Posted in kedai

Cwie Mie


Date: Mon Dec 29, 2003 1:50 pm 12685

Harian terbitan Jakarta memberitakan bahwa sebuah kendaraan sebut saja “kijang” yang dikemudikan oleh seorang perwira ABRI secara mendadak keluar dari resto Cwi Mie di jalan arteri TB Simatupang. Pada saat yang bersamaan dari jalur arteri sebuah bus yang sarat penumpang tidak bisa menghindari tabrakan dengan sang Taruna. Dikabarkan bahwa perwira ini malahan galak menempiling sang supir bus sehingga memicu aksi “bela korp pak Pir.” Perwira tadi digebuki sampai babak belur.

Dulu orang Jakarta belum mengenal makanan dengan nama “Cwie Mie” tetapi beberapa tahun kebelakang, para penikmat makanan lezat seperti belum sempurna tingkatan ilmu “badok” kalau belum mencicipi masakan dengan label CW ini. Lalu saya pernah mengajak seseorang yang cukup “lugu” soal makan untuk menikmati Cwie Mie. Mo tahu komentarnya “udah mahal, bakminya sedikit lagi…

Tapi waktu dibilang ini bakmi top-top-top dia keukeuh bilang “kok biasa saja, nggak beda-beda amat..”

RESEP LAMA, LABEL BARU

Orang Malang memiliki kebiasaan menyebut mie ayam dengan “cwie mie” – dan kebiasaan ini dimanfaatkan oleh Rivai atau lengkapnya Chairul Rivai alias Roelly sang penggagas sebagai upaya menarik rasa ingin tahu orang Jakarta. Ia menjual mie ayam biasa, tetapi dengan label baru. Apalagi kalau pakai embel-embel “arema” – arek malang, dipastikan akan menambah kencengnya arus sentimen dan nostalgia kedaerahan. Ia berhasil.

Rully juga tahu bahwa cita rasa orang Malang tempat ia dibesarkan akan berbeda dengan Jakarta sehingga ia melakukan riset-pasar dengan mengusahakan agar mie ayam eh Cwie Mienya “metch” dengan selera Jakarta yang tidak terlalu asin, dan tidak terlalu manis. Kata Malang dipilih agar menimbulkan sentimen kedaerahan kepada arek Malang yang berada di Jakarta. Ia benar, awalnya hanya orang Malang yang makan di kedainya. Lalu berangsur-angsur kelompok etnis lain.

Sama dengan penjual keliling susu segar Pengalengan yang pakai tape recorder, setelah moncer mereka berganti nama Susu Murni Nasional. Apakah nanti dia jadi Cwie Mie Nasional? Yang tidak banyak diketahui orang, Rully alias Rivai ini sebetulnya sudah pernah membuka gerai Steak “Roellieis steak” di Cibubur pada 1995.

Cuma dua tahun usahanya berjalan sukses tapi lagi-lagi krisis mengakibatkan daging impornya membubung. Bayangkan harga satu porsi yang semula Rp. 12500 naik empat kali lipat menjadi 50.000, terang saja dia kebingungan. Bayang PHK karyawan selalu menghantuinya. Dalam situasi seperti itu dia mendapatkan ide untuk membuka warung bakmi ayam dengan nama Cwie Mie pada 1997.

Kini Ruli memiliki 19 Gerai dan 11 Franchise tersebar di Jakarta, Padang, Batam, Semarang, Yogya. Ia menggunakan tiga konsep usaha “Mother” kalau luas restonya 100-200 meter persegi, Daughter kalau luasnya 60-90 meter persegi dan “food court” bila luas lahan hanya 15-25 meter persegi. Satu-satunya Keluhan yang diutarakannya adalah membanjirnya tagihan, iuran macem-macem dari pemerintah.

Kafi Kurnia penulis masalah bisnis Gatra heran-terheran, ada rasa mie ayam yang seperti mie ayam, tetapi ketika para penggemar masakan ini ditanya apa kelebihan CW, umumnya mereka hanya asal jawab “pokoknya lain ajah…”

Seorang pengamat bisnis mengomentari mengapa seorang Rulli yang nilai Inggrisnya jeblok melulu sewaktu kuliah di Akademi Perhotelan sampai punya nilai moncer dalam mewujutkan impiannya membuat kerajaan bisnis?

Pertama ia memiliki “set of aspirasi”. Aspirasinya adalah memiliki sebuah restoran terkenal. Kedua “meaningfull purpose”. Relationship of respect, high character, humor and fun (kerja apa saja kalau sudah senang ya fun ajah).

Dari istilah Inggris yang panjangnya seperti berjamaah ini bisa diperas lagi menjadi satu kalimat singkat “Langkah awal untuk meraih sukses adalah menerima kenyataan bahwa tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Cwie Mie

  1. Keberhasilan CM bukan karena roelly itu sendiri tetapi juga mantan istrinya juga Riyanti Shelavia.inii fakta yang tidak bisa mengesampingkan jasa seorang perempuan yang pandaii,gesit,pekerja keras dan juga sangat cantik.Bahkan dalam aktifitas keseharianpun ibu Anti yang cantik inii merangkap sopirnya pak Roely. Itu klaiim bu Anti iyang selama ini seolah olah kesuksesan CM adalah atas kerja keras ROELLY.Bu Antii…!!!!
    Gg
    4

    Like

  2. Dalam memperingati hari KARTINI jangan sebatas pake kebaya sehari,tetapi hargailah jasa jasa perempuan ini.bekerja,mengurus rumah tangga,mengurus gajian karyawan dan bahkan menjadi sopir suaminya. BRAVO PEREMPUAN !!!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s