Posted in singapura

Ketika Indonesia Meledakkan Singapura


Sepasang turis bule nampaknya kebingungan ingin mengabadikan kawasan Istana Park (depan kediaman Presiden Singapore di Orchard Road) .

Saat mereka celingukan, saya tawari “need a hand?” lalu bule tersebut tanpa ragu menyerahkan kameranya dan mereka berdua saya jepret dua kali.

Senang rasanya melihat orang tersenyum hanya karena “klik”. Saat bule berlalu, saya menatap sebuah plakat yang menceritakan “highlight” Singapore.

Lalu mata terbelalak membaca peringatan tanggal 10 Maret 1965, sekelompok teroris meledakkan gedung Shanghai & Hongkong Bank yang dikenal sebagai gedung Mac Donald, menewaskan dua perempuan Cina dan seorang Melayu.

Semua orang tahu bahwa bom waktu yang dipasang pada lift lantai Mezzanine tersebut akhirnya menyeret dua prajurit KKO (Korps Komando Operasi), kini Marinir bernama Usman dan Harun ke tiang gantungan pada tahun 1968. Mereka dikebumikan di Taman Makam Pahlawan, sementara Singapur menyebutnya teroris. Anak saya yang lahir pada 1981 dan 1987 jelas kaget ketika saya ceritakan runtutan kejadiannya.

Pada 31 Agustus 1957 berdirilah negara Persemakmuran Malaya. Singapore ingin bergabung dalam persemakmuran namun ditolak oleh Inggris. Lalu pada 16 September 1963 dibentuk federasi baru bernama Malaysia yang merupakan negara gabungan Singapura, Kalimantan Utara (Sabah), dan Sarawak. Kesultanan Brunei kendatipun ingin bergabung dengan Malaysia, namun tekanan oposisi yang kuat lalu menarik diri. Alasan utama penarikan diri adalah Brunei merasa memiliki banyak sumber minyak, yang nanti akan jatuh ke pemerintahan pusat (Malaysia).

Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Soekarno yang sejak semula amat menentang pembentukan negara tersebut lalu mengirimkan pasukannya untuk membubarkan negara yang sudah lahir.

Infiltrasi pasukan (yang dinamakan oleh Singapore sebagai Teroris) dilakukan. Gedung Hongkong dan Shanghai Bank yang lebih terkenal dengan nama MacDonald House berhasil diledakkan oleh pasukan Indonesia. Tanggal 10 Maret 1965, jam 15:07 petang sebuah bom waktu ditanam pada dekat lift pada lantai mezzanine dari gedung berlantai sepuluh ini .

Akibat ledakan dua warga cina Suzie Choo, 36 dan Nona Juliet Goh,23 yang sedang bekerja disana langsung tewas seketika. Menyusul seorang warga melayu tewas dan 33 lainnya cedera. Untunglah beberapa menit sebelumnya bank telah tutup (jam 15:00), sehingga korban tidak bertambah.

Dari pengeboman lain yang terjadi di Singapore, maka bom inilah yang paling serius.

Dua prajurit KKO, Usman Said dan Harun Ali tertangkap oleh satuan khusus anti teror Singapore (dan Inggris). Mereka lalu di hukum gantung pada 17 Oktober 1968 dan jenazahnya di makamkan di TMP Kalibata.

Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965 di gedung Hongkong and Shanghai Bank (dikenal dengan nama MacDonald House) yang terletak di Orchard Road, Singapura. Bom waktu tersebut dipasang oleh dua orang Indonesia yang merupakan anggota Korps Komando Operasi, Harun Said dan Usman Hj Mohd Ali pada saat berlangsungnya Konfrontasi. Tiga orang meninggal dunia dan sedikitnya 33 orang dicederai.

Sejak tahun 1963, pemerintah Indonesia telah menentang penyatuan Malaysia. Pemerintah Singapura mengatakan bahwa Indonesia kemudian mengirimkan orang-orang yang bertujuan menyabotase keadaan di Singapura dan Malaysia dengan mengeksploitasikan perbedaan ras di kedua negara serta merusak instalasi-instalasi penting. Menurutnya, orang-orang kiriman tersebut kemudian meledakkan bom di tempat-tempat umum untuk menciptakan ketegangan dan panik. Pengeboman di MacDonald House merupakan pengeboman yang paling serius dari seluruh pengeboman-pengeboman yang terjadi di Singapura. Dua korban yang tewas berasal dari suku Tionghoa sedangkan satunya lagi adalah orang Melayu.

Setelah kejadian tersebut, petugas-petugas dari Departemen Keamanan Dalam Negeri serta Kepolisian Singapura menangkap Harun dan Usman. Keduanya dihukum gantung pada tahun 1968.Usman Janatin bin H. Ali Hasan (Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943Singapura, 17 Oktober 1968) adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia.

Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Harun, ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965 (lihat Pengeboman MacDonald House).

Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

*****

Reporters: Jackie Sam, Philip Khoo, Cheong Yip Seng, Abul Fazil, Roderick Pestana and Gabriel Lee

A BOMB explosion killed two office girls in the Hongkong and Shanghai Bank building known as MacDonald House in Orchard Road here this afternoon. At least 33 other people were injured. The extent of the damage on the mezzanine floor of the 10-storey building made it a simple matter to determine where the bomb was placed — near the lift.An inner wall at this level was blasted inwards and collapsed in a mass of rubble into the bank on the ground floor.

Windows shattered

Killed immediately were Mrs. Suzie Choo, 36, private secretary to the Bank Manager, and Miss Juliet Goh, 23, a filing clerk in the bank.
Many others — in the bank and on the road — fell like ninepins, many seriously injured. Every window within a hundred yards was shattered, and almost every car immediately outside the building and across the road was damaged.  Passing cars jolled to a halt. A taxi-driver and his two passengers were injured.
But there was no panic. Swiftly the road was cleared. Ambulances and fire engines rolled in.
The full extent of the tragedy began to unfold only as the dead and the injured were carried out.
Arrow in the picture at left points to the exact spot on the stairway on the mezzanine floor of MacDonald House where the time-bomb exploded.

Two buried

The bomb exploded at 3.07 p.m. — just eight minutes before the Wearne Brothers’ motor mechanics were due to gather by the side of the building for their tea break.
The explosion ripped off a lift door — but it was one of the inner walls on the mezzanine floor that took the full force of the blast.
On the other side of this wall was the correspondence office of the bank, in which Mrs Choo and Miss Goh were working. Both were buried by rubble.
Many office workers in the building, thought, like Mrs. Rosie Heng of the Malaya Borneo Building Society on the fourth floor, that it was a thunderclap — because it was raining heavily at the time.
On the ground floor plaster and bricks were raining down on the bank employees.
The bank had closed for business only seven minutes earlier, and about 150 employees were busy closing accounts.
Behind the counter and just below the correspondence office, the compradore, Mr Lim Chin Hin, 45, wiped blood from his face and said a silent prayer.
He was giving thanks for a miraculous escape.
Alone in his room, he had seen a “sudden flash”. Then came the bang.
Twisted steel
He looked up to find that the upper part of the wall behind him had caved in, leaving a skeleton of a twisted steel pillar exposed.
Still stunned, Mr Lim picked up his spectacles, which had fallen, and groped his way out of the room.
Further inside the bank, Mr I C Menzies, 27, head of current account department, was at his postronic machine when he heard the explosion and found himself in a cloud of dust.
His first thought was the roof was falling down on him. Through the cloud of dust, he could see vague figures moving out quickly.
Someone, he learned later, had instructed the employees, to clear out of the building within minutes of the explosion.
He collected the books and locked them up in the safe before leaving. He was later taken to the hospital to have a cut in the head attended to.
In the offices of the Australian High Commission, Mr H. Brokenshire, the Press Attache, went to the toilet — and returned to find desks, chairs and typewriters thrown about by the force of the explosion.
The heavy wooden door of the main office had been wrenched from its hinges and tossed 9m up the passageway.
The toilet door too had been ripped off and the landing outside the High Commission had buckled.
A near victim of the explosion on this floor was Mr Barry J. O’Donnell, the Administrative Attache, who was waiting for the lift when the bomb went off.
The lift doors in front of him were blown out and he was flung several yards down the passsage.
Higher up in the building a second lift jammed just before the bomb went off.
Six people, including two children were inside and the liftman and one of the passengers were trying to prise open the door when the explosion shook the lift and sent it hurtling down several floors.
Mrs Jean Standish, 31, wife of a Naval Base technical college lecturer. Mrs Barrington and her two children had just paid a visit to their dentist on one of the upper floors.
Splinters
Mrs Standish said later: “The jammed lift doors probably saved our lives.” But Mrs Barrington’s nine-year-old son sustained a cut on his chin. The others were not hurt.
Outside, nearly half the road in front of the building was blocked by the wrecked station wagon, the other half by another damaged car belonging to the Japanese Consulate.
The wrecked station wagon belonging to the Australian High Commission. It was parked outside the entrance
A taxi driven by Koh Siong Khiong had been lifted and bounced by the force of the explosion. Koh was injured by flying glass.
In the car park across the road, the screens of almost all the vehicles were shattered.
On the roadside, a sleek red Volvo coupe had its side smashed in and two tyres slashed.
Still worse was a maroon Simea with its right side studded with shattered glass.
Outside the Cycle and Carriage showroom across the road, two mechanics were standing side by side when glass splinters ripped into their bodies. They were badly injured. Cars in the showroom were also damaged.
The Wearne Brothers’ group sustained still heavier damage. Every one of the cars in the Progress Motors showroom — just beside MacDonald House — was damaged.
Three workers in this showroom were also injured.
Many more would have been killed or injured if the bomb had gone off 10 minutes later.
These workers usually go into the lane between Progress Motors and MacDonald House to buy fruit from a stall there during their tea break.
When the bomb went off, the fruit stall was demolished. The two hawkers attending the stall were seriously injured.
Other shops suffered damage, too. Glass windows were blasted out of their frames to end up in little pieces on five-foot ways.
Neon signs crashed down or trailed disjointed in midair.
At 3.30 pm the Reserve Unit arrived to hold the crowd back. Traffic policemen were already diverting traffic in Penang Road and Tank Road.
The damaged station wagon was pushed to the roadside to allow clear passage for ambulances.
Top police officers, who had been in conference at Pearl’s Hill, were soon on the scene. After them came the British Army’s bomb disposal squad.
The General Hospital by now was crammed with people — relatives and friends of the injured.
At 5pm when the rain stopped, a big Health Department team arrived to clear the thick carpet of shattered glass on the road.
Four sweepers cleaning the road in front of MacDonald House after the explosion
Crowds gathered, then drifted away. Police took up positions on both sides of the road to prevent looting. The short stretch of Orchard Road was closed to traffic.

Countering Threats to Internal Stability and SecuritySingapore, like every sovereign country in the world today, faces security threats from international terrorism, foreign subversion and espionage. In addition, however, Singapore being a multi-ethnic society, faces a major potential threat from communalism or racial and religious extremism. This reflects the sense of vulnerability inherent and fundamental in our makeup as a society. It is critical for Singapore as a small, multi-ethnic country to have internal stability and security; preserving Singapore’s internal stability is a major challenge for the Government. It is the task of the Internal Security Department (ISD) to confront and address the security issues and latent threats to Singapore’s internal stability and sovereignty. In order to do so, the ISD has both intelligence collection and executive functions. It collects and analyses intelligence and presents its assessments and policy recommendations to the Government. It also investigates and where necessary takes direct action in relation to the defined security threats of terrorism or politically motivated violence, foreign subversion, espionage and communal extremism. Over the years, ISD and its predecessor, Special Branch, have dealt with many threats to Singapore’s internal stability, security and sovereignty:
Communist ThreatThe communists posed a big threat to Singapore’s stability and security from the late 1940s to the 1980s. In 1948, the Communist Party of Malaya (CPM) launched an armed struggle against the British in Malaya and a state of “Emergency” was declared. The Special Branch carried out several successive operations against the communists in the 1950s and 1960s and managed to cripple the CPM’s united front networks among the trade unions, Chinese middle schools and other mass organisations which the CPM had exploited to organise strikes and other forms of political agitation. The CPM terrorist squads carried out assassinations or assassination attempts on Special Branch and Police officers, both in Malaya and Singapore. Singapore continued to face the communist threat after Independence in 1965. Pro-communist elements resorted to “extra-parliamentary” struggle through organised strikes and acts of arson and vandalism. The CPM revived its underground networks to carry out assassinations and “bombing” assignments. ISD intensified its efforts against the CPM and by late 1970s had eradicated almost the entire communist underground network in Singapore. The CPM threat has diminished with the CPM signing peace pacts with both the Malaysian and Thai authorities in 1989 to lay down their arms.

Indonesian Confrontation: Threats from Armed SubversivesBefore Singapore joined Malaysia in 1963, the Indonesian Government had opposed the formation of Malaysia. It exploited the racial tensions in Singapore and infiltrated saboteurs into the country after the formation of Malaysia to undertake acts of sabotage with the support of disaffected locals. The saboteurs’ objective was the destruction of vital installations in Singapore. However, given their inaccessibility to these installations which were heavily guarded, they were instead instructed to explode bombs indiscriminately to create public alarm and panic as well as lower public morale.

On 10 March 1965, there was a bomb explosion at the MacDonald House along Orchard Road. The most serious of the bombings by the saboteurs, the blast killed two Chinese and one Malay and injured at least 33 people. Special Branch officers and Police tracked down and arrested the Indonesian commandos, Harun Said and Osman Hj Mohd Ali, who were members of the Korps Komando Operasi. The two Indonesian commandos were convicted and executed for the MacDonald House bomb blast. Special Branch officers collected critical intelligence and managed to round up other Indonesian infiltrators, smashing many small terrorist squads and local underground movements.

Communal ChallengeThe first serious racial riots which the Special Branch had to deal with soon after its formation in 1948 was the Maria Hertogh riots of 1950 where Muslim rioters attacked Europeans, Eurasians and Christians. A total of 18 people were killed and 173 injured. When Singapore was in Malaysia, we experienced serious Sino-Malay riots in 1964, instigated by outside forces. Over 500 people were injured and 36 lives were lost in the clashes between Chinese and Malays. ISD, together with the Police, helped contain a volatile situation. Sino-Malay tensions surfaced again in Singapore in 1969 following the outbreak of the 1969 racial riots in Malaysia after the General Election. Many incidents of Sino-Malay clashes erupted and the situation was brought under control following security sweeps by the Police and armed forces throughout Singapore. The vigilance of the security forces in Singapore and the persistent efforts of ISD officers in making island-wide coverage contributed to the return of normalcy in Singapore. While Singapore has not seen racial riots since then, there have been cases of racial and religious extremists who attempted to disrupt racial harmony and stability. In 1982, ISD exposed a clandestine subversive Muslim group known as the Singapore People’s Liberation Organisation (SPLO) which planned to cause communal unrest in Singapore by exploiting religious and racial issues. The objective of the group was to overthrow the Government by violent means. They planned to create communal unrest by distributing subversive pamphlets and carrying out acts of arson or planting bombs at public places. Then in Apr 1987, four silat (martial arts) exponents were arrested by ISD for actively spreading rumours of impending racial clashes on or around 13 May 1987 (on the 18th anniversary of the May 1969 race riots in Singapore and Malaysia).
TerrorismSingapore experienced its first terrorist incident on 31 Jan 74, when terrorists from the Japanese Red Army (JRA) bombed petroleum tanks at Pulau Bukom. During their escape from Pulau Bukom, the terrorists hijacked a ferry boat, “Laju” and took some crew member as hostages. The JRA terrorists demanded the release of their jailed comrades in other countries. The ordeal ended with several ISD and government officers volunteering as “hostages” in exchange for the release of civilian hostages. Among the Singapore officials was the then Director of Security & Intelligence Division, Mr S R Nathan (now the President of Singapore). Singapore faced another terrorist incident in 1991 when four Pakistanis hijacked a Singapore Airlines shuttle flight SQ 117 from Subang International Airport (Kuala Lumpur) with 129 passengers onboard. ISD played a significant role in collecting tactical intelligence crucial to the successful storming of the aircraft by SAF commandos. ISD is also involved in neutralising several attempts by terrorist groups using Singapore to raise funds or to procure electronic parts in aid of their struggle. In 1985, ISD took actions to neutralise a local network of the Liberation Tiger of Tamil Ealam (LTTE) headed by Sri Lankans working in Singapore. Key leaders and activists of the network were arrested and expelled to countries of their choice. In Nov 2000, ISD carried out a security operation against another local network of the LTTE whose principal activities were the secret collection and transfer of funds. These operations served to put these individuals on notice that the authorities will not tolerate their use of Singapore and Singapore citizens/permanent residents in activities which are prejudicial to Singapore’s security interests. Amidst the rising terrorist threat globally following the 11 Sep 2001 incidents in New York and Washington, Singapore arrested 15 persons in Dec 2001 for involvement in terrorist-related activities. Thirteen of them are cell members of a clandestine organisation, Jemaah Islamiyah (JI). Investigations revealed that the JI organisation in Singapore, which is part of a larger JI network with cells in Malaysia and Indonesia, is headed by a leader and is organised into various functional cells or “fiahs”. These included cells for fund raising, religious work, security and operations. One of the operations cell, the “Fiah Ayub”, had planned to target a regular shuttle bus service conveying what was expected to be US personnel between Sembawang Wharf and the Yishun MRT Station. Another plan by the same cell was to carry out a bomb attack against US naval vessels along the northeast waters of Singapore between Changi and Pulau Tekong. Another operations cell, the “Fiah Musa”, was approached by a mixed group of foreign elements to assist in a plan for terrorist bombing against specific targets in Singapore. [http://notesapp.internet.gov.sg/MHAPCS/Pressliv.nsf/emha?OpenForm]
EspionageWhile a terrorist incident is highly visible, espionage cases are not. In 1982, ISD exposed and expelled two Russian spies for espionage activities in Singapore. One was Anatoly Alexeyvich Larkin, a Soviet military intelligence (GRU) officer, who attempted to cultivate a SAF army officer holding the rank of 2nd Lt to conduct espionage against the SAF. The other was Alexander Alexandrovich Bondarev, another Soviet military intelligence officer, who was sent to take over a Soviet spy network which had a local agent working for it since the 1970s. More recent cases include the ones when ISD arrested two persons in 1997 and another 4 persons in 1998 under the ISA for involvement in espionage and foreign subversive activities prejudicial to the security of Singapore. Of the two persons arrested in 1997, one was a male Singapore Permanent Resident who was a deep-cover operative of a foreign intelligence service. He had used the other, a female Singaporean, as a collaborator. Of the four Singapore citizens detained in 1998, three were controlled agents for a foreign intelligence agency. One of them recruited the fourth person to collect intelligence on and to subvert a local community organisation. All six of them have been released.

Menyusulnya pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, dukungan massa untuk merdeka bertumbuh, diikuti dengan gangguan komunis. Rencana Britania setelah perang untuk membentuk “Malayan Union” (Persatuan Malaya) dikacaukan oleh oposisi Melayu yang kuat yang menginginkan sistem Melayu yang layak, dan menginginkan hanya satu kewarganegaraan, bukan dwikewarganegaraan, yang dapat memberikan komunitas imigran yang dapat mengklaim kewarganegaraan Malaysia dan negara asal mereka.

31 Agustus 1957 berdirilah negara federasi Malaya.

Kemerdekaan dicapai pada 31 Agustus 1957 dengan nama Federasi Malaya. Singapura ingin menjadi bagian dari negara ini namun ditolak oleh London pada waktu itu.

Federasi baru di bawah nama Malaysia dibentuk pada 16 September 1963 melalui penggabungan Federasi Malaya dengan Koloni mahkota Britania Singapura, Borneo Utara (dinamakan Sabah), dan Sarawak, dua koloni terakhir berada di pulau Kalimantan. Kesultanan Brunei, meskipun pada awalnya menginginkan untuk bergabung dengan Federasi, namun menarik dirinya karena oposisi dari bagian tertentu dalam populasinya dan perdebatan pembayaran royalti minyak.
Awal kemerdekaan dikacaukan oleh usaha Indonesia untuk mengontrol Malaysia, keluarnya Singapura dari Malaysia pada tahun 1965, dan konflik rasial pada tahun 1969. Filipina juga membuat klaim aktif atas Sabah yang berdasarkan Kesultanan Brunei memberikan wilayah timur-lautnya ke Kesultanan Sulu pada 1704. Klaim Filipina masih berlanjut.
Setelah kerusuhan etnis pada 13 Mei 1969, kontroversi Kebijakan Ekonomi Baru – menginginkan untuk meningkatkan bagian ekonomi yang dimiliki lokal ditentang oleh grup etnik lain – dikeluarkan oleh Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Malaysia dari situ menjaga keseimbangan politik-etnis yang lunak, dan mengembangkan peraturan yang unik menggabungkan pertumbuhan ekonomi dan aturan politik yang menguntungkan bumiputra (sebuah grup yang terdiri dari etnik Melayu dan kaum pribumi) dan Islam moderat.
Antara 1980-an dan awal 1990-an, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat di bawah pimpinan Dr. Mahathir bin Mohammad, Perdana Menteri keempat Malaysia. Dalam periode ini terjadi peralihan dari ekonomi berdasarkan agrikultur menjadi produksi dan industri dalam bidang komputer dan elektronik konsumen.
Pada akhir 1990-an, Malaysia diguncang krisis finansial Asia. Oposisi ke beberapa aspek dalam sistem yang ada membawa jatuh pemerintah. Oposisi dari sosialis dan reformis sampai partai yang mengadvokasikan pembentukan negara Islam.
Pada 2003, Dr. Mahathir, perdana menteri yang menjabat terlama di Malaysia, mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepada wakilnya, Abdullah Ahmad Badawi. Pemerintahan baru mengadvokasikan pandangan moderat negara Islam yang didefinisikan oleh Islam Hadhari.

Memasuki wilayah Singapura.   

Tanggal 8 Maret 1965 pada waktu tengah malam buta, saat air laut tenangketiga Sukarelawan iini mendayung perahu,Sukarelawan itu dapat melakukantugasnya berkat latihan-latihan dan ketabahan mereka.Dengan cara hati-hati dan orientasi yang terarah mereka mengamatitempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran, dan tugas mengamatisasaran-sasaran ini dilakukan sampa larut malam. Setelah memberikan laporansingkat, mereka meng adakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkanhasil pengamatan masing-masing. Atas kelihaiannya mereka dapa berhasilkembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu sebaga Basis II dimana Usmandan Harus bertugas.   

Pada malam harinya Usman memesan anak buahnya aga berkumpul kembali untukmerencanakan tugas-tugas yang haru dilaksanakan, disesuaikan dengan hasilpenyelidikan mereka masing-masing. Setelah memberikan laporan singkat,mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh karenabelum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan,ketiga Sukarelawan di bawah Pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi kedaerah sasaran untuk melakukan penelitian yang mendalam. Sehingga apa yangdibebankan oleh atasannya akan membawa hasil yang gemilang.   

Di tengah malam buta, di saat kota Singapura mulai sepi dengan kebulatan dankesepakatan, mereka memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald,Diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat sekitarnya. Hoteltersebut terletak di Orchad Road sebuah pusat keramaian d kota Singapura.Pada malam harinya Usman dan kedua anggotanya kembali menyusuri Orchad Road.Di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga putraIndonesia bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena padasaat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yangpaling tepat untuk menjalankan tugas. Setelah berangsur angsur sepi,mulailah mereka dengan gesit mengadakan gerakan gerakan menyusup untukmemasang bahan peledak seberat 12,5 kg.   

Dalam keheningan malam kira-kira pukul 03.07 malam tersentaklah pendudukkota Singapura oleh ledakan yang dahsyat seperti gunung meletus. Ternyataledakan tersebut berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald yang terbuatdari beton cor tulang hancur berantakan dan pecahannya menyebar ke penjurusekitarnya. Penghuni hotel yang mewah itu kalang kabut, saling berdesakaningin keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Demikian pula penghunitoko sekitarnya berusaha lari dari dalam tokonya.   

Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehinggamengalami luka berat dan ringan. Dalam peristiwa ini, 20 buah toko disekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur,30 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Di antaraorangorang yang berdesakan dari dalam gedung ingin keluar dari hoteltersebut tampak seorang pemuda ganteng yang tak lain adalah Usman.   

Suasana yang penuh kepanikan bagi penghuni Hotel Mac Donald dan sekitarnya,namun Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelankegelapan malam untuk menghindar dari kecurigaan. Mereka kembali memencarmenuju tempat perlindungan masing-masing.   

Pada hari itu juga tanggal 10 Maret 1965 mereka berkumpul kembali.Bersepakat bagaimana caranya untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadisulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelakuyang meledakkan Hotel Mac Donald. Melihat situasi demikian sulitnya, lagipula penjagaan sangat ketat, tak ada celah selubang jarumpun untuk bisaditembus. Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura.Untuk mencari jalan keluar, Usman dan anggotanya sepakat untuk menerobospenjagaan dengan menempuh jalan masing masing, Usman bersama Harun,sedangkan Gani bergerak sendiri.   

Setelah berhasil melaksanakan tugas, pada tanggal 11 Maret 1965 Usman dananggotanya bertemu kembali dengan diawali salam kemenangan, karena apa yangmereka lakukan berhasil. Dengan kata sepakat telah disetujui secara bulatuntuk kembali ke pangkalan dan sekaligus melaporkan hasil yang telah dicapaikepada atasannya. Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepadaanggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supayamelaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. Mulai saat inilahUsman dan Harus berpisah dengan Gani sampai akhir hidupnya.   

Gagal kembali ke pangkalan.   

Usaha ketiga Sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing.Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harunberjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengandaerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah inf. Karena itu Usmanmeminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar kepangkalan. Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, merekaberjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang laintidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepasdari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarattertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.   

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhanSingapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akanberlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur.Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.Tetapi pada malam itu, waktu Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orangyang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal.Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada Polisi. Alasanmengusir kedua pemuda itu karena takut diketahui oleh Pemerintah Singapura,kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua SukarelawanIndonesia keluar dari persembunyiannya.   

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyisupaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-carikapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorangCina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan duakemungkinan tertangkap atau dapat lolos daribahaya. Akhirnya dengan tidakpikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatanmereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke PulauSambu. Tetapi apadaya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.Sebelum mereka sampai ke perbatasan peraian Singapura, motorboatnya macet ditengah laut. Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh,sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkapdi bawa ke Singapura sebagai tawanan.   

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi,karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tanganTuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harus tenangsaja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabarmenunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telahditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhanyang Maha Mengetahui.   

TABAH SAMPAI AKHIR   

Proses Pengadilan.   

Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjaraSingapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Padatanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidangPengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagaiHakim. Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court)Singapura dengan tuduhan :   

1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah   melanggar Control Area.2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.   

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaanpendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964.Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Haruntelah menolak semua tuduhan itu. Hal ini mereka lakukan bukan kehendaksendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepadasidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).   

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layakdari sidang majelis. Hakim telah menola permintaan tertuduh, karena sewaktukedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidanganberjalan kurang lebih dua minggu, pada tanggi 20 Oktober 1965 SidangPengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskanbahwa Usman da Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnyatiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.   

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke FederalCourt of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah danJ.J. Amrose. Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolakperkara naik banding Usman dan Harun. Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London. Dalam kasus iniPemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaituMr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. MochtarKusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRIdi Singapura. Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal.Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.   

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke BadanTertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalahuntuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan inidiajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatankedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan. Kedutaan RI diSingapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapatdijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan keduasukarelawan Indonesia tersebut. Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar NegeriAdam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usahayang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atashukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.   

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terusberusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suhartomengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untukmenyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia TengkuAbdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkanpermintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap padapendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsiptertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap duaorang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.   

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap keduamereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukumdengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak olehPemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantungterhadap Usman dan Harun.   

Pesan terakhir.   

Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimanaPemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaanhukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepatpukul 06.00 pagi Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriotIndonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepadapencipta - Nya.   

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikianjuga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untukmenyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkutperlindungan dan pem belaan warga negaranya. Satu malam sebelum pelaksanaanhukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolosebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengandiantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dandidampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, dapat berhadapandengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalampenjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.   

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjaradan meninggalkan tanah air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dankegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khasseorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisahyang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudahmenunggu.   

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat sertamemberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkanBrigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikianmembuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasaberat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagaipertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemulagi untuk selamanya. Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwaPresiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormatioleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa merekaberdua terhadap Negara. Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolomengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalahbahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pulamenyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untukdimakamkan berdampingan di Indonesia.   

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atasusahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, SarjanaHukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuanselesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat.   

Menjalani Hukuman Mati.   

Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman danHarun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia.Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama. Merekaberdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh. Di alam yang sepi itu menambahhati mereka semakin dekat dengan pencipta - Nya. Karena itu empat tahundapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengannyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.   

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemudaini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka.Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepidan suram itu. Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dindingtembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usmandan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telahditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikanketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin Suasana mencekam,tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejaksore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi.   

Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman danHarun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akanmenghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkankhawatirpun tidak. Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa merekaakan menghadapi tali gantungan.Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis padatanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerimahukuman dengan gagah berani. Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian,hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepadakeluarganya:   

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:   

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkanberita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaanhukuman mati ke atas anakanda telah diputus kan pada 17 Oktober 1968, hariKamis 24 Rajab 1388.   

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaumkeluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapurarayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.   

MENGHADAPI TIANG GANTUNGAN   

Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara,kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing.Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harunsetiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepadaTuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajarmasalah keagamaan dengan matang.   

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgoldibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius.Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotongoleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali.Dalam keadaan, lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawapetugas menuju ke tiang gantungan.Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungankalungkan ke leher Usman dan harun.   

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa keduaprajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segikemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian merekamenengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itumendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Mereka telah terjerat di ujungtali gantungan di negeri orang, Jauh dari sanak keluarga, negara danbangsanya.Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsadan Tanah Air tercinta.   

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa darijasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepadapara wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwahukuman telah dilaksanakan. Dengan sekejap itu pula tersiar berita keseluruh penjuru dunia menghiasi lembaran mass media sebagai pengumumanterhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman danHarun.   

Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung.Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondongdatang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karanganbunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.   

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi PemerintaH Indonesia mengirimDr. Ghafur dengan empat pegawai KedutaaN Besar RI ke penjara Changi untukmenerima kedua jenazah iti dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RIuntuk dise mayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan daripenjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnyadari Pemerintah Singapura. Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulamauntuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah dimasukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan BenderaMerah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan padapeti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara.Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI   

Mendapat penghormatan terakhir dan Anugerah dari Pemerintah   

Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masya rakat Indonesia diKBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telahmenunggu pesawat TNI-AU. yang akan membawa ke Tanah Air.Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerahKalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS danParaku. Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telahmelaksanakan hukuman gan tung terhadap Usman dan Harun, maka PresidenSuharto menyata kan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.   

Pada pukul 14.35 pesawat TNI-AU yang khusus dikirim dari Jakartameninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telahdiselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta. Padahari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telahtiba di Tanah Air. Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesiamenjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjangjalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang inginmelihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara,Bangsa dan Tanah Air.   

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterimaoleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan seterusnyadisemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan diTaman Makam Pahlawan Kalibata.   

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yangmengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yangmenghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yangtak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah merekaanggap sebagai sahabat baik. Pada barisan paling depan terdiri dari barisanKorps Musik KKO-AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga,kemudian disusul dengan barisan karangan bunga. Kedua peti jenazah tertutupdengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti inididasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudiandiserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam.Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa UsahaRI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usmandan Harun dari Singapura.Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik BrigjenTjokropranolomaupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.   

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatanterakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil,Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyangdan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.   

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum'at, kedua jenazahdiberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yangterakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, JalanM.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan PasarMinggu dan akhirnya sampai Kalibata. Sepanjang jalan yang dilalui antaraMerdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepalasebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turutmengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, paraMenteri Kabinet Pembangunan.   

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI,Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemudadan pelajar serta masyarakat.Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan.Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas namaPemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepadaIbu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempatyang layak sesuai dengan amal bhaktinya.   

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan,peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasanabertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.   

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadapNegara dan Bangsa maka Pemerintah telah me naikkan pangkat mereka satutingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadiSersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi KopralAnumerta KKO.Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan BintangSakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.   

Copyright by : Korps Marinir

Mimbar Bambang Saputro
mimbarsaputrogmailcom
0811806549

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

4 thoughts on “Ketika Indonesia Meledakkan Singapura

  1. Mas Wahyu silahkan di posting di facebook anda, saya tidak berkeberatan. Lha nyatanya itu sejarah kok.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s