Posted in madura

Kacang Rebus Sampang Madura


Suatu pagi yang cerah berangin keras di halaman Hotel Trunojoyo- Sampang, sambil menunggu panggilan dari kediaman rumah besan, kami sekeluarga berkumpul di halaman hotel Trunojoyo sambil mengobrol.

Adik saya yang juga banyak bicara (dan menulis masalah kesehatan di majalah Garuda) baru menceritakan bahaya kanker hati yang diakibatkan oleh kacang tanah. Menurutnya ada bagian dari kacang tanah yang busuk dan sering terlanjur tergigit dan termakan walaupun dalam jumlah kecil. Namun jamur atau kapang-kapangan mampu membiak cepat dalam tubuh. Lalu ia mengatakan bahwa mertuanya penggemar kacang tanah, sekarang sedang menderita sirosis (pengerasan hati). Kemungkinan akibat kesukaannya  akan kacang tanah katanya. Rasanya hari itu benda lucu yang kelak diiklankan “Kacangku haruum lho..” menjadi benda yang menghantui George Bush, Mass Destruction Weapon.

Kok ndilalah (tiba-tiba, kebetulan) datang seorang ibu pengasong menyunggi (membawa dagangan di atas kepala) tampah dengan kacang rebus yang masih mengepul. Kami langsung mengganti peran Mass Destruction Weapon menjadi  Malaikat pengusik lidah. Istilahnya langsung lidah kami mengepul, ngeces.

Ada dua benda yang tidak boleh dilupakan di tanah tumpah darah karapan-sapi ini, yaitu Jambu Air Madura dan Kacang Tanah Madura. Lupakan Sate Ayam, karena akan tidak terlalu mudah mendapatkannya disini.

Yang pertama “jambu air” sayang sekali kami tidak bisa mendapatkannya sehingga tinggal kacang tanah yang sudah menjadi gajah dipelupuk mata maksudnya jelas banget.

Penjual menawarkan satu “cumplung” harganya Rp. 700, lalu kami bilang kalau saya borong se”tambir” atau tampah berapa. [cumplung adalah baskom, tambir adalah tampah]

Ibu ini nampak bingung sebab ada dadakan mau borong kacang tanah rebus. Akhirnya ia bilang sekenanya Rp. 200.000 semuanya. Di coba di tawar Rp. 100.000 dia keberatan, akhirnya negosiasi dilakukan dengan azas “win-win solution” – dan titik temunya lebih baik “cumplung” saja.

Celakanya bagi si Ibu, ketika cumplung (takaran) terakhir selesai dihitung, total jendral harga kacang tersebut Rp. 50.000 mungkin untuk beliau sudah menjadi keuntungan lumayan.

Lupa sudah pembicaraan Kacang-kacangan dan resiko Kanker Hati. Sebab nyatanya mulut mulai mengunyah kacang rebus Sampang yang memang sama saja dengan kacang di Jakarta.

Kacang se tambir (tampah) sebetulnya sangat banyak apalagi sudah mau berangkat jagong manten. Akhirnya tiap kamar hotel didistribusikan kacang tanah Madura.

Sambil senyum lebar, ibu tadi meninggalkan kami. Bagaimana tidak dalam hitungan menit dagangannya laku keras. Eh tidak lama kemudian dia datang lagi dengan kacang yang jumlahnya lebih banyak dan memaksa kami untuk memborong se-tampah lagi.

Yanto, adik ipar saya rupanya tidak tega mendengar “rayuan” (lebih tepatnya rengekan) sang penjual. Ia borong lagi kacang tanah tadi. Saya menduga pasti dia akan kembali lagi, kalau perlu satu truk akan ditawarkan.

Betul saja, dia datang lagi dengan dagangannya plus ditangannya ada dua bungkus kacang yang akan diberikan gratis kepada kami, asal dagangannya yang ketiga ini di borong. Kali ini rayuannya secara tegas kami tolak. Tidak.

Dia masih ubet (keukeuh), sekarang tiap kamar diketuk untuk ditawari dagangannya. Dimana coba  ada penghuni hotel diketuk pengasong untuk ditawari dagangan. Bagaimana misalnya sang tamu sedang tidur karena kecapekan. Untungnya karena sudah bersiap akan jagong, kamar-kamar pada kami biarkan terbuka.

Begitu melihat dikamar sudah ada bungkusan kacang tanah, nampaknya ia maklum. Baru kali ini dia pergi meninggalkan kami.

Erni, pasangan monogami saya masih ingat ketika kami beberapa tahun lalu belanja di pasar Gresik- Surabaya, ada mbok gendong dengan logat Madura minta kerjaan “sewu tak sunggekno” – maksudnya dengan seribu rupiah, belanjaan istri saya akan di “sunggi” alias dibawakannya.

Istri nampak agak “takut” dengan gaya bicara orang ini lalu saya kasih kode untuk mengiyakan.Lalu belanjaannya yang tidak seberapa (cuma buah dan makanan kecil), diberikan kepada embok ini untuk dibawa ke Taxi.

Di luar pasar, ibu tadi memasarkan keahliannnya yang lain “rong ewu tak dongake slamet bu..” – maksudnya tadi biaya angkut barang tadi seribu rupiah, maka kalau saya memberi tambahan seribu lagi jadi total dua ribu, maka sang ibu akan mendoakan keselamatan kami berdua.

Lha kalau cuma seribu perak apakah akan didoakan celaka? Wallahualam.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Kacang Rebus Sampang Madura

  1. hai… critamu tentang kacang itu lucu de…
    laen kali crita yg lain lagi ya…
    oiya, aq anak madura aseli..
    he2…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s