Posted in gaya hidup

DTK


Mudah-mudahan saya tidak sendirian, soalnya sinetron Dunia Tanpa Koma, terbilang oase dipadang haus kan hiburan yang menyentuh akal, bukan label. Apalagi saat pemain Seruni (wong ayu tenan Wulan Guritno), berkomentar di koran bahwa sejak menjalani shooting filem,  ia yang semula benci dengan wartawan, mendadak sontak menjadi sangat appresiatip terhadap wartawan.  Rupanya dia merasakan bahwa mengendus berita, menulis berita, menyuntingnya sampai bisa masuk ke media, adalah pekerjaan yang berlimbah stress dan keringat.

Sebetulnya kalau mata awam seperti saya, tarikan Bulik (Tante) Seruni lebih pas sebagai seorang reporter. Matanya bibirnya ketika berfikir, sampai masuk perseneling “sirik” pun, ia pas-pas saja. Masalahnya dia cantik juga sih. Cuma mungkin pertimbangan sinetron maka Bulik Raya (Dian) memang lebih imut untuk sebuah tontonan.

La iya lah.. apa kakinya Raya tidak sekeras bambu petung menarik sepeda mencari berita..

Ada adegan dimana Slamet Raharjo marah besar kepada para stafnya yang kesalip mendapatkan berita lantaran pihak kompetitor memiliki BRAM, yang mampu menempel sumber berita seperti pacat, yang belum cabut sebelum badannya gendut penuh darah.

Lalu nasehat Bram kepada Raya untuk “tuning” jalan fikiran kita dengan jalan fikiran nara sumber (dalam hal ini Model yang akan diwawancarai), agar si calon nara sumber menganggap bahwa wartawan didepannya adalah orang yang berisi pengetahuan yang sama. Kendati untuk itu dia harus bolak-balik ke perpus mendongkrak pengetahuannya.

Rasa-rasanya cerita episode pertama ini mengingatkan akan sejarah Aristides Katoppo, dedengkot harian Sinar Harapan. Ia pernah menjadi reporter harian New York Times yang sering disebut NYT atau Times saja. Aris, mendapat bocoran, bahwa aneksasi Irian Barat sudah di “ACC” oleh Amerika, tetapi presiden Kennedy wanti-wanti agar dalam masalah Irian Jaya, Bung Karno bahwa “tidak menggempur Belanda dengan kekerasan senjata..

Surat sakti itu dibawa oleh adik Presiden Bobby Kennedy.

Tak pelak lagi, bocoran langsung di buat cerita exklusif dan dikirimkan dari kantor perwakilan NYT di Paser Baru, tepatnya sekarang Kantor Berita Antara ke NYT- di Amerika. Maka geger-lah dunia perwartawanan. Padahal menurut Aris, sumber data tidak membolehkannya mengopi surat tersebut. Cukup dikutip.

Aris dapat bonus 500 dollar atas prestasinya itu, sementara roket (ini istilah Aris untuk dimarahi) jatuh ke pihak media yang lain seperti AFP, Reuter, karena kecolongan berita. Angka 500 dollar pada rentang waktu 1958-1964, pasti glek..nyem.

Reporter cewek Metro TV yang berhasil melaporkan Tsunami Aceh, sehingga dunia melek bahwa bukan Srilangka negeri yang pertama dan terbesar angka korban akibat Tsunami tersebut. Dan Surya Paloh langsung memberikan cek 70 Juta atas prestasinya.

Atau tengok bagaimana kecamuk di koran terbesar Amerika (NYT) New York Time pada saat “braak” nya WTC pada Sembilan September. Pemred Rained sedang membaca email, malahan belum berpakaian ketika menerima tilpun telah terjadi pesawat tabrak gedung WTC dari Bosnya.

Redaktur NYT Gerard Boyd malahan sedang bercukur. lalu ia ganti pakaian seadanya ke “subway” – sialnya, subway sudah tidak beroperasi. Terpaksa ia pakai taxi dan tiba dikantor pada 9.10 pagi untuk menemui Pemred Raines yang sudah 40menit berada disana dengan topi khasnya.

Kepala Biro Metropolitan, Landman malahan masih di Gym ketika menerima kabar serupa dari istrinya. Ia langsung menilpun ratusan reporternya untuk ke lapangan.

Hanya seorang Chivers (CJ) yang berpakaian rapi saat itu. Pasalnya Biro khusus kepolisian ini ditugasi meliput pemilihan walikota New York, Pagernya berteriak agar ke TKP alias Ground Zero. Ada setengah mil ia berlari dan saat menara selatan mulai roboh, selulernya sudah kehilangan sinyal. Untung tilpun umum masih berfungsi. Redaksi yang masih shok dan bingung hanya berpesan “ikuti saja intuisimu mana yang terbaik akan kamu lakukan..

Dua puluh empat jam berikutnya CJ sudah makan dan tidur di Ground Zero. Ia bahkan sempat pulang pakai kaos US Marine, celana loreng, sepatu boot, menyamar sebagai sukarelawan pasukan Marinir. Ia memang bekas seorang kapiten Marinir. Sebetulnya pekerjaan menyamar adalah pelanggaran kode etik. Tapi semua ia lakukan demi informasi buat NYT sebuah koran yang terbit ratusan tahun lalu. Ada 300 reporter turun ke Ground Zero. Jumlah tersebut kalau di kurs dengan Indonesia adalah jajaran redaksi 10 koran terbesar, tiga puluh fotgrapher, dan 24 jurnalis lepas.

Mudah-mudahan episode selanjutnya DTK masih menggigit. Dan inspiratif. Terutama buat kelompok seperti aku yang “sok jurnalis” seperti diisi ulang

 

Mimbar Saputro
Die Hard Mudlogger.

9/15/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “DTK

  1. Pak,
    Saya minta izin utk menyebarkan tulisan dari blog Bapak berjudul “DTK” ke sebuah maling list jurnalis.

    Terima kasih,
    alfred

    Like

  2. Pak tulisannya sangat membantu.. terimakasih, kenapa DTK tidak ada sinetronnya yah.. padahal kalo di buat sinetron bakalan bagus tuh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s