Posted in gaya hidup, keluarga

Iklan Rokok, bintangya pakde Saya


Pernah menyaksikan tayangan iklan rokok kretek yang menggambarkan seorang executive muda mengemudikan sendiri sedannya di malam hari. Kelihatannya ia terburu-buru, sampai sampai lupa membawa supirnya, untuk mobil semewah “One Step Ahead” tanpa supir, agak janggal kecuali memang dia menginginkan sebuah pertemuan empat mata.

Ternyata ditengah hujan lebat sementara jalanan diblok oleh sekelompok kerbau. Melihat bapak angon penggembala berlindung dibalik payung daun pisang kedodoran mengendalikan kerbau yang nampaknya berpesta pora karena hujan, sang exe muda harus ikut turun dari mobil mewahnya untuk ikut mendorong mahluk bandel tersebut dari jalan raya.

Mula-mula dia menggunakan payung, tapi hujan dan angin masih menerpa tubuhnya, membasahi baju dan dasinya. Tanggung pikirnya, sekalian basah-basah seluruh tubuh. Ia pun ber ah ah ah sambil berjoget mendorong kerbau agar keluar badan jalan.

Mungkin ini pengalaman unik bagi sang exe. Karena sudah terlanjur basah-basah seluruh tubuh, ah, ah (bukan mandi madu) ia membatalkan acaranya, malahan ganti acara untuk berkunjung ke rumah bapak angon untuk minum teh hangat setelah berkutat berjam-jam mengatasi mogok masal para kerbau.

Adegan diakhiri dengan pemasangan cincin akik ke jari sang exe. Orang desa malahan menyumbang orang kaya.

Saya kebetulan kenal baik dengan bapak drs Sandiwan Dasuki (76 tahun). sang pelaku sebagai “bapak Angon” dalam komersial tersebut. Mula-mula saya tidak memperhatikan sungguh-sungguh sebab gigi palsunya dicopot sehingga ketika ketawa  ia manglingi alias membuat pangling. Ternyata setelah di konfirmasi, tidak salah lagi dia orangnya.

Dosen yang sudah ditinggal mati isterinya ini memang sehari-harinya amat bersahaja. Dia tidak risih, misalnya ngontel sepeda mini tua yang bunyinya kriyat-kriyet, kadang sarungan. Dia bangga menggunakan Caping Bambu sembari naik bis kota ketempatnya mengajar di salah satu uni swasta.

Bisa tidur, tahu-tahu sampai.” itu alasannya. Kadang pakai surjan, yang sekalipun di Yogya sudah tidak trendy saat ini.

Dulu, ketika masih aktip dikesatuan angkatan bersenjata, sebagai kepala seksi logistik dia melihat banyak manipulasi gudang yang dilakukan rekan kerjanya. Nuraninya terganggu dengan lingkungan kerja demikian. Dia memilih keluar, menjadi dosen. Omar Bakri, mungkin julukan yang tepat diberikan kepadanya.

Bagaimana sampai bisa di gaet kasting oleh produser, memang ceritanya berbau kebetulan.

Suatu hari, cucunya diajak oleh sebuah biro iklan untuk membintangi salah satu acara komersial. Pakde Das, demikian saya biasa memanggilnya lantas mengantarkan cucunya ke studio iklan tersebut. Maklum ibu dan bapaknya adalah penjual ikan hias di kawasan Makaliwe Raya – Grogol sehingga tidak merasa perlu untuk “nyempetake” aquarium ikan hiasnya. Tugas dialihkan kepada sang Eyang yang terkena getah untuk mengantarkan cucunya ke studio.

Karena jadwal shooting selalu molor, sang cucu kesayangan ngambek dan tidak mau meneruskan acara pengambilan gambar. Pelbagai usaha membujuk sang cucu tidak membuahkan hasil.
Adegan Eyang bujuk cucu ini secara tidak sengaja ini malahan ditangkap jeli oleh sang produser.

Gaya bapak sangat wajar,” kata produser.

Dan mulailah ia ditawari shooting. Biasanya kata produser, orang yang datang ke studio selalu bergaya dibuat-buat, ini nantinya akan menyulitkan pemahaman karakter.

Tempat shooting di Cikarang. Sebagai ibu didatangkan dari Parakan, Jawa Tengah. Saya tanya siapa nama bintang iklan utama yang ngguanteng itu ?

Ah embuh, saya nggak tahu,” katanya enteng.

Shooting dilakukan selama 3 hari, setiap jam 10.00 semua awak dan pemain harus siap, tapi shooting dikerjakan jam 02.00 dinihari.

Bagaimana rasanya tulang tua, diajak begadang, diguyuri hujan buatan di malam buta. Hanya pakde Das yang bisa merasakannya.

Kerbaunya pinjam orang kampung Cikarang.”

Kesannya, wah jadwal shooting molor. Yang lebih penting lagi belum satupun dari mereka menerima honor atas jerih payah 3 hari begadang berbasah kuyup.

Ia hanya menyesalkan, bagaimana perasaan pak angon (betulan) pemilik Kerbau menunggu kiriman honor yang tak kunjung tiba. Padahal produser janji sebulan setelah penayangan, honor akan dibayarkan.

Atau memang tayangan tersebut belum lengkap sebulan ?

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Iklan Rokok, bintangya pakde Saya

  1. wah wah….akhir ceritanya bagaimana itu pak? honornya sudah tersampaikan belum? Kok saya jadi mangkel sama produser itu..lagaknya saja sok kaya…

    maaf penasaran…toh ini sudah 2008…:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s