Posted in australiana

Sambel Goreng Tempe dan Teri


Date: Wed Dec 21, 2005 1:23 pm

Harlogie di pergelangan tangan kiri sudah menunjukkan pukul 02:00 dinihari waktu Denpasar, tepatnya di ruang tunggu Bandara Ngurai Rai. Saya menyoba tetap terjaga karena satu jam lagi boarding dan bersiap melakukan perjalanan selama 4 jam.

Iseng Laptop saya buka, namun jangan harap anda dapat sambungan wireless disini, suatu hal yang dianggap standar kalau sudah menyebut diri “Airporto Internacional” – Lantas saya celingukan cari penyedia Internet yang biasa mangkal di dekat WC ujung barat airport. Namun Warnet dengan tarip “bule” dengan harga super-express punya yaitu 10 ribu per 10 menit dan extra time 5000 rupiah permenitnya namun kecepatannnya bak “suster ngesot” nampak sudah kukut-kukut-tutup entah sejak kapan.

Kuterbarkan pandangan sekeliling. Bandara Ngurah Rai yang siang-pun terkesan sepi, kini nampak sesenyap kuburan tua.

Tidak jauh dari saya ada dua ibu-ibu, karena penampilan bisa mengecoh saya tidak berani menuding mereka sebagai TKI. Mereka bicara lirih sehingga daya penerimaan saya sekitar “satu bar” – namun cukup untuk mengikuti pembicaraan walaupun kadang “blank spot”.

Nampaknya mereka membicarakan harga gelang di Airport yang mencapai 1000 dollar. Lalu yang muda bilang “duwit segitu enaknya panjer motor ojeG=. Dari logat dengan “G” yang kental kentara mereka berasal dari daerah “ngapak”.

Diam-diam langsung tumbuh rasa kekaguman saya. Luarbiasa daya juang mereka ini, kerja ke luar negeri dilakoni demi mengojegi keluarga di kampung halamannya. Kadang beresiko dicambuk, diperkosa, lebih buruk lagi terancam di gantung.

Lalu ketika pembicaraan zigzak ke “oleh-oleh”, yang lebih senior mengatakan “aku bawa kering tempe dimasak teri Medan” – dan beberapa makanan kering-kering basah lainnya, enteng saja seenteng pejuang partai kalau sedang mengobral janji.

Masyaallah, kantukku hilang, ini orang berani main-main dengan urusan sensitip di Australia. Pasalnya baru datang “mak-jleg”, anda sudah di “papag” anjing tekel pengendus barang beginian. Di ruang pengambilan bagasi, anjing yang berlainan akan dioperasikan untuk mengendusi tas anda.

Bagi yang merasa jijay-bajay dengan mahluk berkaki empat ciptaan sang Maha, karena alasan tertentu, ya maaf saja.

Dan Eng Ing Eng…..
Sampai di Negeri Sebrang, para ibu “sambel kering teri tempe” tadi mulai dibongkar bawaannya. Dari kotak plastik putih “Tupperware” masih dilibat karet dan saya bayangkan waktu dibuka tentu “mak sreng” aroma cabe, gula, amis teri, daun salam, bawang goreng, pesingnya tempe pasti bakalan menohok memberi salam “sugeng enjing” kepada hidung sang douane bule.

Tapi sepertinya mereka sudah mempersiapkan skenario “bagaimana-bagaimana-kemana-kemana” denhgan baik. Saya ikut melantunkan doa dari jauh namun tetap saja menanti “episode lanjutan..” – mudah-mudahan saya bukan dari mahzab kalau tetangga kena musibah justru nyukurin.

Jangan lupa di Australia produk pertanian seperti susu, daging, kulit, telur, bahkan aqua, diharamkan masuk kenegeri ini. Jangan salah raket nyamuk sudah masuk dalam barang larangan. Entah sengaja atau tidak mereka berdua saling tukar bahasa isyarat dan berbahasa sepatah dua patah bahasa, en barang “sambel teri kering tempe” bisa lolos tanpa masaalah.

Saya yakin masih ada sambal basah lainnya seperti sambel goreng tomat, apalagi untuk gender wanita yang umumnya kalau makan tanpa sambal rasanya kurang muantab. Eh “kandilalah” nimbrung pula petugas beacukai Australia berjangat sawomatang berbahasa mlipis. Ya uwis, nggak buka list arisan sudah bagus.

Luar biasa-luar biasa, itulah perjuangan para ibu pekerja kita. Di Indonesia berjuang meloloskan diri sergapan “timer” berbulu Imigrasi, calo kendaraan merangkap pembius. Di Australia, meloloskan diri sergapan pihak BeaCukai yang ketat. Dan mereka sukses. Kenekatan dua ibu, keberanian mengambil garis tipis antara aman dan resiko, perhitungan yang matang, strategi yang “joss” dengan berbahasa terpatah-patah ada bagusnya dijadikan semacam merek dagang cap “doea Iboe.” Oh ya soal anjing pengendus, nampaknya karena hari masih kepagian (04.00). Sang anjing (dan pawang) baru datang kemudian…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Sambel Goreng Tempe dan Teri

  1. wuih gila banget,si ibu itu. saya salut baget loh. saya yang dah tinggal di australia sudah lumyan lama aja, masih gak berani tuk menyelundupin makanan dari indo. dua ibu itu hebat banget dech.

    Mimbar: Lha saya yang degdegan, mereka berlindung dengan akalan ndak bisa bahasa Inggris kok lolos.
    padahal lima popmi saya langsung dirampas

    Terimakasih ya bu..(?) atas komentarnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s