Helm


Tahun 1975-an saat mendapat kesempatan kerja praktek di Pertamina Wilayah Jawabarat, Cirebon saya berkesempatan menyaksikan sebuah operasi yang dinamakan penyemenan. Yang kira-kira mirip mengelem pipa besi dengan lubang bor yang tanah agar kedudukan casing tidak mudah goyah dan bocor. Semen yang dipakai disini agak khusus karena harus mampu bertahan pada temperatur bumi yang panas. Yang dipompakan hanyalah campuran semen air dan beberapa bahan kimia dan tidak ada campuran pasirnya sehingga asli bubur semen encer berwarna keabu-abuan. Dengan campuran bahan kimia, semen bisa mengeras setelah tiga jam
Truk-truk bercat jingga, berupa mesin pengaduk semen beserta pompa pendorong bubur semen bertekanan tinggi sudah siaga dengan pipa-pipa panjang berdiameter tiga inci melintang disana sini bak tentakel raksasa.

Pekerjaan ini beresiko, sebab kalau terjadi gangguan operasi, bisa-bisa semen mengeras didalam pipa-pipa saluran dan biaya operasi akan membengkak.

Hari masih belum beranjak dari pukul sembilan pagi saat operator Cement berdiri dengan seragam jingga dan menggunakan baju kerja coverall serta topi proyek yang terbuat dari aluminium berkilat diterpa sinar pagi. Hari itu ia menjadi selebriti sesaat di panggung kecil lokasi pengeboran. Semua mata bergantung pada keahliannya.

Saat mesin sudah meraung, perseneling masuk untuk melakukan persiapan menyemen yang disebut uji tekanan (pressure test), biasanya dipompakan air terlebih dahulu dengan tekanan tinggi untuk barang seperempat jam lalu mesin dimatikan dan tekanan tetap dipertahankan sambil dimonitoring dari waktu ke waktu. Saat pipa bergetar lantaran menahan tekanan tinggi mulai terdengar nyanyian khas pengeboran. Pipa-pipa ini saling bersenandung mirip suara ring seker motor yang oversize. Namun kami harus menjauhi tempat tersebut sebab senandung tersebut tidak jarang berakibat maut bila ada salah satu sambungan pecah ataupun putus.

Tetapi nampaknya operasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Beberapa kali “uji tekan” dilakukan dengan tekanan 1500 psi (10atmosfir), pipa masih bocor dan celakanya lokasi kebocoran sulit diatasi sehingga operasi penyemenan belum bisa dilakukan.

Saat itu pak Isak seperti kesurupan jin iprit dari pohon aren dibelakang truk. Diatas panggung truk, ia menyumpah-nyumpah dalam bahasa Inggris yang belum saya mengerti maksudnya saat itu. Klimaknya helm aluminium dibantingnya keras-keras lalu helm menggelinding dari ketinggian satu meter lalu jatuh tertelentang tak berdaya. Jelas helm malang ini makin bertambah penyoknya. Pak Isak lalu turun dari truk dan mengenakan helm kembali. Ajaib ia nampaknya mengalami helmgasmic, terbukti wajahnya cerah kembali setelah meluapkan kejengkelannya entah pada siapa.

Saya melihat episode singkat dari kejauhan, sempat sekok (shock), maklum seumur-umur belum pernah melihat kejadian banting helm. Akibatnya suara aluminium beradu dengan besi baja, dan kilatan balik pak Isak mengamuk masih segar dalam ingatan saya. sampai sekarang, sepertinya kok gagah betul..

Saat itu pemakaian topi pengaman berupa aluminium masih dibenarkan. Celakanya para mandor pengeboran berlomba-lomba membawa helm mereka ke Tjokrosuharto – Yogyakarta untuk diukir oleh para pande perak disana, padahal memodifikasi peralatan keselamatan hukumnya haram.

Namun setelah beberapa kecelakaan akibat listrik yang menjalar melalui helm baja, pemakaian tersebut dihentikan. Jadi saya agak heran ketika bapak Presiden kita masih sambil tertawa mencoba menggunakan helm logam pada sebuah peresmian proyek. Dan ini disorot kamera dunia. Duh…

Ternyata helm yang terbuat dari plastik memiliki masa pakai. Biasanya hanya 3 tahun setelah masa produksi (tertera pada sertifikat atau label), maka helm dan jaring didalamnya wajib diganti. Apalagi kalau helm mengalami modifikasi seperti di cat, diukir, dilubangi. Praktis kekuatannya berkurang. Menurut para ahli, ada retakan mikro dalam helm plastik yang menyebabkan mampu menghantarkan listrik. Lagian helm kalau sudah lebih 3 tahun wajahnya sudah babak bundas (babak belur).

Pertanyaannya mengapa dunia pertambangan termasuk perminyakan sangat ketat diberlakukan peraturan keselamatan. Faktanya kecelakaan fatal terjadi hampir lima kali lipat dibanding kecelakaan lalu lintas di Australia. Selama ini orang berpendapat bahwa kecelakaan lalu lintas memegang porsi terbanyak dalam mencabut nyawa manusia, ternyata masih belum seperlimanya dibanding kejadian di industri perminyakan.

Lalu iseng saya melihat helm saya yang dulu di toko khusus hardware Jakarta. Jenis TuffMaster III buatan Australia ini dibuat pada 1995 padahal saya beli pada tahun 2004. Kalau terjadi kecelakaan berkaitan dengan helm, bisa saja pihak asuransi berkelit tidak membayar santunan dengan alasan helm saya tidak laik pakai lagi.

Jadi bukan susu kemasan saja yang memiliki tanggal kadaluwarsa.