Posted in australiana, mimbar

Red Dog, anjing pengelana dari Pilbara


Hari diambang sore di kota Karratha, 1550 km utara Perth. Dari Perth yang dingin, penerbangan sekitar satu setengah jam menggunakan Qantas. Tiba di Airport ternyata tidak ada antrian taxi. Kita harus menilpun perusahaan tersebut. Taxi yang kami pesan baru datang setengah jam kemudian sudah itu mintanya jam-jaman.

Pemandangan mulai berubah sebab daerahnya mulai mendekati equator, dibatasi oleh gurun pasir. Kiri kanan jalan datar kadang berbukit ditemani berbunga rumput kering, sementara pohonan hanya satu-dua. Bukit batu yang terkelupas menyeruakkan warna hitam pertanda dimakan oksidasi. Bulan Juni tahun 2006, lalu lintas lengang hanya nampak beberapa menit sekali. Kendaraan 4WD umumnya warna putih, dengan tiang bendera tinggi-tinggi dibagian depannya salah satu ciri kegiatan pertambangan mineral.

Setelah memasukkan barang ke hotel ala caravan (backpacker) ini, saya keluar kamar menikmati hari menjelang malam. Ada pemandangan berupa sunset yang indah. Namun urung untuk mengabadikannya. Terlalu sering pemotret melakukannya.

Diantara kesendirian dirembang malam, hanya debu yang menyapa saya. Itupun sesekali karena memang jalanan Searipple hanya dilintasi kendaraan pertambangan sesekali saja.

Lalu pikiran saya menyeruak, menapak tilas bagaimana seekor anjing lokal mampu melakukan pengembaraan disepinya daerah seluas 510.000 kilometer persegi tanpa pernah tersasar. Dan ini setting tahun 1973 an.

SILANGAN KELPIE DENGAN CATTLE DOG

Sudah banyak cerita kita dengar dari beberapa tempat dan negara bagaimana anjing menolong manusia, misal saja St Benard yang dimanfaatkan untuk menolong pendaki gunung yang terperosok disalju (dulu), di Australia dari ras Labrador konon memiliki penciuman tajam sehingga mendeteksi pada penumpang yang bawa apel, jeruk, kacang mete dari negara lain.

Bahkan kalau setiap kali ada anjing “napsu banget” menggonggong. Bisa jadi ia sedang mendeteksi bibit kanker yang sedang tumbuh berdenyut pada seseorang kafilah.

Anjing adalah sobat manusia.. kata sementara orang. Tapi percaya tidak percaya didekati saja kita sudah ancer-ancer melemparinya dengan batu, sandal atau sumpah serapah. Di beberapa daerah malah berlaku peraturan plesetan dari -Kirik Mara Kirik Mati-. Di Yogya, kirik ucul (lepas), kirik sengsu.

Sebuah foto koleksi keluarga memperlihatkan tahun 1954 ketika saya berusia 1 tahun duduk di sepeda roda tiga yang didapat dari ayah. Rambut saya di jambul persis temannya “Sapron” yang selalu mencari ibunya yang menurut sang ayah, ibunya berasal dari Tegal, tapi mencarinya di Bekasi. Dalam gambar, saya yang gemuk-inuk-inuk memandang kamera sambil leher saya dikalungi selampe penadah iler. Di belakang nampak seekor anjing kecoklatan berdiri. Lahir di Banten (tau sendiri), di miliu yang seperti saya katakan diatas, lantas memelihara anjing. Bapak mestinya berani tampil beda.

Namun di kawasan Pilbara – ini Jabotabeknya Australia Barat, pernah hidup seekor anjing yang tidak pernah suka memiliki tuan. Dan kegemarannya mengembara dari satu kota kekota lain, biasanya menetap sementara disana untuk satu minggu kemudian meneruskan pengembaraanya.

Pada 1971 dari persilangan dua anjing Australia jenis Kelpie dan Cattle Dog, lahirlah Tally Ho dengan bulu kemerahan disuatu kota kecil bernama Paraburdo. Jujur saja, saya bukan pengamat anjing. Cattle dog ini sebetulnya “Dingo” alias ajak Australia yang dijinakkan sehingga dari urusan merencah ternak, menjadi penjaga ternak.

Aufsdauer “daya tahan” tubuhnya dan kemampuan jelajah Tally mulai nampak ketika ia mampu berlarian dari Airport Paraburdoo ke rumahnya tanpa kelihatan letih layaknya anjing biasa, padahal jarak tempuh tak kurang 7 kilometer. lebih dahsyat lagi selera makannya menandas tuntas 1 kaleng besar makanan hanya dalam hitungan 9 detik.

Saat berusia 18 bulan, pemiliknya pindah dari Paraburdo ke Dampier.

Tally menempati trailer yang ditarik di belakang kendaraan tuannya. Ia harus di kerangkeng sebab sejak kecil ia paling tidak suka dirantai, Sang pemilik menuturkan saat sampai di Dampier, kecuali matanya, semua badannya kemerahan tertutup debu jalanan. Perjalanan darat sejauh itu dimana pada 1973 sebagian jalanan belum seluruhnya beraspal. Namun pemiliknya tidak menyadari bahwa Tally sedang merekam perjalanan. Membuat peta dalam benaknya dan merencanakan safari suatu hari kelak.

Di Dampier lantaran dekat laut, kalau sore, Tally diajak berolah raga sambil jalan-jalan cari udara segar dipinggiran laut. Sementara sang pemilik mencuci mata di pantai, mopi menyelinap diantara pengunjung dan menjadi tamu tak diundang pengunjung pantai yang berbekal sandwich, sosis, hamburger, atau steak. Napsu makannya yang besar seperti terpuaskan disini.

Merasa jalan hidupnya menjadi anjing lepasan Tally memutuskan tally-silaturahmi dengan tuan pertamanya. Kalau ditanya paling alasannya “makan dijatah Beh!.” Tally juga tahu bahwa dia harus cari makan sendiri. Ini tidak mudah lantaran dia terbiasa bangun tidur sudah ada suguhan nyam-nyam. Target operasi pertamanya adalah perumahan para bujangan pekerja Tambang Besi dan dijamin tidak bakal jadi RW.

Lambat laun Mopi juga belajar bahwa pekerja ini setiap pagi pergi kerja ketempat yang puluhan kilometer jauhnya. Lalu ia mulai mencari cara agar bisa liften di Bus Pekerja. Kok ya supir bis amat berkenan dengan Tally bahkan lama-kelamaan dia sudah “ngeset” tempat dibelakang supir sebagai teritorialnya.

Dasar reseh kalau yang berani mengambil tempat duduknya bakal tak berhenti dia menggugug.

Namun persahabatan tak berjalan lama, supir tewas dalam satu kecelakaan mobil. Tally yang tak tahu apa sedang terjadi mulai kebingungan mencari sahabatnya. Setiap bubar pabrik, dia menyeruak diantara kerumunan pekerja tambang yang pulang kerumah untuk mencari sang teman yang tidak pernah menyapanya lagi.

Supir bis kemudian diganti. Sayangnya ia kurang suka binatang. Tally diusir ketika hendak menumpang. Rupanya, justru sang penumpang bis yang memprotes kebijakan supir. Supir mengalah dan Tally lagi-lagi menjadi penumpang tetap dalam bis. Tally berhasil mempelajari cara “liften” alias membonceng para warga yang membawa kendaraan sendiri. Kalau didekatnya ada kendaraan membawa bocah, ia mulai mendekati sambil cari perhatian. Biasanya usahanya berhasil dan Tally diajak naik mobil mereka. Atau ia akan menunggu di lampu merah.

Dan herannya ia kenal persis satu persatu alamat mereka. Sehingga ia bisa meneruskan perjalannya dari satu tempat ke tempat lain yang puluhan sampai ratusan kilometer jauhnya. Juga seperti tahu bahwa disuatu tempat akan ada keramaian seperti bazaar, komidi putar. Dia pasti akan hadir disitu mengamati aktivitas keriaan sambil leyeh-leyeh tiduran di kolong meja atau dibawah pohon.

PENGALAMAN IBU RUSSEL

Pada Juni 1978, ibu Russel menjemput anak remajanya dari pesta disco di Walkabout Motel di Karratha. Di dinihari ia harus “stuur” sendiri. Saat keluar dari Motel, ia melihat Tally berbaring ditengah parkir. Karena tidak asing akan mahluk berbulu coklat ini ia mengajaknya naik mobil. Lalu Tally diantar pengemudi baik ini di pagi buta ke Poons Camp di Karratha tempat biasanya ia bermain disana. Lho kok Tally menolak turun. Ibu membawa Tally ke Wet Mess di Dampier 20km jauhnya dari tempat semula. Masih menolak juga. Wet Mess adalah bahasa orang Karratha kalau menunjuk tempak bar minum-minum sampai tempatnya basah kena muntah.

Baru setelah sampai di Mess para bujangan Hamersley-Iron, ia berkenan lengser. Dan sebagai tanda terimakasihnya ia berlarian mengekori mobil dari belakang sebelum menghilang.

Menjadi anjing jalanan, tak putus dari penganiayaan dari manusia yang sangat membenci anjing, namun juga tak terhindarkan perkelahian dengan anjing jantan lainnya.

PINDAH TUAN

Suatu malam Tally kedapatan terluka diruas jalan antara Dampier dan Karatha. Kali ini pekerja Tambang Garam yang kebetulan menemukannya tergeletak di jalan. Setelah dimandikan dan diberi pengobatan secukupnya lukanya sembuh, apalagi setelah diberi Coklat. Tally mendapatkan teman barunya dikelompok penambang garam. Disini mopi si “red-dog” berganti nama aneh menjadi “bluey” alias “si Biru”. Mungkin mirip kita memanggil bleki (hitam), kepada anjing coklat.

Bukan itu saja ia dijadikan anggota kehormatan persatuan buruh disana dan dibukakan sebuah rekening bank atas namanya. Si Merah yang sekarang si Biru juga cepat belajar bahwa kalau ia luka sehabis berkelahi mempertahankan teritorial atau lantaran musim kawin, tempat perawatan terbaik adalah Mes Penambang Garam. Ia gemar bermain dengan keluarga yang dipondokinya, gemar bermain dengan binatang peliharaan lain, tapi karena ‘anak jalanan”, cara bermainnyapun cenderung kasar dan menyakiti. Anak tuannya sering ditemani bermain. Misalnya menerbangkan pesawat terbang bermesin yang mahal tentunya. Tally ikut menikmati permainan dengan caranya sendiri, yaitu melompat sambil menangkap pesawat dan digulung-gulung disemak. Jelas saja sang pemilik pesawat “not happy”. Lebih konyol lagi, sudah numpang dia lebih galak daripada anjing peliharaan tuan rumah.

Kalau isengnya muncul, dia dengan enaknya menyetop mobil yang lewat, lalu duduk dibangku depan samping pak supir. Sambil minta jendela dibuka agar moncongnya bisa keluar menikmati segarnya angin. Kalau dirumah keluarga yang ditempatinya memiliki air conditioning, ia akan betah berlama-lama disitu. Cuma tidak sampai seminggu ia sudah minggat mencari pemandangan baru. Tak jarang ia harus bertarung melawan anjing lain dalam komplek tersebut, demi memperebutkan teritorial.

DI BEZOEK WARGA…

Si merah kedapatan luka parah dengan dua peluru dikakinya.

Berita cepat menyebar sehingga puluhan orang datang menjenguknya. Tak lupa memberikan saweran untuk ongkos pengobatan. Setelah dijumlah, antara biaya pengobatan, hotel, akomodasi para penggemar si Merah, jauh lebih mahal daripada jika mendatangkan seorang ahli bedah otak ke lokasi. Itupun belum termasuk biaya saweran 250 dollar yang dikumpulkan secara spontan oleh warga Pilbara.

Banyak tempat yang dijelajah anjing ini, mulai Roebourne, Poin Samson, Port Hedland, Broome bahkan sampai Perth (anda membayangkan 1550 kilometer perjalanan).

Lucunya pada saat ia menumpang sebuah mobil, tiba-tiba buru-buru melompat turun, dan sembunyi dalam semak sampai mobil meninggalkannya, ia baru keluar dari persembunyiannya. Dia jelas tidak membaca peraturan “Drink dont Drive” tapi instinknya mengatakan bisa “kacau” kalau nanti perjalanan diteruskan bersama supir mabuk.

Suatu kejadian sebuah mobil melewati limit kecepatan 80 km/jam sehingga distop Polantas. Ketika ia menjenguk red-dog dalam keadaan sakit dan perlu segera dibawa ke dokter, ia membebaskan sang pengemudi dari tindakan tilang.

ANTI TONG SAMPAH
Ini hebatnya, dia tidak pernah makan dari tong sampah. Ia selalu diberi milk-shakes, sosis, hamburger kalau ia berada di pertokoan atau sengaja mampir dan menginap dari rumah ke rumah. Kesukaan utamanya adalah T-bone steak. Kalau ia sudah melihat makanan ini, diganti makanan lainnya pun ditolak. “Hopo tumon” – ditempat kita dia sudah diberi supata “Asu gak tau diri kowe”

Anjing ini juga mencintai laut. Apa karena tahu bahwa kata anjing geladak adalah anjing yang mengembara dari geladak kapal satu ke lainnya. Kadang nampak dalam perahu para nelayan yang melaut. Salah satu kota wisatanya adalah Point Samson. Biasanya 6-7 minggu sekali ia datang kepada nelayan yang baik hati kepadanya. Mereka berkomentar “not a pretty dog but he certainly captured the heart of many.” Mana ada anjing geladak berdebu, bulunya botak-botak karena luka, berangasan lagi dibilang cantik. Tapi soal ia mampu mengambil hati penduduk itulah keistimewaannya.

INSPEKSI KONTES ANJING

Sekali waktu ada kontes anjing cantik, setia dan sopan. Tiba-tiba ia muncul, menghampiri meja juri, seperti meledek ia lalu mendatangi anjing peserta show yang sedang siap berlaga lalu kembali lagi ke meja juri sebelum meninggalkan mereka. Bayangkan bagaimana komentar pemilik anjing melihat penampilan si Tally.

Perkelahian demi perkelahian yang dihadapi disamping usia menua, membuat gerakan red-dog mulai terlihat lamban. Bekas dua peluru yang bersarang dikakinya membuat kakinya semakin kaku digerakkan. Warna merah bulunya mulai berubah putih.

Hari Sabtu 10 November 1979, diperkirakan si merah memakan umpan bercampur racun strychnine. Warga yang menemukannya ia tak berdaya di jalan segera menepikan mobilnya dan membawa sisakit ke rumah sakit terdekat. Sialnya, dokter sedang bepergian ke luar kota padahal dikota kecil Dampier, ia satu-satunya ahli. Melihat kondisinya yang parah menurut aturan setempat ia boleh dibebaskan dari siksaannya. Ia lalu dibawa ke kantor Polisi, biasa disitu ia akan ditembak. Tapi polisi yang bertugas piket tak sampai hati menembaknya lantaran iapun menyayangi mahluk jalanan ini.

Baru sehari kemudian dokter datang dan memberikan pengobatan seraya mengurung Tally agar mengambil istirahat sambil memulihkan kondisinya.

TETAP INGIN BEBAS SAAT AKHIR HAYATNYA

Tapi Tally yang selalu ingin bebas, sekalipun masih lemah dan bergerak secara tertatih serta meraba-raba karena mulai buta toh berhasil melepaskan diri dari ruang perawatan. Ini memang karakternya yang “warrior” – kadang ia datang berkunjung ke rumah dokter, sebetulnya karena menderita luka. Namun saat lukanya akan dibersihkan dan dijahit, Tally menunjukkan sikap tidak butuh pertolongan, bahkan memberikan cakaran dan jab-jabnya kepada sang penolong.

Berhasil membuktikan bahwa “ia sehat” – Nampaknya si Merah ia ingin menuju satu hotel, namun lagilagi terjungkal pingsan ditengah jalan. Rupanya muntah-muntah dan kejang-kejang tadi membawa kerusakan otaknya. Segala upaya dokter tidak membawa hasil, bahkan kesehatannya makin memburuk. Setelah koma selama 3 hari, pada Selasa 20 November 1979, dengan sedih dokter memberinya bius agar ia tidur selamanya.

Kalung dan peningnya disimpan oleh keluarga drH Rick Fenny, “tag” atau pening tersebut terbaca “Red Dog” – “Bluey” pada bagian muka dan pada bagian belakang tertulis “I ve been everywhere mate.”

Drh Fenny begitu kesemsem kepada Tally lantaran sewaktu ia praktek pertama kalinya di kota Dampier, anjing ini kerap menjadi pasiennya. Hanya herannya setiap kali datang dengan tuan yang berbeda. Ia baru ngeh bahwa Tally bukan milik siapa-siapa, namun rasa nurani warga Pilbara pada khususnya, atau Australia pada umumnya tergerak manakala melihat sebuah mahluk notabene “ciptaan maha pencipta” teraniaya oleh orang lain. Dalam hal yang lebih luas lagi terlatih kepekaan sosial akan penderitaan bangsa lain.

MONUMEN UNTUK SI “RED DOG”

Kematiannnya membawa kesedihan luar biasa bagi yang pernah mengenalnya. Teman-temannya yang merasa pernah bertemu disuatu kota lain, saat ia mengembara beramai-ramai mengumpulkan dana. Lalu uang yang berhasil dikumpulkan dibuatkan patung Red-Dog dari perunggu yang sedikit lebih besar daripada aselinya dan berdiri diatas 10 ton batu besi. Patung menggambarkan sikap tubuh Tally ketika berjalan melintasi sungai, semak menuju dengan penuh percaya diri.

Monumen tersebut berinskripsi:

RED DOG
The Pilbara Wanderer
Died November 21st 1979
Erected by many friend during his travel

Pematungnya, nyonya Forrest, saat pembukaan selubung pada 14 Desember 1980, didepan TV dan media lainnya mengatakan, saya bangga bisa mematungkannya sebagai penghargaan terhadap jasanya menghibur para pionir Australia menjadikan hidup mereka lebih gembira dengan kehadirannya diantara kita. Juga sebagai kenangan indah bahwa bangsa ini pernah menjadi mahluk sosial yang begitu akrab kendati dengan binatang, sebelum akhirnya melesat menjadi mahluk yang acuh tak acuh terhadap sesama.

Kalau anda satu saat sempat berkunjung ke Karratha, pihak pengelola Airport menjual Stikernya. Bahkan penggemar mobil OffRoad setempat mengambil nama Red Dog untuk mereka.

Karratha
Friday, June 7th, 2006

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Red Dog, anjing pengelana dari Pilbara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s