Posted in kobra, preman, security, senen

Ketika Cobra ikut mengamankan ibukota


Tokoh Legendaris Bang Pii – ada ditengah teman-temannya.

Mendekati akhir dari suatu rezim pimpinannya, maka Bung Karno (BK) pernah berupaya membentuk Kabinet yang terkenal dengan sebutan Kabinet 100 menteri (kalau 132 boleh dibulatkan jadi di 100) atau Kabinet Dwikora yang disempurnakan (79 Menteri). Maksudnya untuk mengakomodasi keinginan Mahasiswa, yang akhirnya usaha tersebut kandas.

Sejak semula Kabinet ini tidak disukai oleh mahasiswa pada waktu itu (termasuk Akbar Tanjung, Sofyan dan Yusuf Wanandi, Abdul Gafur dan beberapa nama lain yang kemudian menjadi menteri dan paling tidak jadi orang gedean juga).

Salah satu keberatan mahasiswa adalah diangkatnya Letkol “Senen” Imam Syafiie menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Beliau memang dikenal sebagai “palang dade” di kawasan Senen.

Mahasiswa lalu melakukan demo dan aksi corat-coret adalah “Preman Senen mengurus negara apa bukan asset bangsa akan digerogoti para Copet dan Koruptor.” – sekalipun dibelakang hari yang teriak-teriak tidak lebih dari mengurus negara seperti preman.

Ciri khas coretan mahasiswa di tembok-tembok toko atau pagar adalah kalau tulis hurup “a” yang kepala dan perutnya menghadap ke kiri (tradisional), selalu dibelokkan ke kanan. Pasalnya dulu itu segala sesuatu yang miring kekiri dianggap aliran komunis. Atau mungkin sekedar tampil beda.

Manai Sophian dalam memoirnya mempertanyakan mengapa Mahasiswa yang berjaket Kuning saat itu mampu memiliki jaket buatan Amerika, padahal situasi saat itu barang asal paman SAM dianggap lepra. Hanya kalangan tertentu yang bisa memilikinya.

Lalu siapakah palang dade (garda depan) dari pasar Senen yang dipercaya BK sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan ini?

Nama aselinya Syafi’ie seorang anak betawi kelahiran Pejaten, Pasar Minggu. Seperti layaknya jaman perang kemerdekaan,  Indonesia belum memiliki tentara reguler. Pemuda pemudi yang berani melawan Belanda kulit putih dan belanda kulit hitam, langsung membuat group dan berperang. Salah satu diantaranya adalah Safiie. Anak gelandangan pasar Senen.

Menurut penuturan Misbach Yusa Biran dalam memoir “Kenang-kenangan Anak Bandel” hal 64, ia masih ingat saat terjadi bentrokan antara pasukan Belanda dari Batalion X,  Misbach kecil malahan sibuk menjual majalah di Senen.  Nama Pa’i didengar sebagai ABG militan yang kalau sudah pegang pistol rampasan, berani menggempur pasukan Belanda bersenjata lengkap. Dan ia selalu nampak didepan.

Misbach sendiri mengaku baru bertemu dengan tokoh Kobra ini pada 1950 yang digambarkannya sosok bertubuh 1,55m, sintal, berpakaian necis dengan kumis tipis dibibirnya yang selalu tersenyum ramah. Ia lebih mirip seorang Habib.

Usai kemerdekaan ia direkrut menjadi tentara. Anggota TNI AD ini mulai moncer di kawasan Senen setelah ia menjadi Kapten sehingga nama Kapten Syafi’i sudah cukup menggetarkan jagat dunia hitam. Ia memang disegani kaum preman Jakarta. Ketika BK dan BH memproklamasikan kemerdekaan RI, pasukan Bang Piie ini banyak berperan dalam mengamankan Presiden dan wakilnya bahkan seringkali terjun dalam pertempuran langsung dengan NICA. Mereka membentuk pasukan yang disebut PI (Pasukan Istimewa). Dengan menyebut singkatan namanya maka pasukan PI mirip panggilan namanya PI’I

Banyak pihak percaya bahwa keamanan ibukota yang kondusip, aman terkendali saat itu berkat sepak terjang anggota Kobra pada periode 1950-1960-an. Bahkan Bung Karno sangat mempercayakan keselamatannya selain badan pengaman yang resmi yaitu CPM sebagai pengawal pribadinya. Semua gerakan yang mengancam pimpinan negara tidak pernah lolos dari pengamatan bang Pii dan anak buahnya.

Setelah pensiun dari ABRI ia sudah menjadi Letkol tetapi orang terlanjur memanggilnya Bang Kapten, atau bang Piie.

Menjadi pensiunan ABRI bukan alasan untuk cuma berdiam diri, ia berkiprah meneruskan organisasi keamanan partikulir yang dinamakan COBRA atau KOBRA. Anggotanya direkrut para pejuang yang tidak kebagian jatah posisi di Dinas Ketentaraan. Daripada frustrasi lantas bikin negara Betawi, mending bikin organisasi keamanan. Mobil ekspedisi dengan nama Cobra/KOBRA biasanya jaminan akan lancar tanpa gangguan para preman.

Alasan nama Kobra dipilih, pertama binatang ini tidak menyerang kecuali terpojokkan, kedua kalau menggigit korbannya tidak minta air sebab langsung ditutup buku amal baktinya didunia. Alasan lain ia amat tergila-gila dengan musik dangdut sampai membentuk grup musik Cobra.

Kelompok ini memegang aturan yang sangat tegas. Kalau kedapatan anggotanya berbuat jahat, bang Piie tak segan menghukum dengan cambukan buntut ikan Pari yang berduri tajam. Seperti diketahui pada September 2006, seorang pawang binatang kenamaan Steve Irwin saat berenang membuat filem mengenai kehidupan ikan Pari, tiba-tiba tarian pari yang indah itu mengandung maut ketika memecut dada Steve Irwin sampai menemui ajalnya di tempat. Akan tetapi menurut beberapa kalangan, dipecut buntuk ikan pari jauh lebih baik daripada jika dihantam dengan tangan kirinya. Tidak perduli sekuat apapun seseorang akan roboh bila menerima pukulan tapak kiri ala Brajamusti ini. Yang hebat, saat berkumpul antara ulama dan para jawara biasanya terjadi tukar menukar ilmu maen pukul dan ilmu batin.

Para pemilik toko biasanya menempelkan Foto Bang Pi’ie di tempat usahanya, agar terbebas dari gangguan para preman lainnya. Lulus SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) pada 1958 dengan pangkat Letkol, Syafie memiliki 16 anak. Ia pernah menikah dengan Ellya Rosa seorang bintang filem cantik 1950-an.

Pernah ditawari menjadi Komandan Cakrabirawa, tetapi ia menolaknya lantaran melihat bahwa Cakrabirawa sudah seperti Peci BK, alias kekiri-kirian.

Tragisnya ia justru dituduh kiri saat BK jatuh.

Pada 24 Februari 1966 ia diangkat sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Namun usia Kabinet ini tidak lama, seperti diketahui, kabinet Dwikora dibubarkan oleh Pak Harto melalui SuperSemar 11 Maret 1966.

Ia lalu dikejar-kejar sebagai orang kiri, keluarganya diinterogasi lalu di tahan tanpa diadili, dan ketika dibebaskan dari rumah tahanan militer, ia sudah dalam keadaan sakit parah.

Pada 9 September 1982, seorang “preman” yang rajin ke majlis Taklim di Kwitang setiap ahad, yang sangat dekat hubungannya dengan para ulama Betawi, yang ikut andil dalam mengamanankan Ibukota akhirnya harus mengakui bahwa zamannya sudah lampau.

Ia meninggal dunia pada usia 59 tahun. Dan organisasi Kobra-pun sebagai pengaman ibukota tidak terdengar lagi kehebatannya. Lalu muncullah group satuan pengaman seperti Yapto, Herkules, Basri Sangaji. Riwayat hidupnya pernah diminta oleh Misbach Yusa Biran untuk dijadikan filem mengenai otobiografinya. Bang Pa’ii menolak mentah-mentah. Dia tidak mau dikatakan “ngibul” terhadap sejarah.  Anak buah Bang Pi’i pernah melihat kepala gengnya mengejar jip Belanda denganmenaiki kuda sambil mengelebatkan kelewang di jalan raya antara Senen dan Gang Tengah. Banyak yang melihat ia tidak tembus peluru saat ditembaki oleh Belanda.

Tapi, siapa  sekarang ini orang yang mau percaya. Dia bilang ane ngibul..” Dia tidak mau dikatakan pendusta. Di Stasiun Senin dia pernah dikepung Belanda, Pii molos saja melalui pagar kawat tanpa Belanda pernah melihatnya. Ketika menumpas pemberontakan Komunis Madiun pada 1948, kehebatannya terbukti sekali lagi. Sayang sejarah orang bawah yang bisa naik menjadi Kolonel lalu Menteri ini terkubur begitu saja.

Selamat Tahun Baru 2004
Mohon Maaf Lahir dan Bathin (boleh kan)

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

4 thoughts on “Ketika Cobra ikut mengamankan ibukota

  1. Mohon info, sekiranya bapak tahu ahli waris atau anak keturunannya beliau siapa yang bisa dihubungi…?

    Like

  2. nama saya yudhi,anak dari bapak benny bachtir syafi’i(almarhum) ,sekaligus cucu laki2 tertua dari kong Pi’i dan nenek Rihanna

    Like

  3. Bang Yudhi.. Kalau abang punya foto Kong Pi’i bolehlah dishare di Blog ini agar sejarah tidak kabur. Saya pengagumnya sehingga dengan berani ambil catatan sana sini yang saya baca.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s