Jejak Para Pemburu Minyak


P1080339 Umumnya kalau baca riwayat hidup seseorang banyak digambarkan anaknya orang kaya, tuan tanah, keturunan bangsawan pintar. Jadi saat buku ini disusun, saya bingung. Pertama saya tidak berotak encer, sekolahpun selalu kelas NON Favorit sebab jaman itu mau bisa sekolah sudah macam kena “JackPot”. Lantas saya mencoba bekerja perusahaan di luar negeri tanpa perantara, tanpa kemampuan bahasa Inggris, yang ada nekad martekad… Di tempat kerja yang beberapa teman sebangsa setanah air tapi tidak seijazah – mulai mengolok-olok saya “bukan sarjana” mana bisa kerja. Maka buku ini seperti bertutur bagaimana mengamati – menyikapi pergulatan hidup seorang Non Sarjana.. Berkecimpung dalam bidang Explorasi Minyak Bumi yang banyak mengandung resiko sekaligus banyak jalan-jalan alias travelling.. Maka ketika ibu Susi menjadi Menteri (tapi belio anak orang kaya sih), sedikit banyak saya seperti “dapet makan angin” – maka buku ini saya kebut dari 2000 halaman, di kompres dan selalu dikompress menjadi sekitar 500 halaman. Tentu semua atas bantuan tak kenal lelah dari tim editor saya.. Kalau anda tertarik hubungi email jejakpemburuminyak@gmail.com. Harga per buku adalah Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah), belum termasuk ongkos kirim bagi membeli di dalam pulau Jawa. Untuk luar jawa – ada perhitungan via JNE 978-602-71388-0-3_sample-chapter

Noken Buai (bahasa PNG)


P1070815Banyak wantok alias teman saya di PNG gemar mengunyah buah kinang (BUAI) – kebiasaan berurat akar ini sedang diusahakan dihapus ditempat keramaian alias dilarang katanya ludah merah dikecrotin disembarang tempat yang bikin pemda setempat geram. Tapi yang sudah kecanduan makan sirih kan alasannya macam habis makan coklat Hagendaz. Ada sensasi “tinggi” – menekan rasa lapar dan muncul keberanian.. Kalau sedang berperang, kewaspadaan akan kedatangan  musuh jadi lebih terasah.. Di Rigpun kebiasaan mengunyah sirih diam-diam dilakukan para pekeja Rig.. Padahal ancamannya bisa dikeluarkan dari proyek.. Bukan cuma ludah merah banyak dijumpai… belakangan ini Kecoa-mulai berani berjalan didepan saya.. Tadinya masih kelihatan baru menetas…lama-lama sudah mulai kelihatan sayapnya..  Dalam sebulan saja mereka kelihatan Ganteng dan Cantik menurut warga per kecoaan.

Lama lama mereka makin berani naik ke laptop.. Mula-mula matanya melihat kearah saya, kalau nampaknya saya mandah eh ngelunjak malahan menclok ke keyboard.. Gimana coba kalau sampai ngeklik video bervirus ala “GADIS MABUK”- kan bisa bikin saya malu se RT…

RACUN SERANGGA Mereka harus saya musnahkan…Tekad saya bulat.. Di Supermarket tanah air “bagian racun serangga” saya lihat benda seperti bedak dipadatkan diiklankan ampuh basmi kecoa.. Sampai di Rig PNG, saya menorehkan racun berbentuk kapur tulis ini ditempat yang sering dilewati balatentara kecoa muda ini.. Menurut keterangan dalam bungkus, asal benda ajaib (iya memang mereka sebut ajaib)  sampai dilewati kecoa..Mereka bakal kena jaringan syarafnya lalu lumpuh macam kena stroke. Beberapa waktu kemudian.. tepatnya waktu yang dihisabkan mereka bakal kena stroke saya malahan melihat kecoa kecil tadi sudah tambah dewasa dan sehat kecuali saya lihat bagian mulutnya agak aneh seperti ada luka baru.. Dan masih berani nangkring dilaptop saya.. Masih tanpa sungkan.. “Boz terimakasih kiriman kapur dari Indonesia ya… Lumayan teman makan sirih.. “

Perjuangan dengan BPJS seri bikin ATM


KAS KOSONG..Balik sejam lagi,,

Seperti sebelumnya, untuk membayar iuran BPJS ke salah satu Bank Plat Merah kami harus membuka rekening tabungan. Maka sekitar jam 08:00 pagi saya sudah mendatangi kantor bank setempat.  Kepada satpam saya mengatakan ingin buka tabungan yang langsung ditangani dengan baik oleh mbak Customer Surface yang hanya butuh E-KTP untuk difotocopy dan nomor HP

Ada sekitar 20 kepala nasabah duduk manis manis – menunggu giliran dipanggil. Sementara saya langsung duduk tanpa antre di kursi tamu Customer Office..

Persoalan kecil muncul saat mengisi kolom formulir yang salah satunya adalah Gaji Tetap – sebab sejatinya seorang pensiunan swasta mana ada penghasilan tetap.

Saat nunak nunuk mengisi formlir  seorang ibu bernomor muda dipanggil kedepan loket pembayaran.

Ibu balik sejam lagi….Modal masih kosong,” kata petugas loket. Sepertinya bank Plat Merah yang konon memiliki satelit  ternyata kas-nya masih kosong. Nampaknya ibu tadi hendak menarik sejumlah tunai..

Tanpa membantah emak-emak ini ngeloyor keluar bank..Sering saya dengar bank-bank kecil kerap belum memiliki persediaan tunai apalagi saat masih baru buka “toko”. Tapi baru kali ini melihat dengan gaya “Mama Tau(k) Sendiri”

TOKEN tidak selalu berupa KEYCARD

Untuk menghindari telat pembayaran, mengingat sering keluar Nusantara  saya  mendaftarkan Internet Banking agar saat dmanapun berada bisa melakukan transaksi. Tapi saya sudah keluar Bank.

Tilpun  Hotline nomor Kepala  500 sekian..

Saya gunakan saluran HOTLINE yang nomornya tertera pada kartu ATM. Yang saya ingat kepalanya 5000- dan seterusnya…

“Selamat siang IBU, ada yang bisa dibantu…”

Weleh ini memang wolak waliking Jaman – saya sering disapa ibu sementara Ibu beneran disapa bapak Tentara baret Hijau.. Tapi tak mengapa… Obrolan saya teruskan..

“Saya baru buka ATM mbak..tapi gimana cara mendapatkan Alat “keycard”..maklum sudah tua.. dari rumah sudah dicatat apa yang mau dikatakan, ketemu mbak petugas saya lupa…”

Beberapa kalimat yang seharusnya diedit- meluncur begitu saja..

Baik ibu… tetapi ini nomor ON CLINIC

Deg…..Kebayang logo panah miring yang pangkalnya telur

BPJS dan ATM Jatiasih lanjutan


Pembayaran iuran pertama BPJS (BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) atas nama sendiri sudah rampung dengan  cemerlang di ATM Mandiri Jatiasih…

https://www.facebook.com/notes/mimbar-bambang-saputro/bpjs-dan-atm-jatiasih/10152996348655466

Namun saat akan membayar iuran BPJS pertama untuk anggota keluarga. Nomor Virtual Akunnya dinyatakan tak dikenal oleh ATM mandiri Jatiasih lantas  kartu ATM saya dilepeh…

Nomor anggota keluarga tidak terdaftar katanya…

Kebetulan kantor cabangnya ada disana sehingga tidak ada salahnya bertanya..

“Bapak salah nomor kali, apakah bapak belum daftar”, dan banyak lagi pertanyaan yang membuat saya sepertinya Raja Gaptek..

Kalau anda percaya dengan kata Online, Realtime maka saatnya meneguk kecewa..

Sampai sore saya mencoba, nomor yang disetujui dan dibuat oleh BPJS masih belum menampakkan hasil dikenal sitem perbankan Online Realtime kita..

Keesokan hari saya tilpun Hotline “500400” – saya jelaskan permasalahan, anjuran Hotline bayar setor tunai ke Bank terdekat atau ke kantor BPJS.

memang sering error pak.. jadi kalau tidak bisa Mandiri, ganti BRI atau BNI

Kita bicara tiga Bank besar di indonesia, salah satunya mengaku memiliki pelayanan digital terbaik – kenyataannya data Online, Realtime masih belum terhubung dalam database.

Akhirnya, issue diselesaikan dengan membawa uang kertas – mendatangi BRI, setor tunail…

Sebelum berpisah petugas BRI kasih pesan, untuk kali ini saja paai tunai untuk selanjutnya bikin ATM saja…

Berarti dompet saya makin mengembung dengan tambahan satu kartu ATM (lagi)…

Seperti belum selesai memberikan penerangan petugas menambahkan

“Buka ATM di kantor cabang sesuai alamat di KTP.. ”

Artinya lagi sistem Online masih mengenal batas fisik…

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Jatiasih Desember 2014

BPJS dan ATM


Ketika BPJS sudah pukul genta, kami tidak henti-hentinya melakukan getok tular kepada asisten rumah tangga, kerabat. Kadang sedemikian rupa sehingga kalau perlu mereka libur agar bisa urus. Tidak cuma sampai disitu – kami lakukan pengecekan apakah benar mereka mengurus. Kami cuma bisa mengatakan “Kalau sudah sakit dan kritis… lantas baru akan urus.. siapa yang mau antrean panjang di kantor BPJS”

Lumayan racun BPJS cepat diserap dan feedback (masukan) bahwa tatkala mereka sakit, mendapatkan perawatan gratis dibeberapa Puskesmas.

Lalu gantian saya yang kepingin ikut. Saya searching di Internet.. banyak yang sudah menulis sehingga sangat membantu.. Misalnya nama Link BPJS, sediakan E-KTP, NPWP, Kartu Keluarga, E-mail, Nomor HP dan harus punya rekening di salah satu bank negeri yaitu BNI, BRI atau Mandiri.

Cara mengisi formulir online cukup sederhana… Beberapa Langkah kemudian masuk ke babak SAVE… Kalau ternyata data belum sreg oleh komputer di berikan peringatan data yang butuh verifikasi..

Selesai.. tinggal buka email dan saya cek email bagian SPAM siapa tahu email masuk sini (spam). Email saya tidka lama kemudian terisi oleh kabar baik dari BPJS. Saya sudah memiliki nomor registrasi, nomor ini saya AKTIPKAN dan setelah AKTIP saya dapat Nomor Virtual Account (VA) untuk sarana pembayaran di ATM. Awal begini memang secara fisik kita harus ke ATM untuk membayar iuran bulan 1 sebesar Rp 59,600.

 ATM JATIASIH

Saya sudah didalam ATM – Mandiri Kantor Cabang  Jatiasih – ketika saya lihat para ibu sedang antrean didalam bilik sambil bercakap dengan pengguna ATM sebelahnya. Seorang anak gendongnya  .. Ia sedang dalam proses menarik uang, namun menyempatkan diri berhaha hihi dengan bukan teman sebelahnya.

Mendadak – ia mundur dan mempersilahkan antrean dibelakangnya (seorang Ibu) untuk menggantikan tempatnya.

Zaya mHau ambil ATM Dua Zuta… Tapi antrean banyak..Ibu ini Saza dululah.. Zaya ambil yang SeZuta belakangan..

Saya tersentuh dengan empati “being considerate”. Nampaknya sambil menghitung pecahan limapuluhan segepok, ia memberikan pengetahuannya.

“ATM ini yang isi duitnya bukan orang Bank, tapi kontrak.. Mana tahu mereka zizipkan uang palsu …” – itu kata yang ia utarakan sebelum mencelupkan Jempolnya lalu jari yang sama digunakan untuk menghitung uang…

Logat nya macam dari uzung Zumatra, wajah dan busananya  mirip tokoh rekaan  TV Australia yaitu “Mardiyah” dalam filem dokumenter “Ritual Sex Gunung Kemukus” ketika ia menilpun tokoh “Gepeng” yang bukan suaminya untuk berkencan setelah mencari ritual pesugihan yaitu tabur bungan di Nisan Pangeran Samodro dan mandi disendang Ontrowulan..(dan seperti biasa selalu dibantah oleh pihak terkait – seperti juga dalam doumenter durasi 12 menit ini).

Saat mereka mengobrol saya mengalami kesulitan kecil lantaran ada pertanyaan “Bulan” yang hanya boleh didisi Bulan 1 kalau ini iuran pertama. Apakah selanjutnya saya harus membuat daftar urutan bulan 1,2,3, dan seterusnya.. Bakalan rempong…

Lho ibu yang tersangka “Mardiyah” tadi suaranya sudah ada dibelakang saya “Nah ITU BETUL” – ternyata sudah seperti guru jaga ulangan umum. Bisa mengendus dibelakang seperti langkah kucing tak terdengar..

Ini ATM atau acara PKK kursus membuat Dodol Durian…

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ini Handuk Mandi atau Lotek rasa pedas


IMG_0441Kendari jarang-jarang sekali waktu rumah dipenuhi tamu.. Apalagi kalau anak-anak dan cucu bisa berkesempatan berkumpul dirumah. Suatu peristiwa langka. Saya menamakannya keluarga kucar-kacir dalam artian geografis.

Ada pesta pernikahan keponakan Yarsita baru-baru ini berlangsung adalah kesempatan kami berkumpul bersama. Dan memaksa dua kamar mandi yang semula banyak lowong mendadak kudu diantri. Rentetannya Pemanas shower sudah sejak pagi “tekan tombol merah” – alias status “jangan dipake dulu masih merebus air buat ente nih…”

****

Karena setiap anggota keluarga memiliki handuk kesayangannya masing-masing, agar tidak tertukar koleksi handuk yang dikeluarkan diberi kode berdasarkan warnanya. Setiap tamu diberi briefing yang jelas harus singkat atas barang pinjamannya.

Sayangnya warna dominan handuk adalah Pink, Purple, atau Coklat sementara warna lain seperti biru tetap disimpan sebab “cuma gede doang” tetapi fungsi sebagai handuk kurang sip. Akibat warna mirip-mirip kerap terjadi handuk salah pakai. Maklum ada Purple muda, Purple Tua, Purple Bluwek pada campur aduk…

Lalu handuk dibedakan menurut ukurannya… Saya karena kepala rumah tangga mendapat handuk dengan ukuran paling besar, namun rupanya ada handuk lain dengan ukuran serupa. Maka handukriminasi berdasarkan ukuran juga gagal diterapkan…

Kebetulan mbak Nani pulang dari pasar membawa gado-gado… Asisten kepercayaan ini bilang “Pak Gado-gado bapak yang pedesnya sedengan, karetnya satu. Buat ibu karetnya dua sebab pedes…”

Karet gado-gado itu saya gunakan untuk menandai handuk kepunyaan saya. Dan resep ini cespleng menghindari handuk salah pakai.

Dari gado-gado turun ke handuk. Semoga rasanya tidak pedas…

Pondok Gede
Sep 2014

Ini duit buat beli Es!


Originally posted on Mimbar Saputro:

P1070366

Seorang  suami belajar masak tetapi selalu gagal, padahal tinggal satu langkah memberikan (daun) salam. Ternyata ia malahan menyalami masakannya dengan ucapan salam..

Aturan pakai dirumah saya memang kalau ada bel atau gerbang diketuk, lihat dulu siapa orangnya melalui CCTV dan jangan bawa kunci sampai yakin jati diri mereka. Hari itu para asisten sedang tidak ada ditempat sehingga mau tidak mau saya harus menuju pintu gerbang dan mengintip besar…

Pria kurus berkaos merah dan celana pendek ini seperti sudah akrab dengan rumah saya…Tangannya menggenggam sabit yang tak begitu tajam karena kerap dipergunakan.

Namun pandangan matanya seperti mengharap ..a puppy looks.. Awas pandangan juga bisa mengecoh, saya memberikan sugesti pribadi.

Saya selalu bersikap pura-pura tak ramah kepada orang yang tak begitu dikenal. Pasalnya sudah ada yang berhasil masuk menguras isi rumah.

“mau ambil daun salam -nya pak Aji….” katanya mengharap. Secara diterjemahkan… pak Sabit ini menitipkan berton-ton daun salam di gudang miliknya…

View original 218 more words