Posted in huet

HUET – Helicopter Underwater Escape Training


Date: Sat Jan 29, 2005 10:51 am

Orang minyak biasanya dibekali ilmu bela diri seperti pertolongan pertama pada kecelakaan, penanggulangan bahaya kebakaran, cara melarikan diri dari kapal yang mengalami gangguan seperti blowout yang sudah tak tertanggulangi. Untuk penyegaran, kami tetap diberikan pelatihan setiap dua tahun sampai tiga tahun sekali.

Di rumah, atau di hotel setiap kali saya memberikan arahan “manajemen bahaya” kepada anak-anak kalau terjadi kebakaran, kalau kapal tenggelam, maka tindakan utama adalah bla..bla..blaa. Biasanya ibu atau para orang tua sering memotong “ora ilok, kecelakaan kok diomongin” – lha kalau ada bahaya “itu urusan nasib dan serahkan kepada yang di atas.”

Minggu (Jan 2005) lalu saya berkesempatan ikut serta dalam pelatihan di IFAP, Fremantle, sebagai bagian dari Manajemen Hazard Centre yang kondang di dunia. Jadwal kursus selalu padat, dan para instrukturnya memang kalah tipis dari Baywatch.

Semula saya berfikir ah paling segitiga penyebab kebakaran, buka pen tabung pemadam, arahkan ke api dan selesai. Ternyata saya lupa bahwa panas api yang (bisa) membakar tubuhku, tidak sama jenis obat dan perlakuannya. Ternyata saya juga kagok ketika racunnya sudah pas, api makin membara. Bahkan dalam satu latihan mengatasi lidah api yang “mbulak-mbulak” dari sebuah kompor minyak, saya masih tersengal-sengal, takut panas, kurang PD.

HANYA 4-8 MENIT

Beberapa filem laboratorium memperlihatkan bahwa furniture sofa yang dibakar dalam waktu 4 menit sudah mampu merambat keseantero ruang, meledakkan kaca, botol, meja dan seterusnya. Asap yang nampak sedikit, tidak berarti api masih kecil. Untuk realitanya diputarkan sebuah filem tragedi kemanusiaan, menayangkan pertandingan sepak bola di Inggris ketika salah satu tribunnya terbakar. Hanya dalam 8 menit, api menghabiskan seluruh tribun. Polisi yang bertumbangan kehabisan oksigen setelah menyoba menyelamatkan penonton terperangkap. Bahkan ada yang mengalami halusinasi.

Tragisnya para hooligan masih bersorak-sorak kegirangan bahkan meneriakkan yel-yel. Maklum mabok!. Yang tidak disadari, 56 tewas sudah beberapa hari kemudian. Kesalahan lain, pintu stadion terkunci rapat untuk mencegah penonton gratisan berusaha masuk. Katakan anda berada disebuah hotel atau kantor bertingkat. Pernahkan anda mengingat letak tangga darurat? Pernah dan gampang? okey. Namun keadaan akan berbeda, jika tiba-tiba listrik padam, asap mengepul menyesaki rongga pernapasan, suara sirine meraung-raung, dan supaya lebih merasakan lagi mata ditutup, hidung ditutupi bantal untuk menjegah asap masuk hidung, sambil berjalan jongkok (menghindari asap yang umumnya melayang diketinggian setinggi badan), meraba dalam gelap mencari jalan keluar. Itulah “tambahan” pelajaran yang saya dapatkan dari institusi ini.

HARUS MENGINTIP.

Saat menemukan “pintu” peserta tidak boleh gegabah main buka saja, pasalnya saat terbakar terjadi gelobang panas dan tekanan yang api dari luar bisa. Untuk itu pintu yang ditemukan secara raba-raba harus dibuka secara sedikit dan dengan menggunakan punggung tangan. Bilamana benjolan engsel pintu terasa, maka pertanda pintu dibuka dengan cara menariknya perlahan. Namun bilamana engsel berada diluar, maka pintu harus didorong keluar. Peserta diiberi stress dengan hitungan mundur 5 menit harus sudah bisa keluar ruangan. Kok ya 10 menit masih mbulet disitu-situ saja.

ADA MAYAT

Selain “gelap gulita menyesakkan” sering dibuat penghalang, drum misalnya tidak boleh ditabrak atau digulingkan karena menghalangi jalan (simulasi kalau itu bahan kimia). Yang repot kalau ternyata instruktur memasang boneka manusia sebagai korban, harus dicek pulsa, masih harus ditelungkupkan. Saya gagal ketika menuruni tangga yang berputar-putar, pasalnya saat menemukan tangga kita harus berjalan mundur dengan menginjak tangga sambil pura-pura menguji injakan tangga. Rupanya saya mengalami disorientasi (kehilangan arah). Lalu ketika ada teriakan “body” – saya teriak balik “dead body” – maksudnya nggak usah repot mau diapakan, yang penting selamat dulu. Moral cerita, ternyata kalau ada krisis nyawa lalu ada orang yang masih mau berkorban menolong orang lain. Dia sejatinya pahlawan. Dan kalau sudah lama tidak berlatih, mudah bingung.

Pesan lain, kalau punya uang berlebih. Investasi “smoke detector” dalam jangka waktu panjang akan menyelamatkan harta dan jiwa.

Session kedua adalah inti dari pelatihan yaitu cara penyelamatan diri dari helikopter. Disebuah kolam sudah digantung replika helikopter. Kita akan memasuki helikopter ini dengan pakaian kerja lengkap yaitu “werkpak” , tetapi sepatunya pakai sepatu keds. Ada bedanya, kantong¬† “werkpak” – sudah dijahit rapat-rapat sebab beberapa kejadian kantong ini terkait pada badan pesawat sehingga mengganggu operasi penyelamatan.

Helikopter perlahan-lahan ditenggelamkan sampai penumpangnya ikut tenggelam. Lalu saat yang dinanti yaitu “heli seperti menjejak dasar laut” alias berhenti (simulasi baling-paling heli sudah tidak berputar) maka kami keluar melalui pintu darurat, jendela – sesampainya dipermukaan lalu mengembangkan pelampung. Banyak kejadian para peserta mengembangkan pelampung saat masih berada didalam pesawat sehingga mereka tidak bisa keluar, begitu juga teman lainnya. maka tak heran anda mendengar kecelakaan pesawat ampibi hanya gara-gara seorang penumpangnya tersangkut (terjepit) pintu keluar.

Bila latihan ini berhasil, maka lain kesempatan heli di guling-gulingkan dalam air. Inilah yang sering membuat peserta “lupa diri” alias bingung menentukan apakah kepala kita berada diatas atau dibawah. Sekali lagi ketenangan amat diperlukan dalam situasi demikian. Setelah berhasil keluar, latihan ditambahkan dengan berpelukan menunggu bantuan tiba, lalu naik ke pelampung, melepaskan satelit “bacon” untuk minta pertolongan.

Bagian paling sulit adalah simulasi jika kita harus naik ke kapal penolong yang besar dengan bantuan jaring tali mirip jala gawang sepakbola (tapi bukan). Nah dengan kelebihan berat badan seperti saya, naik tebing sepanjang 3 meter seperti siksaan sekaligus pelecehan terhadap berat badan.

Fremantle 24/1/05

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “HUET – Helicopter Underwater Escape Training

  1. Mas Mimbar Seputro Yth.,
    Selamat. Tahniah untuk karya Weblog-nya. Mudah2an masih ingat saya, anak TM dari Bandung tea – yang sering berkunjung ke Jogya waktu sampeyan kuliah dulu. Saya mau tanya apakah sampeyan punya kompilasi ketentuan HUET, berapa lama harus diperbarui (menurut standard perusahaan mana). Kenapa setiap operator lepaspantai punya standard berbeda, ya. Terima kasih. wassalam. Prijo di Depok.

    Jawaban:
    Mas Prijo Hutomo – yang masih saudaraku. Kadang Huet sampai 2 tahun, tapi ada yang 3 tahun. Bahkan selain HUET kami di Australia masih harus memiliki pas masuk “MSIC” – terimakasih

    Like

  2. Pak mimbar…
    judulnya itu HUET
    tp yg diceritain kok malah Fire Fighting
    kayaknya asyik jg yg HUET-nya diceritain
    lumayan, megap2 dibawah air yg choppernya tenggelam
    kalo di samson tiara, sampe 6 kali tuuuh megap2nya hehehehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s