Taxi SIN City


PESAWAT MENGALAMI – DATANG TERLALU AWAL
Menjelang kelahiran putrinya yang kedua – maka putri saya sudah memberi ancer-ancer. Kelahiran sekitar 8-9-10 Juli 2015, Mode Operasi : Sesar , jenis kelamin Putri.

Jaman dulu menentukan jenis kelamin bayi – hanya bisa dilihat pertama oleh Faraji (beranak) yang memberikan pertolongan kelahiran.

Seperti di sinetron selangkangan bayi ditengok, suara Faraji serak dan mengatakan anak perempuan.. Lalu di baca garis tangannya ,,, anak ini bakal menjadi bla bla bla.. Diamini oleh orang tuanya sambil menangis,

Kini teknologi sudah mengubah segalanya.

Saya menggunakan Tiger Air. Ini kali pertama merasakan pesawat Matskapai Singapura itu.

Tidak ada delay di Terminal 2D, semua berjalan lancar, sementara para pimpinan terkait bandara muncul di televisi seakan-akan kebakaran adalah salah JW, Satpam, Listrik semata. Para Pejabat selalu betul..

Ternyata – pesawat ini diumumkan oleh pilotnya Moh Nasir, mengalami kecepatan setengah jam. “The flight 30 minutes ahead of schedule” – Padahal TV sedang gencarnya menceritakan akibat kebakaran KONYOL di terminal 2E maka terjadi penumpukan di 2D dan 2F. Pesawat banyak yang terlambat…

Untungnya yang saya kuatirkan hanyalah salah sangka.

Di Changi saya melihat pemadam kebakaran portable disudut belalai gajah.

Ternyata anak saya dan putrinya sudah datang menjemput kami berdua di T2 Changi. Anya Cucu 2 tahun setengah malahan ketiduran lantaran banyak bermain bersama kedua orang tuanya.

Bandara Changipun masih nampak sepi.

Ada masalah. Saat menumpang taxi – supir menolak mengangkut 4 Dewasa dan satu anak dua tahun. Anya dihitung satu dewasa.

Peraturan Taxi Singapore hanya membolehkan empat penumpang. Yang mereka kuatirkan adalah manakala ada kecelakan, maka supir Taxilah yang akan mendapat hukuman berat karena kelebihan penumpang (sekalipun balita). Dan tidak boleh menggunakan alasan “kemanusiaan”. Seperti yang biasa dijelaskan oleh pejabat kita kalau terjadi kecelakaan moda transportasi

Mendadak – sebuah taxi besar pintu samping (semacam Alphard), datang disamping Taxi Tolak.

Taxi ini memang membolehkan lebih dari 4 penumpang. Tapi yang tidak enaknya – ongkos taxi yang biasanya SIN 18 (bukan 18 dosa), menjadi SIN 30 (bukan 30 dosa).

Taat Peraturan memang resikonya pengeluaran.

Menghitung Hari – Menunggu Cucu7 Juli 2015
Mimbar Saputro

BattereyWARE…


(purchasing new perfume dispenser for ablusion – included the two AA chinese batterei for free. Found the new installed batterei causing machine goes crazy – with keep on pumping erratically. After replacing the batterei with the main-stream – machine goes smooth).
*******
Balada BATEREI AA

Biasanya kalau mouse sudah mulai lemot, indikasi batereinya-minta diganti.
Begitu juga kalau keyboard kerap error. Pendek kata – barang bertenaga baterei bisa menjadi Jozz kalau batereinya baru.. Ternyata tidak semua begitu…

Kebetulan – waktu beli dispenser pewangi ruang – sudah dibonusin dua alkaline AA, artinya alat sudah bisa dipakai sonder beli baterei lagi…

Biar hemat baterei maupun pewangi, saya setel dispenser manteng di angka 40, artinya aerosol akan menyemprot sesuai dengan timer yang ditentukan. Artinya (lagi) saya akan ganti pewangi setiap 2 bulan…
Tapi heran juga – ketika alat ini dipasang di kamar ablusion – bau wangi tajam amat menusuk dari tercium dari kamar mandi.

Ternyata baterei melakukan tindakan tidak terpuji… Diam-diam mereka bikin timer perjuangan alias “suka-suka-guwe”, Terbukti tuas pewangi ditekan zonder interval yang sudah disetujui. Akibatnya sraat sroot srat srot tanpa aturan menghamburkan isinya.. Duh..
Baterei saya cabut. Saya coba ganti timer ke angka 10, 20, 30 tapi tetap saja alat membandel menghamburkan isinya sesuka-suka hati.

Kalau sudah ngamuk, alat menjadi “hang” – matanya berkedip-kedip dengan cepat.. Seperti petarung MMA memasuki ronde ke lima..

Terpaksa saya melakukan tindakan Pembedahan.. Baterei saya cek.. satu koma enam volt. Artinya “edan” melebihi ekspektasi.

Tapi setelah di jalankan berulang kali mengalami gagal timer. Iseng ganti dengan baterei buatan main-stream-misal cap kucing, eh sampai sekarang dispenser ber perlaku manis, hanya menyemprotkan pewangi sesuai jadwal..

Ini baterei “YH” yang baru “nyar-gris” jangan-jangan disusupi “mallware” apa ya..
Mimbar Bambang Saputro’s photo.

Toleran terhadap AMBIGUITI


Toleran terhadap AMBIGUITY..
Tiga bulan setelah kelulusannya, Jeff melamar kerja ke sebuah penerbitan Koran di Phoenix – Amerika.
Pimpinan Redaksi yang akan mewawancarainya – bahkan menjemput calon wartawan ini di Bandara. Setelah makan siang, Jeff diturunkan disebuah pusat keramaian di pinggir sungai.
Bukan wawancara yang ia dapatkan melainkan “Cari Berita dan Tuliskan” – padahal hari menjelang sore. Jeff diminta laporannya siap pada jam 17:00. Sempat shok akan tugas tak disangka-sangka, lantaran ia sangat asing akan daerah tersebut, Jeff mencoba mewawancarai pedagang, pejalan kaki, warga setempat semua tidak menarik untuk ditulis sebagai Feature.
Untunglah ia menemukan cerita bagaimana sebuah kampanye terpaksa dihentikan karena badai. Tugas menulis Featurepun diselesaikan dengan baik.
Ternyata Redaksi sama sekali tidak tertarik akan reportase yang susah payah ditulisnya. Tapi ia diterima bekerja di sana.
Belakangan pemimpin redaksi mengatakan bahwa Tugas Menulis Berita – bukan sebuah ujian sesungguhnya. Yang mereka inginkan adalah bagaimana seseorang sarjana mengadopsi situasi ketidakpastian, bagaimana bersikap di tempat yang sangat asing baginya.
Rupa-rupanya Pemred kerap menguji calon sebelum Jeff. Semua gagal lantaran banyak calon memperlihatkan sikap Gugup dan Tak tahu harus bagaimana. Ada yang malahan lebih banyak bertanya secara detail tugas yang harus dilakukan.
Terlalu banyak lulusan perguruan tinggi, saat melamar kerja melakukan pendekatan persis seperti sylabus sekolah. Mereka menganggap bekerja seperti menghadapi soal ujian. Sedikit ketidak pastian.. membuat moral berantakan.
Ketika teknology berkembang misalnya masuknya artificial intelligent untuk membantu manusia, maka banyak pekerjaan yang dulu dianggap penting menjadi barang museum.
Sukses masa didepan diraih oleh orang yang mampu mentolerir ambiguity dalam pekerjaannya. “Kerjakan pekerjaan sebaik mungkin sekalipun anda tidak diinstruksikan melakukannya..” – demikian tips dari bekas CEO Starbuck..
Secara tidak sadar – para orang tua lebih menghargai anak-anak mereka karena Pandai di kelas.
Jarang orang tua menghargai anak-anaknya yang berusaha jungkir balik sekalipun hasilnya tidak memuaskan. Anak yang Pandai di kelas (tapi sedikit belajar misalnya), akan cenderung mudah putus asa bila menemukan hal yang diluar kendali mereka.
Itulah sebabnya banyak penulis – tidak berasal dari sekolah Publisistik atau Kewartawanan. Mereka justru banyak datang dari anak Teknik, Kedokteran yang boleh jadi dimasa awal hidupnya sering menemui “kesulitan” alias ambiguity. Sampai-sampai ITB (Institut Teknologi Bandung diplesetkan menjadi Instituk TeknikJurnalistik Bandung, dan IPB Institut Pertanian Bogor menjadi Institute Pewartawanan Bogor.

PISANG


Nyadran tahun ini (2015), saya menyempatkan ke Lampung. Selain merawat tiga “pepunden” disana – maka beli oleh-oleh sederhana adalah ayat kedua yang dilaksanakan namun tidak disebutkan dalam Nawaitu. Artinya sudah otomatis.

Pertama Kopi “Klenteng” kesukaan saya langsung dibeli di tempat tumpah darah kopi tersebut dilahirkan.

Setelah Mie (ayam) Lampung, maka menyusul Pisang Tanduk. Jauh-jauh beli pisang jawabnya sama dengan orang Yogya makan Gudeg Ju Djum-Wijilan. Ada keterlibatan emosional disana.

TKP kami adalah salah satu dari jejeran gubuk reyot yang lokasinya di pinggir kiri, saat kendaraan mulai menanjak di Tanjakan Tarahan. Seperti diketahui saat anda setelah melalui Jembatan Serampok, dikiri kanan ada tumpukan BatuBara – Bukit Asam dari situ anda memasuki perjalanan perbukitan. Desanya sering terbaca Cintamaya. Tapi nama ini seperti terbalik bila diingat keangkerannya. Waktu saya masih kecil sama horornya dengan Gombel-Semarang. Banyak laka membuat pemda memperlebar jalan ini.

Tahun ini sekalipun agak sulit mendapatkannya tapi akhirnya kami dapatkan juga pada penjual tandanan pisang dengan harga menyesuaikan dolar. Kami beli yang setengah matang dengan harapan sesampai di Jakarta mulai bisa direbus. Saya berfantasi – gigitan pertama pisang rebus kadang diikuti seperti sensasi pegal di rahang, kendati tidak selalu demikian.

Sampai di rumah Mbak Nani asisten rumah tangga kami selalu menggantungkan pisang didinding, maksudnya agar dijauhkan dari segala gangguan tikus kebun masuk melalui kabel listrik kedalam rumah. Mereka minta jatah “preman” berupa satu atau dua lubang pada buah pisang, papaya, jagung, mangga.

Tapi sudah satu minggu – Tidak nampak tanda pisang akan matang. Tikus kebunpun sepertinya melecehkan oleh-oleh yang jauh-jauh dibawa dari Lampung. Padahal, biasanya sepotong bisa menarik para tikus masuk jebakan kawat yang dipasang oleh asisten Pak Lanjar. Bila tertangkap nasibnya menjadi “Food Chain” – rantai makanan dari seekor ikan Gabus Toman di kolam belakang yang sudah bisa menelan anak ayam.

Feeling mbak Nani sang asisten sepertinya mencium ada yang tak beres pada pisang ini. Betul saja ketika di GODOK – rasanya tidak kekanan tidak kekiri. Untung saja pisang belum di-sharing ke tetangga karena tak lulus “QC” (Quality Control) dari mbak Nani.

Penjual pisang apa tidak sadar bahwa memberikan barang tak berkualitas akan berakibat iklan buruk bagi mereka. Ribuan orang melintas jalur Sumatra setiap hari. Tempat ini seperti lapak jual Talas di Puncak, pengunjung datang silih berganti.

Kalau keburu di cap buruk – maka dampaknya akan sepi pengunjung. Atau boleh jadi merekapun tidak “ENGEH” – hasil panen kebunnya kurang bagus. Atau kebutuhan hidup membuat mereka nekad jual dagangan asal-asalan.

Mei 2015

Batal Puasa Pertama Gara-gara Mi Instant


Sekitar tiga bulan menjelang Ramadhan saya sudah melakukan latihan fisik. Bukan Lora-Lari, Jompang-Jamping, atawa Angkat Beban seperti atlit Mixed Martial Art (MMA) mempersiapkan tarung di octagon. Latihan saya sekedar makan sedikit nasi dan banyak sayur. Dan zonder Buah. Lha kalau makan Apel, Pisang dalam jumlah lumayan – ya kalori juga yang masuk.

Juga para asisten rumah tangga sudah tidak otomatis menawarkan Mah-Mih Mah Mih yang selama ini mereka lakukan.

Dulu – begitu melihat saya bangun tidur dan mulai cari Kopi Lampung yang pahit. Dalam hitungan detik, dari bibir mbak Nani meluncur luwes rayuan “Ngemih Goreng atawa Ngemih Rebus..Pak” Dan saya selalu ter-rayu – “He-Eh mbak Nani, aku monat-manut-saja. Kalau kemarin goreng (mienya) sekarang rebus ya.”

Apapun jawaban saya, maka dengan sigap ia menangguk air kedalam kedalam rantang aluminum tipis bertangkai kayu yang sudah “oglek-oglek.”

Rantang satu liter ini favorit dalam urusan seduh kopi, sebab ketipisannya membuat gas Melon 3 kilogram menjadi awet usia. Tangkainya terbuat dari kayu. Sudah kopang-kaping (berkali-kali) diganti oleh pak Lanjar lantaran patah atau bautnya meloloskan diri.

Ritual lanjut adalah sebutir telur dipecahkan, maka dalam hitungan menit : mie instant sudah siap saji. Kalau mie goreng telur diceplok, kalau mie rebus ya telur direbus. Coba pikir, iklan Mie Instan sudah demikian menggurita… Apalagi mereka ciptakan Jargon seperti Kudet, Pecah, Pingin dipacarin rasanya, Sadis, Enaknya Langsung Terus.

Bahkan yang terakhir makan Mie campur keju akan dijamin lancar jaya nyerocos dalam bahasa Inggris. Tidak perlu kursus di ELTI atau sebangsanya.

ANAK PROTES

Namun anak saya bungsu tidak menyetujui ritual ini dan menegur mbak Nani… Itu makanan tidak sehat untuk usia Papa. Sia-sia mbak Nani menjelaskan bahwa mie ini aman disaji sebab air rebusan mie yang pertama sudah dibuang (padahal menurut saya menghilangkan rasa gurihnya).

Akhirnya memang sejak maret 2015 saya puasa Mi Instan, sarapan berganti OatMeal. Makan siang sedikit nasi dengan banyak daun-daunan termasuk rebusan daun Ketela Singkong Mukibat.

Sebuah cara klasik menurunkan berat badan.

Maksud saya dengan kata klasik dalam tanda petik cetak tebal, diet yang umurnya paling lama setengah tahun. Habis diet dijamin balik maning-balik maning macam Yoyo. Kadang hasilnya malahan lebih tambun ketimbang sebelum Diet.

Gaya hidup yang saat ini dipraktekkan oleh penduduk dunia tahun 1950, saat ini.

Diet Yoyo ini lumayan juga… artinya ada perubahan entah itu Sugesti, Sukesti, maupun Sukarti.

Kalau semula duduk simpuh rasanya seperti ada kawat duri dilipatan kaki alias sakit sehingga lipatan tak sempurna dan badan mendoyong kedepan menahan ngilu. Sekarang doyongnya nggak banyak-banyak. Ngilunya timbul tenggelam.

Kalau dulu ketemu toilet Squat malah langsung ndeprok sebab dengkul tak kuat menopang. Sekarang sudah bisa dilakukan dengan suah payah. Tetapi berdirinya bikin masalah. Terkadang saya melihat kesenjangan kesehatan dengan para orang tua di Citayam mengobrol-buang asap rokok dengan berjongkok berlama-lama tanpa masalah – kaya iklajn gadai.

Boleh jadi ini lantaran mbak Sugesti – Lho sekarang kok badan rasanya entengan. Maksud saya engsel dengkul sudah tidak berderit nyeri kalau diajak aktivitas yang banyak jalan.

Selain mbak sugesti perasaan pernah baca bahwa radang sendi – 70persen obatnya adalah control bobot.

Tapi rahasianya ya itu jangan ngemil diantara waktu makan dan ini dia nggak enaknya lagi…,jauhkan diri dari Rengginang, Kerupuk Putih, Goreng Pisang dan makan buah sekalipun. Kopi pahit dicampur dengan Green Tea pahit menjadi cecepan (minum dikit-dikit).

Kadang anggota keluarga sering senyam-senyum penuh arti melihat saya meneguk kopi dan didorong teh pahit.

Memasuki bulan puasa, cara berbuka puasapun tidak berubah. Kurma, Kolak Manis, Marjan yang iklannya mengisyaratkan bahwa bisa jadi juara Dunia dalam sepak Takraw. Sirup Campolai pemberian mahasiswa Akamigas Balongan – hanya saya lirik saja.

Saya makan secepatnya agar tidak tergoda mencicipi lain-lain.

Habis buka puasa hari pertama – sekitar jam 11 malam – badan seperti tak bertulang dan rasa lapar berlebihan membuat saya sulit menahannya lebih lanjut.

Melihat penderitaan saya, maka godaan “Batal Puasa Mie ” – mulai mengalir ditelinga. Apalagi neneknya Anya menghentikan kegiatan menyulam dan menuju dapur melakukan Pertolongan Pertama Pada Kelaparan Kritis.

Pucuk dicinta MieInstan tiba… Saya lirik iklan di TV ada mie instan sedang melilit diujung sumpit macam anakonda membelit kijang gemuk.

“Air rebusan pertama sudah dibuang…” terdengar suara dari dapur – duh saya ngenes ditahan… padahal itu bagian paling mengguncang nikmatnya.

“Aku cacahkan cabe merah satu ya..” – duh saya paling nggak kuat pedas, tetapi minyak atsiri cabai konon menyehatkan. Dan sebentar saja aroma tajam cabai menyapu hidung. Karena satu “lher” maka hidung tak sempat bangkis.. Syedeep..

“Aku tambahkan kubis..” – Disini saya nggak pakai mengeluh “duh” lagi kecuali – cepetan dong nenek , sudah lapar nih.

Akhirnya semangkuk mie tersaji… Asal lihat tatakan dibawah mangkuk, ingatan saya pada sejarah pertarungan bakul Kopi di Pasar PASIRGINTUNG Lampung. Tatakan dua ribu rupiah dianggap berharga diproses verbal sampai harus masuk agenda pengadilan dan sel mengesel pihak terkait. Dan pameran air mata serta rintihan derita ditayangkan media TV setiap saat, sampai dihapus berita lain lagi. PasirGintung semasa kecil saya merupakan lokasi jauh yang saya belain naik sepeda untuk cari burung dara.

Waw setelah sekian bulan, setiap milliliter bin “cc” kuah saya nikmati sambil merem melek, diiringi rasa takut. Merem melek karena memang uap panasnya pedas dimata. Rasa horror yang ditimbulkan lantaran bila napsu besar diikuti dan buru-buru menyuap. Bakalan lidah “cantengan” terbakar panas kuah. Mi pun tandas..das… kuah yang tidak sempat saya sendok, masih ada deposit bubuk cabe dan bumbu lainnya.

Taruh sendok ditatakan dan tempelkan muut ke bibir mangkuk lalu tunggingkan. Sruput..sisa kuah saya berantas sampai ke debu cabai terakhir.

Langsung saya keluar keringat dan mampu bersendawa gurau.

Jujur saya tidak merasa berdosa – dengan sengaja batal puasa (mah-mih) pertama bulan Ramadhan pada pukul 23:15 Kamis 18 Juni 2015

Fb:   mimbar.b.saputro

Tweeter   @mimbar

KAMPUS KANDANG UDAN (HUJAN) dimana itu


KAMPUS KANDANG HUJAN

Ketika menjadi pembicara dalam acara Bedah Buku – di kelas Akamigas Balongan, Indramayu pada Minggu 14 Juni 2013 – saya memperkenalkan gaya penulisan yang dikenal Hypnotic Writing. Bukan membuat orang tertidur, melainkan pembaca seperti terpaku ingin cepat-cepat menyelesaikan bacaannya.

Maksudnya agar mahasiswa tertarik mendengarkan penuturan saya, dan tidak mengantuk dengan penuturan saya.

Dalam satu slide saya menulis bahwa tiga pilar penulisan yang menghipnotis bawah sadar pembacanya adalah Observasi, Offer, dan Bukti.

Investasi bodong yang menimpa ratusan nasabah adalah teknik penjualan dengan hipnotis melakukan manipulasi perasaan manusia bahwa kita memang tertarik memperoleh harta dengan cara lenggang-kangkung”. Para MLM-wan dan MLM-wati piawai menyebut – sebagai uang yang bekerja untuk anda.

Lalu saya mengambil contoh, terapi air hujan.

Berpijak dari kenyataan bahwa sakit dinegeri ini adalah barang mewah, andaikan bisa dibantu dengan BPJS maka beberapa penyakit yang keturunan atau yang menahun, tidak bisa disembuhkan dengan mudah.

Agar Mahasiswa tertarik saya mengambil contoh – artikel Laboratorium Hujan di Bunder (Klaten), dari Kompas tanggal 7 Juni 2015.

Langsung saya kutipkan kesaksian Mbah Jelam (57), yang menderita kencing batu sejak remaja. Gara-gara sakit tak sembuh, ia pernah dua kali coba bunuh diri. Ia begitu putus asa sebab sudah 6 kali dibedah untuk dikuras batu ginjalnya, namun setiap akan buang air kecil hanya kesakitan luar biasa yang ia dapat dan air senipun seperti mamet dalam tubuh.

Yang pernah anyang-anyangen saja rasanya sudah menyiksa.

Penyakit mbah Jelam langsung tuntas-tas bukan karena jamu atau obatan – melainkan melakukan terapi minum air hujan dan sudah berlangsung setahun lamanya. Bahkan agar lebih segar lagi – ia menampung air hujan untuk masak, mandi dan kondisinya kesehatannya kini berubah drastis. Padahal rumahnya hanya berlantai tanah.

Lalu (lagi) saya mengutip pertanyaan Yu Karmi (50) tahun. Orang Klaten sehari-hari sebagai Penggaduh (bagi hasil) sapi ini sudah kena sakit Three In One. Tiga penyakit satu atap. Dari gangguan pembuluh Jantung, kencing manis dan Asma.

Karena komplikasi sakitnya Karmi pernah diopname dua kali dalam selang satu bulan. Total ia sudah merasakan menginap di ranjang rumah sakit sebanyak sepuluh kali.

Anak sapi hasil gaduhannya-pun tak sempat besar lantaran keburu dijual buat nebus obat.

Setahun setelah mengonsumsi air hujan yang disetrum, penyakit Karmi tak pernah kambuh, kecuali uang 15 ribu rupiah buat peringan Asmanya.

Ada beberapa kesaksian peminum air setrum seperti rambut gugur yag tumbuh kembali, anak-anak yang kembali gairah belajarnya, disengat Tarantula bisa disembuhkan oleh air setrum sampai seseorang bisa tobat dari Judi.

Buku Tabib Barat – menerangkan bahwa Diabetes bukan sakit yang bisa disembuhkan 100persen. Namun dalam diri kita muncul harapan agar ada obat yang manjur-mujarobat, tanpa rasa pahit bila dikonsumsi, dan murah meriah.

Penulisnya Mawar Kusuma, piawai mengamati fenomena Air Setrum van Klaten sehingga Dusun Bunder, Desa Bandungan, Jatinom Klaten memiliki laboratorium setrum air yang disebut Kampus Kandang Udan.

Saya sendiri tak menyangka akan menemukan pelajaran baru dengan membaca artikel tersebut. Lha wong dari kecil juga minum air hujan, dicampur air Sungai Musi.

Tak salah bila Didi Petet pernah mengatakan kesukaannya mengajar, membagi ilmu sebab almarhum pun belajar dari muridnya. Dalam slide saya tuliskan “Menulis seperti nyiduk sup daging. Kadang ada bonus wortel, kentang, jamur kuping, daun seledri terbawa di sendok kita..”

Pokoknya menulis itu emang secara gimana gitu..

Akamigas Balongan
14 Mei 2015

Bedah Buku JPPM – AKAMIGAS BALONGAN Kampus II, Indramayu


Ketika berbicara dalam acara Bedah Buku pertama saya Jejak Para Pemburu Minyak, saat acara tanya jawab, biasanya saya minta mahasiswa mNote_bedahbuku_14Jun15aju kedepan – menyebut nama dan pertanyaan. Ini tak lain, membiasakan mereka mengutarakan pendapat didepan temannya dahulu, publik luas kemudian.

Untuk beberapa pertanyaan yang “pribadi” – saya menerima mereka di ruang Dosen, bahkan bagi yang masih malu-malu saya mintakan menulis unek-uneknya pada sehelai kertas.

Pembawa acaranyapun sudah mendekati acara Academi Award, dua MC saling isi mengisi. Mahasiswi SugiXXX katanya Duta Akamigas (Nok Akamigas), tak heran gaya bicaranya sudah seperti presenter yang saya lihat di media masa. Begitu masuk ruang, saat bersalaman denga mahasiswa yang ternyata mereka kuliah Sabtu, Kuliah Minggu, saya tidak mencium bau rokok. Menurut saya sangat luar biasa. Panitia selalu mengenakan seragam Universitas juga hebat sehingga saya harus secara verbal mengatakannya “saya bangga kalau melihat mahasiswa pakai jaket almamaternya..” – Soal makanan dan minuman juga perlu mengomentarinya sebab memang selalu tersedia.

Ketika acara berdiri tegak sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya merinding, sebab semua melakukannya dengan hidmat. Dalam acara bedah bukupun saya membuka dengan perasaan haru, emosional, lalu saya tambahkan – rasanya seperti Indonesia membabat Thailand Lima Kosong dalam Laga Bola – di Seagames (hadirin Grrr).

Saya pikir – misi dan visi kepengurusan tahun ini menghasilkan lulusan yang “prigel” cekatan bergaul. Sebuah jurus kunci keberhasilan manakala berkecimpung didunia lebar kelak.

Yang luar biasa perlu diacungi jempol adalah dalam waktu kurang dari sepekan, mahasiswa ini dengan cermat menyablon notes, banner, baliho, hadiah-hadiah.

Saya sendiri lebih menekankan pada teknik-teknik menDOWNLOAD  “koleksi berita-koleksi bahan tulisan” yang selama ini sudah otomatis disimpan digudang memori. Tinggal kapan diolah, diramu diracik menjadi suguhan yang menghipnotis (Hypnotic Writing).

Saya memberikan contoh bagaimana gaya penulisan yang sifatnya menghipnotis. perhatikan UYA KUYA saat menghipnotis seseorang. Bagaimana ia mengatakan perintah tidur berulang-ulang. Biar segar saya memberi pernyataan – saya tidak suka UYA KUYA yang selalu hadir membawa istrinya, saya tidak suka Deny Cagur karena selalu bawa istri, saya tidak senang Rafi kalau isi acara bawa istri. Karena kebencian kepada mereka bertiga, maka setiap acara saya…bawa istri juga.. (grr)

Mudah-mudahan dari seluruh 60 peserta, kalau ada 10persen saja mengikuti menjadi penulis, mereka tidak perlu menunggu usia 62tahun seperti saya – baru bisa bikin buku.

Akamigas Balongan
14 Juni 2015