Posted in Air Force One, Bogor, Bush, Radio Silent

Air Force One


Dalam filem berjudul yang sama, nampak Presiden Amerika Serikat (Harrison Ford) dan keluarga bergelantungan ada seutas kabel yang dijulurkan dari satu pesawat penyelamat ke pesawat resmi presiden dengan call sign “Air Force One” pada ketinggian ribuan kaki yang kalau orang biasa pasti sudah beku lantaran suhu minus 20 derajat, tapi namanya filem, mereka nampak ethel (biasa-biasa) saja meluncur.

Begitu Presiden berhasil memasuki buritan pesawat, pilot menyatakan bahwa Boeing Penyelamat sekian sekarang menjadi pesawat dengan call sign Air Force One. Artinya ada seorang presiden Amerika didalamnya. Sementara Air Force One yang lama kembali menyandang nama Boeing biasa.

Biasanya ciri khas pesawat (Boeing) kepresidenan adalah adanya dua orang berseragam militer yang menunggu dan berjaga di tangga pesawat. Mereka ini orang yang sudah disumpah akan menelan peluru dengan mulutnya, jika ada seseorang yang berusaha mencelakai presiden. Dalam latihan-latihannya, mereka sudah harus reflek akan memayungi tubuh presiden.

Realitasnya banyak kejadian, para pengawal Kepala Negara ketika mendengar suara tembakan, malahan reflek mengecilkan dirinya sambil tiarap agar terhindar dari peluru ketimbang membalas tembakan untuk melindungi presidennya.

Lantas bagaimana bilamana presiden Amerika naik Helikopter. Maka callsign yang berlaku adalah Army One. Sedangkan wakil presiden akan mendapat call sign Army Two.

Gambar yang paling populer adalah ketika Nixon berada di depan pintu Helikopter, memberi tanda “V” Victory. Namun nampaknya itulah perpisahan dengan kursi Oval White House sebab ia lalu dijungkalkan gara-gara hobinya menyadap pembicaraan lawan politiknya.

Bilamana presiden yang naik Kapal Perang, maka call sign kapal perang yang ditumpanginya adalah Army One.Namun ada juga call sign yang membingungkan yaitu Marine One. Ini khusus konfigurasi squadron terdiri 19 helikopter jenis NightHawk atau Sikorsky VH-3D yang diawaki oleh para marinir. Clinton disaat terakhir menduduki jabatannya pernah tertegun saat menggunakan Marine One, sepanjang perjalanan di sudut-sudut dan celah batu karang ia melihat para pengawal memberinya hormat.

Kedatangan Bush melalui Halim Perdanakusuma akan menggunakan Air Force One sekalian membawa Marine One dan Limusin Presiden. Dari Bandara Halim Perdanakusuma, Bush akan ke istana Bogor dengan helikopter Marine One. Indonesia menyiapkan 10 penembak jitu di Halim Perdana Kusuma.

Lalu ada Executive One, yaitu saat presiden menaiki pesawat terbang sipil. Baru satu Presiden Amerika yang nekad menggunakannya yaitu Nixon (1973) dari Washington ke LA. Inipun biasanya langkah diambil saat kritis.

Kalau presiden naik mobil, maka call sign mobil tersebut adalah Cadillac One. Dulu Presiden Amerika dengan leluasa berjalan-jalan ditempat umum tanpa pengawalan berarti, namun setelah terbunuhnya Presiden William McLinley pada 1901, dibentuklah agen rahasia pengaman secara khusus. Sepak terjang mereka kadang sepintas seperti membatasi kebebasan Presiden. Sebab kalau tidak diawasi, beberapa Presiden sering melakukan improvisasi, misalnya tiba-tiba menyeruak di kerumuan massa untuk bersalaman.

Begitu rencana perjalanan di umumkan, maka sibuklah para agen rahasia menyoba skenario pengamanan Presiden berdasarkan laporan Intel mereka. Bisa jadi skenario yang sudah matang digelar, pada hari-hari terakhir diubah total sebab dirasa kurang efisien.

Saat hari “H” – Presiden datang ke negeri yang dikunjunginya dengan kekuatan udara skala kecil, umumnya terdiri dari ditambah kendaraan berlapis baja, ambulan dan peralatan komunikasi canggih. Minimal 250 pengawal bersenjata yang terlatih dan irit bicara, belasan penasihat, anjing pelacak bom selalu menyertai perjalanannya. Bahkan juru masak kepresidenanpun dibawa serta.”Bila Presiden bepergian, seluruh gedung putih bepergian bersamanya, dari kendaraan yang biasa ia tumpangi, air yang ia minum, bensin yang ia pakai, makanan yang ia santap,” tutur John Barletta pengawal semasa Ronald Reagan.Maka bisa dipastikan dalam waktu dekat (20 Nop 2006) call sign Air Force One akan kerap terdengar di udara Indonesia terutama Bogor. Dengan catatan frequensi radio sekitar Bogor tidak diberangus.

Soal “sailen-menyailen” frekuensi radio. Waktu saya di Jambi (1986-an), pernah terjadi seorang “teroris” mampu menembak mati seorang polisi. Modus operandinya dengan berpura-pura menumpang motor yang dikendarai Polisi, lalu menembak kepala sang pembonceng. Habis
itu dia masih menembak beberapa polisi yang sedang berjaga. Akibat perbuatannya Jambi sempat tegang.

Asrama-asrama militer dan polisi melakukan pemadaman listrik agar mempersukar “penembak gelap dan terang” melakukan aksinya yang mirip Rambo.

Celakanya, frekuensi radio yang dipakai Polisi untuk operasi pengejaran, dideteksi oleh group penikmat dua meteran dan dipancar luaskan. Maka bisa dibayangkan, buronan dengan mudah meloloskan diri lantaran dari kejauhan ia mendengar riuh rendah suara kendaraan sama-sama mendekati tempat persembunyiannya. Akhir drama, buronan tertangkap (iyalah dikeroyok pasukan bersenjata) dengan beberapa peluru bersarang diperutnya. Yang luar biasa dia tidak pernah bicara sampai ajalnya. Bahkan saat dibikin “bicara tanpa sadar”, hanya sepatah kata terputus “Lybia”.

Sebelum “mak-les” – nyawanya terbang.Jadi kalau ada yang bilang bahwa pengamanan terhadap Bush terlalu berlebihan, mungkin yang bersangkutan belum pernah mengalami bagaimana bahayanya sebuah frekuensi bila disalah gunakan. Pasalnya kalau sampai ada kejadian, misalnya ada usaha menembak Bush, maka orang cerdik yang sama akan gantian menuduh “militer apa kerjanya, mengamankan Presiden tidak becus…” – atau lebih konyol lagi para politisi “ngeles” berkilah “demi Tuhan saya tidak pernah menyebut kata berlebihan… bisa-bisanya wartawan saja yang memutar balikkan kata-kata “–
11/8/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO

Pemimpin bukan datang dari burung di angkasa, melainkan dari cacing yang melata di bumi dan mencium bau tanah – Penerima Nobel M. Yunus dari Grameen

Skenario Pengamanan Bush

Ring Satu (dalam Istana Bogor), akan dibebankan kepada US Secret Service, Detasemen Anti Teror 88, dan Paspampres.

Ring Dua (seputar halaman IstanaBogor), oleh Satuan Keamanan Polda Metro jaya

Ring Tiga (pintu gerbang dan pagar sepanjang 700m), diamankan Mabes Polri bagian Reserse dan Kriminal.

Ring Empat (putaran kebun raya dari jalan Harupat sampai Juanda hingga stadion Padjadjaran, dibawah pengamanan Polwil Bogor.

Ring Lima (radius lima kilometer), dibawah kendali Polwil Bogor

Pengamanan lain:

  • 18000 persomnel Polda untuk menghadang Demo
  • Jaringan seluler dimatikan selama sepuluh jam
  • Listrik cadangan 2 megawatt
  • Pengalihan rute lalulintas sekitar kebun raya dan Istana Bogor
  • Selama H-7, peralatan militer ditempatkan di pelataran Hotel Salak, misalnya peralatan komunikasi dan kendaraan pamantau.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Air Force One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s