Posted in kentardjo

Lukisan Kentardjo


Tidak banyak yang tahu bahwa Kentardjo, ilustrator NagaSasra dan Sabukinten juga banyak mengerjakan ilustrasi untuk buku-buku lain. Saya mendapatkan gambar ini dari salah satu puterinya yang kerap saya panggil mbak Estu Brataningsih  yang kini tinggal di Amerika.
Beruntunglah dari ibu berputeri satu ini saya bisa menampilkan karya-karya besar pak Kentardjo ini.

Mimbar Bambang Saputro
Posted in bebek goreng, nasi, nasi goreng, nasi kucing, nasi uduk

Tol Jati-Asih dan Warten Ketupat Sayur


Ada yang berubah di kawasan Jatiasih-Pondok Gede semenjak bulan September 2006, raungan remaja para penikmat trek-trekan (balapan liar) sepeda motor “bebek” yang biasa unjuk gigi pada sore hari, sudah tidak nampak memenuhi ruas jalan tol Jatiwarna – Jatiasih. Sayapun kehilangan lokasi olah raga pagi yang sangat luas, beraspal, alias jalan tol. Pasalnya, se(MEN)jak ruas tol ini sudah dibuka dengan ongkos dua ribu rupiah, untuk satu trip, maka pejalan kaki harus merelakan memperkuat otot tubuhnya cukup dipinggiran jalan tol. Sebuah fasilitas mewah yang gratis, usai sudah. Menurut penjaga pintu tol, seminggu menjelang lebaran, ruas tol menuju Cikampek akan dibuka dan seminggu setelah lebaran akan ditutup. Jadi kemungkinan besar anda para pemudik lebaran 2006 akan melalui rumah saya. Di mulut pintu tol Jatiasih, ada wartend Ke(t)upat Sayur yang sepertinya tak putus dirundung pelanggan dari kelas roda dua sampai roda empat. Umumnya pekerja “komuter” dari Bekasi -Jakarta dilihat dari wajah yang letih, berlemak, jaket tebal, baju yang kusut dan cara makan yang “ngethekut” alias lahap tanpa koma.. Ketika harlogie mendekati digital 23:00-an, pas perut tiba-tiba lapar. Saya langsung parkir di halaman komplek yang cukup besar. Sebuah service komputer memajang spanduk dengan nomor Jalan JatiAsih No50A. TKP antara pintu masuk dengan pintu keluar, utara jalan Raya Jatiasih. Tapi tirai Tenda Ketupat Sayur cabang Kebun Jeruk, menulis singkat Jalan KomsenD (pakai D). Siang hari, tempat ini adalah arena para montir mobil. Sebuah kuali logam ukuran jumbo nampak sarat dengan kuah dan potongan daging seperti usus, ginjal, hati, babat, yang begitu empuk sehingga kalau kata orang Citayam “kagak ngelawan kalau ditimpali garpu” maksudnya begitu lunak. Tatkala saya menghempaskan tubuh di bangku kayu panjang, sambil meraih sebungkus emping melinjo, kulirik wajan bak sungai dimusim kemarau. Kuah dan daging tampak mulai surut. Lha rak tenan. Dugaan saya betul. penjual mendeklarasikan kebulatan tekad bahwa bahwa Ketupat Sayur tandas. Maklum banyak yang membawa makanan dalam tas kresek hitam, untuk disantap di rumah. Saya bicara mengenai jurusan Ketupat Sayur. Sajian lain yang tersedia disini adalah bebek goreng, tahu, tempe, memenuhi etalase kaca sehingga pembeli tinggal main tunjuk apa yang diinginkan. Yang istimewa adalah usus dan ampela bebek, digoreng kering sampai begitu renyah. Masakan ini memang teman baik lauk nasi uduk. apalagi ada sambal colek kacang bertabur gorengan bawang. Wuih wuih.. Tetapi bagi yang bermasalah dengan Kolesterol, mohon maaf. Lalu bagi yang berlidah kurang “njawani” alias lebih doyan asin-asin, “nyuwun sewu”, karena rasa kuah dan irisan hijau keputihan dari labu siam memang resep antik bumbu Batavia featuring Porong-Java. Mumpung bulan puasa. Kalau waktu berbuka puasa sudah mepet untuk pulang kerumah, maka di jalan Raya Jati Asih no 50A, depan pintu tol Jati Asih, sekali lagi dekat Service Komputer dan penjual barang Cindera Mata. Adalah alternatip yang perlu dilirik. Mereka memang buka setelah jam 4:30 sore. Dan harus siap antri lantaran peminatnya berjubel. Pengunjung satu persatu sudah meninggalkan bangku. Ada yang dengan wajah “kuciwa” sebab kehabisan iso-babat kesukaannya. Sayapun harus bergegas pulang. Dua porsi ketupat sayur, dengan irisan labu siam, bertabur bawang goreng, lalu semangkok sayur santan terdiri dari dua potong hati, dua potong kulit kaki. Masih kurang puas, semur telur dan kentang, sebuah gorengan ati-ampela (bebek), dua bungkus emping, dua gelas es teh dengan aroma kencang “Tong Ji” – menyodorkan rekening duapuluh ribu rupiah plus seribu rupiah. Betul-betul harga super bazaar. Ada satu rasa penasaran belum terjawab, ada dua “glundungan” – kubis van kol, kira-kira untuk apa ya. Ini memang lakon lain dari de kubis code… Friday, September 22, 2006

Posted in ambigu, duit, gegana, teroris

Ngayawara – alias ngarang bebas…


Dalam tayangan yang disiarkan oleh TV Australia itu pasukan penjinak bom andalan Indonesia GEGANA sedang mencoba menjalankan alat serupa mobil-mobilan yang dikemudikan secara remote control, kami mengenalnya sebagai sebagai ROV (Remote Operating Vehicle), untuk “nyeken” alias memindai isi suatu benda yang diduga bom.

Melihat cara operasinya, sang robot mengirimkan sinar Gamma yang menembus “benda tak bertuan” – lantas, diujung lain, tembusan sinar gamma ditampung oleh filem khusus. Jadi pihak operator dalam hal ini Gegana, bisa mengetahui isi bungkusan tanpa harus membukanya.

Tiba-tiba ada suara gemrendengan, dalam bahasa Jawa Porongan… “pilem-nya salah pasang” – alias filemnya belum dipasang sesuai SOP. Kamera nampak tertutup bayangan operator, lalu setelah filem terpasang dengan benar, di tayangan TV Australia terlihat isi bungkusan yang ternyata bom lalu diledakkan….

Komentar reporter… Anti teroris Indonesia masih dalam tahap “learning curve“…

Lalu gambar pindah kedalam studio TV mereka, nampak seorang “host” – berbicara, menurutnya para politikus di Indonesia dan juga Militer, memiliki sikap yang berbeda didalam, dengan sikap yang diperlihatkan di publik.

Lalu narasi terdengar…

Sejak BOM Bali I, polisi Indonesia dibanjiri oleh mengalirnya bantuan uang dari negara Donatur….bla..bla..bla. Mula-mula diperlihatkan saat wartawan mengintip di luar pintu sidang. Mungkin mereka menggunakan zoom sehingga wajah tokoh yang terlibat nampak jelas menayangkan para pejabat dan politikus sedang berbincang sambil berdiri diruang sidang. Sepertinya sidang sudah usai sebab hanya nampak sekitar 5 orang berbicara.

Karena bahasa Indonesia terdengar lamat-lamat, maka subtitle bahasa Inggris menerjemahkan percakapan itu.

“Saya dari White House, ketemu Collin” – kata seorang tokoh berseragam dinas yang memegang tongkat komando.

“mereka selalu menanyakan pembentukan Detasemen 88”
“dana dari Amerika sekian ribu dollar….”
“dana dari Belanda sekian ribu gulden…”

Bahkan ketika akan berpisah, sampai menuruni tangga ekskalator-pun pembicaraan dengan wajah sumringah ini isinya cuma dollar dan gulden. Nampaknya seorang anggota komisi disana bertindak sebagai pemancing nara sumber (agak mirip Theo Sambuaga saat mudanya), namun diam-diam kamera wartawan Australia menyedot hampir semua isi pembicaraan.

Tentu saja pembicaraan tidak cuma seputar dollar dan gulden, tetapi dengan dipenggal-penggal, maka kepala berita cuma bantuan-dan-bantuan yang mengalir teramat deras..

Yang bikin Australia sewot, bantuan yang mengucur dari mereka malahan tidak disebutkan sama sekali. Seakan semuanya adalah cuma Amerika, Inggris, Belanda, Jerman…

Tayangan ini menggiring teori konspirasi, apalagi ada “pengamat teror”yang saya lupa namanya.. memberikan komentarnya – yang saya ingat Timsar Jubir salah satu tokoh peledakan Komando Jihad, juga ikut memberikan kesaksian asal muasal namaKomando Jihad.

Seperti teori yang beredar dihalayak. Pengamat politik yang tiba-tiba terkenal di tayangan ini mengatakan bahwa kalau seseorang di takuti dengan “Ancaman Teror” sampai ketakutan, lalu diberi obat penenang “Keadaan Aman Terkendali”, lalu tak lama kemudian dibombardir ulang “Ada Teror Setiap Tahunnya…”, dan balik “Aman terkendali” – Itu adalah cara ampuh bin cespleng untuk menguasai masa. Dan untuk Indonesia adalah jebolnya bantuan asing ke kocek.

Sayangnya, perhatian saya tidak bisa mengikuti tayangan sepenuhnya. Kadang iklan dimana-mana membosankan. Giliran kita pindahkan channel lain, eh pas acara utama mulai lagi.. Jadi agak terlambat dan tersendat mengikuti tayangannya.

Tidak heran kalau Indonesia rada gerah dengan kedatangan wartawan Australia dan mengusir mereka seperti yang dilakukan terhadap kelima awak TV – Seven Network, pada pertengahan September 06 . Sebab kendati tujuannya menyelamatkan bocah enam tahun bernaman Wah-Wah dari ritual kanibalisme sukunya di Papua, jangan-jangan jadinya melenceng mengompori peperangan suku Mimika lalu membuat judul yang sangat favorit seperti “Benarkah ada pihak ikut bermain dalam kerusuhan perang suku di Mimika.” – cuma dugaan, lho sebab Australia, lihai kalau urusan begini..

Bicara soal perang suku…

Padahal kalau saja itu bukan tarian maut, rasanya cantik sekali melihat masa menari bergerak seperti zigzag dijalanan sambil meneriakkan suara-suara pembakar semangat perang, dengan panah berumbai bulu burung, Tapi serentak tahu bahwa tulang Kasuari dan ujung panah beracun yang diacungkan siap merenggut nyawa. Jadi sadar bahwa Batara Yamadipati ada di jalanan dengan angkatan perangnya.

***

Kita sering dipaku pendapat umum bahwa hanya pers barat yang selalu betul, jujur, dan tanpa syak wasangka. Memang disamping beberapa jurnalis memiliki kemampan menggondol hadial bergengsi sebagai Pulitzer Price, tak jarang pers barat juga melakukan karangan bebas
alias fiktip.

Contohnya…

Jason Blair pernah menurunkan tulisan ciamik mengenai wawancara dengan profesor Roger Groot, ahli hukum dari Universitas Washington. Ia melukiskan profesor tersebut sebagai “botak, dan nampak seperti gambaran pengacara dalam filem-filem Holywood.”

Ternyata setelah membaca hasil wawancara, gantian profesor Groot mengaku tidak pernah bertemu dengan wartawan New York Times, tersebut. Wawancara dilakukan melalui tilpun sehingga amat mengherankan bagaimana sampai seorang wartawan kawakan sekelas New York Times bisa “ngayawara” menciptakan cerita menurut versinya. Pasalnya profesor ini memiliki rambut yang tergolong bisa masuk audisi iklan rambut lebat. Lho kok habis membuat kesalahan yang satu ini, Jason Blair membuat kesalahan lagi. Katanya ia mewawancarai Museum Tradisional Amerika dengan mengatakan bahwa kondisi keuangan Museum tersebut sudah kritis jauh hari sebelum kejadian 11 September 2001.

Terang saja artikel New York Times ini membuat gusar Salemo, kepala keuangan museum. Lalu ia melayangkan protes kepada harian terbesar Amerika tersebut. Dan bagai disengat kala jengking ketika mereka melakukan investigasi, ternyata, Blair tidak pernah mewawancarai  Salemo, dan keuangan museum tersebut selalu dalam keadaan meyakinkan. Rupanya dia hanya nguping sana-sini di bar, lalu menulis laporan seakan-akan ia yang kesana dengan mata kepala sendiri. Sebetulnya beberapa email sudah masuk ke redaksi NYT agar Jason di singkirkan, karena dasarnya jago fiktip. Namun entah mengapa hal tersebut tidak dilakukan.

Paling tidak kita tahu bahwa jurnalis bule jugak manusia…


9/19/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Posted in kepercayaan

Agama Pedang?


Kitab Wahyu

..memakai Jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah :”Firman Allah.” Dan semua pasukan yang di surga mengikuti Dia, mereka menunggang kudaputih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam yang akan memukul semua bangsa….

Gambaran seram dikutip dari bagian terakhir Alkitab. Bagi orang fundamentalis Kristen di Amerika – menganggap apa yang tertulis dalam kitab adalah ramalan yang pasti. Di Timur Tengah sebelum, Armagedon harus terjadi sebelum datang Yerusalem yang Baru dimana tak akan ada lagi laknat.

Maka mereka menantikan perang itu…

Akan terkejutkah kita bila hari-hari orang fundamentalis harap-harap cemas memandang “Iran” sebagai iblis yang tertulis dalam nubuat? Sang AntiKristus telah datang, waktunya untuk menghancurkan agar Armagedon terjadi, dan haleluyah, bumi baru akan datang?

Inilah repotnya bagi fundamentalis, dari agama apapun, mereka memusuhi hidup. Hidup adalah hukuman. Bagi mereka hidup didunia terancam najis. Bagi mereka suara Tuhan adalah suara Amarah: “dari mulutnya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul semua bangsa…”

Padahal untuk seperti Amerika, mereka sudah hidup makmur. Atau mungkin “Ratu Adil” dipandangan kaum fundamentalis adalah gambaran berbeda dengan Ratu Adil yang dibayangkan kaum melarat di Jawa.

Sebuah buku “Propecy and Politics,” Grace Haskell memberi ilustrasi bagaimana yang dirayakan kaum Kristen Fundamentalis itu justru bagi kita adzlah tak adil. Haskel dua kali ke Israel bersama pendeta Jerry Faldwell. Orang-orang ini – kemudian disebut Zionis Kristen – sudah sangat teramat siap untuk menyakiti orang Palestina. Bagi mereka negeri janji Tuhan adalah negeri Bani Israil. Mereka tak perduli bisa ada orang Palestina yang Kristen termasuk didalamnya. Bagi mereka seperti yang ditulis Haskell, semua tindakan Israel adalah sudah diatur Tuhan, dan sebab itu harus didukung….

Untuk itu, Israel harus didukung. Caranya selalu mendesak agar bantuan AS ke Israel tak kunjung surut. Tahun 2000, tiga fundamentalis meledakkan Al Aqsa, 2003 Senator Tom Delay datang ke parlemen Israel dan berbicara “tak ana gunanya bersikap moderat..”

Mungkin ini yang menjelaskan ia merencanakan membuat 125 bom nuklir baru, sementara melarang negeri lain melakukan hal yang mirip walaupun sedikit.


9/19/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Posted in blowout, bop, bor, rig, rig pengeboran

807- Tiada hari (hampir ) tanpa Semburan Liar


Tahun 1985-an (lebih dikit) perusahaan mudlogging kami mendapatkan pekerjaan untuk penyediaan jasa MudLogging di pedalaman Kalimantan Barat, lokasinya Nanga Pinoh. Namun karena di perut bumi sana, para ahli Geologi “poenya koewasa” membuat semacam RT,RW,Kecamatan yang perbatasannya amat berbeda dengan yang dipermukaan tanah. Disini tidak ada patok, tugu selamat datang dan selamat jalan seperti yang dilihat dipermukaan tanah. Salah satu kapling adalah Blok Melawi.

Dari Jakarta kami menumpang pesawat komersial paling pagi ke Pontianak, lalu digantikan dengan pesawat berbaling-baling kecil charteran ke airstrip Nanga Pinoh. Dari Nanga Pinoh kami dijemput dengan helikopter ke lokasi pengeboran, atau “site” atau situs.

Melihat lokasinya, berhutan, rawa, topografi yang terjal, curam silih berganti, maka dukungan logistic diberikan oleh satuan udara “helikopter.” Cabin peralatan kami rata-rata bobotnya mencapai sembilan ton diluar kemampuan helikopter, sehingga dirancang cabin khusus (Heli Portable) yang terbuat dari alumininum sehingga bobot bisa turun menjadi 4 ton. Dan cabin “normal” ini masih dipotong dua sehingga bobot menjadi 2 ton agar mampu diangkut helikopter. Sementara logistik yang berat-berat jauh-jauh hari ditransportasi melalui sungai. Begitu yang “debrief” yang saya terima dari Jakarta.

Saat tiba di lokasi, situasi tidak seperti yang saya banyangkan. Justru yang tampak mata adalah episode tayangan jaman Romawi, tatkala beberapa peralatan Rig diseret ditumpuk diatas balok kayu lantas diseret ke situs. Rupanya helikopter yang diandalkan untuk daya dukung udara sedang mengalami masalah “hilang daya” – sehingga beberapa tranportasi mengandalkan tenaga mesin 2WD berbahan bakar “nasi pecel

Perusahaan Perancis yang menyewa kami (ini agak diluar kebiasaan sebab perusahaan Perancis umumnya lebih sreg menggunakan produk berasal dari mereka) – menengarai bahwa daerah pengeboran disini akan memasuki kapling yang penghuninya sangar, tidak ramah dan mudah naik darah.

Maka nyerocoslah istilah membingungkan awam seperti “gas kick,” “blowout,” “well control” dan tak lupa BOP alias Blow Out Preventer.

Kementrian Geologi menyebutnya “Zona Bertekanan Tinggi” – cirinya adalah rawan “semburan-liar” sehingga kami diminta mengaktipkan peralatan yang disebut Peringatan Dini Semburan Liar. Sebut saja “Early Kick Detection.”

Saya sendiri miskin pengalaman dalam mengoperasikan peralatan yang kalau di bengkel, para montir menyebutnya kelas “Mersi (Mercy).” Alat ini memang ampuh, lantaran kalau ada gejala perut bumi mual-mual kami yang duduk diruang ber-AC sudah bisa melihat grafik anomalinya. Lalu informasi ini diteruskan ke juru bor (driller). Mudlogger di rig memang sering diledek NATO, sebab tugasnya memang hanya “memberi informasi” terutama kepada juru bor yang memegang kendali operasi mesing pengeboran (Rig).

Hari pertama pengoperasian alat, biasanya para Juru Bor gantian melongo melihat kami para mudlogger seakan “bomoh bin paranormal” – kok bisa-bisanya meramal “anda diberi waktu 20 menit sebelum sumur memuntahkan isi perutnya. Angka duapuluh menit adalah waktu yang
diperlukan dari perut bumi ke permukaan, dan ini bukan “mambo jumbo timlo” melainkan perhitungan volumetrik yang kami sebut sebagai “lag time”.

Ternyata ramalan pihak Elf, benar sumur Melawi-1 (angka kecil menunjukkan sumur taruhan atau expllosari memang “agak” sangar, saat memasuki kedalaman diatas 1200 meter kami mengalami semburan “setengah” liar. Artinya muntahan lumpur sempat terpelanting ke udara sampai ketinggian 2-3 meter dari lantai bor. Tetapi dengan cepat keadaan aman dan terkendali.

Semburan terhebat biasanya terjadi mengiringi operasi ganti pahat.
Pahat yang dipakai disini kelewat boros. Lantaran satu pahat secara teori bisa mengebor ratusan meter, ini baru 25 meter sudah “nggedibel” tidak bisa maju-maju.

Struktur Geologi dikawasan ini memang unik. Umumnya orang mengebor batu pasir kecepatannya akan melonjak dua kali lipat lebih ketimbang mengebor lapisan batu lempung. Alasannya, batu lempung lebih liat (iyalah namanya juga tanah liat), sedangkan batu pasir, mak-prol, karena pasir lebih porous (berongga). Waktu mahasiswa, pertanyaan sederhana ini pernah menjungkelkan saya, logika saya tidak bisa menjelaskan fenomena tersebut. Akibatnya saya tidak lulus dalam ujian lisan pelajaran Teknik Pemboran. Sial bener.

Tapi di Melawi, keadaan berubah 180 derajat. Pasirnya seliat lempung tapi Tanah liatnya seempuk pasir. Gara-gara tidak sesuai dengan buku panduan, maka interpretasi bawah permukaan (tanah) rada kedodoran. Pingin saya rasanya “halo-halo” kepada bapak dosen yang dulu begitu dogmatis bahwa selalu ada anomali di permukaan bumi ini.

Gara-gara batu pasir begitu kompak dan keras, maka daya abrasivenya juga nggegirisi. Mengebor bisa dapat 25 meter, mata bor sudah tumpul dan harus dicabut ke permukaan untuk diganti.

“Yen dipikir-pikir” ini batuan apa amplas besi nomor 3 (paling kasar), lantaran setiap matabor yang masuk lubang secara alon-alon namun meyakinkan, dikikis sampai menjadi aus. Jadi kalau rencananya membuat lubang bergaris tengah 12,25inci lantaran aus, lubang yang terbentuk bisa jadi ukuran banci.

Dalam teknik pengeboran hal ini tidak bisa ditolerir sehingga harus dilakukan pembesaran lubang atau bor ulang dengan mata bor baru. Pertamina menamakan operasi ini sebagai “rembis.”

Mengganti mata bor berarti pengeboran harus distop. Operasi pemboran ganti mode ke operasi cabut-masuk.

Setelah pompa lumpur dimatikan. Otomatis sirkulasi lumpur terhenti.
Ada fenomena dimana isi formasi termasuk gas, dan minyak masuk kedalam sumur dan mengendap didasar lubang. Saat pompa dihidupkan, gas dibawa lumpur ke permukaan, dipermukaan lalu melakukan expansi dan pada konsidi tertentu menyembur. Orang pengeboran menamakan ini sebagai Tripping Gas Fenomena.

Juru bor atau driller yang “juga manusia”, memiliki alat deteksi sendiri, namun karena kurang sensitip (pakai P), seringkali mereka keteter mendeteksi kemungkinan semburan liar. Tapi dasar nasib mudlogger, sekalipun berkali-kali memberitahu akan bahaya semburan liar, entoch pak jurubor Perancis itu sering mengumpat “stupid mudlogger do not know whats he talking about..” .

Nah setelah lantai bor belepotan “blethok” tanah liat dan pasir dan lumpur sejalan dengan waktu mereka percaya ramalan dari “stupid mudlogger.”

Karena semburan liar masih tetap ngeyel juga, lumpur yang dipakai diperberat dengan penambahan bahan kimia semacam barite sehingga berat jenis lumpur bobotnya mencapai 1,3 kali lebih berat ketimbang berat air.

Anda seperti mengangkat air raksa (adiknya), kelihatannya cairan tapi berat. Tapi cara inipun punya batasannya sebab kalau lumpur dinaikkan terus menerus, gantian batuan pasir yang diperut bumi bakalan retak bin resam tidak kuat menahan lumpur yang beratnya mendekati air raksa (kurang dikit). Untuk membayangkan bedanya air dengan lumpur berat ini, dilakukan percobaan di rig. Kedalam tangki lumpur secara perlahan-lahan dinaikkan lumpur bor dari berat jenis air sama dengan 1 gram per cc (gr/cc), perlahan diaduk dengan barite dari satu koma lima (1,5). Untuk mengetahui berat lumpur, secara berkala ada timbangan manual yang mudah dioperasikan dilapangan.

Saat berat lumpur mencapai 1,5 gr/cc tangki baja setebal 12mm perlahan menggelembung sehingga percobaan dihentikan, beberapa rangka baja ditambahkan untuk memperkuat perut tangki. Perusahaan sudah puas saat tangki mampu menggendong lumpur 2 gr/cc. Dengan melihat bagaimana dahsyatnya kekuatan lumpur bor. Terjadi dilema, sebab kalau lumpur dinaikkan terus menerus, bakalan meretakkan batuan dan ujung-ujungnya lumpur yang mahal bakal hilang “nlesep” kedalam celah batuan. Lebih apes lagi kalau terjadi komplikasi retaknya menembus sampai permukaan nun jauh dari lubang bor. Lalu disusul dengan gas bertekanan tinggi. Bisa berabe.

Dilain pihak, kalau lumpur kurang berat, gantian semburan gas mendesing ke udara disertai suara gemuruh bak mesin jet. Tapi dasar orang minyak, deru dan desing bising begini dibilang “sumur bernyanyi.” – bahkan ketika terjadi “tendangan gas” – orang minyak akan mengatakan “well is talking” – sumur sedang berdialog kepada kita, bahwa ada yang tidak beres didalam lubang sana. Kalau masih ngeyel tidak memperbaiki keadaan, akibatnya ditanggung sendiri.

Akhirnya dicari jalan tengah.

Lumpur dipakai yang sedang-sedang saja. Sementara gas dan cairan yang mendorong-dorong dibiarkan mengalir melalui pipa kepermukaan. Saat peristiwa ini terjadi, tentunya diskusi, rapat dilakukan secara intensip sebab resiko semburan liar bisa menakutkan.

Mula-mula diukur dengan cara “sederhana” sekitar 3 drum besar perhari. Tentunya semprotan lumpur ini tergolong kelas teri-nasi van Krueng Raya ketimbang muntahnya gadis Sidoarjo alias mbak Banjar-Panji-1 yang memuntahkan Lumpur Volcano sampai lima ribu kubik perhari yang setara dengan volume sampah Jakarta yang ditumpuk ke Bantar Gebang- Bekasi setiap harinya.

Kenangan lain yang masih membekas adalah pohon Pinang Merah Kalimantan Cystostachys lakka yang sampai sekarang sudah besar. Kami biasanya membeli di Airport Pontianak. Sayang kalau anakkannya mau dipecah, selalu gagal. Mereka tetap dalam koridor Pinang Merah Bersatu. Jadi tidak mau dipecah-pecah, sekalipun dalam bentuk Federasi Pinang..

Die Hard mudlogger..

Tuesday, September 12, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Posted in gaya hidup

Masih punya banyak stock-kah kita akan pemuda seperti AGIL DAENG ini


Pernahkah anda mendengar nama Agil? selain bekas Mentri Agama Republik Indonesia, belum?, baik, saya beri bantuan pengingat nama kedua-nya, Daeng. Masih belum “kring”, saya tambahkan usianya sekitar 22 tahun, mahasiswa Kedokteran Swasta di Jakarta.

Ah ia memang bukan siapa-siapa. Tapi tengoklah prestasinya.

Agil sedang santai menonton acara TV ketika Tsunami Aceh diberitakan. Ia bukan anggota LSM, bukan anggota Partai, bukan Paguyuban atau apa saja. Yang jelas hatinya tercekat “Mayat-mayat bergelimpangan, hati saya tercekat. Sedih ngeliatnya..

Tanpa koordinasi, ia menyambar tas, menuju ATM terdekat untuk menarik beberapa juta tabungannya. Segera ia meluncur ke Bandara Cengkareng, tujuannya satu Banda Aceh yang digulung Tsunami. Ia sampai lupa mengabarkan kepergiannya kepada orang tuanya.

Semua serba tergesa, dan impulsif.

Sayang, penerbangan ke Banda Aceh tak bisa didapat. Dasar nekad, ia naik pesawat ke Batam dan berharap masuk Aceh melalui Polonia-Medan. Di Batam ia beli 100 kantong plastik besar yang ia perkirakan muat untuk jenazah. Mohon dicatat, yang ia beli adalah “trash bag” – bukan “body bag”

Selasa siang 28 Desember 2004, pemuda ini sampai di Bandara Iskandar Muda. Sendirian tanpa kerabat, dan yang jelas belum tahu “medan” – toh ia menyusuri kota Banda Aceh yang menjadi kota mati tanpa listrik, air bersih, dan yang penting makanan amat terbatas. Mencoba mencari alamat kerabat yang tinggal di Universitas Syiah Kuala. Ternyata bukan pekerjaan mudah, lantaran setiap jengkal tanah sudah disesaki mayat.

Lalu yang hidup nampak linglung.

Ketika Agil meminta bantuan kerumunan orang untuk mengubur mayat, “mereka enggan takut ketularan penyakit..” – Namun Agil yang mahasiswa kedokteran menjelaskan bahwa kalau mayat ini tidak segera dikebumikan, bahaya penyakit lebih besar akan datang.

Agil menjelaskan bahwa meminta partisipasi warga Aceh, pada saat seperti itu adalah perkara pelik. Tapi Agil-pun tahu bahwa mereka dalam keadaan emosi dan fisik yang tak pasti. Apalagi, berpuluh tahun inisiatip rakyat Aceh dibekap penguasa. Menolong sesama, silaturahmi,  ikatan persaudaraan semua sudah kedodoran.

Lima hari di Aceh, Agil merasa tenang. Arus bantuan dalam dan luar negeri berdatangan. Sang “pionir” – buyat (pemburu mayat) pulang kembali ke kampus, secara diam-diam.

Satu-satunya penghargaan yang ia rasakan sebagai prestasi adalah ketika ia berhasil mengajak warga lokal telibat dalam proses evakuasi dan penguburan mayat. Mengingat saat itu DPR sedang meributkan mengapa wakil presiden melangkah terlalu jauh melebihi presidennya, sementara LSM, relawan juga belum banyak yang bisa menjejakkan kakinya di Aceh.

Indonesia masih perlu banyak lagi pemuda macam Agil Daeng Faragalla Balkhi.

9/16/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO

Posted in gaya hidup

DTK


Mudah-mudahan saya tidak sendirian, soalnya sinetron Dunia Tanpa Koma, terbilang oase dipadang haus kan hiburan yang menyentuh akal, bukan label. Apalagi saat pemain Seruni (wong ayu tenan Wulan Guritno), berkomentar di koran bahwa sejak menjalani shooting filem,  ia yang semula benci dengan wartawan, mendadak sontak menjadi sangat appresiatip terhadap wartawan.  Rupanya dia merasakan bahwa mengendus berita, menulis berita, menyuntingnya sampai bisa masuk ke media, adalah pekerjaan yang berlimbah stress dan keringat.

Sebetulnya kalau mata awam seperti saya, tarikan Bulik (Tante) Seruni lebih pas sebagai seorang reporter. Matanya bibirnya ketika berfikir, sampai masuk perseneling “sirik” pun, ia pas-pas saja. Masalahnya dia cantik juga sih. Cuma mungkin pertimbangan sinetron maka Bulik Raya (Dian) memang lebih imut untuk sebuah tontonan.

La iya lah.. apa kakinya Raya tidak sekeras bambu petung menarik sepeda mencari berita..

Ada adegan dimana Slamet Raharjo marah besar kepada para stafnya yang kesalip mendapatkan berita lantaran pihak kompetitor memiliki BRAM, yang mampu menempel sumber berita seperti pacat, yang belum cabut sebelum badannya gendut penuh darah.

Lalu nasehat Bram kepada Raya untuk “tuning” jalan fikiran kita dengan jalan fikiran nara sumber (dalam hal ini Model yang akan diwawancarai), agar si calon nara sumber menganggap bahwa wartawan didepannya adalah orang yang berisi pengetahuan yang sama. Kendati untuk itu dia harus bolak-balik ke perpus mendongkrak pengetahuannya.

Rasa-rasanya cerita episode pertama ini mengingatkan akan sejarah Aristides Katoppo, dedengkot harian Sinar Harapan. Ia pernah menjadi reporter harian New York Times yang sering disebut NYT atau Times saja. Aris, mendapat bocoran, bahwa aneksasi Irian Barat sudah di “ACC” oleh Amerika, tetapi presiden Kennedy wanti-wanti agar dalam masalah Irian Jaya, Bung Karno bahwa “tidak menggempur Belanda dengan kekerasan senjata..

Surat sakti itu dibawa oleh adik Presiden Bobby Kennedy.

Tak pelak lagi, bocoran langsung di buat cerita exklusif dan dikirimkan dari kantor perwakilan NYT di Paser Baru, tepatnya sekarang Kantor Berita Antara ke NYT- di Amerika. Maka geger-lah dunia perwartawanan. Padahal menurut Aris, sumber data tidak membolehkannya mengopi surat tersebut. Cukup dikutip.

Aris dapat bonus 500 dollar atas prestasinya itu, sementara roket (ini istilah Aris untuk dimarahi) jatuh ke pihak media yang lain seperti AFP, Reuter, karena kecolongan berita. Angka 500 dollar pada rentang waktu 1958-1964, pasti glek..nyem.

Reporter cewek Metro TV yang berhasil melaporkan Tsunami Aceh, sehingga dunia melek bahwa bukan Srilangka negeri yang pertama dan terbesar angka korban akibat Tsunami tersebut. Dan Surya Paloh langsung memberikan cek 70 Juta atas prestasinya.

Atau tengok bagaimana kecamuk di koran terbesar Amerika (NYT) New York Time pada saat “braak” nya WTC pada Sembilan September. Pemred Rained sedang membaca email, malahan belum berpakaian ketika menerima tilpun telah terjadi pesawat tabrak gedung WTC dari Bosnya.

Redaktur NYT Gerard Boyd malahan sedang bercukur. lalu ia ganti pakaian seadanya ke “subway” – sialnya, subway sudah tidak beroperasi. Terpaksa ia pakai taxi dan tiba dikantor pada 9.10 pagi untuk menemui Pemred Raines yang sudah 40menit berada disana dengan topi khasnya.

Kepala Biro Metropolitan, Landman malahan masih di Gym ketika menerima kabar serupa dari istrinya. Ia langsung menilpun ratusan reporternya untuk ke lapangan.

Hanya seorang Chivers (CJ) yang berpakaian rapi saat itu. Pasalnya Biro khusus kepolisian ini ditugasi meliput pemilihan walikota New York, Pagernya berteriak agar ke TKP alias Ground Zero. Ada setengah mil ia berlari dan saat menara selatan mulai roboh, selulernya sudah kehilangan sinyal. Untung tilpun umum masih berfungsi. Redaksi yang masih shok dan bingung hanya berpesan “ikuti saja intuisimu mana yang terbaik akan kamu lakukan..

Dua puluh empat jam berikutnya CJ sudah makan dan tidur di Ground Zero. Ia bahkan sempat pulang pakai kaos US Marine, celana loreng, sepatu boot, menyamar sebagai sukarelawan pasukan Marinir. Ia memang bekas seorang kapiten Marinir. Sebetulnya pekerjaan menyamar adalah pelanggaran kode etik. Tapi semua ia lakukan demi informasi buat NYT sebuah koran yang terbit ratusan tahun lalu. Ada 300 reporter turun ke Ground Zero. Jumlah tersebut kalau di kurs dengan Indonesia adalah jajaran redaksi 10 koran terbesar, tiga puluh fotgrapher, dan 24 jurnalis lepas.

Mudah-mudahan episode selanjutnya DTK masih menggigit. Dan inspiratif. Terutama buat kelompok seperti aku yang “sok jurnalis” seperti diisi ulang

 

Mimbar Saputro
Die Hard Mudlogger.

9/15/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO