Posted in arch, plengkung

Plengkung (barrack) juga ada di Perth


Kadang saat di Palembang, saya tergopoh gopoh mengajak supir keKertapati, dimana dengan harapan bisa mengingat masa kecil bermain disungai Musi dengan ikan berenang dibawah lenganku. Pendeknya mau mengingat keadaan “sengsara membawa samsara (parfum wangi).”

Lho kok daerah tersebut sudah berganti perumahan. Wah “tiwas-dandan”kata Waljinah dalam lagu Tanjung Perak ciptaan Gesang. Saya ngotot, dari Kertapati, 7Ulu kami meluncur ke komplek Pertamina Baguskuning tempat saya kecil juga, sekalian mau lihat rumah Marissa Haque sampai tuntas tas tas (terus apa maksudnya dan tidak nyambung). Eh kok rumah panggung yang mau saya lihat juga sudah di “demolished” – Baru ketika ke Asrama Brimob Bukit Besar, sekalipun agak bingung karena sudah berubah. Saya masih melihat sepenggal rumah (dinas) yang pernah kami tempati.

*****

Maka ketika di Perth saya membaca jalan Barrack, maka sepanjang jalan itu juga saya susuri tanpa tembakau mencoba mencari dimana lokasi asrama para “digger” alias tentara Australia – yang sangat khusus kalau mendatangi kerusuhan di TimTim. Digger adalah gelar yang diberikan kepada para prajurit Australia saat perang Gallipoli (PDI), sebab tugas utama mereka adalah menggali parit-parit pertahanan.

Terbayang bentuk bangunan memanjang dengan atap melengkung terbuat dari seng tebal ala barakyang pernah saya saksikan di Biak.

Apalagi kantor saya di Perth berada pada lokasi jalan St Georges Terrace yang diujungnya ada plengkung Barrack.
Sekali lagi saya menelan pil pahit kekecewaan sebab barak tersebut hanya tersisa plengkung (archway) yang terdiri dari tumpukan bata tanpa diplester. Lho kok persis gebyak dekorasi kethoprak SanaBudhaya, dari luar nampak Kraton, dibelakangnya “amben.”

Sehingga tidak ada legenda membuat benteng campuran semennya pake telur (maksudnya yang pekerja bangunan tersebut lelaki bertelur semua)

SISA LASKAR BAYARAN

Plengkung setinggi 16,5m ini hanyalah sisa dari sebuah tangsi militer tentara Inggris. Nyaris dihancurkan pada 1966 demi pembuatan jalan raya. Untungnya para penghuni tangsi dan masyarakat sadar benda sejarah menghalangi perusakan “manusia bodoh” tersebut sehingga kita bisa menyaksikan bagaimana kemegahan bangunan tersebut.

Terbayang kalau apel pagi diiringi suara terompet dan tambur ditabuh perlahan “dram dram dram.” – lalu sang komandan duduk diatas pelana kuda yang baik jalannya dengan pedang panjang di pinggang kirinya.

Dalam lembaran kerajaan memang tertulis bahwa barak militer sebaiknya berada dipusat kota, agar bilamana terjadi kerusuhan mereka cepat melakukan “steling” – Hal ini terjadi misalnya barak militer di Grogol yang menjadi Roxy Mas, sekalipun janjinya akan dibuat rumah sakit. Atau perumahan para petinggi militer di jalan Siliwangi.

Australia yang sekarang ini, dulunya adalah tempat pembuangan para napi (convict) klasifikasi residivis kambuhan. Kedatangan para anak rantai ini dikawal oleh bekas tentara bayaran Inggris yang umumnya veteran perang Krim atau penakluk tanah jajahan di India. Mengingat para penjahat mejalani hukuman seumur hidup, maka seumur-umur para pengawalnya berada mengawasi mereka sehingga saat pensiunpun mereka memilih tinggal di Australia menjadi petani karena diberi pensiun berupa tanah yang luas. Lalu tahun 1863, ditandai dengan penghunusan pedang maka dimulailah pekerjaan pembangunan Barrack atau tangsi untuk para pengawal ini tinggal bersama keluarganya. Di atas tanah seluas 6.48 hektar.

Dua juta bata, 17000 drum kapur, 6 ton paku, 27000 kaki kayu mahoni, 500 kilogram bulu sapi belum termasuk kaca dihabiskan untuk pembangunan ini. Untuk keindahan kota dipasang sebuah jam gandul yang bisa dilihat dari kejauhan. Kapasitas tangsi mula-mula untuk 50 keluarga. Masing-masing memperoleh dua kamar berukuran 3.88m x 3.66m. Dan dua puluh kamar untuk bujangan16,66mx7,77m). Sementara lihatlah para ibu, Sersan Mayorku mendapat jatah 3 kamar besar. Pilihan pas untuk dijadikan menantu.

Drama terjadi pada Desember 1887, mungkin para ibu asik “didih” cari kutu dengan istri tetangga, lupa air sedang dijerang. Jago merah mengamuk menghancurkan barak dan jam megah yang dipasang diplengkung diambil untuk direparasi namun entah mengapa malahan diubah menjadi sebentuk jendela. Sampai tahun 1904, barak ini masih dihuni. Kemudian diambil alihPerusahaan Air Minum. Sebelum akhirnya ditinggalkan karena sudah tua. Alasan lain, para digger bayaran sudah sebagian pensiun dan meninggal dunia, sementara tugas pengawalan penjahat diserahkan kepada kepolisian yang reguler. Mereka sudah tidak melihat keberadaan para askar tak berguna ini. Maka ketika pembangunan jalan raya St Mitchell dan pelebaran StGeorges Terrace berjalan. Apalagi karena akan dibangun gedung DPR. Pada 1966 tangsi ini dihancurkan. Untunglah bagian Plengkung atau gerbang masuknya bisa diselamatkan.

Sekarang jalan Barrack dikenal sebagai komplek pertokoan dan Mall diPerth. Cerita anak Tangsi yang konon “ndugal” gemar berkelahi (kecuali saya).. terhapus sudah.

Tuesday, July 04, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com/
Mimbar Bambang Saputro

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s