Posted in frans, gaya hidup, musik, papua, sisir

Bermain Saxophone pakai tas kresek


Apa yang terbayang dalam benak sementara orang ketika mendengar kata “bonek“atau “hooligan” -Sekelompok pendukung fanatik-abis olah raga Sepakbola yang berbaju warna warni, tingkah laku aneh-aneh doyan teriak-teriak dengan mulut bau alkohol, muka di coreng moreng dan umumnya tidak padat bekal. Maklum mereka sekedar penggemar olahraga dan bukan anggota DPR sedang studi banding.
Namun mantan bonek kelahiran Biak, hampir 40 tahun ini kehadirannya justru ditunggui banyak orang, sebab ia mampu bermain musik dengan alat non musik tradisional. Tatkala teman-temannya membawa terompet, genderang untuk mendukung kesebelasan pujaannya, maka ia cuma punya sisir dan sebuah kantong kresek.

Diantara riuh rendahnya para penggemar sepak bola menunggu pertandingan, ia mengambil sisir berbalut tas belanja plastik yang dikenal sebagai tas kresek. Dari mulutnya terdengarlah suara mirip saxophone namun bernada lebih riang. Seperti riangnya anak-anak di pulai Mundi tempat kelahirannya di Papua ketika mereka mencari ikan, kepiting kecil. Kadang suaranya meninggi seperti laut yang sedang penuh amarah. Atau kadang lirih seperti juga alam yang mulai nampak tersenyum usai membuang kekesalannya.

Bakat alam ini pemuda yang juga pernah menjalani hidup sebagai petinju amatir ini diasahnya dan mencoba mengais rejeki di Jakarta.

Masa kecilnya sering ia habiskan untuk mencari ikan dipantai sambil bermain-main alat musik terbuat dari daun pisang atau kerang. Frans demikian nama pria ini atau lengkapnya Frans Rumbinu ketika ia memberikan kartu nama berwarna kuning keemasan saat ia berada di belakang panggung meramailkan sebuah perayaan di Sahid Jaya tiga tahun silam.
Logo sisir tertera dikiri atas kartu namanya tak heran kondanglah ia dengan nama Frans Kenny “G” Sisir.
Untuk ukuran orang Papua, ia memang tergolong tampan. Jangan lupa ia punya reputasi pemain bola selain petinju sekaligus. Jadi dari tubuhnyapun membantu penampilan di panggung.
Malam itu ia membawakan musik “spiritual” instrumental “Danny Boy” yang mengalun indah dari sisir kecil berwarna putih milik seorang tamu undangan yang ia pinjam. Pembawa acara berkomentar “sisir hotel” sebab warna sisir ini memang khas hotel. Kalau saja pembawa acara penggemar Dangdut, kebiasaan merapikan rambutnya mirip Oma Irama.
Tepuk tangan makin keras diberikan hadirin ketika ia menyanyikan lagu tersebut sambil kadang-kadang bersaut-sautan dengan suara saxophone anggota band. Sungguh suatu pertunjukan kemampuan musikal yang tinggi sehingga penonton tiada henti-hentinya bertepuk mengikuti penampilannya sampai saat Frans mengakhiri shownya. Seisi hall nampak tersihir sejenak lalu saat “mendusin” langsung berteriak “lagi-lagi!.”
Latin Night yang dijagokan dalam acara ini malahan seperti tenggelam dibawah sisirnya Frans.
Padahal segudang gadis semampai berbetis bak padi membunting dengan baju aduhai tak henti-hentinya menghampiri hadirin turun menari.

Selain beberapa kota di Jakarta, ayah dua anak yang memulai kariernya dipaduan suara dikomunitasnya ini pernah ditanggap di Belanda. Ia kini berlatih saxophone secara serius dan belajar menyanyi. Siapa tahu dilirik produsen rekaman.

Jadi siapa bilang main musik harus mahal.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Bermain Saxophone pakai tas kresek

  1. aku sangat kagum

    gimana sih supaya bisa main soxophone hanya dengan plstik kresek dan sisir???

    cara mainin nya gimana gitu????

    ada trik khususnya ga???

    Like

  2. cobah lihat hal-hal seperti ini kalau tidak di publikasikan sama saja percuma jangan hanya di internet tapi lewat televisi andalan orang Papua tu cobalah dan usahakan bisa disaksikan oleh masyarakat di seluruh tanah air ……

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s