamina Prabumulih, atas bantuan sebuah kartu nama Raphael Panjilaras Suranto dari Exploration Logging International Inc yang berkantor di Singapura, saya mengirim surat ke alamat pada kartu nama yaitu Orchard Tower lantai 20. Pakai bahasa Inggris mengutip kursus Sutan Sulaiman – lho kok saya diminta mengurus Paspor dan ExitPermit ke Singapura.

Ini berarti saya harus keluar dari perusahaan yang lama.

Kelak putri saya – diberi nama Petrolina Interesa.  Nama Interesa sebab saya waktu itu menyatakan minat besar ingin pindah keperusahaan bersekala International.

Almarhum Ibu masih ingat saya melepas baju lebaran yang dipinjami ayah. Pasalnya kami sempat bersitegang bapak yang masih kangen dengan putranya meminta saya tinggal lebih lama – dan mengancam tidak akan membelikan tiket pesawat maupun kapal.  Namun saya bilang – saya sudah berkeluarga. Saya bisa ke Metro – Lampung Tengah, ya bisa ke Grogol tanpa harus minta sangu. Lantaran kebiasaan adik-adik sekalipun sudah punya suami tetapi belum lupa “nyadong” cari tambahan dari orang tua juga maka tindakan saya dianggap revolusioner.

PINDAH PERUSAHAAN

Langsung saya pulang dengan baju kotor yaitu baju kerja yang sudah masuk tas dan belum sempat dicuci saat bekerja menjadi MudLogger di perusahaan Pertama saya. Namun bisa untuk mendapat ijin berhenti rasanya tidak mungkin sebab masa kerja di perusahaan belum mencapai satu tahun.

Ada beberapa hal yang seperti biasa anak muda gampang kecewa diperusahaan ini.  Pendahulu saya misalnya dengan mudah dikirim ke Amerika untuk belajar aplikasi software dan perangkat keras.

Sementara saya begitu diterima langsung dilempar ke lapangan tanpa sempat mendapatkan bekal sebagai mudlogger.  Tak heran ketika background gas dari sensor Gas yang dipasang pada talang lumpur yang keluar dari lubang bor bersama dengan gas, menunjukkan gejala naik dan naik terus, saya hanya bisa mencaatat dan bertanya-tanya ada apa ini…

Baru ketika sumur meluapkan lumpurnya, sering disebut tendangan gas (kick), saya mulai diberi tahu senior bahwa adanya background gas apalagi maximum gas yang berasal dari pompa mati adalah pertanda sumur sedang mual-mual…

Soal kehamilan..

Sebetulnya kehamilan ini diragukan sebab berulangkali istri seperti “sudah isi” – namun berulangkali pula kami harus bersabar sebab kehamilan tersebut tak kunjung datang.

Maka bukan alang kepalang suka cita kami ketika tahu bahwa istri sepertinya positif mengandung.

Selama mengandung, istri kegilaan makan nasi padang terutama dengan telor balado. Bayangkan dia bisa makan lima atau sepuluh telor, dan makan dengan tambo ciak berkali-kali. Kami kuatir anak dikandung terlalu gemuk sekalipun dokter  yang menangani kami mengatakan bahwa bayi masih kecil..

Yang besar adalah ibunya sehingga perlu bantuan tambahan obat dari luar.

USIA 7 BULAN DALAM KANDUNGAN SUDAH DITINGGAL PERGI

Menjelang putri berusia tujuh bulan dalam kandungan, sebagaimana adat Jawa kami mengadakan acara Nujuh Bulan.. Semua keluarga terdekat pada datang ke Jakarta.  Dua butir Kelapa gading bertato Rama dan Shinta sudah disiapkan untuk dibelah dengan harapan agar anak kami kelak secantik Shinta kalau perempuan atau seganteng Ramawijaya kalau lelaki. Nanti orang tuanya akan membelah kelapa tersebut.

Orang Tua dan adikku datang dari Lampung.

Tetapi pada hari yang ditunggu, saya harus kembali ke lapangan ARCO Laut jawa, padahal baru dua hari saya di rumah dan itupun setelah saya 3 minggu di laut Jawa, pengeboran Rig Jackup (berkaki tiga yang digerakkan oleh mesin dongkrak untuk mengangkat platformnya).  Dari Merak Rig ditarik dua kapal tunda – menuju laut Jawa. Membutuhkan dua hari pelayaran untuk sampai disana.

Nama Rig tersebut adalah Rig Santa Fe Explorer 127. Rig baru ini baru tiba dari Singapura dan melakukan persiapan di pelabuan Merak. Saya dan teman saya Robby Yunus ditugaskan melakukan  persiapan atau “riggup” untuk kabin MudLogging Unit.

Dengan dada sesak karena pimpinan saya Gerald Robert seorang Inggris yang menikah dengan wanita India, tidak mengijinkan saya untuk membolos. Inilah dunia perminyakan dan keluarga terpaksa kadang dikesampingkan.

Sejak dalam kandungan rupanya putri saya sudah mulai ditinggal oleh ayahnya.

Waktu ia membutuhkan perhatian orang tuanya sang ayah hanya bisa memberinya 3-4hari per minggu sebab sang ayah segera akan bertugas sebagai mudlogger atau pendulang lumpur dari  Laut Jawa sampai laut Thailand. Bekerja di offshore karena kesibukan pengeboran saya mendapat jadwal 2 banding  1 artinya dua minggu di laut dan satu minggu istirahat di darat.

Akibat sering ditinggal sang ayah tak heran saat saya pulang ke rumah, Lia seperti melihat mahluk asing dan ia menolak digendong saya, kecuali berlindung dibalik ibunya sambil curi-curi pandang.

Perlu waktu pendekatan umumnya 2 hari, lantas ia baru memanggilku Oom. Saat hari ketiga mulai memanggilku Papa,  eh bapaknya sudah harus tugas dua minggu ke Thailand..

Mak Irah, tetangga sebelah secara sepihak menganggap bahwa saya adalah ABK. Pernah sekali tempo Harto Suroso masih ada famili dengan saya, datang mencari saya. Tetapi ditengah jalan ia dihadang oleh Mak Irah. “Suaminya lagi belayar ke laut, jadi jangan datang entar jadi Pitnah…”

Embah Digdo, malahan menyayangkan istri memilih saya sebagai suami : “kenapa kamu pilih pelaut? – dia bakal punya istri dimana pelabuhan…”

Rupanya segala sesuatu berbau laut selalu dikonotasikan sebagai – orang tak memiliki tempat tinggal dan menikahi sembarang perempuan yang ditemuinya…

MIRAS

Salah satu dunia tugas saya adalah menjadi Mudlogger pada rig pengeboran terapung  Drill Ship. Pada tahun  1986, sebuah perusahaan minyak besar sibuk melakukan pengeboran. Mereka bekerja dengan sangat efisien, sebab satu lubang umumnya dirampungkan dalam tingga minggu sehingga tak heran instalasi pengeboran kami mendapatkan penghargaan sebagai pengebor tercepat. Sampai-sampai saya mendapatkan piagam penghargaan. Lokasi yang terletak di Erawan. Nama sumurnya selalu didahului Erawan-1 dan seterusnya. Nama Kapal pengeborannya adalah Sea Crest.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Airport Penang Malaysia di Pulau Pinang, Malaysia. Setelah transit selama dua jam, kami menunggang pesawat Malaysian Airlines menuju pelabuhan Songkhla. Di Songkhla kami menginap semalam menyegarkan diri. Baru pada pagi harinya dengan menunggang Helikopter Chinook kami menuju lokasi pengeboran lepas pantai Erawan yang ditempuh selama 1 jam lebih.

Saya memiliki seorang helper, warna Thai Muslim. Beberapa kali ia mengundang saya kerumahnya. Satu ketika saya nekat mencari rumahnya, ternyata tidak mudah, sebuah perkampungan nelayan tanpa peneranganlistrik saya menyusuri pantai gelap sendirian. Alangkah terkejutnya ketika dari gundukan pasir muncul kepala manusia. Ternyata kebiasaan warga tidur sambil masuk kedalam pasir.i

Mengingat kerapnya saya bepergian tanpa saya sadari pihak imigrasi Songkhla mulai mendekati saya. Biasanya dilakukan saat saya hendak meninggalkan Songkhla menuju Jakarta. Saya didekati seorang petugas, sementara yang lain hanya menyaksikandari kejauhan.  Pertanyaannya adalah “Anda seorang Muslim kan?”

Pertanyaan yang saya jawab dengan singkat ini, masih berbuntut panjang “Muslim tidak minum (keras) kan?”

Saya masih belum “ngeh” – ujung pertanyan ini karena mereka beragama Budha dan apa urusannya menanyakan ibadah seseorang. Rupanya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia minta tolong, dengan Passport saya untuk dibelikan Jack Daniel satu botol.

Caranya, saya hanya mengeluarkan passport dan boarding pass, lalu transaksi minuman para petugas muda Thailand yang melakukannya. Akhirnya kami menjadi akrab dan tidak satupun dari mereka minta oleh-oleh kepada saya.

Pada 1989, kapal SeaCrest tenggelam karena badai Gay yang terkenal ganas di Thailand. Hampir seluruh penghuni  kapal tewas, menurut data sekitar 91-orang. Saya beruntung sudah tidak kembali ke kapal tersebut tetapi rekan saya John Nolan dan beberapa teman lainnya terpaksa menemui ajal di laut.
DUKACITA
Saya masih menjalani pelatihan di Arco – Laut Jawa – Sekarang menjadi BP, ketika Radio Operator Rig memanggil saya dan mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bicara pada saya melalui hubungan radio SSB.

Saat itu tilpun adalah barang mahal sehingga untuk hari hari kami memakai radio SSB dimana satu pihak bicara dan pihak lain mendengarkan dan sebaliknya. Ternyata berita keluarga bahwa Nenek saya meninggal dunia di Bandar Lampung 18-Mei-1982  sementara saya di Laut jawa dan tidak bisa setiap hari keluar masuk rig tanpa ijin dan tanpa menunggu jadwal atau giliran pulang.

Bepergian dengan helikopter seperti juga dengan sarana pengangkutan lain membutuhkan manajemen resiko dan seat pada helikopter hanya bisa 3 sampai 6 orang.

Sekali waktu saya berada di Papua untuk 28 hari lamanya. Waktu saya datang, rumah kelihatan lebih besar dan suasana lengang. Sekat-sekat rumah dipinggirkan. Lia yang masih usia 4 tahun rupanya tidak bisa menahan diri lalu mengatakan – Papa, mbak Fitri, nama baby sitternya meninggal. Dan luar biasanya – kantor hanya menganggap baby sitter adalah sekedar manusia biasa sehingga mereka tidak merasa perlu memberitahu saya. Mungkin kuatir sasya minta ijin pulang menengok keluarga.

Saya masih menjalani pelatihan di Arco – Laut Jawa – Sekarang menjadi BP, ketika Radio Operator Rig memanggil saya dan mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bicara pada saya melalui hubungan radio SSB.

Saat itu tilpun adalah barang mahal sehingga untuk hari hari kami memakai radio SSB dimana satu pihak bicara dan pihak lain mendengarkan dan sebaliknya. Ternyata berita keluarga bahwa Nenek saya meninggal dunia di Bandar Lampung 18-Mei-1982  sementara saya di Laut jawa dan tidak bisa setiap hari keluar masuk rig tanpa ijin dan tanpa menunggu jadwal atau giliran pulang.

Bepergian dengan helikopter seperti juga dengan sarana pengangkutan lain membutuhkan manajemen resiko dan seat pada helikopter hanya bisa 3 sampai 6 orang.

Sekali waktu saya berada di Papua untuk 28 hari lamanya. Waktu saya datang, rumah kelihatan lebih besar dan suasana lengang. Sekat-sekat rumah dipinggirkan. Lia yang masih usia 4 tahun rupanya tidak bisa menahan diri lalu mengatakan – Papa, mbak Fitri, nama baby sitternya meninggal. Dan luar biasanya – kantor hanya menganggap baby sitter adalah sekedar manusia biasa sehingga mereka tidak merasa perlu memberitahu saya. Mungkin kuatir saya minta ijin pulang menengok keluarga.

PRETTY BOY

COCA COLA di Thailand

Pelabuhan Udara Hat Yai..
Setiap mendarat dari Bandara Penang di Pulau Pinang, saya menmpatkan dulu makan siang di restoran kecil yang banyak sekitar Bandara.  Mengingat perut saya tergolong sulit akan masakan asing dan miudah sakit perut, maka satu-satunya minuman yang saya pesan adalah CocaCola kaleng yang dingin

Rupa-rupanya kebiasaan saya ini dikenali oleh para pelayan toko yang umumnya perempuan-perempuan muda. Perempuan ini kadang menganggap saya orang Thai yang “arogan” sok bahasa Inggris.

Jadi beberapa diantaranya main tancap mengajak saya bicara dalam bahasa negerinya.

Jelas saya sering kelabakan menjelaskan kepada mereka bahwa saya Andonesi (Indonesia).

Karena telah menjadi langganan, maka ketika saya duduk sambil menulis order Coca Cola – diluar dugaan, para wanita staf warung saling berpandangan satu sama lain dan serentak  mereka koor – COCA COLA! – sambil cekikikan.

Sadar saya dijadikan bahan gurauan mereka, sejak itu kami menjadi akrab.

Miras

Pretty Boy
Di HadYai, umumnya kami menginap di Hotel Lee Garden, dulu merupakan hotel terbaik. Teman saya Filipino suka obral Thai Bhat menyisipkan tips kepada pelayan restoran yang ayu dan lembut.
Banyak teman saya yang akhirnya menikah dengan orangThailand. Cuma mereka umumnya  perempuan yang menopang kehidupan famili sehingga tak jarang pernikahan berakhir dini sebab tidak kuat harus membeayai satu famili yang semua numpang pada mereka.

Para supir Taxi atau Belboy kerap menawarkan perempuan-perempuan cantik dan muda dengan tarif “velicip” alias sangat murah.  Cara  mereka memasarkan wanita penghibur ini biasanya didahului  dengan kata-kata penuh empati – Anda melakukan perjalanan begitu lama dan panjang. Soal apakah mereka tahu Jakarta, biarlah itu menjadi urusan mereka. Dari sini rayuan untuk dipijat gadis muda, sampai ke dipijat Pretty Boy – siapa tahu anda menderita penyimpangan sexual.

Banjir
Sekali tempo jalanan dari Bandara HadYai ke HeliPad (lapangan helikopter), begitu sulit diterobos oleh kendaraan sedan sebab banjir. Supir menyarankan saya mengurungkan niat  - lho ini mau kerja kok pakai acara menginap. Saya nekad dengan sedikit marah menyuruh supir menerobos banjir. Memang ada beban extra, namun sejak itu nomor mobil saya catat dan saya tidak pernah menggunakan servicenya lagi.

AEKASAK SANG DON YUAN

Dalam bekerja sebagai pendulang lumpur di rig pengeboran laut, teluk thailand – kami bekerja masing-masing 12 jam sehari. Satu crew terdiri dari dua orang. Biasanya yang senior bekerja dari jam 12 Malam sampai 12 Siang sebab mereka harus menulis laporan Geologi, laporan kecepatan pengeboran, laporan Gas yang ditemui, laporan Lumpur  Pengeboran, Laporan kemiringan lubang bor, laporan penggunaan data Gas Karbit, laporan kendala pengeboran serta laporan ramalan tekanan sumur. Sumur juga “seperti” manusia. Mereka punya karakter, ada yang tenang manutan tetapi ada yang pemberontak, ada yang selalu mengeluh.

Karena bekerja di pengeboran ini  kami harus turun naik tangga dengan interval cukup untuk membuat kita sehat dan ngos-ngosan – maka untuk dua pendulang lumpur seperti kami , disediakan dua asiten yang umumnya lulusan SLA.  Yang termuda adalah Apeesaak, yang tertua adalah Aekasak.

Apeesaak – tergolong cerdas, ia tidak perlu diperintah apa yang harus dilakukan. Harap maklum jam terbangnya sudah 1 tahun. Ia berkeinginan menjadi seperti kami PL (MudLogger).  Namun pekerjaan mudlogger selalu penuh resiko akan keselamatan pengeboran.

Bila terjadi kesalahan, tidak ada ruang untuk menyalahkan orang lain.  Apalagi kebiasaan mereka disela “jeda” tidak mengambil contoh cutting (baca kating=batuan serpih kecil-kecil yang dihasilkan dari putaran cepat mata bor).

Nampaknya  Apeesaak – kurang bisa menerima penjelasan saya, hanya setelah sedikit perdebatan ia memilih bekerja dengan teman saya Keith Jones, seorang Inggris. Biar bagaimana bekerja dengan sesama Asia banyak mengetengahkan perasaan.

Sebaliknya Aekasak, selain lebih berumur, iapun kurang cerdas dibanding dengan yang lain.  Namun kemampuan bahasa Inggris mereka cukup meyakinkan.

ISTRI AEKASAK
COCA COLA di Thailand

Pelabuhan Udara Hat Yai..
Setiap mendarat dari Bandara Penang di Pulau Pinang, saya menmpatkan dulu makan siang di restoran kecil yang banyak sekitar Bandara.  Mengingat perut saya tergolong sulit akan masakan asing dan miudah sakit perut, maka satu-satunya minuman yang saya pesan adalah CocaCola kaleng yang dingin

Rupa-rupanya kebiasaan saya ini dikenali oleh para pelayan toko yang umumnya perempuan-perempuan muda. Perempuan ini kadang menganggap saya orang Thai yang “arogan” sok bahasa Inggris.

Jadi beberapa diantaranya main tancap mengajak saya bicara dalam bahasa negerinya.

Jelas saya sering kelabakan menjelaskan kepada mereka bahwa saya Andonesi (Indonesia).

Karena telah menjadi langganan, maka ketika saya duduk sambil menulis order Coca Cola – diluar dugaan, para wanita staf warung saling berpandangan satu sama lain dan serentak  mereka koor – COCA COLA! – sambil cekikikan.

Sadar saya dijadikan bahan gurauan mereka, sejak itu kami menjadi akrab.

Miras

Pretty Boy
Di HadYai, umumnya kami menginap di Hotel Lee Garden, dulu merupakan hotel terbaik. Teman saya Filipino suka obral Thai Bhat menyisipkan tips kepada pelayan restoran yang ayu dan lembut.
Banyak teman saya yang akhirnya menikah dengan orangThailand. Cuma mereka umumnya  perempuan yang menopang kehidupan famili sehingga tak jarang pernikahan berakhir dini sebab tidak kuat harus membeayai satu famili yang semua numpang pada mereka.

Para supir Taxi atau Belboy kerap menawarkan perempuan-perempuan cantik dan muda dengan tarif “velicip” alias sangat murah.  Cara  mereka memasarkan wanita penghibur ini biasanya didahului  dengan kata-kata penuh empati – Anda melakukan perjalanan begitu lama dan panjang. Soal apakah mereka tahu Jakarta, biarlah itu menjadi urusan mereka. Dari sini rayuan untuk dipijat gadis muda, sampai ke dipijat Pretty Boy – siapa tahu anda menderita penyimpangan sexual.

Banjir
Sekali tempo jalanan dari Bandara HadYai ke HeliPad (lapangan helikopter), begitu sulit diterobos oleh kendaraan sedan sebab banjir. Supir menyarankan saya mengurungkan niat  - lho ini mau kerja kok pakai acara menginap. Saya nekad dengan sedikit marah menyuruh supir menerobos banjir. Memang ada beban extra, namun sejak itu nomor mobil saya catat dan saya tidak pernah menggunakan servicenya lagi.

TEMAN APISAK

Sample Catcher saya yang lain adalah Apisak. Kelihatannnya anak orang berada dikampungnya. Bahasa Inggrisnya paling lemah, namun tidak mengurangi keakraban sesama Asia.

Lantas pada kesempatan lain kami sepakat bahwa sekembalinya saya dari Jakarta, kami akan bertemu di restoran yang kondang dengan TomYamnya. Belakangan saya baru ngeh ketika sang penjual mengajak bicara  “cakap Malay..”

Yang tidak saya duga, Apisak membawa teman-teman satu Geng ikut makan bersama. Entah yang mana Paman, Kaka, Sepupu semua ikut menghambur  ke restoran Tom Yang.

Saya agak kuatir kekurangan “cash” sebab restoran tidak mengenal kartu kredit sementara ATM belum populer.

Beruntung, harga makanannya murah sehingga uang dikantong masih mencukupi. Kepada keluarga Apisak saya bawakan Batik Tulis terkenal di Jakarta. Di kesempatan lain saya diberikan baju tradisional Chiang  Mai untuk anak saya Lia.

Ternyata makan malam belum selesai. Kelar dari restoran saya menuju rumahnya, dan dijalan masih membeli penganan termasuk daging babi.. Mereka tahu saya tidak makan barang lezat tersebut.

Untuk praktisnya makanan halal dicampur jadi satu. Sesampainya dirumah mereka barulah makanan macam martabak, goreng pisang diberikan saya. Daging babi mereka lahap beserta minuman keras. Saya sekedar bisa ditega-tegain menelan makanan yang sudah kecipratan minyak dan lemaknhya…

Apisak umurnya tidak panjang… Dalam sebuah kecelakaan kapal pengeboran tempat kami bekerja, ia termasuk satu dari 91 korban yang tewas.

Saya masih diselamatkan Tuhan.. Saat menjelang badai Gay yang terkenal itu menyambar rig sampai menenggelamkan seluruh penumpangnya, kantor sudah  menugaskan saya ditempat lain.

MEMPERSIAPKAN KEDATANGAN BADAI

Biasanya perusahaan minyak berpatokan pada ramalan badan Meteorologi dan Geofisika Thailand. Bila dinyatakan ada kemungkinan kedatangan Badai, maka dari hari kehari perjalanan badai diikuti.

Bilamana sudah mendekat maka kegiatan pengeboran dihentikan, sekalipun sedang mengebor maka mata bor harus  dicabut sampai permukaan.

Para mudlogger tidak kalah sibuknya, kotak-kotak kayu, pipa-pipa besi, segala barang yang terdapat diluar segera kami ikat erat-erat.

Toh kadang kami kecolongan seperti kejadian yang menimpa kapal SeaCrest.

NASI HAINAN LAKU KERAS

Rig di  Thailand, seperti juga rig di Indonesia  rata-rata  memiliki dua kantin yaitu kantin Expatriate (Bule) dan Kantin Nasional. Pasalnya beberapa bule sering gerah melihat cara makan pekerja nasional yang riuh rendah, bersendawa dan terkadang berpakaian seadanya.

Di Rig tempat kami bekerja – ada kebiasaan setiap hari Kamis, khusus Kantin Nasional ada masakan khas yang digemari crew Thailand yaitu Hainan Chicken Rice.

Sehari sebelumnya saya sudah dibisiki oleh teman-teman di Rig, bahwa kantin National akan memasakkan nasi Ayam Hainan..

“Bangun pagi lebih awal supaya jangan kehabisan…”

Sebetulnya bagi saya tidak aneh sebab di Singapore misalnya biasa bagi saya mencobai Nasi Ayam Hainan.

Tetapimelihat antusias warga kapal pengeboran rig SeaCrest maka saya yang biasa makan di kantin para Expatriate – kali ini hijrah ke kantin Nasional.

Suasana memang meriah, dalam tempo 1 -2 jam, masakan sudah ludes terutama Ayam Hainan.

Sambil berceloteh, kadang tertawa terbahak-bahak, cara makan riuh berkecipak kadang kecepatan memasukkan nasi dan lauknya yang mirip orang akan ketinggalan kereta. Bagi yang  tidak terbiasa akan merasa tak nyaman.

Misalnya saja ada crew dibela-belain pakai handuk yang dilipat sampai pinggang duduk nongkrong. Agak kurang biasa bagi saya melihat orang makan telanjang dada. Bersarung Handul sambil membawa kaleng berisi sabun, odol, sikat gigi dansampo. Kok seperti maju ke WC.

Tapi inilah Thailand.

MENCOBA KIRIM SURAT

Sekalipun anak-anak belum waktunya dikirim ke sekolah, namun untuk memperkenalkan dunia yang saya geluti caranya adalah dengan mengirimkan gambar ukuran Kartu Pos, dan dikirimkan kepada mereka dengan harapan waktu saya bekerja selama 2 minggu di rig maka kartupos bergambar sudah sampai.

Tetapi saya harus menelan kekecewaan berhubung sekembalinya saya di rumah, keluarga mengaku belum menerima  pos kiriman saya. Baru pada keesokan harinya pak pos mengetuk dan kiriman dari saya saya terima sendiri 2 minggu kemudian.

Anehnya surat perintah kerja, yang dimkirimkan melalui telegram, bisa datang lebih awal ketimbang saya. Artinya saya masih bekerja dan belum mengambil jeda, surat perintah sudah turun untuk naik ke rig.

PC JADUL

PC Yang dipakai oleh mudlogger adalah compact yang sudah jadi satu dengan monitor ukuran 9 inch monochrome dengan Keyboard yang sudah dijadikan satu.  Saat menghidupkan PC Kalau ada suara berdesir dari hardisk yang memutar, wah rasanya saya jadi hari itu saya  seakan  IT markotop.

Semua data dientry secara manual. Meliputi data Laju pengeboran dengan satuan meter per jam. Data ini setelah dipresentasikan berbentuk grafik akan muncul seperti garis kotak-kotak.  Karena data ini merupakan hasil pemantauan, maka setelah dipresentasikan dalam kertas mirim seismograph orang menyebutnya ROP Log atau data Rate of Penetration.

Ternyata – setelah diamati ada hubungan antara data kecepatan dengan jenis batuan. Misalnya batu pasir akan dibor lebih mudah ketimbang batu gamping dan batu shale (tanah liat yang sudah membatu).

Jadi saat memasukkan informasi Laju Kecepatan diadu dengan jenis batuan, maka presentasi ini dinamakan Log ROP dan Litholog (batuan). Lama-lama orang hanya menyebut Litholog.

Setiap perubahan batuan, kami mencantumkan deskripsi mengenai batuan tersebut misalnya batu pasir, ukuran butirnya seragam, ukurannya kecil, ada indikasi semacam karat disekitar butiran, ternyata setelah karat ini ditetesi bahan semacam alkohol, rupanya karatnya larut dan ternyata yang dilihat sebagai karat sejatinya noda minyak yang menempel pada batuan.,  Dan noda ini disukai, sebab indikasi bahwa mata bor memasuki lapisan minyak yang produktip.  Orang menyebut penampakan ini sebagai “Oil Show” yang memang dicari-cari para ahli explorasi maupun exploitasi minyak.

Tapi ada yang lain lagi, yaitu batuan pasir yang kedapatan “ternoda minyak” bila dilihat dengan alat yang lamu neonnya diganti dengan lampu neon Ultra Violet, untuk para ikan di akuarium, mereka akan berpendar-pendar. Mata para ahli akan melihat pendaran ini.

Maksudnya log diadu adalah data atau log  Kecepatan pengebran disandingkan dengan data log Batuan.

Rasanya bangga kalau sudah menghasilkan sebuah atau Litholog sebab kami yakin sedang menulis sejarah (kecil-kecilan) mengenai wisata batuan. Puluhan atau ratusan tahun nanti nama kami terpampang saat orang akan mengebor daerah tersebut.  Cuma sekedar kebanggan saja.

Jaman dulu orang rig sering melihat fenomena bahwa kalau sumurnya mengebor dengan kecepatan lambat, tiba-tiba metabor melaju cepat, selain batu pasir mereka juga melihat lumpur yangdipakai mendadak berbuih akibat gas.  Rekaman gas ini akhirnya dinamakan Gas Log.

Cara pembacaana dalah lumpur yang terkontaminasi gas dimasukkan kedalam blender lalu setelah gasnya terpisah, maka gas dialirkan kedalam alat yang disebut Gas Detector dan menghasilkan rekaman yang disebut Gas Log.  Gabungan antara Log Kecepatan Log Batuan dan anotasinya , Log Gas, ini kelak dinamakan Mud Log.

Pernah disebuah pengeboran darat di sekitar Sumatra, kami sering didatangi aparat desa. Saya selalu antusias menjelaskan kepada mereka akan proses pengeboran dan proses pembuatan mudlog.  Lalu saya tunjukkan kalau kurva gas berbelok kekanan dalam arti harganya membesar maka “curiga” akan adanya kandungan minyak dan gas. Kalau kurvanya hanya melata pada skala rendah berarti hanya gas background yang artinya hanya batuan biasa tidak mengandung minyak.

Salah satu aparat berbisik, “pak kalau begitu gambar gasnya diletakkan pada  sekala tinggi biar daerah kita dikira ada minyaknya…”

Saya hanya mesem sambil bilang “kita harus minta ijin sana,” kata saya sambil menunjuk ke atas. Ini tahun 1982-an dan orang desa kelihatan petani  lugu, tetapi aparatnya sudah punya konsep memanipulasi data…

Saking kencangnya pengeboran di lepas pantai sekitar  1000 meter per hari, maka kami bener-bener tunjang palang kalang kabut karena harus turun naik tangga rig setinggi 10 meter tetapi banyak untuk mengambil dan memeriksa bungkusan sample serpih batuan (sebetulnya tahi bor) yang telah disiapkan oleh para catcher kami.

Seperti diketahui,  sarang kerja kami adalah sebuah kotak besi berukuran 9 meter panjang, 3 meter lebar dan 3 meter tinggi. Kotak besi ini diletakkan dilokasi aman, biasanya sekitar 20-30meter lari mulut sumur.

Sementara “tambang serpih bor” kami adalah “daerah berbahaya” – kami menyebutnya  Ring 0 yang mudah dan terus terpapar gas berbahaya. Dengan jarak Aman dan Tak Aman yang kelihatannya Cuma 30 meter tetapi kalau anda harus berjalan bolak balik selama 12 jam kerja, maka pekerjaan ini membutuhkan Kaki sekuat Bruce Lee, Mata  Setajam Elang Jawa, Tangan secepat Incredible.

Kadang selama 12 jam kerja tidak bisa makan, kecuali minum atau oleh Sample Catcher dibawakan dari Galley (kantin) – sebab selain secara fisik kami harus “jogging” – maka laporan yang kami buat harus update sehingga pelanggan kami bisa segera mengambil keputusan akan nasib lubang bor yang sedang dibuka.

Yang repot kalau kebelet kencing. Masalahnya dekat  Wastafel pencucian  contoh tahi bor ada telpun sehingga kalau dipanggil oleh company man (supervisor) dengan saya mudah menjawabnya.

Sekali tempo saya sudah ndak tahan lagi dan kencing di wastafel sambil air keran dihidupkan…

Eh perbuatan saya ketahuan..

Repotnya , karena memang sudah lama menahan kencil, maka niat yang satu ini tidak bisa distop begitu saja.

Kejadian yang sama adalah saat itu saya perokok berat. Menahan lapar boleh saja, tetapi menahan dari aliran asap rokok. Persolanannya, saya tidak boleh sekali-kali meninggalkan Kabin alias kotak besi saya. Maka teorinya, AC saya matikan, jendela saya buka dan saya cepat-cepat merokok sigaret non kretek sekalipun saya perokok kretek. Setelah satu dua hisap,  rokok saya matikan dan saya kembali bekerja.

Cara ini sebetulnya “sama aja boong”  sebab bau asap rokok yang menempel di baju kerja dan rambut tidak akan mudah hilang begitu saja.

Duh malunya.

MENGGANTIKAN TEMAN YANG QUIT
Bekerja di lepas pantai dengan runang tak lebih dari lapangan bola, bangunan besi dimana-mana maka satu-satunya hiburan manakala hari sudah berganti.

Tanggalan sudah dicoret satu persatu menandakan hari kepulangan semakin dekat.

Setiap saat kita berdoa agar teman yang menggantikan  kita tidak mengalami masalah sehingga urung datang ke rig.

Lengkap dua minggu saya berada di kapal pengeboran, maka hari dnantikan saya sudah bercukur kumis dan jenggot dan menaiki helikopter chinook.  Setiba di helipad Songkhla teman yang saya nantikan nampak seperti orang tidak akan pergi kerja

Ternyata dia mengatakan QUIT – istilah kami untuk berhenti secara sepihak. Perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab sebab crew di rig sudah bekerja seharian bilamana tidaka da penggantinya apa jadinya. Akhirnya saya menjadi relawan kembali ke rig asalkan hanya sementara pihak manajemen mencarikan pengantinya.

Ternyata ini bukan cuma sekali. Lain kesempatan di Pakistan yang dijadwalkan bekerja 4 minggu, ternyata Mark teman saya minta pulang saat baru bekerja 1 minggu lebih sedikit.

“Family issue,” katanya.

Akhirnya dia pulang dan yang repot saya tidak bisa istirahat sekalipun sudah mengerjakan shift 12 jam. Kami bekerja 12 jam sehari. Belakangan saya baru tahu bahwa istri Mark di Bangkok “lari meninggalkannya” – sambil membawa semua harta yanga da di apartemen mereka.

DERITA PESAWAT

Perjalanan yang jauh,  bayangkan dari  Jakarta ke Singapura – lalu Pulau Pinang Malaysia, lalu terbang ke Hat Yai.

Dari Hat Yai Airport  ke kota Songkhla memerlukan waktu 1 jam perjalanan dengan taxi.  Jelas membutuhkan fisik prima.

Hanya ada waktu semalam di Songkhla keesokan harinya sudah harus langsung bekerja digempur proyek pemboran yang  berjalan secara efisien.  Ini pekerjaan fisik anda harus mengumpulkan tahi-bor dalam kantung kecil sesuai selang kedalaman bisa dari 10 meter sampai 1 meter, dan masih harus menyiapkan “preparat” batuan dalam baki kecil untuk dilihat oleh mikroskop.
Masalah lain, pengeboran disini lebih suka menggunakan lumpur yang cairan dasarnya adalah minyak solar  sintetis. Padahal kata lumpur sendiri asalnya dari campuran tepung bentonite dengan air. Kalau anda melihat beceknya sawah serta , licinnya kondisi yang dihasilkan maka bayangkan kalau air yang mengairi sawah diganti dengan minyak solar. Minyak solar membutuhkan deterjen khusus untuk mencuci cutting agar bisa dipergunakan dan diperiksa keadaan geologinya.

Kabin kami letaknya diatas lokasi pengambilan tahi bor,  beda ketinggian sekitar 5 meter tetapi bangunan di rig pengeboran dirancang compact sehingga banyak menggunakan tangga yang berkelok.

Hampir-hampir saya tidak pernah mendengar ada keterlambatan dalam pasokan alat. Semua serba terencana baik

Naik turun pesawat, kadang kala saya sedang kurang sehat, flu misalnya akan membawa dampak menyakitkan.

Saat pesawat lepas landas tidak terjadi masalah, namun saat  pesawat turun mendadak misalnya akan landing, kepala sakit macam akan pecah. Saya harus mengurut sekitar kening dan bola mata karena sepertinya bisa meredakan rasa sakit..

Hanya waktu itu belum dipikirkan adanya frequent flyer.

PETRON

Kami berada di Houston yang sedang musim dingin saat itu. Tujuan pertama adalah melihat fasilitas Petron. Rata-rata mereka adalah ex mudlogger yang pindah bagian menjadi pembuat alat instrumentasi rig pengeboran. Peter Buckley dan George Bridgestock sangat bersemangat ingin mengembangkan bisnis di Indonesia.  Mereka juga bukan orang asing di Indonesia.

Malamnya kami ditraktir Steak Houston yang terkenal.

Dari Petron Industries –  Kami menuju bagian lain yaitu The MudLogging Company. Ada sedikit hambatan bahwa ternyata kami sudah kedahuluan teman Gladi yang menjalin kerja sama sebelumnya. Tetapi karena kadung kesana maka tour pun tetap dilakukan.

The MudLogging Company memiliki banyak karavan mudlogging. Saya berkesempatan melihat cara mereka membuat sendiri peralatan. Dan yang mengesankan adalah para pekerja penuh semangat menceritakan kehebatan peralatan.

Malamnya saya diajak makan oleh Ipar Becky Tumewu, restoran Vietnam. Bercengkrama dengan anak-anak mereka yang melafalkan Nasi Goreng menjadi Nasi Goyeng.

Kencing di Wastafel
Kebobolan lumpur hilang

MLPEDIA

Cutting – (inggris), serpihan kecil-kecil batuan yang dihasilkan saat mata bor membuat lubang. Kadang disebut Tahi Bor. Namun istilah ini kurang populer sehingga lebih sering dipakai “cutting”

Sample Catcher – anak-anak putus sekolah, yang didik mula-mula hanya mengambil cutting dalam interval tertentu, misalnya setiap 10menit, atau 1 meter semua tergantung ketelitian yang diinginkan. Anak yang rajin membaca dan berkeinginan mengubah nasibnya akan belajar menguasai  seluk beluk MudLogging, bisa naik pangkat menjadi mudlogger, apalagi dibantu dengan kemampuan bahasa Inggris.

MudLogger – pendulang lumpur, para insinyur Geologi, Perminyakan. Sebetulnya persyaratan ini terlalu berlebihan. Tetapi perusahaan macam Oil Company kadang meminta para awak Mudlogging dengan pengalaman minimal 4 tahun

Kabin (cabin), sering disebut Unit/Data Unit, Shack tempat kerja para mudlogger, ruangan ber pendingin udara, bahkan bagi yang membutuhkan keselamatan tinggi, kabin diberi “tekanan udara” – mirip pesawat udara.

DAQ – Data Acquisition Unit, adalah seperangkat rangkaian elektronik yang dipasang pada bagian dalam kabin. Alat ini berfungsi sebegai penterjemah dari sensor-sensor  yang dipasang disekitar Rig Pengeboran, agar sensor bisa dimonitoring.

MUDLOGGING Sensor. Peralatan yang dipasang pada kaki menara Rig, Lantai Rig, Tangki Lumpur pengeboran, Pompa Pengeboran. Alat ini bekerja dengan arus lemah dari 0-420mili Ampere.  Sensor akan berbicara dengan PC para mudlogger setelah diterjemahkan “bahasanya” oleh rangkaian elektronik bernama DAQ..

GASTRAP – sebuah alat berbentuk silinder atau kotak yang didalamnya dipasang pisau blender yang sudah dimodifikasi untuk bekerja 24jam sehari 365 hari pertahun. Pisau bkender akan mengaduk lumpur “kotor” yang mengandung gas hidrokarbon. Setekah diaduk maka perlahan gas yang larut dalam lumpur akan terkumpul disuatu ruangan -paling 1000 cc- untuk di jebak (Trap). Setelah dijebak, gas akan disedot oleh sebuah selang kecil dan masuk ke peralatan analisa  gas yang dipasang dalam Kabin Mudlogging.

GAS DETECTOR – saya akan menganalogikan dengan bola pijar yang sedang menyala. Bila kedalam bola pijar di masukkan gas, maka gas akan terbakar. Gas yang terbakar menimbulkan panas, dan makin kental konsentrasi gas yang dimasukkan maka makin kuat respons elektronik alat.

GAS CHROMATOGRAPH – tidak ada hubungannya dengan warna. Disini gas sebelum masuk Gas Detector akan mengalami hambatan (kecepatan alir gas diperlambat) dengan memasang filter dalam pipa circuler. Campuran gas dari perut bumi bila dimasukkan kedalam alat ini akan terjadi pemisahan berdasarkan unsur molekulnya. Metana adalah campuran paling ringan sehingga dia bisa berlari melesat lebih cepat ketimbang kawannya. Pentana, karena  berbadan lima  ibarat bayi kembar siam, maka sang orang tua akan lebih lambat jalannya.

Calibration Gas – Regulator tidak terpasang

CALIBRATION GAS – (Gas Metana dan Gas Campuran)

ALAT TRADISIONAL GAS DETECTOR

Ketika saya masih baru menjadi mudlogger – Calibration Gas (GK), mudah sekali di impor. Asal pesan dari Singapore – sebulan kemudian pesanan datang  dalam bungkus karton. GK yang saya kenal adalah buatan SCOTTY, besarnya sama dengan aerosol cat dengan suntikan berupa selang kecil sama aerosol cat. Lalu bermunculan supplier lain seperti BOC, CALGAZ, Air Liquide seperti nampak pada gambar adalah salah satunya.

Dalam peralatan mudlogging yang kuno,  kalibrasi berlangsung demikian. Setelah peralatan gas detector dipanaskan sampai minimal 2 jam, kami menyetel alat dalam posisi “CAL” artinya calibration. Lalu aerosol perlahan diinjeksikan kedalam detektor. Tahunya gas masuk adalah dari indikasi bola dalam pipa transparan yang bergerak berputar. Anda yang pernah melihat cara pengisian BBM jaman dulu tentu sering melihat indikator bola. Kalau pengisian sudah penuh kedalam “vena” sang detektor, akan terdengar bunyi “klik” – artinya klep detektor sudah ditutup dan biarkan mereka melakukan analisa gas.

Gas ini kalau isinya cuma misalnya 1% gas, maka sisanya 99% adalah udara. Udara boleh dibilang paling ideal untuk mendapatkan hasil kalibrasi gas. Sekarang kita lihat sertifikat gas Scotty – mengatakan bahwa gas (1% Metana,  99% udara).  Perhatikan bahwa jarum rekorder (chart)  akan bergerak dari pinggir chart ke posisi 50% dari chart.  Dari penyimpangan jarum tadi, mudlogger mengatakan bahwa Gas Detector sudah dikalibrasi pada jam, tanggal, tahun dengan gas 1% sama dengan 50 UNIT. Kalau ada mudlogger ngeyel lalu menyetel sensitivity sampai full scale 100%, maka dia seyogyanya menyebut dalam log dan laporan lain bahwa 1% = 100 UNIT. Persoalannya kalau sampai fullscale maka presentasi gas pada recorder akan kurang cantik.

ALAT MODERN GAS DETECTOR

Pada mudlogging yang masa kini, setiap menyuntik gas metana 1%  maka komputer dengan mudah mendisplay angka 1%, kalau mau diubah menjadi ppm tinggal mengganti satuan dimana 1% metana adalah 10000 ppm. Penggunaan recorder mulai ditinggalkan, baik thermal maupun inkjet.

Recorder terakhir yang menemani saya adalah Siemen Chart Recorder. Pabrik sudah tidak bikin lagi, era komputer semua bisa didisplay online secara digital. Bagi saya yang kelompok kadaluwarsa ini, sering kehilangan jejak mengikuti trend ulah gas yang kadang bisa mendeteksi apakah kita memasuki overpressure zone, depleted zone, overbalance situation.

Gas detektor yang baru saya sebut hanya dikalibrasi dengan satu jenis gas yaitu Metana – orang awam menyebutnya Gas Rawa, tetapi jangan heran dan bingung gas Detektor ini malahan disebut sebagai Total Gas Detector (TG detector). Lalu ada detector lain yang disuntik dengan gas campuran yaitu metana, etana, propana, butana, pentana. Detector ini dinamakan Chromatograph Gas (CG detector).

Dalam prakteknya, gas yang keluar dari lubang bor belum bisa dipetik begitu saja sebab mereka mendekam dalam lumpur bor. Kalau gas ini dibiarkan saja tanpa ada treatment, kondisi lumpur menjadi lebih ringan, berbusa dan rusak. Mudlogging memasang blender yang sudah dimodifikasi untuk keperluan tersebut. kalau blender masak dindingnya beling, maka blender mudlogging terbuat dari baja dan diberi lubang agar kalau blender baja dicelupkan kelumpur 24jam, maka 24 jam pula lumpur diaduk. Jelas dibutuhkan pisau blender yang sudah dimodifikasi, motor listrik yang mampu berjalan 24/7 tanpa jeda. Blender baja yang kelak dinamakan GAS Trap ini bagian atasnya disambung dengan dua selang. Selang pertama langsung disambungh ke perkakas gas detektor yang dipasang di dalam Kabin Mudlogging, selang kedua paling cuma 1 meter gunanya untuk sirkulasi udara.

Supaya lumpur tidak terhisap naik, blender dipertahankan kedudukannya agar cuma sebagian blender yang tercelup lumpur dan sisanya masih ada rongga udara.

Saya pernah tak habis pikir, lumpur payah-payah diaduk agar gasnya lepas, tapi sudah lepas malahan dicampur udara luar (sekalipun melalui selang kecil). Lalu selang udara saya tutup. Tidak lama kemudian mudlogger dalam kabin blingsatan sebab gas Detector mereka berbunyi pertanda sistem keplepek kurang udara.  Dari keisengan ini muncul pengertian bahwa bilamana ada gas dalam sirkulasi lumpur menunjukkan 25%, itu artinya ada 25persen gas dalam “blender baja” sisanya 75 persen udara luar yang ikut terhisap sengaja). Para Geologist, Tool Pusher, Driller, Company Man yang masih baru seyogyanya diberi pengertian cara kerja detektor gas agar tidak berpendapat bahwa  lumpur dalam lubang bor sudah didesak keluar oleh gas sebanyak 25%  sehingga mereka kuatir sumur blowout.

Saya mengebor untuk sumur lepas pantai ENI Australia. Kami harus masuk ke bandara Timor Leste (tapi passport tidak di cap) sebelum diterbangkan ke lokasi. Daerah ini dikenal dengan tekanan yang tinggi, setiap melihat fenomena Connection Gas, buru-buru kabin saya titipkan mudlogger dan sebagai Pressure Engineer saya menemui Ivan sang company man. Gas manteng pada 50%, sekalipun pemboran berjakan alot. Dengan langkah terpincang, dia melihat saya dan tidak percaya bahwa sumur dalam keadaan underbalance (tekanan lumpur lebih rendah dari yang seharusnya). “MudLogger selalu panik kalau ada connection gas dan background gas besar…”

Ivan bahkan mulai menyalahkan sistem gas kami. Lalu dia mulai main adu domba – kalau perusahaan mudlogger yang lain lebih bagus dan terpercaya sistemnya.

Jam 03:00 Ricky Sepuldo – sang Tour Pusher masuk kedalam  kabin. “Saya barusan flowcheck” – pemboran saya stop, lalu permukaan lumpur dalam lubang bor saya amati dengan menggunakan trip tank. Tidak ada indikasi lumpur gain, padahal kamu (saya) melaporkan gas 50% sehingga semua kegiatan Hot Job seperti mengelas dihentikan.

Penjelasan saya seperti diatas, tidak masuk dalam logika mereka.

Beberapa jam kemudian, dari layar CCTV kami melihat semburan lumpur ke udara. Sumur kick. Saya merasa lega sudah melaporkan. Tapi sebulan kemudian, pak Ivan menulis kesan kepada kantor client bahwa “Pressure Engineer di kapal tidak mengerti sama sekali konsep Overpressure..”

Bisa ditebak, orang kelahiran Denmark ini sedang berusaha menyelamatkan dirinya..

****

MUDLOGGER JUG A TUKANG LEDENG

Peralatan Mudlogging membutuhkan pasokan udara bertekanan, pasokan listrik sudah barang tentu dan pasokan air. Listrik umumnya dipasok dari Generator Rig.  Kalau rig laut, bisa dipastikan pasokan listrik sangat stabil. Tetapi Rig darat, ampun terampun.

Awal saya di mudlogging, rig di darat menggunakan Generator sendiri mereknya ONAN. Tetapi pekerjaan kami bertambah, mencari pelumas, memaintenance, cari solar (minyak diesel), akhirnya kebiasaan menyediakan generator di tinggalkan.

Di rumah mungkin soal ledeng tinggal panggil ahlinya, selain membantu pihak lain mencari nafkah, ahlinya akan bekerja lebih cepat. Tetapi manakala ada di  rig, mengganti keran, selang yang bocor harus dilakukan sendiri.

Gambar keran ini bercerita saat kami mendapat pekerjaan perusahaan besar sekelas EXXON di lepas pantai Makassar pada tahun 2008. Rig West Aquarius begitu raksasa, jarak antara Blender Baja dengan Kabin lebih dari 100 meter. Prinsip yang dikenal orang, gas akan bergerak mengisi ruang yang ditempatinya. Dengan kata lain selama ada selang antara blender dengan mudlogging secara otomatis gas akan “nyampe” juga bergerak 100meter.  Tapi mudlogging menyediakan pompa hisap “vacum pump” -  agar gas yang mengisi selang gastrap segerabisa dihisap.

Merek yang teruji adalah DiaVac, tetapi banyak beredar dipasaran merek lain.  Persoalan lain, pemilik rig menilai pemakaian selang plastik transparan kurang safety sehingga kami diminta pasang selang stainless steel.  Anda yang belum pernah ke rig lepas pantai saya beritahu bahwa space merupakan masalah di rig. Ketika mereka membuat rig, tidak ada pertimbangan unsur mudlogging. Jadi sekalipun jarak terdekat tempat pengambilan atau pengadukan lumpur bor yang biasa disebut possum belly itu 100 meter, kami harus menempuh jarak lebih lama lagi dan berliku.  Di luar dugaan, masalah yang ditimbulkan adalah gas dalam selang karena terlalu panjang mulai berproses kondensasi. Pompa Vacuum yang didesign menghisap gas sekarang harus melet-melet menghisap air dan mereka menyerah.

Client mulai komplain gas kecil. Kami ganti Vacuum Pump ukuran besar, hasilnya sama.  Biasanya maslaah diatasi dengan menyetop pompa vacuum (artinya gas tidak terdeteksi), lalu selang gas di “sentor” dengan aliran udara sekitar 5 menit. Artinya 5 menit gas hilang. Problem ini kami laporkan keseluruh dunia. Namun solusinya tidak ada.  Tidak ada cabang atau technical support yang bisa membantu kami. Mereka lebih bergaiah membicarakan software.

Jalan keluar adalah membuat selang cadangan sehingga saat selang dibersihkan, kami bisa berganti menggunakan selang yang bersih. Dengan demikian selang yang penuh air bisa ditiup selama mungkin.  Saya yang bertanggung jawab atas semua ini memang sempat stress bagaimana mengatasi keadaan ini.

PENSIUN LAGI

 

****

Night Tour – Ploeg Kerja Malam. Biasanya mulai shift jam 12Malam sampai 12Siang.

Day Tour – Ploeg atau shift kerja Siang. Mulai jam 12 Siang sampai 12 malam.