Posted in becak, gaya hidup

Naga Menggeliat dan Becak Sarini


Sebagian anak-anak Grogol kawasan jalan Muwardi Raya, Nurdin dan Dr. Susilo, yang sekarang sekarang jadi bapak-bapak dan ada yang kakek mudah-mudahan masih ingat kendaraan utama yang antar jemput mereka ke sekolah adalah becak.

Begitu banyaknya becak yang satu sama lain mirip dan umumnya “bodong” karena tanpa plat pening, maka satu-satunya “alat pengenal” adalah dari muka para pengemudinya.

Sebut saja becak SARINI, pilotnya bertubuh tinggi besar, pendiam tapi “roso-roso” – tanjakan sekitar Kolam Renang Grogol yang membuat orang ampiyun terampiyun (pakai iy), dilibasnya tanpa turun dari pesawat. Paling jauh-jauh sebelum tanjakan, Sarini menggenjot becak sedikit expres agar sampai di tanjakan, dia tinggal menambahkan power disertai bunyi ngos napas panas diujung hidung pria tinggi 170-an ini.

Maka kondanglah Sarini sebagai becak pilihan ibu rumah tangga, dan anaknya. Tidak ugal-ugalan dalam mengemudi, sopan kepada penumpang, kadang membantu para ibu yang pulang belanja, dari pasar ke becak, dari becak sampai masuk ke dapur. Ia seperti mampu membaca keinginan pelanggan. Begitu melihat calon penumpang, ia segera meloncat dari becaknya, sambil tangannya menepuk jok becak dan melapnya dengan handuk yang semula dikenakan dilehernya.

Lalu ia dipanggil sebagai pak Sarini. Padahal jangan salah. Pria rambut cepak ini namanya Rahmat….

Sarini adalah nama anaknya di kampung di Indramayu. Yang kelahirannya mendorong Rahmad berjuang, walaupun dibelain sampai ke Jakarta menjadi tukang becak.

Kadung dipanggil Sarini, anehnya sampai sekarang pak Rahmad juga menoleh kalau ada yang memanggilnya Sarini.

Saat masih mengejar karir sebagai pembecak, kalau malam ia tidur di becak, sarungan dan selalu tanpa kemeja atau kaos. Udara panas Grogol membuat ia rela berdonor darah dengan sang vampir berbelalai.

Lalu, merasa mencukupi penghasilannya, ia mengajak teman-temannya di kampung untuk menjadi penambang becak. Sampai satu saat ia menyadari bahwa becak itu peralatan sederhana, ganti rante, tambal ban, ganti klaher (bearing), potongan besi plat pengganti bel. Apalagi modelnya ajeg-monoton-minimalis. Maklum perlengkapan semacam lampu karbid yang biasa dipasang di “per” bawah sudah dibuang.

Lalu mengapa harus bergantung pada Tauke becak?.

Sarini mulai menganyam sarang sendiri. Ia menjadi sudagar (tanpa A) becak. Dan seperti hokie, dari penarik becak menjadi pemilik becak, iapun menjadi pengusaha becak ini berarti tenaga kerja mengalir ke Jakarta pada musim paceklik (kemarau) dan kembali ke kampung pada musim panen.

Saat pagi hari beberapa awak melihat got berisikan ikan cere dan cacing rambut dan gemercik air membuat mereka tergoda. Seperti di kampung mereka berjongkok dan melakukan aksi rantai makanan agar di “donlod” oleh mahluk kecil. Keruot pada an kami yang tinggal di depan got pada blingsatan, selain pemandangan tak sedap dan man! air got di Grogol seperti kota besar lainnya lebih banyak padat tersendat daripada mengalir. Sarini lalu memikirkan fasilitas MCK dan perlahan bangunan tinggalnay di lengkapi sarana MCK.

Lama berada di Jakarta para arus bawah merasa bahwa arus bawah badan lain juga perlu disalurkan. Daripada ngecer ke sana kemari, enak tidak seberapa, istri kebagian transmisi penyakit. Pak Rahmad mengajak anggota pengayuh becak untuk berbondong-bondong membawa keluarganaya ke Jakarta.Mereka membawa staf logistik batin dari kampung sambil titip pesan “Bune kalau ke Jakarta, jangan lupa bawa tampah, bakul, sapu, talenan, dingklik bukan untuk mengatasi kangen kampung halaman, melainkan dijual di Jakarta.

Maka di kos-kosan pak Sarini, sering nampak para wanita yang kalau pagi hari sekali berkeliling “ngider” keluar masuk kampung, menjual barang peralatan dapur dan rumah tangga.

LURAH

Kalau musim pilihan lurah tiba. Atau setidaknya Lebaran menjelang. Group Sarini mencarter beberapa bus untuk pulang kampung, entah merayakan Lebaran atau keperluan coblosan Lurah. Memang beberapa kerabatnya goal menjadi pamong desa, namun Sarini tetap kembali ke Grogol. Kembali menyapu halaman jalan Muwardi Raya Grogol, di pagi hari. Saya tidak yakin Sarini eh pak Rahmad pernah membaca cerita ayahanda presiden Taiwan yang seminggu sekali turun ke jalan menjadi tukang sapu jalan di Taiwan.

BECAK DILARANG

Masa keemasan becak tak berlangsung lama, Sarini tak menyangka becak dilibas kebijakan Ali Sadikin. Yang ngayawara alasan beberapa stafnya bahwa becak tidak manusiawi, sekalipun menjadi pengangguran dan berbuat kriminal apakah lebih manusiawi? Anakbuahnya terpaksa kucing-kucingan dengan petugas Pamong Praja, namanya pamong tetapi kenyataannya lebih banyak meneror warga. Apalagi secara demonstratip penguasa waktu itu menjadikan becak untuk rumpon persembunyian ikan agar kenikmatan hidup dari memancingnya bisa ditingkatkan dengan mendapat ikan asal rumpon, diatas jeritan dan keputus asaan ribuan pengendara becak yang kehilangan pekerjaan.

Daripada selalu sembunyi-sembunyi Sarini “cancut taliwanda” gulung lengan baju (kalau dia sedang pakai baju). Dan tidak lama kemudian, suara dering becak secara bertahap digantikan geram Bajaj. Sarini-pun menjadi sudagar bajaj. Kos-kosannya mulai diramaikan dengan polusi suara letupan knalpot, jeritan bajaj dan dibarengi ceceran oli yang menghitami tanah dan lantai kediaman mereka.

Dari sekedar ganti rante, siram oli bekas, perawatan bajay mulai merambah pengadaan suku-cadang. Sekarang dia perlu manager.

Lantas enteng saja hitungan mumet-njelimet diserahkan kepada istrinya yang bukan sekedar “tukang ulek sambel dan pabrik anak” – atau lebih sadis lagi dipanggil “mamah” alias mamah (makan) dan mlumah (terlentang).

Singkat kata, Bu Sarini eh Nyonya Rahmad menjadi manajer think-tank. Tak apa pendidikan SD asal bisa menulis dan membaca dan nonton “netron” sambil menunggui warung kecil. Kecuali kalau ada bola, mereka harus merelakan kesenangannya dikalahkan para maskulin berkumis.

Sial pernah melibasnya, sebuah bajaj kesayangannya meledak saat diuji coba di bengkel merangkap rumah tinggal itu. Api menjilat ceceran oli, penampungan premium, kayu, kertas lalu menyambar bangunan bangunan tingkat dua nya. Sarini mengungsi kerumah kami kami karena kejaran api dan kamera TV.

Sementara tetangga lain buru-buru menutup pagarnya rapat-rapat. Pikir mereka ini Jakarta, yang masuk rumah bisa pengungsi bisa perampok, bisa pencuri. Resikonya terlalu besar membiarkan orang asing masuk rumah.

Saat akan diwawancarai asal muasal api, tiba-tiba seorang kerabat membisikkan sesuatu. Oh ia masih telanjang dada. Hari ini kami melihat Sarini pakai Baju Safari, meskipun bawahannya tetap sarung kumuh. Rasain eluh, pakek baju sekarang.

Dalam kesedihan, ketegangan, masih ada terselip adegan lucu, lugu dan langka. Hancurkah bisnis Sarini eh pak Rahmat setelah Dewa Api mengamuk. Tidak lama setelah kejadian, setelah police line digulung, bangunan permanen sudah muncul lebih megah, lebih moncer.

Kabar burung seorang tauke percetakan melihat dari fengsui, ada chi naga kertas memutar sekitar kawasan ini. Ia bertaruh uang membangun komplek Sarini Bangkit Kembali, asal diperbolehkan menyewa tempat itu minimal 5 tahun. Sarini tidak kehilangan uang, Sarini juga tidak kehilangan tempat tinggalnya. Bahkan sebuah harian Warta Grogol berkantor disana. Kini usia Sarini menginjak usia 70-an, ia mulai berniat melepaskan bisnis guritanya. Tapi serangan ke-kerajaannya menderu lagi sebab Pemda mulai “men-jothak” bajaj. Sarini-pun tidak perlu demo, diam diam dia mengganti beberapa bajaj dengan kendaraan semacam Angkot.

Selama hidup ala kadarnya, uang tabung melimpah ruah.

Memasuki akhir tahun 2006, bisnis Sarini yang sedang digedang-gedang adalah Kios Air Minum isi ulang dengan merek HIDAYAH. Apakah nama ini sehubungan dengan judul sinetron yang kerap ditonton sang istri? – mudah-mudahan tidak mengikuti episode pak RT Selingkuh.

Tapi kalau anda tanya soal rahasia sukses, Sarini merendah “Ah itu kan usaha anak-anak, saya cuma mendoakan belaka…

Pemandangan tak berubah yang saya lihat berpuluh tahun, Kalau subuh, ada pria tinggi gulungan sarung, ucul-klambi dan menyapu halaman kerajaannya. Sampah kertas rokok, bungkus chiki, Indomi, busi bekas, kaleng oli dikumpulkan ke tempat sampah.

Usai dengan pekerjaan utamanya ia mengumpulkan potongan kertas limbah percetakan untuk dijejalkan di rumahnya. Orang memperkirakan ada barang 2-3 ton kertas di gudangnya. Kertas pernah ditawar untuk dilipat jadi rupiah agar mudah dimasukkan bank, selain alasan rawan kebakaran. Sarini geleng kepala, keukeuh tidak melepas hartanya. Orang Jawa bilang ia mulai nyusuh yaitu mengumpulkan barang tanpa tujuan lantaran “bawah kesadaran.” mulai mengalahkan logika. Tanda-tanda pikun.

Tapi melihat gaya hidup tak berubah, tim sukses teori Konspirasi Jin mulai berteori. Ia pakai pesugihan. Alasan mereka mengapa ia hidup sederhana. Memang repot, kita terbiasa dicekoki bahwa hidup sukses kalau pakai sepatu merek A, tas tangan merek B, kendaraan merek C, makan di retoran D.  Kok ada orang masih tetap hidup apa adanya.

Menurut kepercayaan teman dari TiongHoa, kawasan kami memang ada hokie untuk berbisnis. Usaha becak lancar, main di percetakan moncer. Dagang ikan hias, maju terus.

Sebuah Percetakan JA, ia percaya kepala naga kertas ada dikawasan ini. Mulai mempertaruhkan modalnya dengan toko kecil lalu berkembang.  Kalau anda pernah melihat cetakan berkilat, jangan salah. Bisa jadi sebetulnya mereka (di Grogol) yang menggarapnya. Orang lain yang tinggal ganti cap dan kop surat. Mau istilah ngePond di sini tempatnya.

Sukses dengan usaha percetakan ia melirik rumah milik bekas pejabat DKI jaman oak Ali. Rumah tersebut dibelinya beserta sebuah rumah lagi. Lalu dihancurkan dan di ground zero muncul bangunan bertingkat empat.

Maka rumah kami di sebelahnya menjadi pygmi-kerdil. Semua gara-gara naga kertas yang lagi berkibar.

Yang masih bingung bagaimana hubungan naga kertas bisa menggibas ekornya di rumah Sarini atau percetakan JA, atau beberapa toko kecil ikan hias yang mampu mengirimkan 3 orang anaknya sekolah ke Australia dengan menjual lohan, cacing beku dsb.

Atau maksud Feng Shui Hongkong barangkali naga “uang kertas” – segala bisa jadi duit. Tentu saja anda saya larang percaya 100%.

Namun lebih baik berteori Naga Menggeliat ketimbang menuduh orang pelihara “khadam” pesugihan, lalu massa diajak beramai-ramai membakar rumah tertuduh dan seisinya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Naga Menggeliat dan Becak Sarini

  1. Salam Kenal pak Mimbar,
    Membaca postingan-postingan anda, saya ikut terhanyut. Kata-katanya terangkai dengan sempurna. seperti membaca kumpulan essai dalam satu novel yang dibukukan. banyak memberi inspirasi bagi saya.

    kalau sempat, silahkan bapak mampir di Blog saya,

    http://pancaradis.questh.com

    Like

  2. Salam kenal kenal kembali mas Pancaradis. Lha seperti dikemukakan, menjadi lansia itu katanya harus punya klangenan. Saya klangenanya ballpoint, jadi ya tiap hari mengelus pen, menulis.

    Like

  3. saya yakin pak rahmad orangnya mempunyai pandangan dan wawasan luas tidak melihat suatu kenyataan itu pahit, tapi mampu melihat semua sisi dengan positif, aku ingin mempunyai wawasan dan mampu melihat kenyataan untuk tidak meratap pada nasib

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s