Posted in citayam, gurami

Di Citayam, orang membedah pakai Ember plastik


Tentu yang dimaksud disini adalah bedah kolam pembesaran ikan, bukan bedah buku.
Sebagai tindak pencegahan dan pemeliharaan, maka di peternakan Gurami saya secara berkala sering dilakukan pengasatan kolam yang di bakukan oleh anak Citayam dengan istilah “bedah kolam”. Yang mereka lakukan hanya menutup pintu air masuk dan membuka sumbat Pralon berdiameter 4 sampai 5 in. Pralon ini iklannya diinjak Gajah, no problemo, tapi kenyataannya terkena tekanan hidrostatik air tawar 50 cm, sudah peyot. Apalagi pralon dengan kode TM, paling jelek kualitasnya karena TM artinya tanpa merek, bukan trade mark.

Sebuah plesetan yang meminjam istilah anda “telo” juga. Pralon ternyata tidak mudah ditemukan di Kawasan Citayam, sekalipun terpajang di rak penjual bahan bangunan, kalau ditanya penjualnya ada pipa Pralon, mereka bilang “tidak ada, yang ada cuma GELODOGAN”

Mungkin, pipa pralon ini asal muasal dan usut makin kusutnya digunakan sebagai pancuran untuk kolam, pancuran ntuk mandi sehingga si engkoh mau bilang “gerojogan”, eh lidah celatnya bilang “gelodogan” – sejak itu masyarakat setempat menyebut pralon sebagai pipa Gelodogan, ikutan celat.

Ketika, sumur selesai dibedah, lalu perukaan air turun, biasanya sekalipun cuma gurami yang dipelihara, kita bisa dapat extra belut, mujair, betutu, udang kali, gabus, kerang hijau, kepiting, sepat dan ikan lele liar. Lha anak-anak ini nangkepi ikan lele dengan tangan dan badan separo telanjang, cak-cek, sebrat sebret. Tangkas sekali. Kadang karena lele ini binatang bandel, bisa panjat tebing, bisa jadi pejalan tegal, pokoknya susah matinya. Jadi untuk menghindari lepasnya ikan bonus tadi, sekalian lehernya (kalau ada itu leher) di patahkan. Ceklek-klek. Dalam proses sebrat-sebret tadi, sering kali lele liar tadi belum mati tapi sudah matil, til. Dan reaksi anak yang kepatil itu cuma kelihatan kaget, sambil bilang “sialan matil juga eluh”.

Tidak terlihat reaksi kesakitan, bengkak atau demam. Padahal saya sendiri pernah kepatil, waduh biyuung. Padahal saya pakai mantera penakluk matil, “sialan bisa matil juga eluh”. Tapi kok nggak mandhi, nggak ces-pleng. Ya seperti kata anda itu “telo tenan”.

Kalau ikan liar Gabus, mereka menyebutnya “kocolan”, lantaran sifatnya yang predator, memakan mangsa lain, sampe-sampe ikan gurami sebesar korek pun diganyang. Pokoknya “ngocol” bang-get deh.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Di Citayam, orang membedah pakai Ember plastik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s