Posted in madura

Militan


Dalam kamus, militan berarti [1. aggressive dan 2 involved in fighting]. Konon kata-kata ini diambil dari bahasa Perancis pada abad 15, dari kata milit(militer).

Selesai menghadiri Akad Nikah keponakan saya Mawan yang menikahi seorang putri Sampang, kami kembali ke Hotel yang sekaligus menjadi Aula tempat resepsi perkawinan pada malam harinya. Mengingat hari ini adalah Jum’at, dan sebentar lagi waktu Jumatan tiba, maka saya tanya kiri kanan kepada petugas Hotel Trunojoyo mengenai lokasi dimana masjid Jami’ (besar untuk sembahyang berjamaah) berada.

Ada sekitar lima menit berjalan kaki, sampailah saya disebuah masjid yang cukup besar.

Acara berlangsung hidmad. Kotak amal mesjid hanya diletakkan di depan pintu masuk, dan tidak diedarkan di dalam masjid. Tidak ada protokoler, atau laporan keuangan. Semua upacara peribadatan berjalan secara otomatis.

Namun mesjid dengan kapasitas ratusan orang ini diisi kotbah berlangsung dalam bahasa Madura sehingga sedikit sekali saya peroleh informasi dari bapak khatib.

Prasati yang terpasang menyatakan bahwa mesjid ini diresmikan oleh Soeharto bekas Nomor satu di Indonesia. Pantes lubang anginnya berbentuk segi lima lambang sebuah kontestan pemilu yang terbesar saat itu.

Di hotel, karena hari masih siang benderang, udara panas Madura mulai menyengat. Tegangan jala-jala listrik di kota ini memang naik turun sehingga AC merek ARTIC Hotel sudah tidak berfungsi. Padahal dengan AC 1 pk yang dipasang pada kamar kelas hotel kelas Melati kami harusnya kedinginan.

Akhirnya saya keluar kamar dan melihat pekerja kontraktor “Henny” dekorasi terbaca bekerja memasang backdrop di panggung. Di ujung sana seorang penyanyi nampak sedikit frustrasi ketika berlatih lagu “Memory”-nya Ruth Sahanaya dengan nada dasar F, sementara sang orgen ngayap ke nada F Mayor Purnawirawan dan temponya tersesat di F1234 (angkot Bogor).

Saya dekati seseorang yang kelihatannya sebagai supervisornya. Maka pembicaraan berlangsung dari rak piring khusus untuk bawa makanan, sampai ke bupati Sampang dan Mesjid Yayasan Muslim Pancasila.

Yang patut dicatat, rata-rata orang Madura hapal diluar kepala bahwa ada empat Kabupaten di Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Ibu kota pulau Madura adalah Pamekasan. Mereka hapal jarak dari satu kota ke kota lainnya.

Mesjid itu kasus pak, orang sini kan Militan, jadi waktu Golkar mau bikin mesjid, ditolak oleh rakyat setempat, alasannya bau politis. Rakyat ndak mau mesjid berbau politis…” – kata Cak Pai membuka obrolan.

Oh rupanya paham Deng Xiao Ping belum menembus disini. “Jangan perdulikan apakah kucing itu bulunya hitam, putih atau belang, selama dia bisa menangkap tikus, manfaatkan kucing itu…

Lho kok bisa muncul di jalan Rajawali [alamat mesjid], apa ada ceritanya?

Ya itu, setelah di tolak sana sini oleh kaum militan (nampaknya lawan bicara saya mencampurkan pengertian militan dengan “orthodox” dengan “tradisional”), mereka menemukan mesjid kecil disitu. Alasannya ya cuma pemugaran. Dan jadilah mesjid seperti yang bapak lihat.”

Bapak tau ndak waktu coblosan tempo hari. Kiyai militan ndak ada yang nyoblos pohon, kok hasilnya pohon yang menang. Yang militan marah, kotak suara dibakar, rumah petinggi Golkar juga sudah dikepung. [dia menyebut nama orang yang kebetulan menjadi Mertua keponakan saya]. Kasus pak.”

“Para militan sudah pamit dengan keluarga. Pokoknya kalau ndak pulang kerumah jangan digoleki (dicari), cukup tahlilan saja..”

WELEH WELEH, lha ini baru militant tenan. [saya mbatin]

“Bupati Sampang sekarang, kasus juga pak. Waktu pilihan pertama dia menang ndak terjadi apa-apa, tapi waktu dia menang lagi. Yang militan lawan yang pro bupati sudah hadap-hadapan. Bupati ini pinter, dia ndak perduli pembangunan fisik segala macem. Pokoknya kalau rakyat minta bantuan keuangan, dia langsung kasih berapa saja. Kalau mbangun gedung, nanti dulu”

Saya kok ndak lihat Biskop (Bioskop) disini pak?

Lha itu sejak ada layar tancep, angka kriminalitas meningkat tajam. Jemuran disikat, ayam dicuri. Akhirnya perusahaannya di bakar oleh kaum militan, dan angka kriminalitas menurun lagi. Maklum memicu kecemburuan sosial

Kelihatannya persoalan pelik di Sampang menjadi mudah diselesaikan dengan kata- Militan

HIDUP MILITAN

Mimbar Bambang Seputro
Pernah semalam di Hotel Melati Trunojoyo
Sampang – Madura

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s