Posted in australiana, oil rig

Spirit Biru


Pertukaran shift di Rig Pengeboran Australia selalu dilakukan semi marathon, full tergesa-gesa. Begitu kaki menjejak dari bandara (domestik) Perth tiba di bandara Karratha, bagasi harus dikoleksi secepat bisa, dan setengah berlari menuju pangkalan Sikorsky yang jaraknya lumayan jauh. Baru saja terengah-engah, maklum bawaan lima belas kilogram kalau dibawa lari cukup membuat “gempor” – apalagi musim panas begini. Setelah memasukkan laptop dan tas ke bagasi. Lho laptop masuk bagasi juga ya.

Maka dua orang petugas sudah menunggui kita dengan sebatang pipa panjang yang diasongkan ke mulut untuk ditiup sementara penunjuk digital perlahan bergerak menunjukkan angka tertentu dengan satuan %.

Ini adalah pengecekan “breathanalyzer” – analisa kadar CO2 yang dihasilkan melalui sistem pernafasan. Tujuannya, bila ternyata kadar CO2 melebih limit yang ditentukan, anda dilarang bekerja di rig. Sangsi administratip lainnya, bisa dipecat dari perusahaan.

***

Alkohol bagi orang Australia bak seperti kuku dengan daging, hampir tidak bisa dipisahkan. Bermacam-macam cara mengingatkan para penggemar hasil fermentasi biji-bijian ini, terutama saat liburan Natal dan Tahun baru dimana konsumsi alkohol akan meningkat tajam. Maka tak pelak, kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi mabuk juga menunjukkan grafik yang “mayan” menghawatirkan.

Di layar TV diperlihatkan sekelompok orang sedang ber hepi-awers disebuah bar sambil bermain bola sodok. Hanya bagian kepala belakang diganti dengan animasi tiruan otak manusia yang jernih dan ber kelap-kelip.

Saat permainan semakin menghangat, segelas bir mulai mengalir dikerongkongan pemain. Hasilnya luar biasa, tembakan-tembakan pada bola biliard semakin “thas thes” ciamik. Namun kalau memperhatikan otak tiruan sang pemain yang semula terang benderang dengan animasi lampu byar pet yang semangkin slow motion, ada endapan berwarna biru pertanda “spirit-biru” mulai mempengaruhi syaraf. Ketika gelas demi gelas mulai masuk mengalir lancar. Tangan pemegang gelas mulai memperlihatkan sedikit gemetar, bir di tangan mulai tumpah, namun suasana semakin ruah gayeng. Hari sudah larut, ketika seorang pemain minta diri, ambil kunci kontak mobil, melambaikan tangan, lalu pulang. Narasi menyebutkan, seseorang yang berada dibawah pengaruh endapan alkohol dalam sistem syarafnya masih bisa mengemudikan kendaraan dengan baik ke rumah.

Namun….

Sebenarnya mereka kehilangan kesadaran “reflek” – sehingga dikuatirkan bilamana terjadi gangguan dijalan yang memerlukan reflek. Maka ancaman maut datang.

Lalu,

Brak!!! digambarkan mobil nyungsep ke pinggir jalan. Jangan-jangan spirit biru melayang dengan spirit pemilik tubuh tersebut. Mungkin itu sebabnya alkohol sering disebut sang spirit. Atau lebih tepatnya sang pencabut spirit.


12/27/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Posted in taxi, taxi australia

Mister 406


Zonder Dial.
Memesan taxi di Australia (saya bicara Perth, Australia Barat) yang sekarang sedang kepanasan, cukup dengan angkat tilpun yang tersedia di Lobi hotel zonder memutar dial, otomatis sistem komputer perusahaan taxi langsung mengenal lokasi geografi sang penilpun sehingga meringkas pertanyaan baku seperti “anda berada di mana” – ancer-ancernya apa yang terkadang sipenilpun tidak jelas-jelas amat TKP mereka.

Setelah suara di ujung sana menjawab, sebutkan nama, dan jam booking yang diinginkan. Bila dirasa waktu jemputan dengan keberangkatan pesawat terlalu mepet, pihak operator taxi wajib memberikan saran agar waktu booking dimajukan lebih awal guna mengantisipasi kemungkinan macet dijalan.

Ada semacam skala prioritas tertinggi bagi pemesan taxi yang hendak bepergian ke bandara. Jadi kalau kebetulan dalam satu hotel ada pemesan lebih dari satu taxi dengan jam yang bersamaan. Bisa dipastikan pemesan tujuan ke Airport mendapat kesempatan dijemput terlebih dahulu. Sekalipun pemesan lain sudah menilpun beberapa menit lebih awal.

Cilakanya sampai sekarang, orang Australia masih sering kepleset mengeja nama berbau Indonesia saya sehingga diputuskan untuk berpuas diri dengan panggilan sesuai dengan nomor kamar. Kali ini saya dipanggil Mr Room 406.

Biasanya jarak dari hotel ke Airport tak lebih 3menit dengan cara mengemudi “lansam” dan patuh taat rambu lalu lintas. Kami mulai bicara¬†soal cuaca, hujan sampai akhirnya menohok ke riwayat hidup sang supir. Kalau mereka jujur dalam pengakuan. Minimal gelar S1 sudah mereka kantongi. Banyak yang pensiunan, lalu berinvestasi dengan membeli sedan untuk di taksikan.

Berbicara dengan pengemudi taxi jauh lebih mudah. Pasalnya mereka umumnya berasal dari Yunani, Somali, Pakistan, India, Portugis, Iran sehingga berbahasa Inggrisnya lebih “ngegroove” di telinga dengan kecepatan semburan beda tipis dengan kemampuan gendang telinga melayu. Sementara orang Australia selalu berbicara lebih mitraliur dengan variasi “slang” yang penuh pernik, cukup membuat mesin penerjemah alami terseok-seok.
Yang menarik, pengemudi hampir seragam dalam memberikan jawaban, misalnya “Saya tidak perlu tidur sambil kelonan dengan jam weker. Tidak kuatir terlambat berangkat kerja..”ujar Mahmud sarjana Listrik dari Iran.

Dengan menjadi supir taxi, saya bisa pulang sesuka saya tanpa harus sungkan dengan absensi dan kondite saya di perusahaan. Kalau saya butuh uang, saya tinggal memperpanjang jam kerja saya. Tanpa harus berdebat dengan manager soal laik tidaknya ambil lembur. Di samping penghasilan saya jauh tak kalah dengan para pekerja kantoran. Memang tidak pakai dasi. Mungkin alasan mengapa menarik taksi kurang disukai” kata Amjad Ali¬† sorang sarjana Geologi keturunan Pakistan.

Lantas saya lakukan cek silang dengan seorang mudlogger yang lulusan Geologi Sydney dan berpengalaman selama lima tahun menjadi supir taxi. Dia mengaku memang penghasilan perminggunya cukup rupawan. Namun toh pekerjaan tersebut terpaksa ditinggalkannya. Pasalnya kebiasaan makan daging kambing, minum susu full cream, dan mengabaikan sayuran mengakibatkan ada gangguan di pinggang sehingga ia tidak bisa berlama mengemudikan taxi dan memilih menjadi mudlogger.

Apa yang menarik dari menonton ulang Sister Act-2 yang di mainkan oleh artis hitam, Whoopie. “Kalau setiap bangun pagi tetap hal yang diingat mula-mula adalah ingin menulis, maka sebenarnya adalah penulis. Sekalipun belum menghasilkan sepotong tulisan…”

Posted in oil rig

Ijin bermain adegan panas


Sering melihat tukang las ?.
Sebelum memulai pekerjaan. Pawang ular api akan menggunakan sarung tangan kulit yang tebal, pelindung wajah seperti tameng, biasanya helm berkaca gelap yang jelas bukan barang nikmat untuk dikenakan berlama-lama lantaran pengap, panas dan yang pasti berbau apek.

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh, lanataran peralatan kerjanya sedemikian rupa sehingga begitu api dipantik, dia tenggelam dalam dunianya sendiri. Suara desis dan letupan kecil kawat patri beraliran listrik tinggi ditempelkan kepada besi yang akan dilas mengiringi pekerjaanya.

Mereka baru bisa disapa saat usai mengeluarkan jurus “ciluk ba” dengan membuka kerudung baja memperlihatkan wajah yang berkeringat dan mata yang nanar akibat melihat sinar teramat kemilau.

Di rig pengeboran Australia, seorang tukang las selalu didampingi seseorang asisten. Biasanya selain menggunakan coveral, merek “Yakka”, asisten “tanpa gawean” ini memakai rompi berwarna jingga bergaris kuning yang jika dikenakan malam hari akan berpendar seperti petugas jalan tol (tapi bukan) sehingga menarik perhatian. Lucunya sang “pengamat api” tidak boleh memberikan bantuan tenaga maupun pikiran. Ia hanya memberikan bantuan perpanjangan “mata” sang tukang las.

“Orang kagak ada kerjaan” ini akan bertanggung jawab, saat terjadi kebakaran akibat pekerjaan pengelasan. Maklum juru las kalau sudah berkerudung topi ala penjahat legendaris Aulia “Ned Kelly” mana dia perhatikan sekelilingnya. Sekalipun terjadi kebakaran akibat panas yang ditimbulkan.

Maklum kedua, di Rig, korek api jres, dan korek api gas adalah barang terlarang yang harus diserahkan kepada petugas di rig selama person tersebut bekerja di rig dan diambil kembali saat meninggalkan rig.

Lalu bagaimana dengan tukang las yang bermain lidah api ribuan derajat selsius. Dispensasi macam apa ini ?

“Ijin bermain panas”

Sebelum bekerja tukang las harus mengisi formulir, waktu akan melakukan pekerjaan, bahaya yang kemungkinan timbul. Kalau anda memergoki ada tukang pakai aji “kerja dulu, urusan lain (keselamatan) boleh dikesampingkan” – disudut rig tersedia kertas kecil “stop card” – sebuah kartu isian buatanb duPont untuk melaporkan kejadian yang kita lihat, imbalannya, kalau beruntung, laporan kita bisa menghasilkan lima puluh sampai seratus dolar. Apa artinya uang segitu kalau sebuah rig terbakar gara-gara kecerobohan tukang las, misalnya.

Kasusnya memang pernah terjadi, disebuah rig pengeboran nampak tukang las didampingi “pengamat” yang selalu siaga dengan alat pemadam kebakaran. Pengamat ini anak muda yang baru direkrut sehingga “filosofi” mengapa dia petentengan melihati orang bekerja, tidak dipahaminya. Matanya mulai manatap laut, membayangkan kalau liburan surfing di Bali sampai-sampai tanpa disadarinya api sudah menjalar salah satu bangunan.

Kepanikan terjadi ketika api mulai sulit dikuasai dan rig harus bersender ke pelabuhan untuk dilakukan perbaikan – berminggu lamanya. Kalau sebuah rig sewanya satu juta dollar perhari, maka berapa uang sudah terbuang.

Hal nyaris terjadi di rig saya. Rupanya ada sisa gas “uji produksi” yang masih mendekam sekitar lantai bor. Padahal tahap uji produksi sudah selesai, peralatan dipretheli (dicopot), dan yang sudah terlanjur dilas agar kokoh dudukannya, harus dipotong. Saat memotong inilah gas yang ternyata tidak hilang dengan hembusan angin laut, bereaksi dengan api las sehingga menimbulkan api biru sekitar pak Las. Namun kali ini sang pengamat lebih sigap, api kecil diberondong dengan semburan asap putih pemadam kebakaran sampai padam.

Mengelas memang bukan pekerjaan main main.


21/12/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO

Posted in ide

Dari kaos kaki terbitlah kelos pancing


Saya memiliki kebiasakan yang “nggilani” – yaitu soal kaos kaki basi. Untuk meyakinkan bahwa benda ini laik masuk mesin cuci, maka saya percayakan kepada hidung. Dan “wieeew” – rasanya hidung saya inilah sarana “quality control” meyakinkan bahwa aroma molto sudah pindah departemen ke aroma “buadek ora jamak-jamak”. Kebiasaan lain adalah menggulung sepasang kaos kaki menjadi bola kecil sebelum melemparkannya ke keranjang cucian.

Rupanya, Greg petugas laundry rig pengeboran bilang “hey mate, dont roll your socks, its not dry on the machine..” – tidak heran kadang kaos diterima dalam karung cucian masih basah. Sejak itu di rig pengeboran, saya “puasa” menggulung kaos kaki, tapi diam-diam tetap “berbuka” dengan mencium kaos apak.

Tetapi William Shakespeare, seorang Michigan USA, bukan penulis drama, memiliki kebiasaan lain. Saat dia menggulung kaos kaki dan mempermainkannya, sekonyong-konyong Eureka! – terpercik ide untuk membuat gulungan benang pancing (kelos) yang biasa dipakai para penggemar pancing. Waktu itu sekitar tahun 1890, Bill lalu mematenkan penemuannya pada 1897. Anak ini memang cerdas menuruni bakat dari sang ayah yang menjadi Jendral militer pada usia 19tahun, sebuah prestasi luar biasa. Harap maklum sedikit, itu jamannya perang saudara di Amerika. Soal percikan ide dari sepasang kaos kaki basi ia bertutur dalam sebuah interview, “sepertinya tidak masuk akal, apa sih hubungannya kaos kaki dengan engkol pancing. Saya harap ahli jiwa bisa menjelaskannya..”

Usaha “Jendral pancing” ini cukup moncer. Sebuah reel dijual 35dollar pada waktu itu, setara dengan harga sebuah kuda balap. Cuma akibat perang, tahun 1915, perusahaan ini menyetop alat pancing dan gantian memproduksi karburator dan sekring.

Sekarang perusahaan alat pancing yang sudah berusia 110 tahun ini membuka pabrik di China. Penerusnya melihat kemampuan orang China yang tangguh dalam berproduksi, ditambah tenaga kerja murah, bebas pemogokan tak heran arus modal mengalir ke China. Dari sini saja sekitar 30000 engkol disebar ke penjuru negeri.

Siapa nyana, semula bermula dari pekerjaan sehari-hari, mengganti kaos kaki, menggulungnya dan Eureka! jadilah sebuah hak paten.

Mimbar Bambang Saputro

Posted in mudlogger

Mudlogger dan Wikipedia


Suatu hari saya mencari artikel di google. Telusuran kata “mudlogger” membawa saya ke suatu website dengan simbol zigsaw terbentuk dari kata alfa sampai omega, dari alif sampai iya sampai membentuk sebuah bola dunia yang belum bertemu seluruhnya. Perhatian saya mulai tertuju sebab “kapan tempo” menelusuri mesin pencari internet, lagi-lagi bertemu dengan alamat “wikipedia.”

Rupanya pemunculan situs berisikan ensiklopedi gratis ini berawal dari kerisauan Jimmy “jimbo” Wales yang kian hari berkecimpung di internet, maka ia seperti berenang di lautan spam, pop-up-ads, iklan pornografi, atau makanan anjing. Visi bahwa internet akan digunakan bagi kepentingan manusia sudah melenceng jauh. Jimmy, ayah dari seorang anak perempuan juga kuatir orang tua akan menjauhkan anaknya dari internet, yang kadang memang sudah keterlaluan kasarnya.

Lalu muncullah visi menjadikan sebuah situs penuh dengan sumber ilmu pengetahuan, sejarah, tetapi dibuat secara sederhana oleh pembacanya sendiri. Cukup buka situs, dan pilih edit, maka terbukalah sebuah halaman kosong untuk menyurahkan ilmu pengetahuan, informasi seperti layaknya ensiklopedi dalam bentuk cetakan. Tak heran lantaran, sebagai pengusaha percetakan, Jimmy juga seorang pembaca ensiklopedia yang tekun. Baginya membaca ensiklopedi seperti membawa seseorang melompati waktu lantas terlahir dengan kemampuan pengetahuan yang berbeda. Dengan ensiklopedia kepingin tahu mengapa ada orang menjadi transverstite, pembaca dibawa ke jaman kerajaan dinasti Ming, kerajaan Jepang, Arab. Sementara ingin mengetahui taksonomi ular, pembaca seperti berhadapan dengan guru besar ilmu ular.

Gayung bersambut, Larry Sanger, seorang penyandu komputer dan programer memperkenalkan ciptaannya lalu mereka membuat situs yang mula-mula diberi nama NuPedia. Situs ensiklopedia ini digandrungi para penulis-penulis muda sampai senior. Hanya kemajuannya masih “jalan ditempat” sebab ensiklopedi masih dikerjakan oleh orang yang sangat kompeten, yang biasanya sangat sibuk dengan pekerjaan utamanya.

Ketika sebuah software bernama “wikipedia” diperkenalkan lagi dengan cara yang dirasakan mudah dipakai oleh siapa saja, Jimbo Wales langsung membuat situs dengan nama wikipedia. Dalam setahun mereka berekspansi melanglang benua sekalipun sempat terhenti sejenak ketika terjadi perbedaan pendapat antara mereka berdua sehingga Larry mundur dari kongsi ini.

Bila berbicara didepan umum, ia gemar membawa gambar rombongan semut berjalan disebuah pelepah kayu. Semut secara individual tidak berarti. Namun ketika mereka saling bahu membahu, sebuah gunung bisa dihasilkan. Penulis dari sekujur dunia memang tidak saling mengenal. Kemungkinan malahan saling bertabrakan. Namun, mereka akan saling hidup harmoni untuk membentuk komunitas tersendiri. Filosofi demikian ditelinga Larry temannya sangat menggusarkan “itu filosofi anti elit.”

Sekarang Wales seperti seorang raja di istana Wikipedia. Mereka membuat kelompok elit yang dinamakan para birokrat. Tugasnya mengawasi penulis yang nakal, termasuk penjaja MLM atau Atribut Pornografi. Bila dalam 24jam seseorang mengirimkan artikel yang sama sebanyak 3kali, tak ayal ada polisi kerajaan wikipedia yang mengusirnya.

“Pusaka Kerajaan” yang saat ini dipertahankan mati-matian dari kejahilan para penulis adalah George Walker Bush. Banyak serangan atas artikel sehingga dikeluarkan kebijakan untuk membuat artikel George Bush tidak bisa disunting kecuali oleh para birokrat kerajaan. Namun Wales juga pernah kecolongan beberapa artikel seperti salah seorang staf John F Kennedy sempat ditulis sebagai otak pembunuhan keluarga Kennedy. Tidak ada yang perduli dengan tulisan tersebut, namun tatkala pemilik nama tersebut melihat namanya terpampang selama 4 minggu di Internet, langsung ia gusar dan membuat protes keras. Akhirnya artikel tersebut memang dihapus.

Seperti layaknya situs gratis, maka bermunculan pula edisi dalam bahasa lain seperti Arab, Hebrew, Rusia, Denmark sehingga mudah dipahami bagi yang tidak menguasai bahasa Inggris.

Padahal dahulu, menulis ensiklopedia umumnya profesor botak, hasil kerja tim yang memakan waktu bertahun-tahun, satu persatu kalimat harus bisa diriwayahkan asal usulnya. Kini era para snobis memajang ensiklopedia mahal diruang tamunya, seperti sudah “hare geneh”.

****

Berikut kutipan yang saya dapat dari wikipedia.

Mudlogger
“A mudlogger in the modern oil field is tasked primarily with gathering data and collecting samples during the drilling of a well. They then organize this information in the form of a graphic log, showing the data charted on a graphic representation of the wellbore.
Mudloggers observe and interpret the indicators in the mud returns during the drilling process. At regular intervals the mudlogger logs properties such as drilling rate, mud weight, flowline temperature, natural gas content and type, oil indicators, pump pressure, pump rate, lithology (rock type) of the drill cuttings, and various other items of interest. The job of a mudlogger requires a good deal of diligence and attention. Sampling the drill cuttings must be performed at proper intervals, for example, and can be difficult during rapid drilling.
Another important task of the mudlogger is to monitor gas levels and notify other personnel on the rig when gas levels may be reaching dangerous levels, so appropriate steps can be taken to avoid a dangerous well blowout.” – wikipedia.org

Mimbar Bambang Saputro

Posted in mudlogger

Adakah pekerja wanita di Pengeboran Laut?


Banyak pertanyaan dialamatkan kepada saya. Apakah ada pekerja perempuan di rig pengeboran. Jawabnya tentu saja sebab Australia adalah negeri yang menganut persamaan hak antara pria dan wanita. Rekan kerja saya seusia anak saya,21, geologiawan lulusan London ini, baru bergabung pada tahun 2006. Hobinya menulis buku harian, berinternet layaknya para generasi “Y”

Pertanyaannya, bagaimana sikap karyawan pria terhadap cewek-cewek ini? – sebagaimana manusia biasa tentu ada kerlingan berarti. Namun ada satu kode etik dimana melecehkan wanita adalah pelanggaran serius. Anda tidak boleh misalnya “ah elu perempuan tahu apa?” – hal yang biasa diperlihatkan dalam lenong rakyat, bisa berakibat fatal disini. Seorang teman yang berasal dari Amerika Latin sekali pernah berbantahan dengan rekan kerjanya yang wanita. Rupanya ia keceplosan bilang “mangkanya elu kawin, jangan jomblo saja…” – si lajang, yang merasa bahwa kawin adalah bukan soal sesederhana “bagaimana omongan tetangga dan teman arisan” langsung naik pitam dan melaporkan kejadian ini kepada manager rig. Lawan bertengkarnya langsung tidak diperbolehkan bekerja di rig tersebut.

Mimbar Bambang Saputro
Posted in rekreasi, rig pengeboran

Ruang Rekreasi di Pengeboran Minyak (Laut)


Ada pernyataan saling tumpang tindih. Laut itu luas sekaligus sempit maksudnya laut memang luas ngablak-ablak tetapi, ruangan tempat tinggal sempit. Bekerja di ruang sempit menimbulkan kejenuhan kalau tak pandai menyikapinya. Belakangan saya sering berbincang dengan pakah Feng Shui mengenai mengapa di rig laut kita mempunyai wc didalam kamar, wc diatas kamar, wc disamping kamar, padahal menurut ahli tersebut tidak baik. Suhu Tan menjawab, mangkanya pekerja rig banyak yang stress.

Bagi yang gemar membaca, di laut disediakan perpus untuk bacaan semacam novel. Novel ini makin lama makin panjang daftarnya sebab setelah membaca buku mereka biasanya meninggalakan buku tersebut untuk dibaca pihak lain yang berminat.

Bagi yang hobi ngemil, 24jam kantin terbuka. Yang senang menonton ada perpus dengan pelbagai filem termasuk kategory tiga sampai empat X. Tetapi sejak masuknya DVD buatan Cina yang terkenal murah disertai teknologi Ipod, menonton filem bersama sudah jarang dilakukan. Mereka melakukannnya di kamar masing-masing. Paling terdengar orang ngakak. Kalau filemnya lucu.

Memancing ikan, sebuah kebiasaan di rig Indonesia, sama sekali tidak diperkenankan sebab tali nilon yang kelihatannya sepele kecil kalau sudah menggubet, melilit bagian kapal seperti baling-baling dan peralatan lainnya, sama runyamnya dengan benang layangan dikabel listrik kita. Sayangnya di Indonesia, justru para supervisor kita yang memberi contoh yang kurang memperhatikan keselamatan kerja.

Bagi penggemar olah raga, saya perlihatkan gambaran sebuah kehidupan di rig laut.

Ruang rekreasi. Penayangan TV “FoxTel” semacam Indovision yang tidak bintik-bintik itu kata sang empunya perusahaan. Urusan music arahkan remote ke saluran MTV, bagian olah raga tentunya lain selera. Olah raga yang disukai disini adalah sejenis american football dan cricket sehingga bagi saya yang tahunya badminton dan bola sepak, rada tersandung-sandung melihat permainan bola lempar. Minggu sore penayangannya filem-filemnya rada NgNgtR alias ngeres-ngeres tapi resep.

Ruang tilpun para crew. Gratis seantero Australia. Saya malahan gratis menilpun keluarga di Singapore sebab kenyataannya Starhub milik negeri Singa ini jauh lebih berjaya ketimbang Telstra nya Kangguru. Agar menilpun dari Australia lebih murah. Istilahnya citarasa Global, tarip lokal dipakai kartu tilpun murah semacam “daybreak” – yang dengan 10 dollar (70 ribu) anda bisa menilpun 100 menit ke tanah air, asalkan handphonenya fleksi, starone. Disamping telkom biasa.Jangan remehkan lemari besi ini. Anda baru tahu manfaatnya jika ternyata anda harus bekerja untuk 1 bulan, lalu kehabisan rokok, sikat gigi, odol, shampoo, permen karet tetesan embun, coklat cadbury, aftershave (apalagi bagi penerbangan lintas Amerika mengharamkan barang-barang dibawa dalam penerbangan). Harganya tentu sedikit mahal. Tetapi keberadaannya menolong. Kertas papier $0.50 (3500 idr), deodoran $4 (28000 idr), Coklat Cardbury $3 (21000 idr), Sebungkus rokok Rokok Filter BH $12 (84000 idr), odol kecil $3.50 (24500 idr), Sikat Gigi $2 (14000 idr), Shampoo $7 (49000 idr), Cream Cukur $3 (21000 idr) dan permet karet $1 (7000 idr). Lalu ada tulisan dipintu lemari bahwa “It is against company policy to use credit” – maksudnya “hari inih (pakai h), bayar kontan, besok harih (h), boleh utang(malahan tanpa h)”

Herannya walaupun kue coklat seabreg-abreg disini, para crew masih rela mengeluarkan dua puluh ribu rupiah lebih untuk beli Cadbury. Mungkin kecilnya dulu dikasih uang jajan terus sehingga walau perut sudah kenyang, jajan adalah ritual.

Ruang olahraga tergolong lengkap. Mulai treadmill, sepeda stasioner, jalan tanjakan, mendayung, angkat beban semua komplit disini. Bahkan hampir tiap mesin dilengkapi sensor untuk mengukur denyut jantung. Saya pernah kepancing emosi disini. Para pekerja rig disini, liburannya pada ke Bali, surfing – jadi badannya pada berotot. Entoch sehabis bekerja keras di menara bor, paling tidak sejam dihabiskan waktunya untuk berolah raga, sambil menyetel lagu-lagu keras. Celakanya peralatan olah beban habis dipakai mereka, ukurannya pasti sangat berat untuk usia dan kemampuan saya. Sekali sekali saya ganti dengan yang ukuran 20kiloan. Tapi lama-lama bosan juga gonta dan ganti beban. Sampai satu ketika melihat halter begitu guede seperti tertantang sebagai penganut tenaga pusar” – hari gini saya coba uji kemampuan tenaga tersebut. Setelah konsentrasi sebentar, mengumpulkan cadangan tenaga di pusar. Dan hup beban 40×40 saya angkat. Betul juga, badan saya terangkat, sementara halter bergeming. Sampai setahun bahu kiri saya sakit lantaran pernah “salah urat” menerapkan aji besar pasak dari tiang. Sial bener. Salahnya percaya.

LOST AND FOUND

Pemandangan lain di ruang olah raga adalah kotak “lost and found” – crew disini memiliki kebiasaan main tinggal pakaian kerja merek terkenal Yakka, kaos, sepatu RedWing, dan pelbagai asesori. Biasanya barang ini ditumpuk disudut.

Kalau tidak ada yang mengklaim dalam seminggu, langsung masuk kotak untuk dibuang ke darat.

Bayangkan berapa kotak disitu. Lalu saya ingat di kawasan dermaga Tanjung Priuk pada tahun 1980-an, dimeriahkan oleh coveral warna biru muda tertulis Reading &Bates, nama sebuah perusahaan pengeboran yang moncer waktu itu. Kalau sempat ada yang rajin mengumpulkan barang bekas dalam kondisi bagus ini dari rig ke rig, barangkali istilah Roma (rombengan Malaysia) bisa berganti RoSet (rombengan setrali).

Mimbar Bambang Saputro
mimbarsaputro.wordpress.com