Posted in batavia, betawi

Gang Teratai Tempo Doeloe


Date: Fri Jan 9, 2004 11:02 am

Dalam courant Pembrita Betawi 22 September 2003 diwartakan seorang perempuan tua penduduk gang terate yang sumurnya sudah mengering karena kemarau panjang, pergi ke Kali Angke untuk mengambil air sungai. Malang ia terjatuh dan kepalanya terbentur batu sehingga membawa kematiannya.

DIMANA GANG TERATE ITU?

Dari beberapa nama gang yang sudah hilang dari peta, maka Gang Terate termasuk nama gang yang masih bisa dijumpai sampai saat ini. Beberapa tahun lalu nama Mama Terate cukup ngetop bukan lantaran nimba air, melainkan ramalannya pada awal tahun 1997 yang mengatakan bahwa hidup akan tambah susah, cari makan tidak menentu sementara para elit pada cakar-cakaran.

Cuma 2004 ini kok nenek Lauren saja yang saya baca ramalannya.

Sekarang gang ini merupakan lokasi padat penduduk ini terletak di kampung Jembatan Lima, distrik penjaringan, terletak di selatan Pekojan. [Lihat peta terlampir]. Gang Terate mendapat nama dari tanaman teratai yang banyak tumbuh liar di kawasan itu.

Teratai atau “Nelumbo nucifera” berasal dari Asia Timur. Tidak heran permukiman orang Tionghwa banyak dihiasi oleh bunga yang indah dan berdaun lebar. Biji dan akarnya bisa dimakan, sebagian percaya sebagai obat kanker. Tetapi bagi orang Betawi, teratai menarik lantaran daunnya bisa dijadikan bungkus. Dan ini menarik perhatian para Kumpeni, bukan untuk membudidayakan melainkan menarik cukai atas penjualan daun teratai.

Dalam Staatsblad tahun 1829 nomor 111. Daun teratai digolongkan sebagai jenis pembungkus bersama daun jati dan waru. Karena itu teratai dikenai cukai sebesar 1 sen per pikulnya. Jaman kertas masih langka apalagi tas plastik kresek warna hitam yang baunya cukup menyengat itu belum ditemukan, maka daun jati dipakai untuk bungkus keperluan dapur seperti cabe dan garam. Daun waru untuk membungkus makanan seperti tape ketan, tape beras. Sedangkan daun terate dipakai untuk membungkus yang lebih besar, ikan basah, misalnya.

Ada lagi sejenis Teratai yang dinamakan Seroja sampai ada lagunya “Menanti di bawah pohon Kemboja.” – dan jangan lupa diakuisinya Timor Leste kedalam NKRI dilakukan dengan sandi operasi Seroja. Maksudnya mungkin seperti iklan TV oleh Harry Mukti “booongkus!!!”

Aneh binti ajaib daun pisang tidak termasuk sebagai daun yang kena pajak. Agaknya sosialisasi daun pisang saat itu belum meluas sehingga gubernemen merasa belum perlu mengenakan cukai. Padahal daun pisang tidak lepas dari kehidupan orang Jawa mulai membuat lemper, dijadikan pincuk (piring daun pisang) bagi pedagang nasi yang ngampung (keliling kampung).

Memasuki abad ke 20, teratai mulai ditinggalkan orang. Akibat kumpeni mulai menguruk kanal-kanal, rawa-rawa dikeringkan untuk dijadikan perumahan dan nama Gang Trate-pun tinggal nama tanpa teratai. Kecuali seorang peramal bernama Mama Terate yang telah wafat. Menurut seorang ahli warisnya “Mama terate aka Seruniati Arif aka Lee A Kioek, meninggal tahun 2000….Dulu tinggal di jalan Blora Gg Rembang no 3C, rumah nya masih seperti dulu, tak ada yg berubah, walau sudah 2x berpindah tangan…Nasehat2 beliau untuk cucu2nya, masih terngiang di telinga, hingga saat ini…”

“Every task has unpleasant side… But you must focus on the end result you are producing.”

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Gang Teratai Tempo Doeloe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s