Posted in bekasi, irah, keluarga

Burung Hantu dan Irah


Depan rumahku ada sebuah lampu hasil swadaya warga dengan cara menggantol listrik secara bebas, langsung dan sedikit rahasia. Penerangan jalan dimaksud agar “iseng.” istilah lain untuk hal yang bersifat senyap dan membuat bulu roma berdiri. Tetapi sejak saya di Bekasi, penerangan tersebut saya biarkan sampai lampunya “dut“.

Alasan lain, aku kurang sreg dengan penerangan liar ini sebab kalau ditelusuri ada sebuah kabel rahasia yang tersambung ke rumah warga yang memasang lampu tersebut. Rupanya ia tergoda untuk mendapatkan tambahan listrik gratis ke rumahnya.

Lalu aku menggantikannya lampu dari rumah yang dipasang sedikit menjorok keluar sehingga sinarnya mampu menerobos keluar pagar dan memberikan sedikit penerangan, sementara bekas penerangan kubiarkan terlantar.

Belakangan ini warga gempar, seekor burung hantu kerap bertengger di cagak bekas lampu.
Apa yang salah dengan seekor burung hantu mencari makan, atau ular yang kesasar kerumah saya. Ini desa “Rawa Bogo” ada pohon “Pasar Kecapi” ada hutan “Jati Makmur” – masih banyak pohon besar yang semoga tetap disana untuk memberikan perlindungan bagi habitat burung langsa ini.

Apalagi mahluk berjambul halus yang besarnya “adeb-adebi” ini sering berteriak “kreaaak” memecah kesunyian saat berhasil memperoleh salah satu rantai makanan berupa katak, tikus, ular atau serangga malam, sambil menyeruak diantara gerumbulan semak menuju pepohonan besar.

Tetapi bagi bagi warga apalagi Irah, 16, asisten Kitchen Cabinet. Kicau merdu mahluk tersebut sangat nggegirisi sebab jauh dari lagu “uhu-uhu suaranya merdu“.

Merdu apaan, katanya tubuh mungil berkulit hitam ini sambil menahan gemetar mendekati histeris. Sudah itu munculnya setelah magrib terbenam lagi.Sepertinya Irah tetap percaya ucapan turun temurun di kampung bahwa burung hantu “owl messenger” dari dunia demit ora ketok. Seperti “pre-alert” akan datangnya berita kedatangan batara Yamadipati.

Pokoknya burung Hantu adalah “ora ilok” begitu di benak gadis berambut sebahu ini, ia adalah jelmaan Nenek Sihir menyedot darah bayi-bayi yang terbuai dalam tidurnya.

Celakanya lagi dia baru saja bekerja untuk 3 minggu bersama kami sudah ringkes-ringkes minta pamit mundur. Maka repotlah kami membujukinya agar niatnya dibatalkan.

Keputusan Irah untuk “cabut” bukannya tanpa resiko. Maklum ia sudah bekerja saat usianya baru “retes” remaja pada 12 tahun. “Baru kelas lima, bapak menyuruh saya bekerja“.

Singkatnya ia diminta ambil alih tanggung jawab orang tuanya yang sehat bugar. Semua bukan untuk dirinya. Ayahnya terbiasa pasang tarif 400.000 rupiah yang diambilnya tiap bulan melalui BCA. Bila jumlahnya kurang atau uang sudah habis sang “pemerah anak” ini naik darah.

Pernah Irah berbohong bahwa gajinya kurang dari 400.000 lantaran sebagai perempuan ia ingin bersolek, bercelana legging, syukur punya handphone. Order dari kampung langsung menyengat.

Keluar segera dari “bendaramu” (bosmu) dan cari pekerjaan yang bergaji tinggi. Ini urusan UMR. Di Jakarta peluang bekerja sangat banyak… Entah setelah memutuskan hubungan SLJJ sang ayah juga cari kerja sesuai perkataannya? Irah hanya mengangkat bahu, namun artinya tegas “nganggur!.

Celakanya lagi adik perempuannya, saudara-saudara yang di Jakarta akan datang mengeroyok Irah dengan kata-kata ala Ustad dan Ustadzah kita kalau menakut-nakuti umatnya. Orang yang tidak berbakti kepada orang tuanya bakalan kuwalat dan masuk neraka. Tetapi orang orang tua yang memaksa anak kelas 5 SD menjadi penopang hidup keluarganya aman-aman saja duduk dimeja judi togel.

Debut karirnya ia menjadi babby sitter. Mengantarkan anak taukenya ke sekolah. Betapa gembira sang anak kalau sudah pulang sekolah, lepas tekanan yang melelahkan, apalagi boleh jajan. Sementara sang pemomong, bibir senyum namun hati teriris, ia hanya bisa membawa buku sekolah orang lain. “Alangkah bahagianya bisa bersekolah. Duh Gusti…

Sebuah cita-cita yang dinafikan oleh umumnya para pekerja kasar.

Di panggil pulang kampung

Lalu ada tilpun dari familinya, bahwa Irah harus pulang lantaran neneknya sakit, padahal sejatinya sudah meninggal. Nenek yang disayangi dan selalu membelanya dari tekanan ayahnya. Tapi biaya penguburan dan “selamatan” ia harus menanggungnya. Sehingga berita kematian diplintir menjadi “nenek sakit keras.”

Ira pulang lantas menunggu upacara tujuh hari seperti layaknya tradisi di desanya. Ia kembali ke Jakarta tatkala sang “pemerah anak” sudah mulai sering marah-marah. Sialnya, setiba di rumah tuannya posisi pemomong anak sudah diambil orang lain. Bahkan beberapa potong baju masih tertinggal disana. Ia jadi pengangguran, tinggal pada kontrakan sempit kerabatnya.

Itulah awal anak cerdas dan sigap gawe ini bekerja pada kami Maret 2006 ini.

****

Kalau saja Irah tidak rabun-komputer saya akan bilang, selain ada MSN Messenger ada Yahoo Messenger, ada OwlMessenger misalnya dalam cerita Harry Potter yang selalu mendapat surat, koran, bahkan titipan paket yang dibawa oleh Harriet sang Burung Hantu Putih.Kalau saja Irah sekolah, mungkin dia tahu bahwa sebagai binatang nocturnal (kelayapan diwaktu malam) sehingga bergelar sang elang malam ini didapuk sebagai simbol pengetahuan lantaran kemampuan matanya yang nyaris sempurna menembus belukar malam.

Andai saja Irah pernah baca sejarah mengenai Dewi Yunani yang selalu membawa Celepuk sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan. Burung Hantu yang terbang didepan pasukan Yunani selalu diterjemahkan sebagai “Victory.”Irah belum tahu bahwa dalam shamanisme, burung hantu dikaitkan dengan keadaan yang “waskita”. Kemampuan melihat sebelum terjadi, mendengar sebelum diucapkan.

*****
Di layar TV saat Basuki dengan cerdas mengiklankan SUKRO kami terpengaruh, dan meminta Irah beli di warung, melewati jalan tanah merah yang selalu ditimpa hujan setiap sore sehingga perlu pakai sepatu boot. Tapi yang paling menakutkannya disisi jalan ada kuburan keluarga, mana gelap lagi. Belum lagi cerita “sirik” bahwa salah satu tetangga kami memelihara jin untuk ambil alih tugas Satpam. Dan poskonya adalah kebun singkong di “belor” rumah. Belor adalah seBElah Lor. Tapi wetan tidak disingkat Setan.

Melihat wajahnya ragu-ragu saya melihat kesempatan membesarkan hatinya. Sekalian cari Majalah. Melihat saya besiap pergi, gantian, perempuan pecandu sinetron Cincin dan Leontin ini yang kuatir: “sudah malam pak!, nggak takut?”

“Entar kalau pulangnya badanku ada yang kurang aku kasih tahu kamu ya….” kata saya. Saya kadang harus sok-sok berani, sok pamer “bisa berdialog dengan dunia lelembut” – pasalnya persepsi masyarakat kadang mengacaukan sehingga mudah diterror dengan isu yang ditiupkan.

Dulu kantor saya dibilang ada penampakan. Sebulan kemudian, 10 set komputer diangkut maling.Lalu saya bilang, nanti kalau ketemu muka dengan si Celepuk ini akan saya tanya dia bawa surat panggilan atau sapu terbang. Atau ingin menyampaikan bahwa Visa Australia saya yang rendet jalannya bisa di proses.

Irah senyum ketika dia melihat saya pulang utuh.Irah adalah satu dari jutaan pembantu mencari peruntungan di kota besar. Mereka bekerja 30 hari sebulan, sementara ia sendiri mengambil 50.000 per bulan pun berbonus ketakutan. Mudah-mudahan Ira kerasan bekerja dengan keluarga Mimbar yang cuma 3 orang dan seekor Celepuk Jawa yang bebas.

Kreaaaaak…. (2 kali)

Bekasi
3/24/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Burung Hantu dan Irah

  1. Yen di kampung saya, yang mendapat kehormatan sebagai utusan bathoro Yomodipati bukanlah si celepuk alias “kokok beluk “ tapi manuk gagak, yang berbulu ireng njanges dan mata mencureng. Apabila ada manuk gagak yang koak kaok menclok wuwungan biasanya ibuku langsung ngeling-eling siapa kerabat yang sedang sakit.
    Tetapi kalau kokok beluk diwaktu lingsir wengi bernyanyi di wit witan pekarangan kita, ditingkah dengan suara burung bence, nah itu adalah pertanda ada durjono, maling kecu yang sedang mengincar rumah kita.
    Miturut orang2 tua banyak perlambang yang di wakili oleh binatang tertentu. Burung prenjak yang lincah bin crewet, kalau ngoceh mbudegne kuping, pertanda akan kedatangan tamu jauh. Kalau kejatuhan cicak cicak di dinding, harus mengucapkan istigfar berkali-kali karena itu pertanda buruk.
    Lain lagi kalau ada ular weling hitam putih berselang seling, sangat berbisa dlosor masuk di rumah kita itu pertanda ada “ujar” yang belum dilaksanakan ( ujar = kaul ) jadi harap di ingat-ingat, apakah pernah ber” ujar” akan nanggap wayang kalo si thole sembuh dari sakit.

    Kalau masuk kota Depok ada patung manuk bri ( garuda ) yang nggondol salak sak ombyok, itu perlambang apa ya, apakah si garuda jadi vegetarian ?.

    Salam,
    Endang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s