Posted in Yogya, yogyakarta

Bakso Plempung, Soto Kadipiro


Soal tukang becak yang ditolong malah membokong sebetulnya bisa diatasi dengan sedikit melotot misalnya, tapi untuk bahan obrolan milis, kadang saya harus menggiring (rekayasa) agar tercipta peristiwa dari biasa menjadi luar biasa. Agar aku bisa menertawakan diriku dengan segala kebodohannya.

BAKSO
Bakso Yogya yang bikin celeguk-celeguk kalamenjing adalah ketika dihidangkan panas-panas pakai tahu kulit yang digoreng kering, dilidah rasanya krenyes-krenyes rasanya mengezutkan. Tahu semi-pong ini mula-mula terapung di kuah bakso, seakan mau unjuk diri aku juga bisa memerankan adegan mandi ala “Bandung Lautan Sabun Mandi“.

Dulu kan mau jajan bakso, musti tunggu wesel pos. Lantas ambilnya di kantor pos Alun-alun Utara.
Di Kridosono ada Bakso spesial “Romo Gayeng” keluaran Universitas Perjuangan Hidup. Terang bakso dagelan ini. Tapi kelihatannya sudah nggak ada lagi.

SOTO KADIPIRO

Sementara itu, Soto Kadipiro I(satu) penjualnya masih pria berkulit putih, keriting tetapi kumisnya sudah dicukur. Orang ini mengabdi kepada soto Kadipiro dari juru saji sampai tetep (juru saji). Dalam kurun waktu 20 tahun lebih. Soto ini makin “ndadi” kalau ditemani irisan kecil-kecil Dada Mentok, plus bawang goreng dan kecap. Dihidangkan dalam piring beling putih secara terpisah.

TONGSENG KEPALA KAMBING

Gagal menemukan Bakso “Bethesda” Yogya, hati yang sedikit beTe dan ngelokro (loyo) tiba-tiba hati mongkok kumbali, soalnya di jalan Solo plus minus 50 meter dari perempatan dan lokasinya hadap-hadapan (miring dikit) dengan alm pabrik Limun Herkules(bukan preman Tanah Abang) juga bekas bioskop Rahayu (alm), saya menemukan Tongseng Lidah dan Kepala Kambing, ini elok tenan.

Letaknya tersembunyi, but they cant hide dari indera ke (x) saya yang kalau soal makanan bisa peka sekali. Agak aneh, ada toko sepatu, toko pakaian kok tiba-tiba mak-jegangglik ada warung tongseng. Lagian warungnya jadi satu dengan Wartel.

Sekalipun mbakyu bakulnya sedang “tekdung tralala” tapi kerjanya sebrat-sebret membuat suwiran kepala kambing, apa nggak bilang “amit amit jabang beby” dulu ya sewaktu ngeleti (menguliti) kepala kambing yang nampak melotor sambil menjulurkan lidah. Melihat kepada perutnya, saya jadi mikir apa lantaran seringnya icip-icip bumbu tongseng sehingga sang suami langsung jadi bandot yang direspons istri dengan meoooong.

Kok ya kebeneran tehnya boleh pesen TongJie, teko dan cangkirnya terbuat dari tanah liat, pakai gula batu (tapi ora tak lebokne sak- dikantongi ke saku celana). Yahuud tenan.

Wong Tongji Je! Ya sudah diet saya ancur-ancuran. Habis tongsengnya hangudubilah lezat. Tehnya nasgithel. Ancur minah.

Siangnya saya diajak para mahasiswa-i makan disuatu tempat, walah ramenya, tetapi masih kurang mudeng lokasi “Mbak Diah” dimana itu, sebab saya bingung.

Date: Fri Jun 7, 2002 10:11 am

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Bakso Plempung, Soto Kadipiro

  1. Bakso Yogya memang uenak sekali, disajikan panas-panas sungguh segar, gurih dan nikmat, terutama kekhasannya ada irisan tahu goreng yang wulet dan renyah. Kelezatannya dipadu dengan glinding bakso yang asli daging sapi dan irisan daging sapi yang gurih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s