Posted in bali, usman

Karper Gentong di Bali


Date: Wed Jul 5, 2000 8:02 pm

Orang Bali memang kreatip, ada yang ingin memelihara ikan mas (tombro) atau Cyprinus carpio, tetapi tidak punya kolam, mau sewa karamba tidak punya uang.

Apa akal ?, haruskah menyerah ?

Akhirnya mereka memanfaatkan gentong plastik 100-200 liter, disambung dengan pralon 1,5 inci dan 1 inci, maka jadilah tempat pemeliharaan anak ikan (burayak). Benih ukuran “kuku” misalnya yang panjangnya 3-5 cm dengan berat awal 18,8 gram per ekor hanya dalam tiga minggu sudah gembrot mencapai 64 gram.

Padahal kalau ditebarkan di sawah butuh waktu paling tidak delapan minggu.

Dengan memelihara di gentong plastik, maka ancaman bahaya dimangsa ular, lingsang, burung, kodok buduk, ikan buas lainnya menjadi kecil sekali. Ikan Lele, Lindung dan Gabus sekalipun okey untuk dimakan tetapi sekali masuk kolam ikan mas dia jadi Muzibaah Bok!. Bisa habis ikan kecil kita disantapnya.

Gangguan sih paling ikan mati kalau melompat dari gentong. Pendeknya tingkat hidupnya dijamin 95%, kalau 44% pasti Panther ithu, katanya.

Data ini dari Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng. Menurut Nyoman Astawa, dengan modal 4 buah drum dia berhasil panen 75 kg ikan tombro dan ini menangguk Rp. 1.125.000

Lho kok iiimuut ?

Mula-mula dia beli 800 ekor ikan tombro (kalau disebut ikan mas nanti keliru dengan ikan mas hias di Akuarium yang megal-megol), dia rogoh kocek sebanyak Rp. 80.000. Selama pemeliharaan, dihabiskan 5 karung pelet seharga Rp. 300.000 Pelet yaitu makan ikan buatan pabrik, yang merek Shinta atawa Bintang itu kelas yahuud punya. Kalau mau kelas sedang bisa pakai buatan Comfeed.

Modal beli drum plastik dan pralon Rp. 750.000

Dari 4 drum dia meraup untung Rp. 745.000 perbulan. Ikan berukuran tanggung inilah yang dilepas ke karamba atau kolam ikan beneran agar bisa jadi ikan 1,2 maksudnya sekilo dua ekor. Satu ukuran favorit untuk para peternak ikan dan pelahap ikan mas.

Sekarang mereka sedang mencoba pelihara ikan “koi” didalam drum pastik. Dan perbendaharaan para petani sekarang bertambah lagi, KARTONG (karper dalam gentong).

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Karper Gentong di Bali

  1. salam kenal
    saya tertarik dengan pembudidayaan ikan tombro tapi saya tidak tahu cara budidaya dan bagai mana ngasih makan yang benar.
    tolong kirimkan bagaimana cara pembudidayaan beserta syarat-syaratnya.?
    sblmnya thanks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s