Posted in masa kecil

Nyaris bentrok antar angkatan


Ketika ayah masih aktip di kesatuan Batalion Brigade Mobil di Bengkulu, suatu malam sekitar jam 21.00 ada yang melaporkan bahwa sekelompok anggota Brimob melakukan Longmarch sejauh 6 km dengan bersenjata lengkap untuk membebaskan temannya yang konon “disiksa” dan di tahan oleh CPM, yang selalu dibaca sebagai (Se Pe Em).Karena hari sudah malam maka saya yang menggantikan tugas untuk menyupiri bapak ke tempat kerusuhan.

“Miem ada Brimob ngamuk ke tangsi CPM, dikiranya temennya ditawan disana. Kamu supiri bapak.”

Saya lihat beliau hanya membawa tongkat komando dan pakai baju seragam seadanya. Supir Jeep Willys Four Wheel Drive yang betulan, tinggalnya di belakang rumah Bung Karno di Anggut Ateh, jadi masih keluarga Fatmawati. Kalau ada keperluan mendadak saya biasanya ketempat Bung Karno (cuma katanya angker kamarnya) sebelum mencapai rumah pak Pir.

Tapi malam itu karena emergensi, ya saya yang nyupiri mobil Jeep Wilis dengan perseneling yang keras, kalau menghidupkan musti di ongkel. Persenelingnya sendiri sering lompat hai katak lompat. Kalau kendaraan nanjak maupun turun, perseneling harus dipegangi sebelum dia nyelonong ke gigi Vrei. Remnya harus di kocok 3 kali sebelum maksrooot ngerem.

Sampai disana, memang terlihat beberapa tubuh sembunyi sambil mengarahkan senjata AK ke tangsi markas CPM (yang tentunya mereka juga berjaga-jaga, bersiap membela diri).

Entah ilmu apa yang dipakai, pak Depan eh pak Suratman berlari ketengah semak sambil mengacungkan tongkat komandonya dia berteriak “yang masih mengaku bahwa Suratman sebagai Komandan Batalionnya, segera keluar dan berkumpul disini.”

Saya agak lupa dialognya, tapi tidak lama kemudian satu persatu tubuh yang sudah dicorengi mukanya keluar dan dengan muka lesu kumpul mengelilingi bapak.

Duduk perkaranya di telusuri, yang dinamakan disiksa itu ternyata segar bugar, memang dia mencoba masuk pasar malam yang dijaga CPM, lantaran nggak mau bayar maka CPM menggertaknya, tapi setelah itu sang oknum diijinkan masuk pasar malam. Kejadian ini dilaporkan oleh teman-temannya disertai interpretasi bahwa si A diculik dan dibawa ke markas CPM lalu digebuki habis-habisan disana.

Besoknya sang provokator memang saya denger di tempelengi oleh bapak dan dimasukkan ke sel, ya cuma gara-gara solidaritas sesama orang Semendo (Lahat).

Sekarang saya baru takut, gimana kalau dulu itu kejadian jedar jeder, dan nyasar ke kepala aku. Maka bisa-bisa satu anak SMA tembus peluru.

30 tahun kemudian, kejadian berikutnya bulan Juli 2001, ipar saya kebetulan jadi Kapolres di MuaraEnim. Isterinya cerita, pernah sekali waktu terjadi tawuran antar warga pakai senapan “kecepek” yaitu senapan untuk berburu babi yang mesiunya harus diisi dari moncong laras. Sementara semua petugas polisi menggunakan rompi anti peluru, sang komandan cuma pakai “sejadah” menengahi pertempuran dan berhasil.

Gantian anak buahnya yang mbingungi mencoba menyelamatkan sang komandan dari sambaran peluru kecepek.

Ketika pak Harto masih jadi presiden, saya ditilpun pengawalnya yang masih aktip di Kopasus, jangan pergi ke Kota/Harco sebab baru-baru ini ada razia kendaraan bermotor, seorang anggota Kopasus distop tidak bisa memperlihatkan STNK maupun SIM, malahan menunjukkan kartu anggota Kopassus. Ketika mau ditahan dia menendang polisi dan kabur dengan menggunakan kendaraan bermotor. Malangnya polisi kali ini sedang sip-sipnya nembak. Maka Kopasus tadi di tembak. Kelihatannya cuma nyerempet. Sang superior tentunya merasa terhina diperlakukan demikian. Di ksatrian, dan nggosok temannya untuk bela kehormatan.

Sekalipun perintah stelling dikeluarkan agar warga Kopasus Cijantung jangan keluar asrama. Tapi mana bisa Rambo-rambo itu di distop. Mereka keluar melalui jalur alternatip dan sampai juga ke Kota. Akibatnya markas polisi di Kota diserang dan menewaskan seorang pelapor yang sedang duduk disana melaporkan peristiwa kecopetan. Duit hilang, nyawapun terbang. Ada yang pernah mendengar kasus ini, tidak akan pernah ada. Sebab semua dilakukan secara diam-diam dan ditutupi.

Akan berapa banyak kejadian demikian terjadi lagi dan lagi.

Advertisements

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s