Posted in batavia, betawi

Pulo-Pulo di Batavia


Para ahli Geologi yang sudah sependapat Batavia terbentuk dari endapan alluvial sehingga wajar kalau lambat laun banyak terbentuk daratan berupa rawa-rawa lalu muncul permukiman baru seperti Kampung Luar Batang. Dan banjir-pun sejak jaman Kerajaan Hindu sekitar 4 SM mulai dikenal di kawasan Batavia.

Bagian tanah/daratan yang lebih tinggi dan dikelilingi rawa lalu diasosiasikan sebagai sebuah pulau (PULO).

Tidak heran kemudian ketika ditanah kering alias PULO tersebut ada yang subur akan tanaman umbi gadung, maka orang Betawi tidak mau repot-repot cari nama pahlawan untuk nama daerah tersebut. Sebaliknya mereka menggunakan info bentang alam sebagai tetenger. Sebut saja PULO GADUNG, yang kala itu merupakan lahan subur dengan tanaman umbi gadung yang beracun jika tak pandai memasaknya.

Ketika ditemukan daerah penuh dengan pokok palem (gebang) yang tinggi dan besar, maka muncul kampung Pulo Gebang dan seperti rumus deret ukur, orang paham dengan asal nama Pulo Nangka, Pulo Asem dsb.

Tetapi cara “unofficial” ini sering dilanggar, misalnya memberi nama Menteng Pulo dan Kramat Pulo. Dasarnya karena orang Betawi kebingungan memberi nama. Pasalnya sudah ada Menteng Pisangan, sudah ada Menteng Rawa Panjang, jadi untuk Menteng yang belum ada namanya mereka main tabrak dengan menyebut Menteng Pulo, saya curiga ada orang Palembang yang campur tangan dalam penamaan ini sebab dalam Bahasa Empek-empek, Menteng Pulo bisa berarti (masih) Menteng Juga. Demikian juga dengan Kramat Pulo yang sebetulnya untuk membedakan dengan Kramat Sentiong dan Kramat Lontar.

Tetapi ada juga Kampung PULO. Dan ini rada lain ceritanya.

Asalnya adalah Mr. Senen seorang pendeta kaya asal Maluku yang pada tahun 1656 memiliki tanah yang luasnya SEJEM JALAN KAKI, maksudnya kalau anda berjalan kaki dengan kecepatan 5 km per jam, maka luas tanah Mr Senen ini ya 5 KM persegi. Dalam ilmu OTT Batavia (Oekeran-Takaran-Timbangan), satuan-satuan panjang bisa dikonversikan ke satuan jalan kaki. Di Jawa tengah ukuran jauh adalah “satu linting” rokok klembak.

Senen yang kemudian menjadi Kapitan Banda ini mengumpulkan kayu hasil kebunnya di suatu “staging area” yaitu suatu dataran yang dikelilingi Sungai Ciliwung mirip sebuah Pulo. Kayu ini di jual ke kastil Betawi dengan alat transportasi perahu. Lambat laun muncullah nama Kampung Pulo.

Kampung Pulo terletak dekat dengan pasar Jatinegara sekarang. Sebelah barat RS Hermina Jatinegara. Nama Kampung Pulo memang bikin para ahli utak-atik-gathuk tiada habis pikir.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s