Posted in masa kecil

Terasi untuk mengobati luka


Date: Wed Jun 12, 2002 8:40 am

Soal terasi mengingatkan saya kumbali tatkala saya masih kecil sebagai anak tangsi Mobrig (Mobile Brigade) yang kemudian dibalik menjadi BriMob di Kertapati, 7 ulu, Palembang sekitar 1960-an.

Yang saya ingat negeri ini kelihatannya cuma bisanya perang saja. Mulai dari masalah pemberontakan Aceh, Pemberontakan DI-TII, Kartosuwiryo, sehingga menjadi pemandangan biasa melihat “oom-oom” Mobrig sibuk dengan perlengkapan perang, sebagian kembali sehat, ada yang cacat dan beberapa malahan melakukan desersi.

Seorang supir pak Kuwat namanya, ternyata melakukan desersi ke pihak tentara Diraja Malaysia, lha ini… kalau pagi hari, dia melakukan Talk Show, kami mendengarkannya secara diam-diam dan mulai menganalisa suaranya, dehemnya, desahnya. Begitu juga anak dan isterinya. Eh betul itu suara pak Kuwat. Lantas pak Kuwat bilang bahwa perang Trikora ini kerjaannya Komunis, dan dia di tahan di Sarawak dengan penuh damai.

Pidato pemimpin memang gegap gempita, masa bisa menyemut kalau pemimpinnya berpidato, sehingga melupakan lapar untuk sekejap. Sedangkan bagi militer, atau MobRig pada khususnya sangat tidak mengenakkan, memang ada pembagian rokok Kansas (ayah saya nggak merokok, jadi dijual), tetapi Gaji Mobrig yang dari sono sudah kecil masih harus dibagi dua, satu bagian untuk keluarga sisanya disumbangkan untuk perang.

Terasa sekali sering timbul cemburu sosial ketika melihat para anak pedagang Palembang yang sekolah diantar mobil, pulangnya nyetel gramofon. Para sudagar yang keturunan Arab ini seperti tak tersentuh krisis. Yang sering terlihat sekarang keturunan ini banyak yang menyentuh senjata.

[suara violin bernada sedih mengiringi cerita ini]

Akibat krisis yang menerpa, kami betul-betul hidup serba kurang. Beras dijatah, lalu di campur jagung, lalu campur bulgur. Nasi kadang harus antri. Para Mobrig yang putera daerah, biasanya sudah dibekali sawah oleh orang tuanya, jadi soal beras mereka tidak mengalami kesukaran.
Dalam keadaan demikian, orang mulai berfikir bahwa melulu mengharapkan gajih adalah mustahil tanpa kelaparan. Dan mulailah kami memanfaatkan halaman yang kosong untuk dijadikan kebun singkong, ubi jalar, pepaya dsb.

SANDWICH TERASI BANGKA

Melihat anak-anak sudagar karet yang kalau membawa bekal makanan selalu sandwitch, kami tidak mau kalah. Rotinya diganti kerak nasi ditangkup seperti sandwitch, cuma kali ini kejunya adalah terasi, atau caluk atau belacan bakar. Paling Lux kalau terasinya dari Bangka yang warnanya “maroon” merah hati, tidak seperti terasi lain yang hitam-hitam.

Pernah cerita ini saya sampaikan kepada anak saya, mereka bisa mbloker. “disgusting” kata mereka. Lha anak sekarang, ada nasi kecampuran “padi” sebutir, mogok makan. Terlalu keras nasinya, nasi ditinggalkan. Sampai-sampai saya naik darah kalau melihat pemandangan itu.
Tapi keadaan ekonomi pada tahun 1960-an memang parah. Terutama pegawai negeri. [Toh para pakar Dadakan di TV bilang jaman dulu utangnya sedikit, rakyatnya makmur]

Jadi kalau sekarang ada yang mengungkapkan “nostalgia” kehebatan pemimpin jaman dulu dengan kehebatan pidatonya, saya malahan membayangkan suasana Ganyang Amerika, Amerika Kita Setrika, Inggris Kita Linggis, Ini Dadaku Mana Dadamu, tapi dengan perut kosong, tulang dada berserakan.

LUKA DISIRAM TERASI
Lalu suatu ketika akibat tidak berhati-hati main patil-lele itu sepotong kayu reng ditaruh ditanah yang dilubangi, satu ujung nyungsep ditanah yang satunya lagi muncul dipermukaan. Lalu ujung kayu yang nongol di pukul sampai melayang diudara lalu di sabet sebelum potongan kayu 20 cm ini jatuh. Pemain lain berusaha menangkap kayu yang melayang ini (sambil jaga-jaga jangan malahan mengenai kepala).

Karena kurang hati-hati, ada potongan kayu yang masuk kedalam daging dibawah kuku “susupan”, sakitnya bukan main, dan teman saya bilang jangan dikasih “obat merah”, mendingan dikasih terasi mentah. Saya ikuti nasihatnya dengan memberikan terasi mentah sebagai pemboreh lalu dibalut dengan kain.
Efeknya luar biasa, sore terkena kulit kayu, malamnya infeksi hebat, lha barang busuk kok disiram ke luka.
Pengobatan alternatif lainnya, kalau tangan di patil oleh ikan lele, ikan juaro, ikan baung pokoknya ikan yang memiliki sengat, buru-buru sang korban dikencingi bagian yang terkena patil. Tapi jangan salah, yang iseng malah kebablasan mengencingi kepala yang sehat.

Advertisements

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s