Posted in batavia, betawi, minyak tanah

100 tahun lalu minyak tanah pernah naik harga


Koran Bintang Betawi terbitan 20 Januari 1903 mewartakan bahwa minyak tanah merek DEVOES naik lagi dari f 4,25 menjadi f 4,30 padahal hari sebelumnya sudah naik lagi dari f 4,10 menjadi 4,25. Berarti dalam dua hari terjadi kenaikan berturut-turut. Harga yang disebut disini bukan dalam liter melainkan “satoe peti terima di goedang”Pengamat surat kabar kuno Adit yang menulis dalam koran Warta Kota, tidak menemukan laporan demo ataupun keluhan “soerat dari pembatja”. Apalagi tuduhan bahwa dibelakang demo ada “mastermind” yang kebelet pingin jadi presiden dengan resep yang sama, “kalau negara mau keluar dari krisis, maka kepala pemerintahan harus diganti (oleh saya).”

Tata niaga “minjak tanah” waktu itu di atur langsung oleh pabriknya yaitu Standar Oil Company yang bermarkas di New York. Sehingga harga minyak bisa naik, bisa turun tanpa campur tangan pemerintah Kolonial.

Kalau ada minyak tanah buatan Amerika, bagaimana dengan buatan dalam negeri?

Produksi minyak tanah dalam negeri (Wonokromo) yang terkenal kala itu adalah “Tjap Matahari”, produksi Nederlandsche Indie Induetrie en Handel Maatscahappij. Harganya lebih miring dengan produksi luar pasalnya selain tidak terlibat mahalnya dengan ongkos angkut serta teknologi distilasi yang masih sangat sederhana.

Seperti diketahui, minyak ditemukan di Amerika pada 1859-an, sementara pemerintah kolonial menemukan minyak 29 tahun kemudian yakmi pada tahun 1888 di selatan Surabaya. Dua tahun kemudian (1890) di operasikan pabrik pengilangan di Wonokromo. Pemberian label “tjap Matahari.” diambil dari teknik pengilangan yang sangat sederhana yaitu destilasi cara atmosfir. Karena pengunaannya masih terbatas pada penerangan belaka, sementara inlander pada masak dengan kayoe bakar, maka hampir-hampir tidak terlihat adanya antrean minyak. Uniknya kaleng bekas minyak masih laku diperjual belikan karena memang persediaannya terbatas.

Maka jangan heran kalau advertentie di soerat kabar sering terbaca “Maoe beli kaleng minjak tanah bekas dipakai dengan harga paling bagoes” karena memang minyak dijual dalam kemasan kaleng. Tong besi segala matjam djoega dibeli asal tida botjor, dan ada tutupan schroef (sekrup)

Di Palembang, penjual duku aseli Komering selalu menawarkan dagangannya dengan ukuran satu canting, yang berarti satu kaleng minyak tanah.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s