Posted in batavia, betawi, luarbatang

Kampung Luar Batang


Ketika Belanda mendarat di Sunda Kelapa pada awal abad ke-17, mereka mendirikan kastil di atas tanah yang dibeli dari Pangeran Jayakarta (sebelum akhirnya diserang sekalian). Dalam peta kuno, tampak jelas kastil tersebut menyentuh laut.

Tetapi Jakarta terbentuk dari aluvial sehingga muncullah daratan baru dengan kecepatan yang mengagumkan yaitu 13 meter per tahun sehingga ketika Gubernur Jendral van der Parra pada 1780 menyuruh pembuatan peta, maka kastil yang semula bersentuhan dengan garis pantai mulai tampak dikepung daratan. Dan daratan tanpa nama ini kemudian dihuni secara liar bahkan ada yang mulai mendirikan gubuk tanpa takut digusur. Penghuninya kebanyakan orang Jawa (Javasche Kwartier.)

Para Javasche Kwartier ini kalau masuk kastil sering bawa keris atau tombak, yang menurut anggapan mereka adalah sebagian dari cara berpakaian tradisional. Tetapi Belanda menganggap sebagai ancaman sehingga perlu membatasi lalu lintasnya dengan memasang balok kayu di muka sungai Ciliwung. Pribumi yang berkunjung kedalam kastil harus menunggu keesokan harinya. Tidak jarang berhari-hari menunggu ijin tiba.

Lokasi pemasangan didepan kantor Pabean sehingga populerlah istilah “groote boom” atawa boom besar. Orang yang berada didalam palang adalah orang Beteng sementara yang tinggal diluar disebut penduduk Luar Batang.

Batang (Kayu) ini dibuka setiap hari dan ditutup pada jam tertentu 19, 21 dan 06.00. Yang menarik, dalam peta resmi kumpeni, Luar Batang disebut sebagai “heilig graff” (kuburan keramat).  Siapa yang dikuburkan di tempat terpencil itu?.

Seorang ulama Sayid Husain bin Abubakar al-AIdrus diketahui tinggal disitu sambil menyebarkan agama Islam. Tahun 1739, berdirilah sebuah mesjid di daerah Luar Batang tersebut. Mesjid yang masuk lingkungan RT 004 RW 03 Kelurahan Penjarinhgan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini memang berada di tengah perkampungan sehingga sulit bagi mereka yang belum pernah kesana. Tetapi tanyakan kepada pengojek sekitar pelabuhan Sunda Kelapa atau Pasar Ikan mereka pasti tahu.

Sayid Husain ini sangat dihormati penduduk, sehingga ia dianggap orang suci. Dan ketika ia meninggal tahun 1756, makamnya dianggap keramat. Habib ini meninggal dalam keadaan membujang (?). Ketika akan dimakamkan di Tanah Abang, jenasah yang berada dalam keranda (kurung batang) ternyata sudah lenyap dan mereka menemukan jenasah tersebut sudah ada di Mesjid milik Habib Husain. Para pengikutnya beranggapan bahwa Habib ingin dimakamkan di Tanah Abang melainkan di luar (kurung) batang. Legenda lain menyebutkan Luar (kurung) Batang ini menjadi asal muasal nama kawasan Luar Batang.

Di luar mesjid banyak penjual bunga kertas warna warni seperti payung. Apakah ini berasal dari kebiasaan Habib dimasa hidupnya yang menggunakan payung? Ternyata gara-gara Sultan Hamengku Buwono pernah datang berziarah ke mesjid ini bersama pengawal yang memayunginya, oleh pedagang setempat payung tersebut ditiru.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s