Posted in gaya hidup

Tukang Pijat pak Roesli di Lampung


Date: Fri Dec 21, 2001 11:27 am

Lebaran kali ini saya merasa ada yang hilang, sosok ibu yang biasanya “sampe panjang lehernya menengok ke jalan tunggu mas Miem datang”, sudah berada di Galaxy lain. Adik-adik saya sering protes karena di mata ibu, saya seperti anak yang tidak pernah salah.

Sementara itu bapak saya sudah ber-Trekjing Tralala dengan “mama” baru saya di suatu apartemen di Slipi. Ini bukan iklan bagus, orang usia 70-an masih getol ngeloni janda 45-an. Efek sampingannya, saya jadi mudah dicemburui akan hal-hal yang tidak masuk akal oleh Erni, isteri saya. Dan repotnya, seluruh mantu perempuan sepakat bahwa keturunan pak Depan yang lelaki musti ditengarai mengikuti air pancuran bapaknya. Jelas ini ilmu gebyah Uyah, pukul rata.

Bagian diatas sudah saya tandai untuk di cut, too personal. Tapi what the hell, namanya emosi kan mesti ditulis. Dan sensor saya bilang, no problem.

Praktis daya magnet ke Bandar Lampung ratingnya jeblok dimata saya.
Kecuali kenyataan bahwa ibu saya di makamkan di BandarLampung. Apalagi adat orang Jawa ya nyekar para leluhur, dan acara jubel-ria pun kami jalani.

Saya juga ketitipan anak cowok David pertukaran mhs Melbourne. Lucu melihat orang bule makan ketupat dan opor njlentrek santen kenthel sambil mengangkat kedua kaki ke kursi, bukan tidak sopan, tetapi nggak tahan nyamuk Grogol menyerangnya tanpa pakai ancam-mengancam, seakan tidak takut pembalasan pihak Peter Kosgrovo dari Interfet.

David biasa sarapan Roti 5 tangkep dengan susu harus dari Osie. Dia tidak bisa minum susu segar Indo karena ada aroma manis katanya. Saya bilang, saya tidak pernah sarapan di pagi hari, dan minum kopi di kantor. Akhirnya dia cuma makan corn-flake dan aqua di pagi hari. Ayam hanya dimakan dadanya. Dasar bule. Ampela, babat, dsb. jauuh dari sentuhan. Dia menyebut saya Oom dan Erni sebagai Tante.

Di pelabuhan Merak, kehadirannya sudah menarik perhatian. Akhirnya saya putarkan filem-filem sepanjang perjalanan di laptop sehingga para penonton Mister Bule, sedikit beralih perhatiannya ke filem.
Baru setengah jam, kapal berjalan, David yang saya panggil PitPit sudah mulai gelisah lantaran bahan kimia senyawa Amonia yang diproduksi para penumpang dan di lepaskan disudut kapal, pinggiran ban truk, kijang, zebra mulai mengering dan merebak kemana-mana termasuk hidungnya. Para penumpang kapal sepertinya sedang melakukan percobaan, bahwa kalau kita berdiri di sebelah ban mobil, menumpahkan sedikit cairan tubuh, dan meleleh ke lantai kapal. Maka dalam tempo 15 menit akan terjadi perubahan cairan yang tidak berbau menjadi pesing. Tidak saya teruskan deskripsi bau dihubungkan dengan sejenis aroma buahan yang dimakan tetapi pura-pura dilecehkan sebab saya kuatir, ikutan dagelan klise.

Dan peristiwa kimia ini rupanya siksaan berat bagi pitpit. Terpaksa sepanjang perjalanan kapal ferry, hidungnya ditutup terus. Masuk ke Bandar Lampung ternyata rumah kecil sudah di booked oleh keluarga adik-saya. Terpaksa saya cari hotel yang kelas melati tapi bersih dari bunga malam.

Di bawah tangga hotel (kan kelas melati) saya lihat seorang bapak tunanetra tukang pijat menunggu panggilan. Di malam Takbiran. Aku tersentuh dan trenyuh.

Lalu saya panggil dia ke kamar nomor 315. Sudah 2 tahun saya tidak pernah urut, tetapi perjalanan mudik memang luar biasa lelahnya. Saya tawari David {saya selalu berbahasa Indonesia sebab dia memang ambil Sastra Indonesia). Mau urut? dia menggeleng, rupa-rupanya dia pernah mengalami pelecehan seksual oleh tukang urut lelaki.
Pak Rusli mengalami kebutaan semasa kecil di Palembang, lalu sekolah Tunanetra di Patangpuluhan Yogya, dan membesarkan lima anak perempuan dari perut perempuan Banyumas. Dia bangga pernah mengurut pak Bibit Waluyo, Hendro Priyono semasa mereka di Lampung.
Nada suaranya melemah ketika menceritakan lahannya digeser oleh tukang urut perempuan dan tidak buta. Kalau pak Rusli hanya memberikan ribu kepada roomboy sebagai komisi, dari perempuan muda bergincu roomboy menerima tips jauh lebih besar, karena memijatnya tidak betul dan tidak cuma pakai tangan.

Akibatnya setiap ada yang cari tunanetra, akan dijawab, pemijat buta tidak ada, yang ada pemijat perempuan. Itu trik bisnis ala roombooy hotel.

Sambil bicara mulai mencampur minyak kayu putih dengan handbody lotion. Ah saya merasa jadi bayi. Time to memanjakan badan rapuh ini.

Dia mulai memegang telapak kaki kiri, tanda pemijat profesional sebab tubuh kiri berhubungan dengan jantung.

“Wah badan bapak seperti ABRI, keras sekali,” we lha ini basa basi apa bukan ta ya? Lha wong olah raganya cuma meditasi kok bisa dibilang ototnya keras. Dia menggunakan alat untuk melakukan pijat refleksi, ada satu titik di telapak kaki yang membuat saya tersentak. Lainnya sih okey-okey saja.

“biasanya ini ada masalah di lambung pak.”, tandas pak Rusli.

Pak Rusli juga menceritakan duka ketika ia dijemput seseorang, dan disuruh pulang begitu saja disuatu daerah yang masih asing dalam ingatannya. Ia kesasar, dan ditolong seseorang diantarkan ke terminal. Tapi penghasilan Rp. 30.000 amblas setelah diberi Rp. 2500 untuk naik bus.

“Lho kok seperti profesor pak?” – inilah komentar terakhir pak Rusli setelah tangannya menyentuh mahkota saya.

Jadi dalam satu jam lebih seperempat, saya sudah berganti profesi dari ABRI menjadi Profesor oleh pak Rusli.

Jakarta 21.12.01
Mimbar Seputro

Advertisements