Posted in singapore, wisuda

Singapore (1) – Wisuda si Sulung


Selama dua hari sejak 14-16 September 2002 saya berada di Singapore untuk menghadiri wisuda puteri sulung saya LIA. Berikut beberapa catatan yang saya peroleh.

WISUDA 500 orang hanya 60 menit.
Kalau boleh saya catat inilah upacara wisuda yang paling singkat yang pernah saya lihat. Tanpa mengurangi suasana khidmat, sejam sebelumnya para orang tua wisudawan dengan tertib dan antri memasuki hall National University of Singapore (NUS), di depan kami terpampang layar lebar yang menayangkan penyiar kampus sedang melakukan wawancara dengan beberapa wisudawan.

Seorang wisudawan asal US ditanya kesannya dengan sambal belacan dan bau durian. Nampaknya bule ini okey dengan sambal belacan (terasi) tetapi tidak bisa menahan ekspresi wajahnya ketika mengatakan “horrible smell“. Kadang kamera menayangkan kegiatan para wisudawan yang sedang mematut toganya. Semua ini di tayangkan didalam gedung sehingga para orang tua tidak bertanya-tanya dimana putera/i nya berada. Intranet sangat berfungsi disini.

Tepat jam 15:00 maka para dewan guru memasuki ruangan dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Upacara dibuka oleh rektor yang disini disebut sebagai Prof Chancellor dengan ucapan singkat “I declare the commencement 2002 is open” – langsung satu persatu nama wisudawan dipanggil naik ke panggung menerima ijasah. Begitu rapih pengaturannya sehingga tidak terjadi tabrakan antara yang sudah ke panggung dan yang baru akan kepanggung.

Suasananya mengalir lancar. Mula-mula setiap nama dipanggil, para hadirin bertepuk tangan, tetapi menjelang akhir acara, tepuk yang terdengar sudah mulai melemah kecuali kalau ada kejadian di panggung yang agak luar biasa.

Sekalipun handphone dan pager sudah dihimbau oleh panitia untuk dimatikan selama upacara, tak kurang beberapa wisudawan membandel mencoba berkomunikasi dengan handphone mereka. Momen ini langsung dimanfaatkan oleh para oleh juru kamera webcast dan di zoom di layar putih, keruan sang korban jadi kelabakan. Seorang ibu nampak tertidur langsung di shoot, alasannya gua udah bosen lihat beginian, tiga kali lebih.” dalam bahasa Indonesia logat Grogol. Ibu ini kalau bilang SATPAM selalu SAPTAM. Menjadi “kasarnya” TKI di USA dengan penghasilan 1000-1600 USD per bulan, dan mampu menghidupi anaknya sekolah di Singapore. Nampaknya kemauan adalah diatas segala-galanya.

Ketika peserta ke 500 selesai menerima ijasah, rektor yang dipanggil (Prof Chancellor) hanya menutup dengan kata-kata “I declare the commencement 2002 is closed“. Hadirin bertepuk tangan dan dari atap gedung berjatuhan balon warna-warni dengan logo NUS.
Tidak ada juru foto yang memonopoli jalannya upacara. Para undangan hanya memotret seperlunya saja. Foto yang resmi dilakukan di studio dalam waktu yang terpisah, biaya pemotretan di studio dengan 4 kali pose adalah sekitar Sin 400 (Rp. 2 juta lebih sedikit), itupun tanpa negatif filem. Yang nggak nahanin godaan berupa kata-kata, “Comencement adalah saat yang tak ternilai harganya, jangan anda sia-siakan dengan memotret secara amatir, gunakan yang pro.”

Sewa TOGA adalah sin 25 (Rp. 150.000), tetapi anda harus menaruh deposit sebesar Sin 200 (sekitar Rp. 550.000)- maksudnya agar tidak ada penyewa yang membawa pulang Toga, kecuali bersedia membeli seharga setengah juta lebih. Diantara para panitia penyambutan saya melihat beberapa mahasiswa Indonesia yang ikut dalam kepanitiaan, biasanya mendapatkan imbalan berupa uang lelang Sin 25 per jam. Kalau mereka bekerja dalam selama 5 jam sehari, maka paling tidak Sin 125 sudah masuk kocek. Padahal upacara wisuda yang disini disebut commencement bisa berlangsung 3 hari berturut-turut.

Bukit Batok Apartemen 06-242
September 2002