Posted in kedai, nasi, nasi goreng

Nasik(k) Goreng Lebaksiu – Kar’na Aku Ingen


Salah satu pilihan kedai ini adalah Nasi Goreng Kambing MUda
Salah satu pilihan kedai ini adalah Nasi Goreng Kambing MUda

Bangunan yang terletak di jalan Jatimakmur PondokGede ini dominan dengan warna dominan kuning gading ini mengingatkan saya akan kedai es yang terkenal. Namun yang ini tulisan besar tertera “LebakSiu – specialnya nasi goreng…

Special apaan, batin saya. Soal Martabak Mesir, Lebaksiu memang Jagonya. Ibarat wasit tinju keputusan sudah tergolong “Anymous Decision” sudah menang telak.

Tapi soal nasi goreng? Bukannya tidak percaya, tapi telinga masih kurang intim mendengarnya. Lain halnya dengan Nasi Goreng Tegal, ibarat kata tiada keraguan didalamnya.

Pasalnya kalau dengar soal nasi goreng ibarat genderang perang ditabuh diiringi lagu personel Dewa “Karna Aku Ingen

Sudah banyak nasi goreng dijual orang, tetapi kumpulan hurup “LebakSiu” bak magnet menyedot perhatian saya. Pertama apakah kata-kata ini masih ada hubungan dengan AngSiu, CarSiu yaitu sejenis masakan Cina yang biasanya diemohi oleh sebagian besar kita, bahkan mendekatpun pada girap-girap- hiiy .

Papan Nama Lebaksiu dipinggir jalan JatiKramat
Papan Nama Lebaksiu dipinggir jalan JatiKramat

Tetapi bahasanya itu lho yang attraktip spektakuler – Specialnya Nasi Goreng, sepertinya bukan keluar dari perbendahaaran orang Hoakiaw yang biasa bicara langsung menohok.

Hujan pertama mengguyur ruas jalan JatiMakmur – Pondok Gede, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, lagi-lagi saya melintas didepan kedai LebakSiu-spesialnya nasi goreng. Jaraknya kurang 100 meter dari bekas plasa RAMA. Langsung saja saya masuk ke halaman kedai ini. Rupanya mereka memang menyediakan pelbagai jenis nasi goreng dengan porsi menendang sampai perut suduken (sampai pegal).

Busana pelayannya mirip kedai Ayam Goreng yang diemohi beberapa ibu-ibu kita lantaran sebagai “protes diam” atas “show of penis” pemiliknya.

Menu sangat beragam. Nasi goreng biasa, spesial, udang, cumi, kambing, pete, sosis, seafood, ayam, ikan asin jambal, ikan teri medan, nasi goreng super. Bahkan ada nasi goreng vegetarian sehingga cukup membingungkan.

Bolak-balik menu saya baca, ujungnya saya menyoba nasi goreng-kambing, dan memang daging yang dihidangkan adalah kambing muda empuk seperti leleh ketika sampai di mulut. Inilah masakan dengan pendekatan masakan Cina namun label “halalan thayiban.”

Bedanya saat keluar kedai ini, kita tidak perlu sangu sebotol air kemasan lantaran kehausan terkena Chinese food syndrome. Apalagi teh gratisnya harus saya peringatkan kepada anda, rasanya pahit-pahit-sepet dengan aroma bunga melati mirip teh Potji.

Di luar itu LebakSiu, yang kalau Jumat buka jam 14:00 ini bisa melayani delivery di nomor masih sedia mie bakso, bakso kuah yang mereka klaim sebagai masakan yang baru..

Lebaksiu adalah nama sebuah kecamatan di Tegal. Dalam konon sejarah disebutkan sebagai tempat “larinya” Sultan Amangkurat II dari Yogya ke Tegal Arum. Mungkin juru masak kesayangan sultan lantas  pejah gesang nderek sang Bendara (tuan). Akhirnya menetaplah mereka di LebakSiu sambil menurunkan kemampuan memasaknya.

Semula pedagang yang berasal dari Lebaksiu sohor atas sate kambing dan martabaknya. Kalau anda berjalan dari Tegal-Slawi menuju ke Bumiayu-Purwokerto maka akan melintasi dua tikungan tajam. Tikungan pertama adalah Lebaksiu dan kedua di Banjaranyar.

Persis di tikungan Lebaksiu akan dicegat oleh warung sate kambing. Potongan dagingnya “gede-gede” dan “empuk.” Adalagi makanan berupa sate “Onan”– ini bukan urusan esek-esek swalayan. Sate “onan” artinya tidak pake tusuk tapi ditimbang berapa “ons” beratnya kemudian dibakar.

Dulu pada tahun 1970-an saat tentara Republik kita meluruk Timorleste, para punggawa Lebaksiu ikut cancut taliwanda – gulung lengan baju. Tentara angkat senjata, warga Lebaksiu angkat penggorengan dan menyerbu pasar disana.

Ah saya keluarkan dua lembar dua puluh ribuan untuk empat porsi makan nasi goreng termasuk minumannya. Hampir tak mampu berdiri lantaran kekenyangan. Toh keponakan masih teriak “bulan depan balik lagi..Ya pakde – Nasi Goreng para Sultan Je!”

Alamat Jalan Jati Makmur No 70B Sahabat-Pondok Gede.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Nasik(k) Goreng Lebaksiu – Kar’na Aku Ingen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s