Posted in humor

Di Jambi jabatan Kabag dan Kasi tidak disukai orang


Humor apa yang paling menjengkelkan. Itu lho, kalau naik kereta api yang banyak berhenti, ada saja penumpang kereta yang nyeletuk: “ban kereta apinya pecah,” lalu sang penumpang nyengir sendiri. Dagelan kering macam begini ternyata sudah langgeng paling tidak lima puluh tahun (sesuai dengan usia). Dan masih menggemaskan.

Dua pekan lalu saya ke Jambi. Apalagi sekarang kota ini amat berbangga dengan seminggu 7 kali disinggahi oleh kongsi-kongsi pesawat, mulai dari Merpati, Bali Air, Pelita dan masih banyak lagi perusahaan penerbangan dengan harga yang berkisar “nopekgo”.

Akibat perbedaan yang sekitar 40-50 ribu rupiah bila dibandingkan dengan perjalanan menggunakan bus yang selain “time consuming” juga susah ditebak kapan datangnya, maka jalur penerbangan Jakarta – Jambi seakan diserbu oleh pelbagai lapisan masyarakat.

Dulu, misalnya orang naik “plane,” kalau perlu berpakaian terbaik. Yang perempuan pakai hak tinggi, rambut sasak ala salon kecantikan. Sekarang, banyak yang berbekal sendal jepit karet, dan kadang beraroma kecuut. Juga para penumpang ini sering ngotot membawa barang yang pantasnya di taruh di bagasi sehingga cukup merepotkan awak kabin, yang umumnya kurang ramah terhadap mahluk yang “reseh” begini.

Bicara soal keamanan penerbangan, begitu roda pesawat menyentuh landasan lalu memperlambat kecepatan untuk mencari posisi parkir, istilahnya berhenti abis, mereka sudah melepas sabuk pengaman dan buru-buru meraih barang bawaan Lagi-lagi awak kabin yang kurang ramah harus menenangkan penumpang untuk menunggu sampai pesawat berhenti habis. Gang sempit sepanjang pesawat biasanya sudah jadi arena susul-susulan, lantaran mereka buru-buru ingin ketemu sanak famili. Antri? no way Jose…

Nanti kalau pintu pesawat belum dibuka lantaran menunggu tangga disetel, mereka nyeletuk “kuncipintunya ketinggalan, sedang cari kunci serep…

Lalu mumpung di Jambi saya menyoba duku Komering yang manisnya bukan alang kepalang dengan harga “lokal” sekitar Rp. 4000 per kilogram. Di Warung Buncit- Jakarta, terpampang “Duku Palembang Rp. 8000/kilo pas”

Para penjual di Jambi menggunakan sepeda dengan dua keranjang bambu besar dikiri kanan sepeda. Beberapa lembar daun duku yang hijau serta lebar-lebar nampak menghias “outlet” mereka. Saya mencoba mendekati seorang penjual. Langsung, sepiring sampel disodorkan kepada saya dan memang semua duku manis. Nis.

Tapi berhubung dialek Palembang saya sudah mulai luntur dan kagok, maka saya kena harga Jakarta dengan bonus kardus bekas Supermie untuk dibawa ke Jakarta. Saya menyesal hanya membeli sedikit dan berjanji akan kembali dengan kuantitas lebih banyak.

Cita-cita saya kesampaian.

Ketika tiba di Jambi beberapa waktu kemudian musim duku sudah mulai dipenghujung. Saya mendapatkan bahwa duku sudah beranjak ke Rp. 6500 per kilogram di tempat yang sama dan penjual serupa.

Logikanya, harganya mahal, tentu dagangannya lebih manis ketimbang madu.

Ternyata duku ini duku oplosan antara duku Komering dengan duku lokal Kumpe. Ambil duku 10 butir anda beruntung bisa dapat 3 butir yang manis, selebihnya masam.

Mahal bukan berarti jaminan kualitas.

Mengapa tidak dicicip terlebih dahulu ?. Sudah tetapi duku yang Komering memang dipasang ditumpukan atas, pada gilirannya nanti duku Kumpe yang akan masuk ke keranjang anda.

Sial bener.

Dilayar TV saya lihat seorang penjual beras oplosan ditanggap polisi Jambi lantaran ketahuan menjual beras Thailand yang dicampur beras kualitas rendah.

RUKO

Kota Jambi sudah banyak berubah, kawasan TheHok misalnya sudah dipenuhi dengan ruko yang tinggi-tinggi dengan banyak jendela berdiameter 3 inci yang berfungsi sebagai lubang angin dan dihuni ribuan burung Walet.

Banyak penduduk beralih menjadi pengusaha walet. Bagaimana tidak menggiurkan harga sarang burung bisa 15-20 juta sekilonya, padahal tidak perlu memberi makan. Paling menaruh kolam untuk walet mandi dan sekaligus mengumpulkan nyamuk yang salah-salah Aedes Agepti atau Chikungunya.

Atau untuk menarik kawanan walet lain, mereka membunyikan kaset suara walet selama 24 jam. Paling sial, kawanan walet yang diundang, kawanan seriti yang datang. Tapi liur burung (seriti) inipun mampu menghasilkan duit 1 juta per kilogram.

PASAR BARU

Pasar tradisional ini jangan disamakan dengan Pasar Baru di Jakarta yang tertata apik. Inilah pasar terkumujh di kawasan Jambi, sekedar pasar tumpah yang mengambil tempat di jalan raya. Diantara kawasan gubuk, ruko walet, hatta terseliplah sebuah mesjid yang ikutan merana. Disebut Jami’ terlalu kecil, mau disebut mushala kok terlalu besar.

Mesjid permanen ini sudah hampir bernasib seperti beberapa sekolah yang ketika pemilu dulu dijanjikan akan dijadikan prioritas utama, bahkan kalau perlu gratis nyatanya mesjid nyaris runtuh.

Singkatnya mereka perlu dana padahal di Jambi belum dikenal jurus “dengan serok ikan, kita sukseskan menyeser rupiah di jalan.” ala jalanan propinsi di Indramayu.

Lalu munculah sebuah iklan di harian lokal, “Di Jual Sebuah Mesjid.”

Dan seperti layaknya hal yang berkaitan dengan Rumput Kering, mudah terbakar maka koran tadi didemo ramai-ramai, diancam segala sehingga harus membuat klarifikasi sebagai “salah cetak”.

Efek demo ini memang bagus lantaran ada pengusaha kaya yang bersedia menyumbang asal mesjid tidak dijual.

RM Padang

Makanan spesifik kota ini “Mie Celor”, pada prinsipnya KweTiau dimasak pakai kuah tajin, lalau diberi potongan daging sapi dan telor rebus. Saya tidak menemukan tempat yang paling top Mie Celornya. Lagian teman perjalanan saya nampaknya kurang piknik.

Padahal perut sudah lapar sekali.

Setelah sejauh tanya sana tanya sini akhirnya pilihan jatuh ke basic-instink  padang yaitu “Gantino Baru” terletak di kawasan Jalan Gatot Subroto. Restoran masakan Padang ini selalu penuh pengunjung. Saya yang sudah amat lapar di siang itu langsung disodori seabrek menu masakan dan nasi kebul-kebul hangat.

Baru saja makanan akan disuapkan ke dalam mulut, sang pelayan teriak, “nanti dulu pak!, belum siap semuanya..

Apa harus pakai peluit seperti lomba balap karung ?,” tukas saya dalam hati.

Ternyata saya diminta menunggu sepiring ayam goreng “pop” panas.

Ah si abang bikin saya kaget.

Jabatan KaBag dan KaSi

Di Jambi saya bertemu beberapa teman lama yan bekerja dipemerintahan. Setelah bicara kesana kemari biasanya saya tanya “sekarang jadi apa nih setelah lama berpisah

Rata-rata mereka menjawab “jadi KaBag”

Atau “jadi KaSi”

Tapi kok nada suaranya lesu, harusnya gagah dong.

“Mau tau arti Kabag dan Kasie?, Kabag artinya Katik Bagian, KaSie artinya Katik Kursi”

[Katik= tidak ada.]

Ooo begitu….

Jambi 11 Maret 2003

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Di Jambi jabatan Kabag dan Kasi tidak disukai orang

  1. asal anda dari mana ? coba anda lihat lebih teliti lagi pedagang2 yg ada di pasar baru itu, hampir 90 persennya transmigran jawa, asal tumpukan sampah itu, yang rata2 memakai pakaian kumal itu, semua muntahan dari pulau jawa
    beruntungnya mereka karena penduduk asli jambi dengan berbesar hati menerima mereka dengan baik walaupun akhirnya merusak tanah jambi, dan kemudian muncullah orang seperi anda.

    Like

  2. Aduh keras sekali komentar ini. Padahal isinya kan bukan rasial. Mudah-mudahan masih berlaku bahwa manusia dimata Tuhan sama. Tapi terimakasih sudah memberi komentar. Mimbar Saputro
    Tapi kok alamat yang diberikan selalu membal ya😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s