Posted in gaya hidup

Beras Jepang


Date : 24 April 1999
Subject : Jepang…

Anak saya yang terkecil kalau diajak makan di restoran ala Jepang yaitu Hoka-Hoka Bento, makannya bisa seperti orang kesetanan. Dia bisa habiskan 2 (dua) mangkuk nasi (jepang). Tubuhnya yang kecil, kelas 6 SD, membuat saya menggelarinya kalau makan tidak lagi kriuk, kriuk tapi jadi krakus…krakus. Maksudnya gabungan kriuk-kriuk dan rakus. Tapi dia seakan tidak perduli, baginya nasi Jepang hanya ada 2 rasa, Nasi Jepang yang rasanya enak, dan satunya lagi nasi jepang yang rasanya enak buanget.

Belakangan ini, orang rumah (isteri) menjadi sibuk bukan buatan. Orang Flores bilang “Sibuk Sampai Mati”, Mentarinya berdering terus. Rupanya dia bisnis beras Jepang. “Beras Jepang,” katanya berpromosi, selain rasanya campuran antara beras
Ramos (ini juga nggak ada hubungannya dengan Klandestein), juga ada rasa pulutnya. Di Jepang harganya setara dengan Rp. 15000 per kilogram. Beras yang sama di jual di Jakarta dengan cuma Rp.3000 per kilogram.

” Lho kok bisa ?, tanya saya lagi. Saya lihat tangannya cekatan mengambil sambel barang 5 sendok makan contoh beras untuk dimasukkan ke kantong plastik kecil.

“Jangan banyak-banyak dong kasih contoh beras, nanti kamu rugi. Sesendok
kan cukup,” seru saya.

“Sampeyan salah”, sergahnya sambil bergaya cak Jalal.

“Kalau contohnya sedikit, orang kira berasnya dipilih, di rekayasa. Ini harus Jujur.”

“Ini beras bantuan Jepang, dikirim untuk membantu orang yang miskin dan kelaparan. Tapi karena prinsip ekonomi FIFO, First In First Out, yang jatuh ke tangan para proletar adalah beras Bulog.”
Wah anak Wates, lulusan Stella Duce Yogya ini rupanya memamah acara TV habis habisan. Saya mbatin.

Berapa lama kamu akan jualan begini ? tanya saya lagi.

Sampai beras bantuan Jepang, di stop.
Kan ini cuma bantuan, tidak bisa terus menerus. jawabnya nyerocos

Ini yang cuma sedikit saya tahu, bahwa bantuan kemanusiaan dari Jepang bisa nyangsang ke rumah saya.
Sekarang rumah saya yang sempit sudah mulai bertambah sempit dengan tumpukan karung beras a. dua puluh lima kiloan. Belum lagi kalau diminta bantuan untuk memindahkan ke tempat lain.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s