Posted in irah, kesehatan

Segarnya Mantab… boleh… asal sudah sarapan


29 Maret 2006

Liburan weesak, Irah, deputy yang baru 2 bulan bekerja minta ijin pakansi “kecil” lantaran mendapat kabar bahwa orang-tuanya dari desa datang menengoknya. Biasanya kangen-kangenan diteruskan dengan evaluasi penghasilannya selama bekerja di Jakarta. Ada kemungkinan sang orang tua menganjurkannya pindah tauke bilamana hasilnya dinilai kurang memadai.

Masalahnya, Irah di Rawa Bogo sementara sang keluarga “ngepul” di bilangan Grogol. Lantaran Jendral dari Kitchen Kabinet -JKK- merasa tidak PeDe melepaskannya sendirian dibelantara Angkot, Minibus dan Calo-calo sehingga sang deputy diberikan akomodasi dengan supir dari Australia. Jam 04:30 dinihari kami meluncur ke Grogol. Jam 06:00 kami bayangkan Irah sedang ngomong “ngapak-ngapak” dengan sanak familinya. Duh bahagianya.

Saat jarum jam beranjak ke angka 14 belum ada tanda Irah akan melapor k ePosko.

Jam 15 masih idem-dito. JKK mulai gelisah. Pertama bisa jadi Irah memenuhi permintaan orang tuanya mencari penghasilan yang lebih layak, yang kedua – kekuatiran jangan-jangan anak ini sakit. Lalu telik sandi dikirim mencari sisik melik keberadaan Irah. Pelapor menyampaikan berita, Irah berada di Jalan Makaliwe Gang Lima tidak mau pulang lantaran ia muntah terus sejak pagi. Sekarang ia hanya penunggu kamar mandi dengan wajah pusat pasi…” – sementara Orangtua sudah kembali ke desa meninggalkan Irah dengan saudaranya. Dan kini saudaranya takut ketempuhan biaya dan resiko, buru-buru “meminta” saya menjemput Irah di kontrakannya.

Usut-punya usut. Rupa-rupanya Irah berniat merayakan pakansinya dengan membeli minuman ringan. Begitu cairan dingin yang segarnya mantab itu mengalir melalui kerongkongannya. Ia meringis kesakitan. Alih-alih dunia meriah, perutnya terasa akan pecah. Cairan sodium bi carbonat melepaskan gas CO, menendang kekiri, kekanan, bergulung.

Akibatnya Irah “gulung koming” dan harus dipapah berdiri oleh saudaranya. Iklan memang sering tidak mendidik dan kurang informatip. Minuman Segarnya Mantab boleh saja. Tapi perut harus sudah terisi. Apalagi yang cenderung menderita tukak lambung seperti Irah. Kawan-kawan di Australia glegak-glegek minumĀ  SoftDrink baik sarapan pagi, siang maupun malam. Kendati ditengarai penyebab osteo, tapi diet tandingan mereka di pagi hari adalah full susu.

Bagaimana kalau operasi SAR digelar“. Usul saya dalam rapat darurat terbatas.

Setelah disepakati, tidak lama kemudian kendaraan SAR sudah berada di mulut gang. Untuk menjemputnya orang harus berjalan kaki sejauh 30 meter menuju rumah kontrakan. Kebetulan penghuni lainnya sedang bekerja mencari nafkah. Hanya Irah dan saudara perempuannya yang kami jumpai. Kondisinya lemah sampai untuk berjalan menuju kemobilpun ia harus dipapah sambil sesekali muntah “uger” lantaran tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Dalam keadaan lemah, Irah dibawa ke Dokter sementara arloji menunjukkan jam 16. Dokter keluarga kami, Kardi, yang memeriksanya seperti punya firasat agar Irah tidak dibawa ke Bekasi. Lebih baik melakukan operasi pemulihan kesehatan di Grogol.

Jam 17:30 ternyata obat yang diberikan hanya menjadikan muntahnya makin menjadi. Akhirnya ia kami larikan ke rumah sakit. Tujuan pertama RS Tarakan, ternyata sampai ke lorong-lorongpun sudah terisi penderita demam berdarah. Coba tilpun RS lainnya, keadaan sama, tidak menerima pasien baru.

Kalau sudah kepentok begini saya pakai jurus KKN, adik kandung, dr. Agus Sudrajat saya tilpun. Pertama minta saran, kedua minta tulung, ketiga saya setengah memaksa. Adik dan temannya sebenarnya sudah masuk Tol menuju Jagorawi dan terpaksa mutar balik ke rumahnya di bilangan Cipinang Jaya 2EE Perumahan Depkes. Saementara menunggu perjalanan kami ke Cipinang Jaya, saya minta adik untuk membelikan cairan infus dan segala ubo-rampe sehingga saat kami tiba disana Irah bisa langsung diterapi.

Teman rombongan adik sampe heran rencana sudah diatur seminggu sebelumnya, tiba-tiba dibatalkan hanya lantaran saya tilpun. “Elu tau, kakak gue ini cuma ngebelain pembokat sakit. Tapi yang gue tau, kalau sampe dia minta tolong, artinya sudah kepentok usahanya kesana kemari..

Obat-obat kami peroleh di apotik RS Mitra International Jatinegara, yang diperkirakan beberapa tahun lagi akan dibeli oleh perusahaan berlogo Ramsey. Selang dua jam diinfus, keadaan pasien nampak tenang.

Tuan rumah menyediakan nasi goreng ayam dan kopi Aceh yang segera kami embat tandas. Baru terasa lapar abizz setelah jam-jam menekan. Setelah botol infus berwarna merah jambu habis, kami minta diri berhubung sudah jam 12:00 malam. Baru nyadar bahwa BBM sudah mendekati nadir. Mobil saya belokkan ke sebuah stasiun yang berlogo tiga warna Merah, Hijau, Biru. Antrean panjang namun hanya seorang petugas yang melayani pom.

Ketika giliran saya tiba, baru satu liter diisi, pompa sudah menyentak berhenti, liter kedua pompa menyentak sama. Sang juru isi bergumam “tangkinya kosong ya pak!“.

Lha sejak kapan tangki dalam keadaan full baru diisi bensin?” tanya saya.

Kalau tangkinya kosong, anginnya mengganggu pompa kami….

Seumur-umur mengisi bensin ya baru hari ini saya dikomplin penjual lantaran menyisakan bensin 10 liter dalam tangki. Dan Logo warna merah, biru, hijau tervisualisasikan menjadi Merah, Biru Hijau dan buram, manakala saya lihat stasiun berlogo kerang berdiri tegak tak jauh dari situ.

Tidak perut tidak mobil, kalau sedang kosong lalu diisi mendadak. Bisa timbul masalah baru.

Mimbar Saputro

Advertisements
Posted in PNG, visa

Satpam dan Instalasi yang dijaganya


Hari Senin 27 Maret 2006 saya mengurus Visa ke Kedubes PNG. Bukan lantaran ngipasi Demo di Papua Barat, begitu dikejar aparat langsung nggeber masuk perseneling loncat minta suaka ke negeri lain dan yang lebih penting adalah akal-akalan yang cespleng mencari kerja di negeri orang. Ini memang drama tersendiri. Sebelumnya saya berkonsultasi dengan kantor lokal untuk mengurus Visa Residen di Australia, kantor di CCE bilang gampang!, saya bilang persyaratannya rada mbribet. Foto saja harus dilegalisir Notaris. Eh malahan semua berkas surat saya dikembalikan, hanya Passport dibawa bagian Formality untuk di Cap langsung. Ampuh betul, saya pikir dan cemas. Betul saja setelah 2 minggu menunggu, enteng saja bagian Formalities bilang, “Pak Mimbar kami tidak bisa, urus saja sendiri” – apa nggak mau menjerit rasanya. Akhirnya ketimbang menunggu kelamaan saya di switch ke Papua NewGuinea. Sumringah saya bukan buatan (aseli maksudnya). Pemandangan baru lagi…

Aku agak paman-kikuk lantaran bulan Juni 2005 Visa tersebut diurus dari Australia dan sudah di ACC namun belum ditindak lanjuti untuk dicap di Jakarta. Setelah hampir 8 bulan berlalu saya berdoa mudah-mudahan belum hangus. Kedua, saya belum pernah ke kedubes PNG sehingga perlu bantuan Gunther sang pembuat peta Jakarta untuk mencari posisinya yang ternyata di komplek Panin, jalan Sudirman No 1.

Tetapi hari Senin adalah saat bermacet dan ber-three in one sehingga ketika saya putar-putar cari akses masuk, mendaratlah saya dengan sukses di komplek Ratu Plaza. Dari sana saya mulai bertanya kepada pak Security dimana lokasi kedutaan besar PNG atau Papua New Guinea. Saya bisa maklum ketika Sekurity Ratu Plaza mengangkat bahu, megosongkan pandangan, menoleh kepala ke kiri dan kekanan, balik kedepan lalu gela-gelo, tanda tidak tahu yang saya tanyakan.

Masuklah saya ke Komplek Panin Bank yang lokasinya disebelah Ratu Plaza. Saya lihat ada Drive-in ATM. Lagi-lagi Satpam “ta tanyak-i” ini gaya bahasa Jawa Cina Semarangan artinya “bertanya”. Responnya error 404 (kalau di Internet mau ketik yahoo.com jatuhnya kepencet yahoo.coy.

“Apa itu PNG”
“Singkatan dari Papua NuwGini mbak/pak” – kata saya. Mbak dan Pak maksudnya saya sudah bertanya dua jender berlainan.
“Apa itu?”
“Dulu itu Irian Timur mbak/pak” – kata saya

Percumah (pakai h), mereka sedang kerasukan setan tulalit. Setelah berjalan 25 meter dari Gardu error 404 saya melihat sedan putih bernomor CD dan jelas saja Satpam yang “ta tanyak-i” tegas: “Langsung ke lantai 6 pak” – Saya langsung mengeritik cara kerja pengamanan yang masih dalam satu komplek, radius 25 meterpun mereka tidak memahami teritorialnya. Apa ya perlu diberi tuntunan untuk mengencingi setiap pohon, kotak sampah, tiang bendera agar lebih waspada. Pak Satpam jaga hanya menjawab “mungkin Satpamnya baru pak!”

Skenario keamanan begini kalau ada bom meletus, jangan-jangan satpamnya gantian bertanya “bom itu yang bagaimana siyh”

Di Lantai 6, saya hanya melihat dua orang petugas kedutaan. Waktu memang menunjukkan jam delapan lebih seperampat. Duduklah saya di ruang tunggu melihat hasil kerajinan PNG berupa tas anyaman dari sejenis bambu yang kalau orang Tasik, membuatnya akan lebih menarik. Lalu saya lihat produk negeri ini berupa contoh Sardencis. Diluar itu hanya foto Perdana Menterinya dan Ratu Inggris. Lalu saya tarik sebuah koran berbahasa Indonesia. Tahun 2005, jadi isinya masih seputar heboh Busway.

Jam 9:15 mbak Dina masuk menemui saya, pertama saya ditegur tidak mengambil Visa yang sudah dipersiapkan. Kemudan Passport saya ditahan untuk dibuatkan Visa masuk tetapi syaratnya saya harus medical cekap keseluruhan, kelakuan baik, dan mengisi beberapa formulir. Visa di janjikan hari Rabu, tapi kelakuan baik saya sudah expire. Terpaksa harus urus ulang lagi. Huh.

Barangkali kalau Mohtar Lubis masih “gesang” dia akan menambahkan di bukunya. Kondite orang Indonesia dinilai oleh lembaga yang isinya adalah orang yang berkelakuan tidak lebih baik daripada kita. Huh, lagi.

Tuesday, March 28, 2006

Posted in PNG, visa

Kedubes Papua NewGuinea



Senin 27 Maret 2006

Ke Kedubes PNG (Panin Centre) lantai 6 untuk mengurus Visa atas aplikasi Work Permit Number 07050548 yang sudah disetujui. Pasalnya 2 Juni 2005, Visa ini sudah bisa diambil. Satpam mengecewakan ditanya di mana letak Kedubes, tidak tahu malahan gantian bertanya PNG itu apa? – bagaimana akan mengamankan instalasi kalau letak yang diamankan pun mereka tidak tahu. Lapor masalah ini ke kedubes dan satpam lainnya.

Mbak Dina dari kedubes bilang hari Rabu bisa selesai tetapi aku harus urus Kelakuan Baik terlebih dahulu.

Minta tolong Bang Rizal seorang reserse soal kelakuan baik ini.

****
Hi Mimbar,

I am surprised to hear from you, as we organised your work permit and visa last year in June. At that time, approval for your visa was transmitted to the PNG Embassy in Jakarta on 2nd June 2005. You should check with the Embassy if they still have your approval on file. You will also have to submit your passport, a completed application for entry permit form, medicals (inc. HIV test result) and your police clearance. I have attached our standard list of forms and requirements for you to refer to.

The address of the embassy is as follows:

Papua New Guinea Embassy
Panin Bank Centre (6th Floor)
Jalan Jendral Sudirman 1
JAKARTA 10270

Tel: 7251 225 / 218 / 742
Fax: 7201 012

Please let me know as soon as possible if there are any problems. We may need to organise for retransmission of your visa as it has been 9 months since it was originally approved.

Kind regards,
Claire

Posted in intermezzo, menulis

Euis diraosan heula


Banyak buku membahas teknik menulis di pasaran. Ada yang sederhana, banyak pula yang njelimet. Apalagi yang pelit akan contoh sehingga penuturan terkesan menggantung. Bani Quraisy, ini penerbit asal Bandung, menerbitkan buku yang menuturkan cara sederhana mengelus tulisan dari aneka posisi.

Ketika membicarakan Feature Humor tentang dukun mencabuli pasiennya. Pasien serba salah, mengaku pintar namun berhasil diobok-obok oleh dukun yang SD pun tak tamat. Jika lapor polisi, kawatir pula aib bakalan terpercik. Septiawan, sang penulis buku dengan enteng ia mengambil tulisan di Galamedia (Jabar) yang berjudul “Dukun Eng Ing Eng” yang sering gebubul dan gede wadul karena otaknya amburadul. Seperti pengakuan seorang Euis Bandung, Rosa (24) nama samaran pasien yang sempat di raosan heula (coba dulu) oleh dukun cabul. Sebuah parodi lirik lagu Euis “Euis Kaantosan Heula” menjadi Euis diraosan heula.”

Tengok pula feature yang menyentuh rasa kemanusiaan. Seperti Pembebasan Ferry Santoro yang disandera GAM. Penulis berita “langsung” lebih banyak melaporkan para sandera yang kurus, hampir hilang ingatan.

Namun dengan penulisan feature, pembaca diajak menyelami perasaan Teuku Ishak sang “master mind” GAM yang harus mahir bersilat lidah dengan anggota Palang Merah Internasional sebagai mediator pembebasan sandra. Bila ia melepaskan sandera, bisa berarti nyawa mereka terancam lantaran TNI bakal segera merangsek maju dengan persenjataan dan jumlah yang lebih besar. Padahal saat itu para sandera dalam keadaan terpencar dan mustahil menyatukannya tanpa terjadi kontak senjata.

Dalam genggaman pena wartawan, pembaca seakan mendampingi Ishak, melihat pemimpin GAM seperti kita menilai polisi atau tentara sehari-hari. Kata-kata pemimpin di media nampak manis humanis, namun kenyataan lapangan sering berbicara lain. Bahkan tatkala perundingan gagal Teuku Ishak nampak tertekan namun berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya. Ia lalu bernyanyi sebait lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Kotek Anak Ayam.

Dengan aksen Aceh menyebut “t” menjadi “th” seperti. ” Lagu gembira konotasi lucu ditelinga bukan Aceh bisa berubah lagu kematian manakala seorang anak ayam (sandera) tewas yang ironisnya ketika akan dibebaskan, bukan oleh penyandera. Para sandra tahu bahwa peluru pembebasan bisa tak bermata. Nyawa setiap saat bisa terangkat dari jasad. Maka tak heran ada wartawan “sandra” yang menangis mendengar lagu tersebut.

Kalaupun anda masih setia dengan rumus mengarang yang diajarkan guru kita semasa SD yaitu 4W+1H. Septian memberi contoh secara aktual. Uniknya ia mampu melihat bahwa cukup dengan satu unsur, misalnya “Who” sudah bisa menulis satu artikel “mayan” menggigit.

Atau anda tertarik gaya penulisan dengan lead menggoda… “Ada tidak sih harga yang tidak naik di Indonesia. Ternyata masih ada. Harga nyawa manusia. Dibumi Osing harganya malahan anjlok. Sampai Oktober (1998) sudah lebih 100 orang terbunuh. Para korban terbunuh karena dituduh sebagai dukun santet…”

****
Gaya menulis feature adalah gaya “terlambat” dalam artian positip – sebagai penyeimbang gaya penulisan berita yang serba hangat dan cepat. Ketika jumlah koran begitu beragam, lalu muncul media TV, radio, dan Internet, semua kejadian dimuka bumi dalam sesaat sudah menyebar. Tiada berita yang terlewatkan. Majalah yang terbit mingguan atau bulanan harus tampil beda, lebih mendalam, lebih menyentuh perasaan jika tidak ingin tertinggal. Konsepnya bagaimana membuat tulisan yang “laat” seminggu namun disajikan menjadi lebih lezat, bak lodeh tempe “wayu” yang makin dihangatkan makin meresap bumbunya. Lalu muncul teknik “feature” alias karangan khas.

Kalau anda sering ngeces membaca kemahiran penulis Gatra, Tempo, Kompas dalam menggumuli aksara sehari-hari. Septiawan Santana, membantu anda menguak misteri penulisannya. Enteng dan tidak terkesan menggurui.

Judul Buku
Menulis Feature
Penulis Septiawan Santana
Pustaka Bani Quraisy Bandung
Tebal 328 halaman
Opat Puluh Opat Rebuk

Mimbarpedia:
mayan : dari kata lumayan
diraosan heula : sunda dicoba dulu
wayu: lewat masa berlaku, tidak segar.
Osing: Banyuwangi

Posted in novel, SH Mintardja

SH Mintardja Telah Tiada


http://www.indomedia.com/bernas/9901/21/UTAMA/21uta4.htm

SH Mintardja Telah Tiada
Yogya, Bernas
Penulis cerita bersambung Singgih Hadi Mintardja atau lebih dikenal dengan nama SH Mintardja, Senin (18/1/1999) lalu, meninggal dunia. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di hadapan anggota keluarganya, Senin, pukul 11.39 WIB di Rumah Sakit Bethesda, Yogya, dalam usia 66 tahun. Jenazah SH Mintardja dimakamkan Selasa (20/1) pukul 15.00 WIB di pemakaman Kristen Arimatea, Mergangsan, Yogyakarta.
Almarhum dirawat di RS Bethesda sejak Sabtu 26 Desember 1998, karena menderita sakit jantung.

Semasa hidupnya, almarhum lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat.

Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.

Setamat SMA, SH Mintardja yang lahir di Yogya 26 Januari 1933, bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan (1958), terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY (pensiun 1989).

Beberapa cerita roman silat yang digali dari sejarah di kerajaan Jawa telah ditulis SH Mintardja — yang oleh kerabatnya akrab dipanggil dengan nama Pak Singgih — sejak tahun 1964.

Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahirlah cerita Nagasasra Sabuk Inten. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu melahirkan tokoh Mahesa Jenar. Karena cerita Nagasasra sebanyak 28 jilid begitu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar ada dalam sejarah Demak. Akibatnya, tim sepakbola asal Semarang pun dinamakan Tim Mahesa Jenar. Mungkin dengan nama itu Wong Semarang berkeinginan kiprah tim sepakbola sehebat Mahesa Jenar dengan pukulan “Sasra Birawa”-nya yang menggeledek.

“Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak,” ujar Mintardja dalam pengakuannya di buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta, edisi 1995.

Buku Nagasasra belum surut dari pasaran, SH Mintardja membuat kisah Pelangi di Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan.

Agaknya suami Suhartini yang tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogya ini tidak pernah mengenal lelah. Pada tahun 1967 menggelindingkan Api di Bukit Menoreh mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Di sana ada tokoh Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, Sutawijaya, dan paling terakhir adalah Glagah Putih dan Rara Wulan — saudara sepupu sekaligus murid Agung Sedayu.

Ada sementara penggemar cerita SH Mintardja yang bilang, bila dijajarkan, maka cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer – Panarukan. Asal tahu saja, kisah itu memang lebih dari 300 jilid (buku) dan hingga akhir hayatnya kisah itu belum selesai. Dan masih ada puluhan serial cerita kecil lainnya yang dibuatnya.

Di sisi lain, Mintardja pun berusaha menulis kisah petualangan pendekar pembela kebenaran yang lebih pop. Kisah itu tidak terlalu keraton sentris, namun berusaha digali dari kisah kehidupan sehari-hari dengan setting masa lalu, ya apalagi kalau tidak jauh dari kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Kisah seperti Bunga di Atas Batu Karang yang mengisahkan masuknya pengaruh Kumpeni Belanda ke Bumi Mataram; kemudian serial Mas Demang yang “hanya” mengisahkan anak seorang demang. Dan terakhir adalah tokoh Witaraga dalam kisah Mendung di Atas Cakrawala, mantan prajurit Jipang yang kalah perang yang berusaha menemukan jatidirinya kembali dengan mengabdi pada kebenaran dan welas asih.

Perkenalkan budaya
Ada yang khas dari seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja. Ia berusaha menyelipkan pesan-pesan moral di dalamnya. Bahkan di dalamnya juga diperkenalkan beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin saat ini mulai punah. Sebagai contoh adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara “wiwit” yang berarti “mulai” (panen), berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya.

Adat kebiasaan “mitoni” atau “sepasaran” dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas digambarkannya.

Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa yang benarlah yang menang. Ada penyelesaian akhir yang lebih pas. Bertobat, tanpa harus ada yang terbunuh.

Bahkan ayah 8 anak, empat putra dan empat putri serta kakek 12 cucu ini, sejalan dengan usia dan perkembangan zaman, kematangan menulisnya pun semakin tercermin di dalam kisahnya.

Jika pada kisah Nagasasara Sabuk Inten dan Pelangi di Langit Singsari masih menggunakan bahasa “tuan” untuk menyebut anda ataupun engkau, maka pada Api di Bukit Menoreh dan kisah lainnya, kata “tuan” itu sudah raib dari kamus kosa katanya.

Entah terpengaruh oleh film atau karena melihat anaknya berlatih silat, untuk menggambarkan serunya sebuah pertarungan tidak lagi digambarkan dengan angin yang menderu-deru dan desingan senjata; namun lebih masuk akal. Gambaran teknik bela diri murni digunakan di karya-karyanya yang terkhir. Bila akhir dari sebuah pertempuran memang harus dengan tenaga dalam, ya itu tadi, pembaca lagi-lagi dibawa berkhayal melihat benturan ilmu maha dahyat yang bobotnya melebihi granat. Ya, namanya saja cerita.

Ternyata, selain mengarang cerita silat atas kehendaknya sendiri, SH Mintardja juga tidak menolak cerita pesanan, misalnya, untuk pementasan ketoprak. Beberapa cerita sempalan seperti Kasaput ing Pedhut, Ampak-ampak Kaligawe, Gebranang ing Gegayuhan merupakan cerita serial ketoprak sayembara yang disiarkan TVRI Yogyakarta.

Kini SH Mintardja telah tiada. Mungkin banyak penggemar karya-karyanya yang ikut sedih dan kecewa karena kisah-kisahnya masih menggantung di tengah jalan. “Tapi semua memang kehendak Yang Maha Agung. Kita tidak dapat menolaknya,” begitu sepenggal pesan moral SH Mintardja yang sering dia tulis dalam berbagai karyanya.

Selamat jalan Pak Singgih. (ee/djo)

Posted in keladi, keladi tikus, kesehatan

Buku Keladi Tikus yang gagal terbit


Saat saya berada di tanah air pada pertengahan Desember 2005, saya dihubungi oleh seorang redaksi penerbit buku Agro (Pertanian) yang tulisan-tulisannya selalu laris manis dipasaran. Ia bermaksud menjadikan saya sebagai narasumbernya dalam proyek penulisan buku mengenai Keladi Tikus (KT). Judulnya waktu itu Menggerus Kanker Dengan Keladi Tikus.

Para penulis buku memang jago dalam mencari judul. Mereka menggelitik sifat ingin serba instant kita dengan judul yang menohok. Sebaliknya bagi saya membuat buku adalah pertanggungan jawab kepada masyarakat luas. Saya tidak berani menjanjikan hal diluar sepengetahuan saya. Lalu aku jelaskan bahwa aku cuma penyalur, ilmunya dari Prof Theo di Penang, yang bikin orang lain, apoteker yang meracik obat orang lain sayangnya si peracik “sering sakit gigi” – ketus, dan paternalis. Lebih eksentrik lagi, memilih-milih pasien.

Namun Tanggo, sebut saja demikian, nama redaksi tersebut tetap mendesak saya. Bermula dari nara sumber dalam sebulan saya naik pangkat penulis II. Kalau terbit judulnya mirip acara TV sepertiMr A, Feat(uring) Mimbar Saputro. Naskah saya edit disela-sela kesibukan saya memonitoring sumur di Australia.

Ketika naskah sudah selesai Tanggo menghilang. Tidak pernah menghubungi saya. Saya pikir ia sudah melupakan naskah tersebut. Namun Februari 2006, penggantinya sebut saja Tatik memperkenalkan diri, suaranya di ujung tilpun terkesan lembut, merak hati nampaknya. Hanya kesan tersebut berubah begitu ia memberi perintah. Sepak terjangnya seakan menganulir komitmet semula antara saya dengan Mr. Tanggo.

Pendek kata naskah hampir berubah dirombak olehnya.

Salah satu permintaannya Pemotretan harus di studio mereka, termasuk tanaman keladi basah, keringan keladi, bubuk keladi tikus harus lengkap. Lalu datang lagi instruksi kedua, artikel harus menyertakan paling tidak 10 Jurnal Kedokteran yang mendukung Keladi Tikus. Kalau ada pasien sembuh harus ada buktinya secara kedokteran. Misalnya hasil rontgen sebelum dan sesudah, lalu hasil PA sebelum dan sesudah treatment.

Menyusul pertanyaan menusuk rusuk pertahanan misalnya bagaimana kita yakin KT adalah sang penyembuh. Bisa jadi pasien mengonsumsi obat lain selain Keladi Tikus? Sakit kepala saja minum Aspirin, nyeduh Jahe anget, Kerokan, Pijat, nyeruput supayam hangat. Orang terkena kanker tidak mungkin hanya percaya satu obat, mereka akan melakukan kombinasi. Demikian jawab saya.

Permintaan lain “bapak harus menulis mengapa bisa timbul kanker, mengapa sel bisa tumbuh tak terkendali, mengapa ada radikal bebas, mengapa ada kanker usus, kanker prostat.”

Lini pertahanan saya kedodoran. Dari dulu saya bilang :”Jujur dan Tulus.” Aku adalah manusia biasa, Bukan Cinderela yang kalau jam 12 malam, bisa berputar 180 derajat mengubah tak mungkin menjadi kenyataan. Kalau saya PeDe menulis seperti yang diinginkan, maka kekuatiran saya adalah Naskah KT menjadi KTT alias Karangan Tak Tahu Malu.

Sepanjang pengetahuan saya kesembuhan berasal dari testimonial pasien. Kadang datang pembeli (bukan pasien) lantaran dalam salah satu kesaksian kesembuhan, mereka mengaku minum KT. Kadang dengan cara getok tular.

Kanker itu seperti diabetes, hari ini lolos, kalau “ndak jaga badan” maka gerilyawannya nggruduk penderita. Atau beberapa rumah sakit Kanker Swasta mengirimkan pasiennya untuk mengonsumsi KT disamping tindakan kemoterapi dan obatan modern lainnya. Tentu saja kami tidak berhak memberi tahu nama-nama dokter tersebut.

Lagipula Keladi Tikus hanya untuk kanker, saya rabun kalau dibilang bisa sembuhkan roepa-roepa penyakit sebagaimana Darah Tinggi, Darah Kotor, Diabetes, Impotensi, bahkan kalau dikonsumsi perempuan hamdan alamat “kluron” atau gugur bunga. Tidak ada obat dewa mampu meluluh lantakkan 1001 macam penyakit.

Soal penelitian kedokteran, saya bilang anda pasti banyak membaca buku asing. Kalau bicara kambing, jangan harapkan auman harimau yang keluar. Kalau alternatip dicoba ke pendekatan tabib modern (dokter),ibarat Mak Erot bicara soal memperpanjang pernis dengan bantuan urut dan jampi dengan dokter Boyke yang bertolak dari prinsip bahwa penis tidak dapat diperbesar. Mak Erot lantaran tak pandai berdebat seperti seperti kalah dan salah dan pembohong. Namun kalah bicara tak berarti mengurangi jumlah pelanggan dan umumnya malu mengakui keampuhannya.

Jaya Suprana dari jamu Jago mengeluarkan produk “Upik Buyung” yang disohorkan menyerdaskan otak anak-anak kita. Para apotekernya sendiri pesismis jamu “aeng-aeng” begini akan diterima masyarakat sehingga diproduksi dalam jumlah sedikit. Ternyata produk ini kelak menyelamatkan Jago dari merumahkan karyawannya karena omzet penjualnya ruar biasa..

Redaksi tidak setuju… “Ada keraguan dalam tulisan bapak”.- Saya meneng (diam) dan mathuk (setuju). Bukankah sejak semula saya hanya koeli minyak. Lalu baris email selanjutnya: “Kami tunda rencana penulisan.”

*****
Belajar falsafah dari Jendral Muhdi bekas Kopasus yang geram betul lantaran dia ditekan utuk mengaku membunuhi lawan-lawan Suharto. Orang Jawa, menurut Muhdi kalau ditekan akan menjalankan 3 M. Meneng, Mandeg kalau dua langkah masih belum selesai M ke tiga adalah Mengamuk…

Lalu saya bilang, selama ini saya jadi pihak menerima terima perintah, manis-manis, inggih-inggih. Kalau buku terbit saya dapat apa sih? lah wong kontrak saja tidak ada…

“Tapi bapak dapat populer, promosi keladi tikus…” katanya di ujung tilpun.

Ini dia, saya penikmat Anti Marketing. KT tidak perlu promosi, jangan terlalu banyak berkoar. Malahan mengundang para “imitator” baru.

Rupanya bu Tatik tidak berkenan dengan jawaban saya. Akhirnya jatuhlah talak. Mereka bilang melihat respons saya terhadap mereka, penulisan akan diserahkan kepada pihak lain. Cerdiknya setelah semua bahan terkumpul siap saji.

*****
Keladi Tikus sudah dipromosikan lama tiga-empat tahun lalu. Saya pun tahunya dari milis. Sementara terjadi pro kontra di sebuah milis. Saya menyambar kesempatan tersebut.

Pertama pohon saya bagikan gratis, tapi lama-lama kami kewalahan dengan peminat gratisan. Lalu saya kasih beban ongkos kirim, peminat mulai berkurang.

Lantaran pohon dan umbinya kurang praktis dikirim secara AKAP -antar kota antar propinsi , disamping keluhan gatal sekitar mulut saat mengonsumsi. Tanaman ini diganti dengan bubukannya agar lebih praktis.

Harga KT relatif stabil dari 2000-2006 masih segitu-gitu saja yaitu dua ribu rupiah per kapsul, satu botol terdiri 50 butir. Produsennya sendiri sudah menaikkan ongkos kirim, harga jamu, tetapi kami usahakan tidak terpengaruh BBM. Lucunya setelah jamu beberapa lama di tangan pasien, kadang kami menerima tilpun bahwa penyakitnya sudah sembuh, mereka ingin sisa obat yang belum dikonsumsi dikembalikan?

Belakangan kami agak sedikit ragu untuk meneruskan bisnis ini melihat banyaknya kejadian seperti rumah sakit merawat pasien tak mampu, diberi keringanan, giliran terjadi kematian, keluarga langsung menuntut miliardan rupiah.

Jamu adalah obat alternatif. Prosesnya teradap tubuh membutuhkan waktu lama. Perlu ketekunan. Dan sayangnya soal yang satu ini kita memiliki kesabaran yang tipis.

Posted in bekasi, irah, keluarga

Burung Hantu dan Irah


Depan rumahku ada sebuah lampu hasil swadaya warga dengan cara menggantol listrik secara bebas, langsung dan sedikit rahasia. Penerangan jalan dimaksud agar “iseng.” istilah lain untuk hal yang bersifat senyap dan membuat bulu roma berdiri. Tetapi sejak saya di Bekasi, penerangan tersebut saya biarkan sampai lampunya “dut“.

Alasan lain, aku kurang sreg dengan penerangan liar ini sebab kalau ditelusuri ada sebuah kabel rahasia yang tersambung ke rumah warga yang memasang lampu tersebut. Rupanya ia tergoda untuk mendapatkan tambahan listrik gratis ke rumahnya.

Lalu aku menggantikannya lampu dari rumah yang dipasang sedikit menjorok keluar sehingga sinarnya mampu menerobos keluar pagar dan memberikan sedikit penerangan, sementara bekas penerangan kubiarkan terlantar.

Belakangan ini warga gempar, seekor burung hantu kerap bertengger di cagak bekas lampu.
Apa yang salah dengan seekor burung hantu mencari makan, atau ular yang kesasar kerumah saya. Ini desa “Rawa Bogo” ada pohon “Pasar Kecapi” ada hutan “Jati Makmur” – masih banyak pohon besar yang semoga tetap disana untuk memberikan perlindungan bagi habitat burung langsa ini.

Apalagi mahluk berjambul halus yang besarnya “adeb-adebi” ini sering berteriak “kreaaak” memecah kesunyian saat berhasil memperoleh salah satu rantai makanan berupa katak, tikus, ular atau serangga malam, sambil menyeruak diantara gerumbulan semak menuju pepohonan besar.

Tetapi bagi bagi warga apalagi Irah, 16, asisten Kitchen Cabinet. Kicau merdu mahluk tersebut sangat nggegirisi sebab jauh dari lagu “uhu-uhu suaranya merdu“.

Merdu apaan, katanya tubuh mungil berkulit hitam ini sambil menahan gemetar mendekati histeris. Sudah itu munculnya setelah magrib terbenam lagi.Sepertinya Irah tetap percaya ucapan turun temurun di kampung bahwa burung hantu “owl messenger” dari dunia demit ora ketok. Seperti “pre-alert” akan datangnya berita kedatangan batara Yamadipati.

Pokoknya burung Hantu adalah “ora ilok” begitu di benak gadis berambut sebahu ini, ia adalah jelmaan Nenek Sihir menyedot darah bayi-bayi yang terbuai dalam tidurnya.

Celakanya lagi dia baru saja bekerja untuk 3 minggu bersama kami sudah ringkes-ringkes minta pamit mundur. Maka repotlah kami membujukinya agar niatnya dibatalkan.

Keputusan Irah untuk “cabut” bukannya tanpa resiko. Maklum ia sudah bekerja saat usianya baru “retes” remaja pada 12 tahun. “Baru kelas lima, bapak menyuruh saya bekerja“.

Singkatnya ia diminta ambil alih tanggung jawab orang tuanya yang sehat bugar. Semua bukan untuk dirinya. Ayahnya terbiasa pasang tarif 400.000 rupiah yang diambilnya tiap bulan melalui BCA. Bila jumlahnya kurang atau uang sudah habis sang “pemerah anak” ini naik darah.

Pernah Irah berbohong bahwa gajinya kurang dari 400.000 lantaran sebagai perempuan ia ingin bersolek, bercelana legging, syukur punya handphone. Order dari kampung langsung menyengat.

Keluar segera dari “bendaramu” (bosmu) dan cari pekerjaan yang bergaji tinggi. Ini urusan UMR. Di Jakarta peluang bekerja sangat banyak… Entah setelah memutuskan hubungan SLJJ sang ayah juga cari kerja sesuai perkataannya? Irah hanya mengangkat bahu, namun artinya tegas “nganggur!.

Celakanya lagi adik perempuannya, saudara-saudara yang di Jakarta akan datang mengeroyok Irah dengan kata-kata ala Ustad dan Ustadzah kita kalau menakut-nakuti umatnya. Orang yang tidak berbakti kepada orang tuanya bakalan kuwalat dan masuk neraka. Tetapi orang orang tua yang memaksa anak kelas 5 SD menjadi penopang hidup keluarganya aman-aman saja duduk dimeja judi togel.

Debut karirnya ia menjadi babby sitter. Mengantarkan anak taukenya ke sekolah. Betapa gembira sang anak kalau sudah pulang sekolah, lepas tekanan yang melelahkan, apalagi boleh jajan. Sementara sang pemomong, bibir senyum namun hati teriris, ia hanya bisa membawa buku sekolah orang lain. “Alangkah bahagianya bisa bersekolah. Duh Gusti…

Sebuah cita-cita yang dinafikan oleh umumnya para pekerja kasar.

Di panggil pulang kampung

Lalu ada tilpun dari familinya, bahwa Irah harus pulang lantaran neneknya sakit, padahal sejatinya sudah meninggal. Nenek yang disayangi dan selalu membelanya dari tekanan ayahnya. Tapi biaya penguburan dan “selamatan” ia harus menanggungnya. Sehingga berita kematian diplintir menjadi “nenek sakit keras.”

Ira pulang lantas menunggu upacara tujuh hari seperti layaknya tradisi di desanya. Ia kembali ke Jakarta tatkala sang “pemerah anak” sudah mulai sering marah-marah. Sialnya, setiba di rumah tuannya posisi pemomong anak sudah diambil orang lain. Bahkan beberapa potong baju masih tertinggal disana. Ia jadi pengangguran, tinggal pada kontrakan sempit kerabatnya.

Itulah awal anak cerdas dan sigap gawe ini bekerja pada kami Maret 2006 ini.

****

Kalau saja Irah tidak rabun-komputer saya akan bilang, selain ada MSN Messenger ada Yahoo Messenger, ada OwlMessenger misalnya dalam cerita Harry Potter yang selalu mendapat surat, koran, bahkan titipan paket yang dibawa oleh Harriet sang Burung Hantu Putih.Kalau saja Irah sekolah, mungkin dia tahu bahwa sebagai binatang nocturnal (kelayapan diwaktu malam) sehingga bergelar sang elang malam ini didapuk sebagai simbol pengetahuan lantaran kemampuan matanya yang nyaris sempurna menembus belukar malam.

Andai saja Irah pernah baca sejarah mengenai Dewi Yunani yang selalu membawa Celepuk sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan. Burung Hantu yang terbang didepan pasukan Yunani selalu diterjemahkan sebagai “Victory.”Irah belum tahu bahwa dalam shamanisme, burung hantu dikaitkan dengan keadaan yang “waskita”. Kemampuan melihat sebelum terjadi, mendengar sebelum diucapkan.

*****
Di layar TV saat Basuki dengan cerdas mengiklankan SUKRO kami terpengaruh, dan meminta Irah beli di warung, melewati jalan tanah merah yang selalu ditimpa hujan setiap sore sehingga perlu pakai sepatu boot. Tapi yang paling menakutkannya disisi jalan ada kuburan keluarga, mana gelap lagi. Belum lagi cerita “sirik” bahwa salah satu tetangga kami memelihara jin untuk ambil alih tugas Satpam. Dan poskonya adalah kebun singkong di “belor” rumah. Belor adalah seBElah Lor. Tapi wetan tidak disingkat Setan.

Melihat wajahnya ragu-ragu saya melihat kesempatan membesarkan hatinya. Sekalian cari Majalah. Melihat saya besiap pergi, gantian, perempuan pecandu sinetron Cincin dan Leontin ini yang kuatir: “sudah malam pak!, nggak takut?”

“Entar kalau pulangnya badanku ada yang kurang aku kasih tahu kamu ya….” kata saya. Saya kadang harus sok-sok berani, sok pamer “bisa berdialog dengan dunia lelembut” – pasalnya persepsi masyarakat kadang mengacaukan sehingga mudah diterror dengan isu yang ditiupkan.

Dulu kantor saya dibilang ada penampakan. Sebulan kemudian, 10 set komputer diangkut maling.Lalu saya bilang, nanti kalau ketemu muka dengan si Celepuk ini akan saya tanya dia bawa surat panggilan atau sapu terbang. Atau ingin menyampaikan bahwa Visa Australia saya yang rendet jalannya bisa di proses.

Irah senyum ketika dia melihat saya pulang utuh.Irah adalah satu dari jutaan pembantu mencari peruntungan di kota besar. Mereka bekerja 30 hari sebulan, sementara ia sendiri mengambil 50.000 per bulan pun berbonus ketakutan. Mudah-mudahan Ira kerasan bekerja dengan keluarga Mimbar yang cuma 3 orang dan seekor Celepuk Jawa yang bebas.

Kreaaaaak…. (2 kali)

Bekasi
3/24/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO