Posted in BCA, cash deposit, setoran tunai

Menyetor uang secara otomatis – Duh Ribetnya


Adegan komedi Warkop memperlihatkan Dono mengambil uang di sebuah mesin ATM (waktu itu masih baru diperkenalkan). Baru saja berjalan beberapa langkah sambil membelakangi mesin ATM, Dono berbalik lagi. Ternyata jumlah uang kurang dari seharusnya. “Masih kurang tauk! katanya kepada ATM. Namanya komedi, ndilalah mesin ATM tanpa banyak cingcong membayar kekurangan yang diterima oleh Dono sambil gerundelan “baru jadi mesin sudah nyoba korupsi..”

Pernah pengalaman menyetor tunai di ATM? – maksud saya mesin “Cash Deposit” – urutan yang diperintahkan adalah memasukkan Passport BCA, mengisikan PIN lalu mak-jeglek” laci dibawah layar membuka dengan perintah memasukkan uang. Maksimum lima juta untuk setoran per hari. Beberapa detik diberikan sebelum laci menutup secara otomatis menghitung uang. Hanya uang pecahan 50ribuan dan 100ribuan yang diterima sebagai alat penyetoran yang sah. Sekalipun tergolong terlambat bila dibandingkan negeri lain. Namun tidak mengapa. Betapa praktisnya sehingga terbersit pikiran masa-masa menyetor uang (dibawah 5 juta) dengan anteran panjang di BCA memasuki jaman Yurassic.

Ternyata, saya salah meramal.

Sekali waktu saya menyoba menyetor uang 100 lembar pecahan 50-ribuan. Di ATM Mal Pondok Indah. Ketika laci terbuka, uang segera saya masukkan. Tidak lama laci menutup. Terdengar desiran uang, seperti debaran jantung saya menunggu hasil ujian diumumkan.

Mak-Jeglek, laci terbuka dengan perintah di layar “ambil uang anda?”

Apa-apaan ini. Perasaan sudah dihitung dari rumah berkali-kali dengan jumlah yang sama lima juta rupiah. Padahal yang saya harapkan adalah uang dihitung lalu didebet kedalam rekening saya sesuai jumlah yang saya setor. Uang yang ditolak saya susun kembali lalu saya masukkan kedalam laci yang menganga. Namun sekali lagi betapa terkejutnya ketika mesin masih saja menyisakan beberapa lembar seakan-akan uang yang dikembalikan adalah tergolong lecek, terlipat, robek, dikaretin, atau distaples seperti petunjuk larangan pada mesin. Padahal uang kertas tersebut relatif terlihat baru, maklum baru ambil dari ATM bank lain. Sayangnya hari sudah malam. Bank pada tutup. Kepada siapa daku akan bertanya.

Lain kesempatan di tempat yang berbeda, siang hari di BCA Mal Pondok Gede, saya menyetor dengan jumlah sekitar 3,5 juta terdiri dari pecahan lima puluhan. Lagi-lagi mesin hanya mengambil 3 juta sementara sisanya dikembalikan. Melihat saya seperti mati langkah percaya tak percaya akan yang saya alami, pak Satpam yang bertugas berbisik, “mesin ini hanya doyan pecahan seratus ribuan”.

Lho kok elok tenan?

Melihat panjangnya antrean dibelakang saya. Kartu Passkey saya cabut. Dan saya mengulangi antri sambil memperhatikan pengguna lainnya. Ee lhaa..dhallah, tobil anak kadal. Saya tidak sendirian paling tidak lima pengantri mengalami masalah yang sama. Entah mengapa mesin gagal mendeteksi seluruh uang yang kita masukkan. Hanya seorang ibu sukses berat lantaran saya lihat uangnya berwarna merah maroon. Sementara emisi berwarna biru, bermasalah.

Ampiyun (pakai “iy”)… Apakah mesinpun sudah mengenal diskriminasi rasial dengan memandang warna kulit (eh kertas).

Ternyata, kalau anda terburu-buru sementara jumlah yang disetor harus pas. Lebih baik menggunakan metode setoran tunai di loket. Atau jumlah uang setoran dilebihkan buat jaga-jaga kalau sebagian ditolak mesin.Mungkin dialog dalam episode ini diubah “baru jadi mesin sudah lolak-lolok kederan menghitung uang nasabah..”

atau…

baru jadi mesin sudah ikutan mengenal ras warna uang…” – kayak petugas kelurahan bagian KTP aja.

Pondok Gede 6Januari 2007

ndilalah= kebetulan,jw
mak-jeglek=kejadian tiba-tiba,jw
lolak-lolok=melongo,jw
kederan=bingung,betawi
elok tenan=sindiran, ungkapan perasaan aneh, jw

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Menyetor uang secara otomatis – Duh Ribetnya

  1. Mesin setoran ATM BCA memang gitu Mas … gak nrimo lembaran 50 ribuan yang baru gress yang berwarna biru …
    Suatu kali di ATM BCA Wisma 46 BNI saya narik uang … eh, belum juga itu uang 50 ribuan lama yang warnanya agak abu2 kehijauan saya masukan dompet, mak jegagik … ujug tiba-tiba ada seorang ibu 1/2 baya menghampiri dan berucap : “Pak … bisa tukar uangnya satu juta saja ….? Soalnya mesin ATM setorannya gak mau nerima uang 50 ribuan yang baru… maunya uang 50 ribuan lama….!”. Yo uwis, jadinya uang kami bertukar tempat … saya dapat uang yang masih gress kinyis-kinyis …

    Wassalam,
    ST

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s